18 April 2014

Akhirnya, Denmark

Setelah sepuluh hari di Islandia, akhirnya saya pergi ke Denmark. Hal pertama yang saya lihat di Denmark, tapi tidak saya temukan di Islandia adalah: saya bisa menemukan orang berjilbab di jalanan.

Di Islandia, susah menemukan orang berjilbab. Waktu teman saya yang berjilbab berjalan di kota Reykjavik-ibukota Islandia, banyak orang memandang aneh. Sementara, di Denmark-meski masih banyak cerita orang berjilbab mengalami pelecehan, saya masih bisa menemukan orang berjilbab di tempat umum.

Hal kedua, banyak sekali sepeda di Denmark. Di Copenhagen-ibukota Denmark, sepeda punya jalur khusus di jalanan. Ada juga parkir khusus sepeda di stasiun kereta. Meski saya belum melihat langsung, kabarnya ada gerbong khusus buat menampung pesepeda. Pokoknya, sepeda amat istimewa di Denmark.

Hal lain, tempat makanan halal lebih mudah ditemukan di Denmark, dibanding di Islandia. Mungkin, hal ini karena komunitas Islam di Denmark, lebih banyak daripada di Islandia. Wajar sih, sebab wilayah Denmark lebih luas dari Islandia. Jadi, lebih banyak menampung orang.

Karena itu, Denmark terkesan "lebih hidup" dibanding Islandia. Ini yang saya lihat di Copenhagen. Banyaknya orang, memberi kesan "lebih hidup" itu.

Mungkin kesamaan Denmark dan Islandia, kita gampang minum air putih. Sebab, air kran di dua negara ini sudah bisa langsung diminum.

Namun, tetap saja tidak mudah menemukan tempat salat di dua negara ini. Ada sih beberapa masjid. Kebanyakan ada di pemukiman yang dihuni mayoritas imigran muslim dari Turki atau Pakistan.

Membangun masjid atau tempat salat, masih ribet di Denmark. Bahkan, ada sebuah masjid di luar kota Copenhagen, yang harus main petak umpet untuk mendapat ijin. Masjid ini mendaftarkan diri sebagai tempat budaya Islam, saat mendaftar ke pemerintah kota.

Saat masjid berdiri, masyarakat sekitar menolak pendirian menara. Mereka menolak, karena menara bisa membuat "tempat budaya Islam" lebih tinggi dari gereja. Sementara, orang Denmark menganggap, tidak boleh ada tempat ibadah yang lebih tinggi dari gereja.

Begitulah, akhirnya, muslim di negara ini harus menghargai pendapat mayoritas.

Ini catatan hari pertama saya di Denmark. Masih ada sembilan hari lagi. Semoga lebih berwarna.

12 April 2014

Kartu Kredit

Hal yang saya pelajari di Islandia, orang jarang menggunakan uang tunai. Orang lebih sering menggunakan kartu kredit. Karena itu, warung-warung, restoran dan toko souvenir menyediakan pemindai kartu kredit. Hal ini juga saya temui di Inggris dan Skotlandia.

Ada sebuah joke di Islandia. Suatu ketika, ada pemilik warung disodori uang palsu oleh seorang pembeli. Karena tidak pernah memegang uang, pemilik warung menerima saja uang itu. Tak lama, dia sadar menerima uang palsu, saat diingatkan keluarga. Si pembeli pun ditangkap, meski sudah meninggalkan warung. Semua berkat CCTV. Itulah Islandia.

Satu hal dicatat, semua barang di Islandia mahal. Kata Nenty, fixer saya, harga di Islandia ibarat dua kali harga normal. Semangkuk mie ayam, harganya 1190 krona Islandia. Dengan kurs 1 krona Islandia (ISK)= Rp 100, harganya sekitar Rp 119 ribu.

Harga souvenir tempelan kulkas yang populer di Indonesia, sekitar 850-950 krona. Yah, sekitar Rp 85-95 ribu, lah.

Tapi, saran saya, jangan membandingkan harga di Islandia dengan rupiah. Bisa pusing sendiri. Cari saja barang sesuai kebutuhan, dan sangu Anda. Dan, coba cari pembanding dengan toko lain.

Di downtown Reykjavik-semacam pusat kota begitu, ada banyak toko souvenir. Menurut saya, toko The Viking rada miring harganya. Ada beda sekitar 10 krona dengan toko-toko yang lain.

Sementara, kalau hobi adventure-terutama yang berhubungan dengan gunung dan es-Islandia surganyanya. Banyak toko di sini menjual peralatan adventure. Yang tidak ada di Indonesia, di sini ada. Timberland, Marmot, sudah biasa kan di Indonesia. Di sini akan ada lebih banyak merk lagi. Barangnya pun keren-keren.

Bagaimana soal makanan? Yang jelas, negara ini bukan negara muslim. Akan banyak makanan tidak halal di sini. Namun, daging domba di Islandia sudah dipotong secara halal. Ada kebijakan dari pihak pemotongan daging, untuk memotong daging secara halal. Ini semua karena pertimbangan pasar mereka saja, sih.

Jika Anda tidak peduli dengan makanan halal, sila menikmati makanan dan minuman ala Islandia. Saya sempat merasakan masakan Islandia berbahan ikan. Saya lupa namanya. Tapi enak.

Sebelumnya, saya membayangkan makanan Islandia serba hambar. Nyatanya tidak. Banyak restoran di Islandia menyajikan alkohol. Karena saya tidak minum alkohol, saya tidak mencatat pengalaman itu.

Sejatinya, saya ini penggemar mie dan masakan Asia. Karena itu, biar di Islandia, saya mencari makanan macam itu. Pertama datang ke Islandia, Nenty mengajak saya ke Krua Thai. Dari namanya, Anda tahu ini rumah makan Thailand.

Di sini, ada beberapa makanan berbahan mie, dan makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia, saya rasa. Harganya pun tidak terlalu mahal. Cocok buat yang berkantong tipis. Tapi, tetap saja Anda harus membiasakan membayar dengan kartu kredit.

11 April 2014

Islandia

Mendengar nama Islandia, saya membayangkan tempat paling dingin sedunia. Namanya saja Iceland, tanah es. Tapi, saat pertama kali mendarat dan keluar dari Bandara Keflavik, kami melulu melihat bebatuan gunung. Tanpa pohon. Hampir.

Memang, saat di pesawat IcelandAir, ada satu majalah tentang Islandia. Majalah itu menulis, pohon jarang ada di Islandia. Karena itu, angin akan berhembus sangat kencang, seperti tidak ada yang menahan.

Ya, angin memang biang hawa dingin di Islandia. Maklum, Islandia berada di Samudera Atlantik yang luas.

Bicara soal suhu, sebenarnya Reykjavik-ibukota Islandia tempat saya tinggal, tidak beda jauh dengan London, Liverpool, Glasgow atau Aberdeen yang pernah saya kunjungi. Tapi, angin di Islandia membawa hawa dingin. Saya sarankan pakai sarung tangan saat di luar ruangan.

Kata Nenty-fixer saya di Islandia, ada saat orang berani berbikini di tengah kota. Itu musim panas. Sementara, saya datang ke Islandia saat bulan April seperti ini.

Sebenarnya, kata Nenty, musim panas di Islandia tetap dingin. Tapi hawa hangat membuat orang berani membuka baju, mandi matahari, biar bulu kuduk tetap berdiri.

Satu hal dicatat, cuaca di Islandia sering berubah-ubah. Saya mengalaminya di Reykjavik. Hujan dan matahari bisa datang berulang kali bergantian. Itu sebab, pelangi sering muncul di Reykjavik. Anda tahu, pelangi terjadi karena titik air yang berpendar, saat terkena sinar matahari.

Dan hari ini, Jumat 11 April 2014, adalah hari pertama saya melihat salju dalam hidup saya.

Saya menemukannya saat keluar kamar mandi di apartemen, tempat saya tinggal. Salju beterbangan seperti kapas tipis di jalanan. Saya memandang dari jendela. Luar biasa.

Memang, saat bangun pagi saya membaca ramalan cuaca. Suhunya 0° C. Sayang, salju turun hanya sekitar setengah jam. Saya susah merekamnya di kamera. Sebab terlalu tipis, meski terlihat dengan mata telanjang.

Tapi saya masih lima hari lagi di Islandia. Semoga saya masih bisa menemukan salju lagi.

04 April 2014

Gaib di Inggris

Jauh-jauh pergi liputan ke Inggris, ternyata tidak bisa pergi dari hal-hal gaib.

Ceritanya, saya sedang napak tilas perjalanan Abdullah Quilliam, orang asli Inggris yang masuk Islam di jamannya. Bernama asli William Henry Quilliam, dia lahir di Liverpool, Inggris, pada 10 April 1856.

Quilliam termasuk keluarga terpandang di masanya. Dia punya pendidikan tinggi, dan menjadi pengacara. Tapi jalan hati mengubah dia menjadi muslim, setelah melakukan perjalanan ke Maroko, Aljazair dan Tunisia.

Pada tahun 1889, dia mendirikan masjid pertama di Inggris. Masjid ini juga jadi pusat Islam, dan punya pengaruh terhadap masuknya beberapa orang Inggris ke Islam, pada masa itu. Quilliam juga menulis, dan punya tabloid bulanan, bernama The Crescent (bulan sabit).

Namun, Quilliam harus meninggalkan Inggris pada tahun 1908. Sayang, perjuangan Quilliam tidak diteruskan anaknya. Masjid yang dia bangun terbengkalai. Bangunannya rusak. Pernah jadi Kantor Catatan Sipil oleh Pemerintah Kota Liverpool, bangunan ini jadi sepi tak berpenghuni.

Rumah ini yang jadi awal mula interaksi saya, dengan dunia gaib  Inggris.

Pada Senin (24/3) lalu, saya dan teman-teman berkunjung ke bekas masjid Quilliam, di West Derby Road, Liverpool. Bangunan ini sendiri sudah berantakan. Lantai dan dinding berlubang di sana-sini. Beberapa ruangan pengap tak terawat.

Sebuah yayasan pemerhati sepak terjang Abdullah Quilliam, mencoba melestarikan nama Quilliam. Karena itu, yayasan bernama Abdullah Quilliam Society ini mencoba memperbaharui tempat ini. Direktur yayasan ini, Jahangir Mohammed, mencoba menguak cerita masa Quilliam hidup kepada kami.

Selama liputan tak terjadi apa-apa. Semua terasa normal. Tapi, saat malam sampai di apartemen, mulailah hal-hal aneh datang.

Saya yang mengalami pertama kali. Saat menjelang tidur, saya merasakan ada energi datang. Ya, begitulah rasanya. Seperti ada sesuatu bergerak mendekati saya.

Malam berikutnya, ganti kameramen saya yang mengalami. Dia mendengar suara-suara di apartemen tempat kami menginap. Saat dia hampiri, suara itu lenyap. Lalu suara berpindah ke belakang dia. Akhirnya, dia memutuskan tidur menutup kepala, dan memutar musik keras-keras.

Seorang kawan di Jakarta bercerita, ada "seseorang" datang dan mencoba bercerita tentang Quilliam. Saya tidak bisa bilang, "seseorang" ini siapa. Yang jelas, dia memberi informasi tentang Quilliam. Dan dia memberi saya sebuah nama. Tapi, sejarawan di Inggris tidak mengenal nama tersebut.

Kawan saya di Jakarta itu juga bercerita, "seseorang" itu hendak berinteraksi, dan bercerita.

Lalu, suatu malam, saya hendak tidur, tiba-tiba ada hawa berbeda mendekati saya. Kemudian, ada suara di telinga saya. Saya tidak sempat menyimaknya. Telinga saya terlalu sibuk mendengar degub jantung saya.

23 March 2014

Makanan Halal di London

Hal yang sedikit merepotkan di London, adalah mencari makanan halal. Di negara mayoritas non muslim seperti ini, daging babi dan alkohol menjadi hal biasa. Coba jalan-jalan ke London, daging babi bertebaran di mana-mana.

Untung, ada beberapa kenalan yang menunjukkan tempat-tempat makanan halal. Salah satunya, masakan orang muslim Indonesia sendiri.

Di London, saya menemukannya di Cina Town. Warung ini menyempil di ujung lantai dua sebuah bangunan, yang saya lupa mencatatnya. Karena nyempil, maka namanya Warung Pojok. Warung ini menjajakan masakan Padang. Tapi, ada juga siomay dan bakso.

Saya mencoba masakan Padang, dengan sambel cabe ijo yang menggoda. Porsinya gede bener. Saya bisa keringetan, makan siang di London yang dingin seperti ini.

Saya kenal warung ini dari Mas Dono, fixer kami selama di London. Warung ini memang punya teman dia. Namanya Aa Firdaus, dari Bogor.

Selain jualan warung, Aa juga punya warung kelontong di sebelah warung nasinya. Warung kelontongnya menjual barang-barang khas Indonesia, seperti minyak kayu putih, Indomie atau kecap ABC, yang diimpor dari Belanda.

Warung Pojok sendiri, sepertinya jadi tempat kumpul warga Indonesia di London. Saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia di sana.

Tapi, ada juga warga Malaysia yang menikmati warung ini. Ada beberapa orang Asia bercakap menggunakan logat Malaysia, saat kami di sana. Kabarnya, muslim Malaysia lebih ketat dalam menjaga makanan, daripada orang Indonesia. Maksudnya, muslim Indonesia lebih cuek soal makanan, daripada orang Malaysia. Katanya, ya.

Selain Warung Pojok, saya juga diajak mencoba rumah makan Cina di kawasan London lain. Namanya Noodle Oodle, di kawasan Bayswater, London. Daerah ini memang banyak dihuni orang Malaysia dan Arab. Tak heran, beberapa warung memajang sertifikat halal di depan pintu mereka. Noodle Oodle salah satunya.

Noodle Oodle menjual masakan khas Cina. Karena menggemari mie, saya sih langsung mencoba mienya. Saya lupa namanya. Pokonya ada kata spicy, begitulah.

Dan ternyata, porsinya gede banget. Mangkuk yang mereka sajikan segede mangkuk sup, untuk empat orang. Kalau tidak salah, harganya sekitar £7. Tidak usah mencoba membandingkannya dengan rupiah. Santai saja.

Awalnya, saya kaget melihat penampakan porsi ini. Buanyak banget. Tapi, dinginnya London membantu saya melahap mie ini.

Seperti halnya Warung Pojok, rumah makan Cina ini juga dikenal oleh warga Indonesia di London. Mungkin karena ada sertifikat halalnya. Di sana, kami juga berpapasan dengan warga Indonesia lain.

Yang lucu, warung ini jujur banget. Warung ini memajang papan peringatan adanya pencopet. "Pickpocket operate in this area," begitu peringatannya. Peringatan ini ditempel di tembok, bahkan di meja makan.

Padahal, warung ini juga punya CCTV. Tapi, sepertinya warung ini tidak bisa bertindak lebih jauh, selain memperingatkan pelanggannya agar hati-hati. Jadi, hati-hati kalau mampir ke warung ini.

21 March 2014

Makam Orang Jawa di Brookwood

Hari ini saya berkunjung ke kompleks pemakaman Brookwood, Woking, Surrey, United Kingdom. Sebenarnya saya mencari makam Muhammad Marmaduke Pickthall. Dia tokoh muslim Inggris, yang dikenal sebagai penerjemah Al Quran pertama ke Bahasa Inggris.

Pemakaman Brookwood sendiri merupakan pemakaman luas di luar kota London. Komplek ini berada sekitar 45 kilometer di Barat Daya kota London. Pemakaman Ini punya beberapa kategori berdasarkan agama, negara juga kategori lain. Bahkan, mereka punya kompleks khusus buat makam Ahmadiyah, Ismaili, bahkan pengikut Zoroaster.

Makam Pickthall, yang meninggal pada 1936, berada di sebelah komplek kaum Zoroaster, di komplek pemakaman Brookwood itu. Makam itu berjajar dengan beberapa tokoh muslim lain.

Yang menarik, saya juga menemukan makam seorang Jawa di kompleks makam ini. Namanya sangat priyayi: Kanjeng Gusti Pangeran Ario Sujono. Namanya ditulis dengan ejaan lama, begitu pula kata-kata pelepasan, yang ada di nisannya.

Awalnya saya tidak paham, siapa gerangan orang Jawa, yang sepertinya begitu terhormat, melangkang buana, hingga meninggal di London ini.

Lalu Tuan Google memberi jawaban.

Ternyata Ario Sujono merupakan orang asli Indonesia pertama, dan satu-satunya, yang menjadi menteri di Belanda. Dia seorang muslim. Pangeran Adipati Sujono, begitu nama yang saya temukan di internet, lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886. Dia meninggal di London, pada 5 Januari 1943.

Dari gelar di namanya, Ario Sujono berasal dari bangsawan Jawa. Dia menikahi anak Bupati Pasuruan di masanya. Orang tua Sujono sendiri seorang wedana, pembantu bupati yang membawahi beberapa kecamatan.

Sujono pernah menjadi anggota Volksraad dan Dewan Hindia. Kabarnya, namanya dipromosikan Van Mook, gubernur jenderal terakhir, setelah Jepang menguasai Indonesia.

Pada tahun 1942, dia menjadi menteri tanpa portofolio (saya tidak tahu maksudnya) di pemerintahan pengasingan Belanda di London. Ketika itu, Belanda dikuasai Nazi Jerman.

Ario Sujono dihormati, karena punya pengaruh mendorong kemerdekaan Hindia Belanda. Sayang, suara Sujono terlalu kecil di parlemen. Dia minoritas. Dia sendiri meninggal tahun 1943, dua tahun sebelum Indonesia merdeka.

Jika kita menulis namanya di Google, dia disebut sebagai politikus Belanda. Namun, dia tetap orang pribumi Indonesia pertama, dan satu-satunya, yang menjadi menteri di Belanda.

Bangga? Ya.


20 March 2014

Dinginnya London

London dingin sekali. Sejak pertama datang, saya menggigil kedinginan. Suhu hanya sekitar 11-15°C. Seperti di gunung. Tapi, bagi teman-teman di London, suhu seperti itu termasuk hangat. "Ini enak, tidak terlalu dingin," kata Dono Widiatmoko, orang Indonesia yang menemani saya liputan di London.

Mas Dono, seorang dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat di sebuah universitas di Middlesbrough. Dia sudah 12 tahun di Inggris. Kami mengajak alumni Universitas Indonesia ini, menemani kami bertiga menjelajah London yang dingin ini.

Karena dingin, baju harus berlipat. Satu baju hangat tak cukup di badan. Maklum orang tropis. Apalagi, kegiatan saya di London, kebanyakan di luar ruangan. Jadi, saya harus belajar menahan dingin dari orang London.

Meski dingin, London masih banjir wisatawan. Trafalgar Square penuh rombongan pelancong. Anak-anak sekolah membanjiri museum. Leicester Square pun tak kalah ramai. Anak-anak muda berjingkrak di taman, mengharapkan imbalan. Pengamen memetik gitar, menantikan kencrengan.

Sementara, orang-orang London lalu lalang berjalan kaki, mendekap baju hangat. Mereka menyimpan tangan di kantong jaket. Saya tidak tahu, apa berjalan kaki jadi budaya orang London.

Kata Mas Dono, orang London memang banyak menggunakan transportasi umum. Mereka menjangkau tempat kerja dengan subway dan bis umum. Selebihnya, mereka berjalan kaki.

Saya juga menemukan banyak orang menggunakan sepeda. Tapi kencengnya, bo. Jadi, jangan mengira, orang London naik sepeda secara santai. Jalanan London memang lumayan mulus. So, enak saja orang ngebut naik sepeda.

Motor juga ada di London. Kebanyakan motor besar. Dan mereka ngebut di jalanan. Ada sih motor matic seperti Honda Spacy. Tapi jumlahnya tidak banyak.

Memang, London macet di beberapa tempat. Mobil masih memenuhi jalanan London. Tapi macetnya tidak separah Jakarta. Pengendara mobil menghormati lampu merah. Jika pejalan kaki memencet tanda lampu hendak menyeberang, mobil-bahkan sepeda pun berhenti.

Mungkin, karena ini London macet. Mobil berhenti, menghormati penyeberang jalan, hingga antrian memanjang.

Nah, yang repot, susah parkir mobil di London. Mobil tidak boleh sembarangan parkir di pinggir jalan. Tempat parkir khusus tersedia di beberapa bangunan. Itu pun mahal.

Soal ini jadi masalah lain saat liputan di London. Mas Dono yang nyetir mobil, harus mikir cari tempat parkir, saat kami ada janji dengan narasumber.

Yang rada unik, banyak orang London keranjingan jogging. Mereka melakukannya di pagi, siang bahkan malam hari. Di keramaian orang di tengah kota, ada saja orang London jogging.

But, this is a nice London. Saya akan menghabiskan waktu seminggu di sini. Saya hanya butuh lebih banyak baju hangat, dan sedikit kebiasaan baru di London.