03 February 2009

Wartawan Senior Yusril Djalinus Berpulang

Koran Tempo, 3 Februari 2009

Yusril Djalinus, akrab dipanggil YD, redaktur senior dan salah satu pendiri majalah Tempo, meninggal akibat stroke kemarin. Jenazah pria kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1944, itu dimakamkan di Pemakaman Pasar Senen, Purwakarta, Jawa Barat. Ratusan pelayat mengiringi kepergiannya dari rumah duka di Jalan Koresponden V Nomor 359, Kompleks PWI, Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Menurut Reno Yusril, anak ketiga Yusril, serangan stroke yang dialami ayahnya terjadi pada Kamis lalu. Saat itu, seusai berolahraga di treadmill, Yusril masuk kamar mandi dan lama tidak keluar. “Kami pun curiga,” kata Reno. Saat kamar mandi dibuka, ia melanjutkan, “Terlihat Bapak terduduk sambil mengorok.” Sebelum stroke menyerang, menurut Reno, tekanan darah Yusril melonjak lebih dari 120 mmhg. “Mungkin itu penyebabnya,” kata Reno. Untuk mengatasi gangguan itu, Yusril sempat dirawat di Rumah Sakit Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur. Namun, upaya itu tak bisa menolong. Yusril meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan empat cucu.

Goenawan Mohamad, akrab dipanggil GM, yang bersama-sama Yusril dan kawan-kawan mendirikan majalah Tempo pada 1971, sangat kehilangan atas kepergian sahabatnya itu. Dalam pidato melepas keberangkatan jenazah Yusril, Goenawan mengaku pernah berharap agar dia meninggalkan Yusril lebih dulu. “Tapi ternyata almarhum meninggalkan kita lebih dulu,” ujarnya, seraya menahan tangis.

Pada 1976, Yusril menjadi koordinator reportase, suatu tugas yang sama sekali baru di Tempo. Bahkan pada saat itu tak ada modelnya di mana pun. Selanjutnya, pada awal 1983, Yusril menjadi redaktur pelaksana.

Dalam buku Wars Within karya Janet Steele, Goenawan Mohamad menyebut Yusril merupakan arsitek sistem organisasi di Tempo. Ia juga merancang sistem koordinator reportase, unit khusus peliputan berita Tempo. Dari pikiran dan tangan dialah kemudian lahir Pusat Data & Analisa Tempo serta Tempo Interaktif— Tempo edisi online yang ramai diakses di akhir masa Soeharto— yang menjadi pionir berita Internet di Indonesia.

Setelah Tempo terbit kembali pada 1998, Yusril menjabat direktur pemasaran. Begitu bersemangatnya, dia selalu memompakan semangat kepada tim iklan. Sampai-sampai Yusril mendapat julukan “Kick YD”—meminjam istilah sebuah acara di televisi. Dalam rapat terakhir pemasaran, beberapa waktu lalu, ia mengirim sebuah pesan pendek, “Saya berterima kasih kepada Anda semua. Saya tidak lagi ikut rapat mulai sekarang. I love you all.”

15 January 2009

Mereka Memang Mau Perang

Mohamad Guntur Romli
Pemerhati politik di Timur Tengah, studi di Mesir 1998-2004

Damai belum tercipta di Gaza, meskipun korban sudah jamak bergelimpangan. Hingga 16 hari, konflik Israel-Hamas telah menewaskan 885 orang Palestina: 230 anak, 90 ibu, 305 anggota milisi Hamas, dan 138 polisi--yang terluka 4.075 orang. Sedangkan di pihak Israel, korban yang tewas "hanya" 13 orang (10 serdadu dan 3 warga sipil) dan yang terluka 149 orang (alquds.com dan haaretz.com).

Namun, besarnya jumlah korban itu tidak membuat kedua pihak memberikan isyarat untuk berdamai. Segala ikhtiar perundingan hingga Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1860 tanggal 9 Januari 2009 yang memerintahkan "kedua belah pihak secepatnya melakukan gencatan senjata dan pasukan Israel mundur dari Gaza agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Jalur Gaza" ditolak mentah-mentah oleh kedua pihak.

Yang aneh dari sikap penolakan itu bukan dari pihak Israel--yang sudah bisa ditebak dengan abstainnya Amerika dalam pungutan suara--melainkan penolakan dari pihak Hamas, karena sebenarnya resolusi itu membela rakyat sipil Palestina agar terhindar dari serangan Israel. Hamas menolak karena mereka tidak diajak berunding atau tak ada poin: blokade terhadap Gaza dan perbatasan Rafah harus dibuka.

Hamas juga menolak usulan penting dalam perundingan lain yang sebenarnya menguntungkan rakyat sipil Palestina, yaitu usulan pengiriman tentara PBB ke Palestina. Hamas tidak ingin ada tentara negara lain di wilayahnya, apalagi di perbatasan Mesir (Rafah). Hamas ingin memegang kekuasaan total di Gaza. Penolakan terhadap gencatan senjata ini, tanpa peduli pada krisis kemanusiaan di Gaza, memberi saya suatu kesimpulan: konflik yang terjadi saat ini adalah politik perang--bukan politik kemanusiaan--politik yang berdasarkan prinsip perang atau perang untuk tujuan politik. Kedua pihak memilih terus berperang daripada peduli terhadap bencana kemanusiaan.

Saya membaca pertempuran yang hakikatnya tidak seimbang ini--baik Israel maupun Hamas sedang menunjukkan kekuatan masing-masing. Pertempuran ini pun--seperti pertempuran-pertempuran di mana saja yang akhirnya berujung di meja perundingan--yang dikejar hanya ilusi kemenangan. Nantinya si pemenang akan menentukan syarat-syarat dalam perundingan. Dalam negeri Israel sendiri, isu perang dan perundingan menjadi isu politik mahapenting. Perdana Menteri Israel yang berani berunding dengan Palestina akan kehilangan jabatan, bahkan nyawanya. Yitzhak Rabin, yang menandatangani Perjanjian Oslo 1993, mati terbunuh. Netanyahu (1996-1999) kalah oleh Ehud Barak karena berani menandatangani kesepakatan Wye River I 1998 dan Wye River II 1999. Dan jabatan Barak (1999-2001) direbut oleh Ariel Sharon karena ia melakukan kesepakatan Camp David II 2000.

Serangan Israel terhadap Gaza ini pun berkait erat dengan pemilu Israel, yang akan digelar pada 10 Februari nanti. Tiga tokoh penting dari tiga partai politik yang akan bertarung, yakni Tzipi Livni dari Kadima, Ehud Barak dari Buruh, dan Benjamin Netanyahu dari Likud, sama-sama berlomba mengail ikan di air keruh. Sedangkan Perdana Menteri Israel sekarang, Ehud Olmert, tahu diri dan tidak ikut bertarung, karena popularitasnya anjlok gara-gara gagal perang melawan Hizbullah 2006 dan berkeras hadir dalam Konferensi Perundingan Annapolis, November 2007.

Dengan serangan Israel ini, Livni ingin memperbaiki citra partainya yang melorot gara-gara kepemimpinan Olmert. Pada Pemilu 2006, Kadima memperoleh suara terbanyak. Ehud Barak juga ingin memperbaiki reputasi Buruh akibat kegagalan Ketua Buruh lamanya: Amir Peretz, yang menjabat menteri pertahanan dalam kabinet Olmert lantas mundur akibat gagal dalam perang melawan Hizbullah. Kini sebagai menteri pertahanan, Barak tidak ingin gagal seperti Peretz. Dua tokoh dalam pemerintahan ini (Livni dan Barak) berpacu dengan Benjamin Netanyahu dari Likud (partai konservatif), yang memilih menjadi oposisi dan sejak awal konsisten bersikap tanpa kompromi terhadap Palestina. Livni dan Barak sadar, kalau kabinet sekarang melunak pada Hamas atau gagal, Netanyahu akan menang dalam pemilu nanti.

Setelah serangan Israel itu, hasil survei menunjukkan partai politik yang ketiban rezeki. Jerusalem Post (2 Januari) menunjukkan Likud dan Buruh memperoleh tambahan dukungan dibanding hasil survei terakhir, 31 Oktober 2008: jumlah kursi Likud diperkirakan naik dari 27 ke 29, Buruh naik tipis: 14 ke 15. Naiknya jumlah kursi dua partai politik itu diprediksi mengambil jatah kursi Kadima, yang turun dari 27 ke 23 kursi.

Barak juga memperoleh keuntungan pribadi. Menurut survei di Haaretz (1 Januari), setelah enam hari serangan Israel, 52 persen responden menegaskan kepuasan mereka atas kinerja Barak dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, yang hanya memperoleh 34 persen.

Di pihak lain, Hamas juga memilih perang. Bagi Hamas, perang adalah satu-satunya panggung untuk memamerkan kekuatan atau celah untuk keluar dari krisis. Sebagai partai politik dan kelompok militer, Hamas ingin menunjukkan kekuatan kepada lawan mereka di Palestina: Fatah, kepada Israel, atau kepada pihak-pihak yang selama ini menjadi mediator dan donatur bagi perundingan Israel-Palestina (Amerika, Uni Eropa, Liga Arab hingga PBB), yang selalu meremehkan kekuatan Hamas, bahkan memboikotnya. Hamas ingin menunjukkan kekuatannya dengan bukti: menang Pemilu Legislatif 2006 dan mengusir milisi Fatah dan pasukan Otoritas Palestina yang loyal kepada Mahmud Abbas dari Gaza (2007). Ke depan, pihak mana pun yang ingin berunding dengan Palestina, Hamas-lah yang paling berhak mewakili Palestina.

Sebagai kelompok militer, Hamas sukses membangun kekuatan. Apalagi sejak mundurnya pasukan Israel dari perbatasan Rafah pada September 2005, yang mengakibatkan hilangnya kontrol militer Israel di kawasan itu. Tugas yang seharusnya dilanjutkan oleh pasukan Otoritas Palestina itu direbut oleh Hamas. Maka penyelundupan senjata untuk memperkuat militer Hamas pun sukses besar. Namun, kekuatan Hamas di dalam negeri tidak banyak berarti karena boikot dari luar negeri. Sedangkan mayoritas rakyat Palestina hidup dari bantuan yang datang dari luar. Boikot itu melahirkan multikrisis: ekonomi, sosial, dan politik. Hamas tidak ingin ada pembangkangan sipil dari dalam. Dengan memancing Israel menyerang, Hamas bisa cuci tangan dari kegagalannya di dalam negeri. Hamas memperoleh simpati luar biasa dan dukungan opini publik dunia. Demonstrasi yang meluas di mana-mana hanya membawa dua pesan: mengutuk Israel dan mendukung Hamas. Dan Kekuatan Hamas dalam konflik ini bukan senjata, melainkan tameng hidup rakyat sipil Gaza yang korban-korbannya (khususnya ibu dan anak-anak) mampu memanggil simpati dunia.

Sementara itu, mayoritas rakyat sipil di Gaza tidak pernah memilih perang. Survei yang dilakukan pada 29-30 Desember tahun lalu di Jalur Gaza oleh Near East Consulting--lembaga konsultan yang mengeluarkan hasil survei bulanan di Palestina--menunjukkan 60 persen dari responden tidak mendukung pilihan Hamas yang tidak melanjutkan "gencatan senjata enam bulan" dengan Israel, yang berakhir 19 Desember (alquds.com, 3 Januari).

Di tengah keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, dan segala upaya perundingan yang selalu diarahkan pada jalur buntu, baik oleh pihak Israel maupun Hamas, hingga penolakan mereka pada Resolusi Dewan Keamanan PBB, kita terkejut dan heran. Bagaimana bisa mereka tidak peduli pada bencana kemanusiaan dan akal sehat perundingan? Ternyata karena mereka memang mau perang. *

Koran Tempo, 14 Januari 2009

04 December 2008

Ros-Lehtinen hangs up on Obama. Twice.

The Crypt – Wed Dec 3, 5:50 pm ET

Is Ileana Ros-Lehtinen a little paranoid?

Maybe.

On Wednesday, the Republican congresswoman got a call from President-elect Barack Obama, didn't believe it was him, and hung up on him. Twice.

According to Ros-Lehtinen's flack Alex Cruz, the congresswoman received the call on her cell phone from a Chicago-based number and an aide informed her that Obama wanted to speak to her. When Obama introduced himself, Ros-Lehtinen cut him off and said, "I'm sorry but I think this is a joke from one of the South Florida radio stations known for these pranks." Then she hung up.

Moments later, Obama tried again, this time through his soon-to-be chief of staff, Rahm Emanuel.

"Ileana, I cannot believe you hung up on the President-Elect," Emanuel said. And then--yes, you know what's coming--she hung up on Emanuel saying she "didn't believe the call was legitimate."

A short time later, Ros-Lehtinen received an urgent call from Rep. Howard Berman (D-Calif.), the chairman of the Foreign Affairs Committee, who informed her that she indeed hung up on Obama.

So, Obama tried again and this time he was successful. (Phew!)

11 November 2008

Mereka Bukan Syuhada
Kelik M. Nugroho, wartawan Tempo

Ribuan orang menyambut keranda jenazah Amrozi, terpidana mati yang telah dieksekusi karena kasus Bom Bali I, di sebuah pekuburan di Lamongan dengan teriakan takbir, atau uluran tangan yang membopong keranda, atawa ekspresi tubuh yang bergetar. Peristiwa itu tentulah bisa disaksikan manusia sedunia melalui layar kaca atau video YouTube ruang mayantara. Mereka yang tak mengerti psikologi umat niscaya geleng-geleng kepala menyaksikan emosi massa yang tumpah dalam halaman takziah. Bagaimana bisa jenazah teroris menyihir ribuan orang untuk bertakziah dan menyambutnya bagai seorang tokoh agama, semacam Kiai Ahmad Sidiq dari Jember, yang memang layak dimuliakan.

Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra, trio pelaku Bom Bali I, wajarlah bila berpendapat bahwa tindakan mereka mengebom Sari Club di wilayah Kuta, Denpasar, yang menewaskan ratusan orang (termasuk muslim), sebagai tindakan jihad. Wajar jika mereka mengajukan alasan-alasan teologis untuk membenarkan tindakan mereka karena mereka membela diri di depan dakwaan melakukan tindakan pidana yang membuat mereka akan dieksekusi dengan tembakan mati. Namun, bagaimana dengan mereka yang tak tersangkut-paut dengan kepentingan itu, mengapa mereka membenarkan tindakan pembunuhan ratusan orang yang tak punya sangkut-paut dengan permusuhan dengan apa pun dan dengan siapa pun?

Memang, kerumunan ribuan orang yang melayat penguburan jenazah Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra tentu tidak dalam maqam (koordinat) sentimen keagamaan yang sama. Seperti kata Profesor Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, di televisi bahwa ribuan orang tersebut tak bisa disamaratakan sebagai pendukung Amrozi dan kawan-kawan secara ideologis. Di antara mereka mungkin ada yang sekadar memiliki kedekatan sebagai tetangga, teman, kenalan, atau sekadar tinggal dekat. Atau mungkin banyak yang terpiuh oleh berita-berita televisi tentang para pelaku Bom Bali I yang ditayangkan secara massif. Atau mungkin motif lain yang beragam.

Namun, harus diakui bahwa banyak di antara para pentakziah itu yang menyambut jenazah trio pelaku Bom Bali I layaknya martir suci yang tewas. Bahkan Ustad Abubakar Ba'asyir, mantan Amir Majelis Mujahidin Indonesia, sebuah kelompok Islam pendukung penerapan syariat sebagai ideologi, berani menyatakan bahwa kematian Amrozi dan kawan-kawan sebagai mati syahid. Mati syahid adalah prestasi positif bagi pejuang Islam yang wafat di medan perang. Sementara itu, Ustad Abu, seperti diketahui, pernah dikait-kaitkan sebagai bagian dari konspirasi terorisme di Indonesia.

Mata sebagian penduduk dunia niscaya menyaksikan peristiwa eksekusi trio pelaku Bom Bali I sebagai peristiwa penting karena para korban dari berbagai negara, sedangkan masalah terorisme berlatar radikalisme agama sedang menjadi sorotan dunia pascapenyerangan gedung kembar Word Trade Center, New York. Mata sebagian penduduk dunia tentu akan merasa lega setelah hukum positif berupa eksekusi mati terhadap trio pelaku Bom Bali I dilaksanakan. Terlepas dari keberatan sejumlah aktivis hak asasi manusia atas pelaksanaan hukuman mati, pesan kepada dunia telah disampaikan: terorisme tak mendapat tempat di Indonesia.

Adanya histeria pendukung Amrozi secara ideologis adalah sebuah pertanda. Pertama, sebagian muslim di Indonesia belum bisa membedakan antara sebuah tindakan dikategorikan pembunuhan dan bukan. Kedua, telah terjadi kerancuan logika dalam beragama karena domain teologi bertabrakan dengan domain sosial. Ketiga, di kalangan muslim muncul kecenderungan cara-cara Machevialistis (tujuan menghalalkan cara), padahal dalam ushulfiqih Islam diajarkan bahwa tujuan tak bisa menghalalkan segala cara.

Kerancuan dalam cara memandang tindakan peledakan Bom Bali I ini tentu menyisakan ancaman bagi dunia bahwa ternyata sebagian muslim masih menganut nilai-nilai yang berbahaya bagi pergaulan kemanusiaan. Kalangan ulama mestinya bertanggung jawab mengajarkan kepada umat Islam bahwa pengeboman di Bali itu merupakan tindakan terorisme dan tak bisa dikategorikan jihad karena dilakukan di Indonesia yang bukan wilayah perang.

Majelis Ulama Indonesia pada 2003 memang pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan terorisme. Dalam banyak kesempatan Kiai Ma'ruf Amin, Ketua Dewan Fatwa Majelis Ulama Indonesia menyatakan, karena Indonesia bukan wilayah perang, terorisme merupakan perbuatan haram. Fatwa itu jelas dan eksplisit. Toh, fatwa MUI ini tampaknya kalah populer dibanding pernyataan-pernyataan Imam Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra di televisi, seperti terbukti dengan banyaknya pelayat yang menyambut jenazah mereka dengan takbir.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah membentuk tim sosialisasi pemahaman jihad, yang salah satunya melibatkan cendekiawan Komaruddin Hidayat, yang sekarang menjabat Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta. Tim ini lama tidak terdengar programnya. Apakah masih aktif? Pemandangan histeria dalam upacara penguburan jenazah Amrozi dkk harus menjadi pengingat tim ini bahwa tugas mereka belum selesai. Masih diperlukan sosialisasi dan pendidikan yang panjang untuk mengembalikan cara berpikir sebagian umat yang salah, yang berjumlah mungkin ribuan orang.

Mereka yang berpendapat bahwa pengeboman yang dilakukan Amrozi dkk sebagai jihad perlu merenungkan komentar Khusnul Khotimah, korban Bom Bali I yang cacat seumur hidup. "Saya juga seorang muslim. Ketiganya (Amrozi dkk) salah menganggap bahwa perbuatan mereka jihad. Itu pembunuhan," kata Khusnul di televisi. Mereka yang masih ngotot berkeyakinan bahwa perbuatan Amrozi dkk sebagai jihad mungkin perlu belajar menjadi korban pengeboman dulu untuk memahami arti jihad. 

Koran Tempo, 11 November 2008

11 October 2008

Aku Ini


...
aku ini wartawan jalang,
bikin berita berdasar pesanan
...

15 September 2008

Aqiqah

Pertanyaan :

Apakah arti, hakekat dan hikmah aqiqah serta potong/cukur rambut di hari ke tujuh . Atas perhatian dan kebaikan hati Ustadz saya ucapkan terima kasih banyak dan semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda. Amiin.

Assalamualaikum

Jawaban :

1. Menanam uri

Kebanyakan daripada kita tidak menghiraukan tentang kepentingan uri. Di saat-saat kegembiraan menerima ahli baru, seringkali uri dilupakan. Jika pihak keluaga tidak mengambil uri, klinik atau hospital mengumpulkan uri-uri itu dan diderma kan kepada syarikat swasta.
Kemudian uri itu diproses bagi memperolehi hormon yang terkandung di dalamnya. Hormon-hormon ini banyak digunakan dalam alat-alat kecantikan dan solekan. Sebahagian ibu bapa cuma membuang bayi dalam tong sampah tanpa memikirkan uri adalah teman rapat bayi didalam kandungan Uri amat penting kepada bayi. Orang tua dahulu mengamalkan cara menanam uri dengan baik. Mereka mencuci dan membalutnya dengan kain dan ditanam, Adab ini adalah baik kerana menghargai sesuatu.

2. Mengazan dan mengqamatkan anak

Bayi yang baru lahir, telinganya berfungsi dengan baik. Islam menganjurkan diazankan di telinga kanan dan diqamatkan di telinga kiri. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kembali anak tentang perjanjian yang pernah dikaitkan dengan tuhan di alam Rohani.

3. Mendoakan anak

Usaha membesarkan dan mendidik anak supaya menjadi manusia berguna bukanlah suatu yang dapat dipastikan kejayaanya. Doa- Berdoa adalah satu usaha. Doa merupakan usaha meminta pertolongan kepada Allah.

Lima perkara yang memepengaruhi jiwa dan harapan orang yang berdoa:-
a. Dengan berdoa, maka semakin tumbuh subur keyakinan bahawa Allah SWT itu dekat.
b. Segala permohonan dari hamba-Nya akan mendapat perhatian sepenuhnya daripada Allah SWT.
c. Supaya doa itu diterima Allah SWT, maka orang yang berdoa terlebih dahulu menjalankan petunjuk dan anjuran Allah.
d. Hendaklah percaya dengan kesungguhan hati dan keimanan kepada Allah SWT.
e. Dengan menjalankan seruan Allah dan percaya kepada-Nya maka Allah akan memberikan petunjuk dan ilmu pengetahuan agar tidak tersesat dan berputus asa.

Antara doa-doa yang patut diamalkan oleh orang tua agar anak- anak mereka menjadi orang yang diredhai Allah yaitu:
a) Doa agar anak patuh kepada Allah - Al Bagarah : 128
b) Doa agar diberi anak yang baik - Al Imran : 38
c) Doa agar diberi zuriat yang menyenangkan hati - Furqan : 74
d) Doa agar anak tetap mengerjakan solat - Ibrahim : 40
e) Doa ketika memberi nama anak

4. Panduan menamakan anak

Sunat memilih nama yang baik kepada anak. Memberikan nama kepada anak merupakan cermin keperibadian dan kefahaman orang tua, kerana nama yang diberikan menggambarkan harapan hati dan harapan orang yang memberikannya. Masa memberikan nama dan orang yang berhak memberikan nama.- Berdasarkan kepada beberapa hadis Rasulullah SAW, maka memberikan nama bagi bayi dapat dilakukan pada hari lahirnya ataupun 3 hari sesudah kelahiran.

Jika belum, boleh ditunda hingga sampai perlaksanaan aqiqah - Siapa yang berhak, ayah atau ibu. Sebenarnya ianya boleh dibincang antara suami dan isteri ketika ingin memberi nama. Menurut Nasya’at Al-Masri, hak memberi nama diberikan pada ayah, kerana adalam Al-Quran menjelaskan supaya anak dinasab> kan kepada ayah bukan ibu.

Pemilihan nama yang utama - Syariat Islam menganjurkan supaya nama yang baik kerana nama tersebut akan dipanggil Allah pada hari Qiamat. Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya: ” Namakan denagn nama para nabi, dan nama yang paling Allah suka ialah nama Abdullah dan Abdurrahman dan nama yang paling benar ialah Harits dan Humaam dan nama yang paling buruk ialah Harb dan Murrah. ” (HR. Abi Wahab Al-Jasyimi)

- Para ulama sepakat mengharamkan semua nama yang mengabdikan selain dari Allah SWT seperti Abdul Uzza, Abdul Ka’abah dan lain-lain. Nama yang makrikh yang perlu dihindari iaitu Yasar, Rabah, Najah, Aflah dan Barakah. Nabi SAW melarang umatnya menamakan anak dengan nama-nama tersebut.

- Nama seperti nama malaikat seperti Mikail dan sebagainya.Ada 2 pendapat ulama, sebahagiannya membolehkan manakala sebahagian lagi melarang.

- Tidak boleh menamakan dengan nama-nama yang buruk yang akan menggambarkan corak kehidupan yang tidak dapat diterima oleh fitrah manusia. - Tidak boleh menamakan dengan nama daripada surah dalam Al- Quran seperti Thaha, Yasin dan sebagainya.

Ibnul Qayyim menjelaskan, nama Yasin dan Thaha adalah salah satu nama nabi adalah tidak benar. Imam Malik mengatakan bahawa nama> -nama tersebut makruh dipakai untuk nama anak. - Rasulullah menganjurkan kepada seseorang yang mempunyai cita cita yang baik untuk diharapkan melalui nama anak-anak. Memberi gelaran kepada anak - Adalah sangat terpuji memberi gelaran yang baik kepada bayi semenjak kecil lagi bagi memberikan motivasi anak. Namun begitu, biarlah gelaran yang baik dan jauhi gelaran yang> boleh memalukannya.

5. Penyembelihan aqiqah

Untuk mensyukuri kelahiran anak, agama menganjurkan untuk mengadakan acara kesyukuran. Menyembelihkan kambing bagi anak lelaki, 2 ekor dan seekor bagi anak perempuan. Acara tersebut sebaiknya dijalankan ketika anak berumur 7 hari. Aqiqah amat penting, menurut keterangan ulama, hukumnya adalah “Sunat Muakkad”. Dengan aqiqah akan menjadikan anak dapat memberi pembelaan (syafaat) kepada orang tuanya pada hari qiamat.

Hikmah aqiqah.

a. Sebagai bukti dari perasaan gembira, kerana diberi kekuatan oleh Allah untuk menjalankan syariat Islam serta dianugerah anak, serta mempunyai harapan agar anak tersebut akan mengabdikan dirinya kepada Allah.
b. Membiasakan berkorban bagi orang tua, demi kepentingan anak yang baru lahir.
c. Melepaskan penghalang pada bayi dalam memberikan syafaat kepada orang tua mereka kelak.
d. melindungi daripada syaitan sehingga setiap anggota tubuh aqiqah berguna untuk menebus seluruh anggota tubuh bayi.
e. Pada waktu memotong aqiqah juga hendaklah diucapkan seperti pada waktu memotong korban iaitu membaca Bismillah.
f. Lebih utama memasak aqiqah itu dan tidak diberikan dalam keadaan mentah. Untuk memudahkan para fakir miskin untuk menikmatinya dan ini lebih terpuji.
g. Umur binatang aqiqah yang disembelih adalah sesuai dengan yang diperintahkan, sihat dan tidak cacat.
h. Tidak sah apabila dilaksanakan secara bersama-sama oleh beberapa orang dengan seekor kambing.
i. Sebaik aqiqah itu berbentuk kambing, walaupun ada juga yang menyembelih seekor unta, lembu atau kerbau.
j. Diutamakan memotong aqiqah atas nama bayi. Rasulullah SAW bersabda, “Sembelihlah atas namanya. Ertinya diniatkan atas nama bayi dengan mengucapkan nama Allah.
k. Penyembelihan terbaik dilakukan sesudah matahari terbit.
l. Sesuatu yang terpuji pada pemotong aqiqah adalam sama terpuji pada pemotong qorban iaitu, dagingnya disedekahkan. Yang baik ialah dibahagi 3 iaitu sebahagian dimasak sendiri sebahagian dihadiahkan dan sebahagian lagi disedekahkan.
m. Tidak diperkenankan menjual kulit aqiqah atau dijadikan bayaran penyembelihan. Harus disedekahkan atau diambil untuk keperluan orang yang mengadakan aqiqah.
n. Bagi seseorang yang mengetahui bahawa orang tuanya belum melakukan aqiqah untuknya, maka dianjurkan untuknya melakukan aqiqah, seperti Nabi telah melakukan aqiqah untuk> dirinya setelah diangkat menjadi Rasul.
o. Sebelum dilakukan penyembelihan aqiqah terlebih dahulu melakukan pencukuran rambut bayi. Kemudian rambut ditimbang dan nilai rambut disedekahkan pada fakir miskin.

6. Mengkhatankan anak

a. Berkhatan atau bersunat harus dilakukan untuk membersihkan anak-anak kerana kemaluan merupakan tempat najis yang harus dibersihkan. - Hukum berkhatan Menurut Imam Shafie, Imam Malik dan Al-Auzai dan lain-lain, berkhatan hukumnya wajib. - Khatan Nabi Ibrahim Dan Rasulullah SAW Nabi Ibrahim berkhatan ketika berusia 80 tahun. Beliau khatankan Nabi Ismail pada usia 13 dan Nabi Ishaq pada usia 7 tahun. Ada riwayat mengatakan Raulullah dilahirkan sudah> berkhatan dan ajau juga riwayat mengatakan baginda dikhatan oleh Malaikat Jibrail. -
Hikmah dan kelebihan berkhatana. Berkhatan merupakan asas daripada kebersihan dan merupakan syariat Islam perlu dikerjakan.
b. Menyempurnakan tuntutan syara’ yang sesuai dengan sunnah Nabi Ibrahim dan Rasulullah SAW. Sebagai usaha ke arah kebersihan diri untuk mengabdikan diri pada Allah SWT.
c. Sering digunakan sebagai perbezaan antara orang Islam dan bukan Islam.
d. Dari aspek kesihatan, ia boleh mendatangkan kebersihan pada kemaluan, mencantikkan bentuk dan merangsang syahwat.
e. Menjaga kesihatan tenaga batin serta memelihara diri dari dihinggapi penyakit kelamin.
f. Mengandungi hikmah yang besar di sebalik yang dilihat oleh mata kerana ajaran Islam yang lengkap dan murni, setiap yang disuruh pasti mengandungi makna yang mendalam

7. Mendidik moral anak

Memberikan pendidikan kepada anak adalah kewajipan ibubapa Firman Allah dalam suruh Luqman ayat 12 - 19 memberi beberapa pokok ajaran Luqman, antaranya :
a. Pendidikan supaya bersyukur
b. Pendidikan supaya jangan mempersekutukan Allah
c. Pendidikan supaya berbakti kepada orang tua.
d. Pendidikan tentang balasan dari hasil perbuatan yang baik dan sebaliknya.
e. Pendidikan tentang soal
f. Pendidikan tentang amar makruf nahi mungkar.
g. Pendidikan supaya bersabarh. Pendidikan supaya jangan sombong dan angkuhi. Pendidikan kesederhanaan

8. Arti anak bagi orang tua

Setiap orang akan merasa bahagia apabila dikurniakan anak. Namun disebalik kebahagiaan ini tersimp an tanggungjawab yang amat berat yang harus dipikul. Anak amat bererti pada ibubapa, antaranya:
1. Anak sebagai rahmat Allah SWT
2. Anak sebagai amanat Allah SWT
3. Anak sebagai harta yang tergadai
4. Anak sebagai penguji keimanan
5. Anak sebagai alat untuk beramal.
6. Anak sebagai saham di akhirat.
7. Anak sebagai sumber kebahagiaan.
8. Anak sebagai tempat bergantung di hari tua.
9. Anak sebagai penyambung cita-cita.
10. Anak sebagai makhluk yang harus diberi pendidikan

Mohamad Joban

15 July 2008

Oscar

Saya membaca Natsir, tapi malah ingat kawan di kampus. Namanya Oscar. Dia tiga tahun di atasku. Lebih dikenal sebagai mahasiswa semua angkatan, dia doyan keluyuran lintas angkatan menebar pesona. Gaul, dan seperti gak peduli kuliah. Makanya kuliahnya awet. Lulusnya lama. Satu yang saya ingat dari anak Aceh: cambang di wajahnya.

Suatu ketika, dia datang menghampiri, menggenggam segepok buku karangan Natsir. "Muslim mana tak kenal Natsir?" Apa maksud? Menyindir atau pamer kenal Natsir. Tak tahu. Cuma itu yang saya ingat darinya.

Beberapa bulan sebelum demo marak di tahun 1998, dia menghilang. Kabar berseliweran. Salah satunya, menyebut Bang Oscar-hampir lupa menyebutnya-bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Entahlah, yang jelas sekarang aku ingat dia. Dimana, Bang?

 
eXTReMe Tracker