Satu hal yang membuat saya semakin takjub adalah segala bentuk
keanehan, yang makin lama menjadi biasa. Ini contohnya.
Pada sebuah liputan di sebuah makam tua di Ranggagading, Kabupaten Bogor,
kami bertemu dengan mahluk bernama Ki Jarot. Saat itu, saya tidak ikut liputan,
sebab harus bertugas di editan. Seperti biasa, kami mengorek informasi dari
setiap mahluk yang masuk ke raga mediator.
Ternyata, mahluk ini berkamuflase. Saat teman-teman kembali ke
penginapan, mahluk ini masuk lagi ke tubuh mediator. Dia cerita, informasi yang
dia sampaikan di lokasi liputan, berbeda dengan informasi yang dia utarakan di
penginapan. Namanya pun bukan Ki Jarot, namun Ki Santang.
Sejak itu, mahluk tersebut sering menyambangi kami, saat liputan. Di mana
pun kami berada. Sejauh ini, dia selalu datang, selama kami liputan di daerah
Jawa Barat. Kuncinya, dia hanya mau masuk ke satu tubuh: Mang Engkis—nama
lengkapnya Kiswoyo, tubuh pertama dia masuk dulu di Ranggagading.
Semakin lama, dia makin akrab dengan kami. Pada sebuah “perjumpaan” di
Banjar, Jawa Barat, dia berjanji akan membantu kami. Itu sebab dia selalu
datang, saat kami liputan. Seperti saat kami liputan di Labuan, Banten, kali
ini.
Saya memang penasaran, siapa sebenarnya Ki Jarot ini. Dia terlalu
sering menyambangi kami. Di Bogor, Cipularang, Banjar-Ciamis, dan sekarang
Banten. Saat masuk ke badan Mang Engkis di Banjar-Ciamis, saya memang sempat
bertanya, siapa dia sebenarnya. Dia hanya menjawab, datang dari sebuah gunung di
Garut, Jawa Barat. Dia berjanji, suatu saat akan mengungkapkan jati diri, jika kami
datang ke Garut. Tentu dengan membawa badan Mang Engkis, raga yang dia suka
masuki.
Di Labuan, Banten—sebulan setelah kami pulang dari Banjar-Ciamis, dia seperti
menangkap kegundahan saya. Saya sedang berbincang dengan beberapa kru, tiba-tiba
dia masuk ke tubuh Mang Engkis—yang kebetulan datang bersama kami. Dia lalu
mengajak saya dialog. Empat Mata. Semua kru yang ada di ruangan, dia suruh
pergi.
Sejak itu, setiap datang, dia selalu mencari saya. Dia memanggil saya
Akang. Kemarin malam, dia berjanji datang ke saya. Tapi dia tidak jadi datang. Dia
hanya berkirim pesan—masih lewat tubuh Mang Engkis, jika dia tidak bisa
menepati janji, sebab ada “urusan” lain.
Malam ini, tiba-tiba dia datang. Yang rada beda, dia mengutus sesosok
mahluk, namanya Si Kutrat. Dia mengaku bawahan Abah—sebutan Ki Jarot, yang baru
saya dengar. “Abah sedang berada di sebuah gua di Lampung,” kata Kutrat.
Kutrat membawa sebuah titipan dari Abah. Kru lain jadi saksi, dia memberikan
sesuatu ke saya. Sesuatu itu sempat jatuh, lalu dia menutupinya. “Jangan kasih
tahu siapa-siapa. Abah pesan, hadiah untuk Kang Komet,” katanya. Pada Jumat
Kliwon, kata Kutrat, benda itu akan berubah wujud.
Terus terang saya agak bimbang. Saya tidak pernah menerima pemberian
benda, dari siapa pun. Kali ini, saya malah dapat langsung dari mahluk, yang
saya tidak mengenal, bahkan sekedar tahu wujud aslinya.
Kru lain malah tertawa, sebab saya dapat oleh-oleh dari Abah. Mereka berebut
menawar. “Buat saya saja,” kata salah satu diantara mereka. Sementara saya
malah terkesima. Satu pertanyaan di kepala, mengapa Abah selalu menyebut nama
saya, hingga memberi hadiah segala.
Sekarang, ada keinginan kuat dalam diri saya: membuat satu episode
tentang Ki Jarot.