Haedar, anak bungsu saya sedang sakit. Sejak semalam batuknya makin menjadi. Kadang pakai muntah. Badannya panas pula.
Nah, pagi tadi, dia terlihat kuyu. Tak ada lagi muka tengil di wajahnya. Layu. Biasanya, saat pagi, dia sudah lari ke sana kemari sehabis mandi. Usai melepas kakaknya, Haekal, naik mobil jemputan sekolah pagi, dia ikut saya keliling gang. Ini ritual pagi, sebelum saya dan istri berangkat ke kantor.
Tapi, gara-gara Haedar sakit, istri saya bolos kerja hari ini. Maklum, semalam dia juga begadang, sebab Haedar tidak bisa tidur tanpa dipeluk. Pagi tadi, Haedar juga sempat menyodorkan selendang gendong ke saya. Tumben dia minta gendong pakai selendang.
Saya pun memasang selendang, dan menggendongnya. Haedar menyandarkan kepala di dada. Saya mendekapnya. Panas. Kakaknya masih sempat menggoda. Haedar berontak, meski badannya lunglai. Kakaknya tetap menggoda. Beruntung Haedar masih mau mandi pagi, dengan badan lemas, tentunya.
Sebelum berangkat kantor, saya melihat Haedar tidur. Ada lelah di mukanya. Kasihan. Saya berharap mendengar tawa, saat saya pulang kerja nanti. Tapi ini hari Rabu. Ada rapat yang biasa selesai sampai malam. Pasti Haedar sudah tidur saat saya pulang. Tapi tak apa. Setidaknya, saya masih bisa melihatnya lelap, di sebelah saya malam nanti.
komet san
29 February 2012
13 February 2012
Sendirian
Saya duduk di ruang tamu, rumah di Sragen. Saudara dari Cilacap baru saja pulang. Ponakan dari Papua yang tinggal bersama ibu, sudah berangkat sekolah. Tiba-tiba, ibu masuk ruangan dari pintu kebun. Sesengukan. "Sekarang saya hidup sendirian," katanya. Dia menangis kemudian.
Sepeninggal simbah, ibu memang terpukul. Ada sepi mengancam hidupnya. Dalam dua tahun terakhir, ibu sudah kehilangan dua orang dekatnya. Dekat, dalam arti harfiah dan batin, sebab mereka tinggal serumah. Pada Juni 2010, bapak meninggal. Dua hari lalu, giliran simbah meninggalkan ibu sendirian.
Selama ini, memang ada kakak yang menemani ibu hidup di Sragen. Ada juga cucu yang bisa jadi hiburan. Kakak yang tinggal di Boyolali atau Wonogiri juga sering bertandang. Tapi, tetap saja, jejak kematian yang dia alami selama dua tahun ini, membuat ibu ngeri pada sepi. Ibu seperti belum siap hidup sendiri.
Saya sendiri tidak bisa menghibur. Membayangkan ibu bakal hidup dikungkung sepi, malah membuat saya merenung. Seperti mati, menjadi tua adalah niscaya. Kita yang muda tinggal menunggu giliran saja. Saya berpikir, akan jadi apa hidup tua saya nanti.
Sepeninggal simbah, ibu memang terpukul. Ada sepi mengancam hidupnya. Dalam dua tahun terakhir, ibu sudah kehilangan dua orang dekatnya. Dekat, dalam arti harfiah dan batin, sebab mereka tinggal serumah. Pada Juni 2010, bapak meninggal. Dua hari lalu, giliran simbah meninggalkan ibu sendirian.
Selama ini, memang ada kakak yang menemani ibu hidup di Sragen. Ada juga cucu yang bisa jadi hiburan. Kakak yang tinggal di Boyolali atau Wonogiri juga sering bertandang. Tapi, tetap saja, jejak kematian yang dia alami selama dua tahun ini, membuat ibu ngeri pada sepi. Ibu seperti belum siap hidup sendiri.
Saya sendiri tidak bisa menghibur. Membayangkan ibu bakal hidup dikungkung sepi, malah membuat saya merenung. Seperti mati, menjadi tua adalah niscaya. Kita yang muda tinggal menunggu giliran saja. Saya berpikir, akan jadi apa hidup tua saya nanti.
Kebetulan?
Simbah meninggal dua hari lalu. Kebetulan saya sedang tugas di Semarang. Jarak Semarang ke rumah Sragen, tentu lebih dekat daripada Bogor-Sragen.
Ini kejadian unik kedua. Sebelumnya, saat bapak meninggal Juni 2010 lalu, saya juga sedang tugas di Surabaya. Seperti ada kuasa Tuhan, yang mendekatkan saya ke rumah, saat ada kejadian istimewa tersebut. Kebetulan?
Kematian simbah sendiri, sebenarnya termasuk cepat. Dua hari sebelum meninggal, ibu mengirim pesan, simbah sakit. Sehari kemudian, ibu memberi kabar, simbah masuk rumah sakit. Sejak mendengar kabar itu, saya sudah punya niat mampir ke Sragen, selepas pekerjaan di Semarang selesai.
Tapi, pagi sebelum berangkat ke Sragen, justru kakak mengirim kabar, simbah kritis. Beberapa menit kemudian, ganti kabar simbah meninggal yang saya dengar.
Kematian simbah sendiri bergelimang isyarat gaib, dan cerita kebetulan. Sebulan sebelum simbah meninggal, saya mendapat bisikan agar pulang ke Sragen. "Sudah lama tidak pulang ke rumah wetan (timur). Tengoklah orang tuamu," begitu bisikan tersebut. Saya baru paham isyarat ini setelah simbah meninggal.
Dalam perjalanan dari Semarang, saya sempat mampir makan siang. Karena waktu mepet, saya langsung menuju tempat pemakaman di daerah Kaliwuluh, Gemolong. Keluar dari tempat makan, saya malah menemukan rombongan lain dari Semarang. Kebetulan, kami sama-sama tidak tahu lokasi pemakaman. Ya sudah, akhirnya kami menunggu rombongan, yang membawa jenazah simbah dari rumah. Akhirnya, kami bisa barengan menuju tempat pemakaman, yang sebelumnya tidak kami kenal. Kebetulan?
Ini kejadian unik kedua. Sebelumnya, saat bapak meninggal Juni 2010 lalu, saya juga sedang tugas di Surabaya. Seperti ada kuasa Tuhan, yang mendekatkan saya ke rumah, saat ada kejadian istimewa tersebut. Kebetulan?Kematian simbah sendiri, sebenarnya termasuk cepat. Dua hari sebelum meninggal, ibu mengirim pesan, simbah sakit. Sehari kemudian, ibu memberi kabar, simbah masuk rumah sakit. Sejak mendengar kabar itu, saya sudah punya niat mampir ke Sragen, selepas pekerjaan di Semarang selesai.
Tapi, pagi sebelum berangkat ke Sragen, justru kakak mengirim kabar, simbah kritis. Beberapa menit kemudian, ganti kabar simbah meninggal yang saya dengar.
Kematian simbah sendiri bergelimang isyarat gaib, dan cerita kebetulan. Sebulan sebelum simbah meninggal, saya mendapat bisikan agar pulang ke Sragen. "Sudah lama tidak pulang ke rumah wetan (timur). Tengoklah orang tuamu," begitu bisikan tersebut. Saya baru paham isyarat ini setelah simbah meninggal.
Dalam perjalanan dari Semarang, saya sempat mampir makan siang. Karena waktu mepet, saya langsung menuju tempat pemakaman di daerah Kaliwuluh, Gemolong. Keluar dari tempat makan, saya malah menemukan rombongan lain dari Semarang. Kebetulan, kami sama-sama tidak tahu lokasi pemakaman. Ya sudah, akhirnya kami menunggu rombongan, yang membawa jenazah simbah dari rumah. Akhirnya, kami bisa barengan menuju tempat pemakaman, yang sebelumnya tidak kami kenal. Kebetulan?
09 February 2012
Tua
Apa yang terjadi di masa tua? Saya bisa mengetahuinya sedikit. Seorang tua terbaring di ranjang, kurus, mengidap komplikasi penyakit dan satu kaki mati rasa. Anak-istri meratap.
Memang, ini pengalaman tak mengasyikkan. Mengetahui masa depan, pada bagian yang tak menyenangkan. Saya jadi bimbang, dan membayangkan hidup di masa itu. Belum sejumlah pertanyaan, yang menggantung karena informasi mengejutkan ini.
Bagi saya, tua adalah niscaya. Yang membuat saya tak bahagia, tentu informasi tentang ratapan anak-istri itu. Apa jadinya hidup mereka, menemukan bapaknya terkulai di ranjang, kurus, dengan satu kaki mati rasa. Meski saya sebenarnya juga mendapat pesan tambahan--nasihat persisnya, agar saya menjaga makanan dan juga olah raga. Terdengar masuk akal.
Tentu muncul pertanyaan, ini info dari siapa? Saya tidak bisa mengatakannya. Yang jelas, saya percaya rahasia Tuhan. Dia menyuguhkan bagian-bagian tanpa penjelasan, dan membiarkan saya sendiri mencari catatan kaki. Termasuk informasi tentang masa tua saya ini.
Memang, ini pengalaman tak mengasyikkan. Mengetahui masa depan, pada bagian yang tak menyenangkan. Saya jadi bimbang, dan membayangkan hidup di masa itu. Belum sejumlah pertanyaan, yang menggantung karena informasi mengejutkan ini.
Bagi saya, tua adalah niscaya. Yang membuat saya tak bahagia, tentu informasi tentang ratapan anak-istri itu. Apa jadinya hidup mereka, menemukan bapaknya terkulai di ranjang, kurus, dengan satu kaki mati rasa. Meski saya sebenarnya juga mendapat pesan tambahan--nasihat persisnya, agar saya menjaga makanan dan juga olah raga. Terdengar masuk akal.
12 January 2012
Haedar
Anak saya yang kedua ini berbeda dengan kakaknya. Dia lebih lincah, lebih percaya diri, lebih berani. Cocok dengan namanya: Haedar, sang pemberani.
Haedar sering bikin keder kakaknya, Haekal. Misal, jika sudah memegang kayu atau sesuatu yang bisa buat memukul, kakaknya akan kabur. Lari. Menjauh. Bahkan nangis. Padahal, kayu atau benda itu belum tentu buat memukul.
Haedar memang cerdik. Dia tahu kakaknya penakut, maka dia sekedar menggoda saja. Mengayun-ayunkan kayu itu. Jika sudah begini, keluar senyum dan lirikan licik di wajah Haedar.
Berusia dua tahun, Haedar sebenarnya lahir di luar rencana. Saat itu, kami sebenarnya sedang merancang program "jangan punya anak dulu." Sebab, kakaknya, Haekal, usianya belum genap dua tahun. Ternyata, rencana tinggal rencana. Gusti Allah malah memberi rejeki. Pada sebuah sore, istri saya bilang, haidnya telat. Alhamdulillah.
Beda dengan Haekal, Haedar lahir normal. Saya jadi saksi proses kelahiran yang menegangkan. Meski bukaan kedua sampai sembilan makan waktu lama, Haedar hanya butuh lima menit untuk mbrojol. Saya ingat betul, istri saya menggenggam tangan saya begitu kuat waktu itu. Tapi saya bangga bisa menyaksikan keajaiban melahirkan.
Esoknya, sebuah majalah ibu-anak mewawancarai saya via telepon. Kalau tidak salah, si penulis hendak membuat artikel, tentang pengalaman mendampingi istri melahirkan.
Haedar lahir sekitar jam tiga pagi. Karena datang mendekati subuh, saya beri imbuhan kata "Nur" pada namanya. Sebelumnya, saya sudah membayangkan nama Haedar, biar seragam sama Haekal. Sementara, nama Faza datang dari kakak ipar saya, seorang ustad di Solo. Artinya kejayaan. Maka, jadilah namanya Haedar Nur Faza. Kira-kira, nama itu punya maksud: seorang pemberani yang punya cahaya kejayaan.
Adapun Haekal lahir lewat caesar, hampir dua tahun sebelumnya. Saat itu usia kandungan istri saya sudah masuk sembilan bulan. Tapi, saya mengajak istri saya jalan-jalan ke mal. Saat subuh, ketuban pecah. Kata bidan, air ketuban di kandungan istri sudah habis. Maka, caesar jadi solusi. Jadilah Haekal lahir lewat operasi.
Mungkin, karena beda cara lahir ini, dua anak saya punya sifat berbeda. Entahlah. Wong, dua anak kembar yang lahir normal saja punya sifat berbeda. Yang jelas, dua anak saya ini punya sifat sama: mereka berdua membuat saya bahagia.
Haedar sering bikin keder kakaknya, Haekal. Misal, jika sudah memegang kayu atau sesuatu yang bisa buat memukul, kakaknya akan kabur. Lari. Menjauh. Bahkan nangis. Padahal, kayu atau benda itu belum tentu buat memukul.
Haedar memang cerdik. Dia tahu kakaknya penakut, maka dia sekedar menggoda saja. Mengayun-ayunkan kayu itu. Jika sudah begini, keluar senyum dan lirikan licik di wajah Haedar.
Berusia dua tahun, Haedar sebenarnya lahir di luar rencana. Saat itu, kami sebenarnya sedang merancang program "jangan punya anak dulu." Sebab, kakaknya, Haekal, usianya belum genap dua tahun. Ternyata, rencana tinggal rencana. Gusti Allah malah memberi rejeki. Pada sebuah sore, istri saya bilang, haidnya telat. Alhamdulillah.
Beda dengan Haekal, Haedar lahir normal. Saya jadi saksi proses kelahiran yang menegangkan. Meski bukaan kedua sampai sembilan makan waktu lama, Haedar hanya butuh lima menit untuk mbrojol. Saya ingat betul, istri saya menggenggam tangan saya begitu kuat waktu itu. Tapi saya bangga bisa menyaksikan keajaiban melahirkan.
Esoknya, sebuah majalah ibu-anak mewawancarai saya via telepon. Kalau tidak salah, si penulis hendak membuat artikel, tentang pengalaman mendampingi istri melahirkan.
Haedar lahir sekitar jam tiga pagi. Karena datang mendekati subuh, saya beri imbuhan kata "Nur" pada namanya. Sebelumnya, saya sudah membayangkan nama Haedar, biar seragam sama Haekal. Sementara, nama Faza datang dari kakak ipar saya, seorang ustad di Solo. Artinya kejayaan. Maka, jadilah namanya Haedar Nur Faza. Kira-kira, nama itu punya maksud: seorang pemberani yang punya cahaya kejayaan.
Mungkin, karena beda cara lahir ini, dua anak saya punya sifat berbeda. Entahlah. Wong, dua anak kembar yang lahir normal saja punya sifat berbeda. Yang jelas, dua anak saya ini punya sifat sama: mereka berdua membuat saya bahagia.
10 January 2012
Sekolah
Semester depan, Haekal akan masuk SD. Sekolah pun sudah mulai membuka pendaftaran. Maka, kami ajak dia keliling, melihat sekolah yang dia mau. Survei.
Dari beberapa sekolah yang dia tengok, kuncinya cuma satu: masjid. Bagi dia, sekolah harus ada masjidnya. Maka, saya dan istri memberi kesempatan Haekal, menengok masjid di setiap sekolah yang kami tuju.
Kadang, kami malah membiarkan Haekal menjelajah masjid sendiri. Sementara, saya dan istri sibuk mengorek informasi tentang sekolah itu. Puas menjelajah masjid, paling Haekal datang menghampiri. Laporan.
Jika sudah begini, dia pasti punya komentar tentang masjid yang dia lihat. Apalah, walau kadang komentar itu terdengar tak penting, bagi kami. "Masjidnya bagus. Tapi kok kipas anginnya cuma dua, ya?" katanya.
Habis itu, tinggal kami minta dia memilih. Kami meminta dia membuat peringkat, sekolah mana yang paling dia pilih. Jika pilihan pertama penuh, sekolah mana lagi yang dia mau.
Akhirnya, Haekal membuat beberapa pilihan.
Pagi tadi, saya mendaftarkan nama Haekal di sebuah sekolah Islam terpadu di daerah Kemang, Kabupaten Bogor. Ini sekolah pilihan dia. Dia menaruhnya di peringkat pertama. Agak masuk akal, sih. Dari semua sekolah yang dia lihat, masjid sekolah ini yang paling besar. Bersih, dan punya menara. Ini identitas masjid yang sering dia munculkan saat menggambar. Dan saya melihat dia menikmati penjelajahan di masjid ini.
Sekolah ini sebenarnya mahal. Uang pangkalnya mencapai belasan juta rupiah. Belum tetek bengek uang bulanan. Tapi, saya seperti tak peduli. Ada semacam dorongan, membiarkan Haekal berkembang dengan cara dia sendiri. Seperti apa? Saya belum tahu pasti. Yang jelas, saya mesti menyiapkan uang lumayan banyak, buat Haekal sekolah nanti.
Dari beberapa sekolah yang dia tengok, kuncinya cuma satu: masjid. Bagi dia, sekolah harus ada masjidnya. Maka, saya dan istri memberi kesempatan Haekal, menengok masjid di setiap sekolah yang kami tuju.
Kadang, kami malah membiarkan Haekal menjelajah masjid sendiri. Sementara, saya dan istri sibuk mengorek informasi tentang sekolah itu. Puas menjelajah masjid, paling Haekal datang menghampiri. Laporan.
Jika sudah begini, dia pasti punya komentar tentang masjid yang dia lihat. Apalah, walau kadang komentar itu terdengar tak penting, bagi kami. "Masjidnya bagus. Tapi kok kipas anginnya cuma dua, ya?" katanya.
Habis itu, tinggal kami minta dia memilih. Kami meminta dia membuat peringkat, sekolah mana yang paling dia pilih. Jika pilihan pertama penuh, sekolah mana lagi yang dia mau.
Akhirnya, Haekal membuat beberapa pilihan.
Pagi tadi, saya mendaftarkan nama Haekal di sebuah sekolah Islam terpadu di daerah Kemang, Kabupaten Bogor. Ini sekolah pilihan dia. Dia menaruhnya di peringkat pertama. Agak masuk akal, sih. Dari semua sekolah yang dia lihat, masjid sekolah ini yang paling besar. Bersih, dan punya menara. Ini identitas masjid yang sering dia munculkan saat menggambar. Dan saya melihat dia menikmati penjelajahan di masjid ini.
Sekolah ini sebenarnya mahal. Uang pangkalnya mencapai belasan juta rupiah. Belum tetek bengek uang bulanan. Tapi, saya seperti tak peduli. Ada semacam dorongan, membiarkan Haekal berkembang dengan cara dia sendiri. Seperti apa? Saya belum tahu pasti. Yang jelas, saya mesti menyiapkan uang lumayan banyak, buat Haekal sekolah nanti.
05 January 2012
Liburan
Kami jalan-jalan ke Ciater, liburan kemarin. Meski liburan pendek, anak-anak senang bukan main. Haekal, anak sulung saya, sebenarnya pengin ke Lampung, rumah Om-nya. Tapi, karena tak kunjung dijemput Om-nya, dia mau saja diajak ke Ciater.
Ciater tempat yang hijau, pemandangannya indah. Sepanjang jalan, Haekal selalu menyebut alam itu indah. Sebelum liburan, kami sempat mengajak dia mencari sekolah berbau alam di Bogor. Sepertinya dia suka, dan merekam kata itu. Sejak itu, segala sesuatu yang terbuka di alam bebas, dia sebut alam. "Aa suka alam. Udaranya segar," kata dia.
Seperti biasa, dia merekam segala pemandangan yang dia lihat. Karena suka menggambar, jadilah rekaman itu sebuah lukisan. Gambar pohon adalah rekaman pemandangan, yang kami temui di sepanjang jalan. Begitu juga gambar masjid.
Gunung, sepertinya memori tentang Gunung Tangkupan Perahu, yang sempat kami tengok. Pun juga gambar pagar di pucuk gunung, penghalang para pengunjung di Kawah Ratu, salah satu kawah di Tangkuban Perahu.
Satu lagi, dia juga merekam memori, saat kami makan di KFC. Dia menggambarkannya berupa seorang pelayan, beberapa kursi, dan tentu saja, tulisan "KFC" itu sendiri.
Begitulah, saat di mobil, sepulang liburan itu, Haekal memang punya banyak bahan cerita. Mamanya mendengarkan dengan baik celoteh ini. Mamanya cuma bilang, "Nanti dilukis, ya."
Dan Haekal melaksanakan perintah Mamanya dengan baik.
Ciater tempat yang hijau, pemandangannya indah. Sepanjang jalan, Haekal selalu menyebut alam itu indah. Sebelum liburan, kami sempat mengajak dia mencari sekolah berbau alam di Bogor. Sepertinya dia suka, dan merekam kata itu. Sejak itu, segala sesuatu yang terbuka di alam bebas, dia sebut alam. "Aa suka alam. Udaranya segar," kata dia.
Seperti biasa, dia merekam segala pemandangan yang dia lihat. Karena suka menggambar, jadilah rekaman itu sebuah lukisan. Gambar pohon adalah rekaman pemandangan, yang kami temui di sepanjang jalan. Begitu juga gambar masjid.
Gunung, sepertinya memori tentang Gunung Tangkupan Perahu, yang sempat kami tengok. Pun juga gambar pagar di pucuk gunung, penghalang para pengunjung di Kawah Ratu, salah satu kawah di Tangkuban Perahu.
Satu lagi, dia juga merekam memori, saat kami makan di KFC. Dia menggambarkannya berupa seorang pelayan, beberapa kursi, dan tentu saja, tulisan "KFC" itu sendiri.
Begitulah, saat di mobil, sepulang liburan itu, Haekal memang punya banyak bahan cerita. Mamanya mendengarkan dengan baik celoteh ini. Mamanya cuma bilang, "Nanti dilukis, ya."
Dan Haekal melaksanakan perintah Mamanya dengan baik.
27 December 2011
Pak Rohman
Saya mengenalnya sebagai orang tua yang lucu. Beranak tiga, driver langganan liputan ini sering membuat kami tertawa. Tingkahnya ada-ada saja. Maka, kami menyebutnya Bocah Tua Nakal.
Sebagai orang tua, dia tidak jaim melayani kami, kru teve yang muda, banyak tingkah dan manja. Dia setia menemani kesana-kemari, sambil bercanda sekehendak hati. Di luar pekerjaannya bawa mobil, dia biasa bantu liputan, sibuk menerangi dengan accu light, yang lumayan berat itu. Dia punya dedikasi.
Belakangan, ada yang berubah pada dirinya. Dia jadi agak alim, rajin salat, meski lucunya belum hilang. "Kemarin dia tanya saya, bagaimana cara salat tahajud," kata Hakim Bawazier, narasumber di program saya.
Yang saya tahu, Pak Rohman memang akrab dengan Ki Jarot, belakangan ini. Dialah saksi beberapa kejadian gaib, yang melibatkan Pak Engkis-Ki Jarot, dan saya. Pak Engkis sering tak sadar, saat Ki Jarot merasuk. Padahal, Pak Rohman dan Pak Engkis sering jadi utusan "misi-misi khusus." Tak heran, Pak Rohman jadi semacam penghubung, juru bicara jika ada pesan-pesan dari alam lain.
Dia memang sering cerita ke saya, beberapa pengalaman spiritual yang dia alami bersama Ki Jarot. Sepertinya, pengalaman itu membekas di hatinya. Awalnya, saya agak kaget, mendengar cerita penuh takjub, dari orang yang biasa berkelakar macam anak kecil. Kadang, dia malah tidak bisa mengungkapkan pengalaman gaibnya. "Pokoknya, aneh, deh. Tidak bisa diceritakan," kata dia suatu waktu. Jika sudah begini, saya menghargai kebingungannya. Tak bertanya, saya jadi pendengar saja.
Kemudian, dia mulai cerita ada yang berubah pada dirinya, juga keluarganya. Kata dia, istri jadi lebih perhatian, meski rejeki pas-pasan. Dia sendiri jadi lebih ikhlas menerima keadaan. Saya sendiri, sebenarnya menganggap Pak Rohman nriman. Bisa menerima hidup apa adanya. Jadi, saya tidak tahu, apa beda saat sebelum dan sesudah dia akrab dengan Ki Jarot. Yang jelas, ya itu, dia sendiri merasa beda dengan keadaan dirinya. "Ada semacam berkah," dia bilang.
Sejak itu, saya jadi berpikir, ternyata Ki Jarot yang tak kasat mata, bisa membawa pengaruh kebaikan juga. Wallahu a'lam.
Sebagai orang tua, dia tidak jaim melayani kami, kru teve yang muda, banyak tingkah dan manja. Dia setia menemani kesana-kemari, sambil bercanda sekehendak hati. Di luar pekerjaannya bawa mobil, dia biasa bantu liputan, sibuk menerangi dengan accu light, yang lumayan berat itu. Dia punya dedikasi.
Belakangan, ada yang berubah pada dirinya. Dia jadi agak alim, rajin salat, meski lucunya belum hilang. "Kemarin dia tanya saya, bagaimana cara salat tahajud," kata Hakim Bawazier, narasumber di program saya.
Yang saya tahu, Pak Rohman memang akrab dengan Ki Jarot, belakangan ini. Dialah saksi beberapa kejadian gaib, yang melibatkan Pak Engkis-Ki Jarot, dan saya. Pak Engkis sering tak sadar, saat Ki Jarot merasuk. Padahal, Pak Rohman dan Pak Engkis sering jadi utusan "misi-misi khusus." Tak heran, Pak Rohman jadi semacam penghubung, juru bicara jika ada pesan-pesan dari alam lain.
Dia memang sering cerita ke saya, beberapa pengalaman spiritual yang dia alami bersama Ki Jarot. Sepertinya, pengalaman itu membekas di hatinya. Awalnya, saya agak kaget, mendengar cerita penuh takjub, dari orang yang biasa berkelakar macam anak kecil. Kadang, dia malah tidak bisa mengungkapkan pengalaman gaibnya. "Pokoknya, aneh, deh. Tidak bisa diceritakan," kata dia suatu waktu. Jika sudah begini, saya menghargai kebingungannya. Tak bertanya, saya jadi pendengar saja.
Kemudian, dia mulai cerita ada yang berubah pada dirinya, juga keluarganya. Kata dia, istri jadi lebih perhatian, meski rejeki pas-pasan. Dia sendiri jadi lebih ikhlas menerima keadaan. Saya sendiri, sebenarnya menganggap Pak Rohman nriman. Bisa menerima hidup apa adanya. Jadi, saya tidak tahu, apa beda saat sebelum dan sesudah dia akrab dengan Ki Jarot. Yang jelas, ya itu, dia sendiri merasa beda dengan keadaan dirinya. "Ada semacam berkah," dia bilang.
Sejak itu, saya jadi berpikir, ternyata Ki Jarot yang tak kasat mata, bisa membawa pengaruh kebaikan juga. Wallahu a'lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)

