28 August 2015

Jaga Kandang

Sejak pindah ke kantor baru, tidak bisa ke lapangan. Deskripsi tugas saya memang melarang saya ke lapangan, karena ada tanggung jawab yang harus diemban di belakang meja. Padahal kangen juga liputan di lapangan. Jalan-jalan, tepatnya.

Tapi, ya begini namanya tugas. Ada harus dikesampingkan demi tanggung jawab baru. Semoga ada kesempatan jalan-jalan lagi.

10 February 2015

Mutasi

Hoke. Sekarang, saya pindah ke CNN Indonesia. Sistem berbeda dan pola kerja yang berbeda. Namun, tetap Indonesia. Mungkin, tidak ada lagi cerita hantu dan cenayang. Tapi, siapa tahu ada cerita soal itu suatu saat. So, welcome.

03 November 2014

Malu

Saya nemu hadis yang bagus. Soal malu dan kesabaran.
Rasulullah SAW bersabda : "Malu itu adalah aksesoris yang indah, takwa adalah kemuliaan, dan sebaik-baik kendaraan adalah sabar, sedangkan menunggu jalan keluar dari Allah SWT adalah ibadah."
(HR. Hakim dan Tirmidzi)

30 September 2014

Musim Haji

Saat musim haji seperti ini, saya sering ingat bapak saat pergi haji. Bapak pergi haji bersama ibu pada tahun 2008. Mereka menyisihkan gaji, juga uang pensiun untuk berangkat haji. Anak-anak ikut patungan untuk menambah kekurangan. Alhamdulillah, mereka bisa berangkat haji.

Bapak orang lugu. Hidupnya lurus-lurus saja. Karena itu, tidak ada niat lain baginya pergi haji, selain ibadah.

Suatu ketika, ibu kehilangan bapak saat di Masjidil Haram. Ibu menangis, sebab bapak sudah agak pikun saat itu. Lagipula, berhaji adalah pengalaman pertama bapak pergi jauh. Tidak ada seorang pun dia kenal. Begitu pikiran ibu. Itu sebab ibu khawatir.

Setelah beberapa jam hilang, bapak bisa ditemukan di sekitar Masjidil Haram. Bapak bilang waktu itu, "Saya pergi haji itu untuk ibadah. Jadi, saya lupakan anak-istri." Sepertinya, bapak sengaja menghilang, beribadah tanpa peduli siapapun.

Dua tahun setelah pulang haji, bapak meninggal. Saya adalah orang yang tidak merasa sedih, saat bapak meninggal. Bagi saya, bapak orang baik. Jika datang saat meninggal, saya percaya dia punya tempat istimewa di alam sana.

Saat bapak meninggal, hujan deras mengiringi. Hujan datang seperti air kran yang dibuka. Deras. Namun, hujan tetiba berhenti, saat jenazah bapak digotong ke makam. Persis seperti air kran yang ditutup tiba-tiba. Orang-orang berbisik, "Bapakmu itu orangnya ikhlas." Saya berpikir, apa berhentinya hujan itu tanda alam menerima keikhlasannya. Amin.

Hari itu, orang-orang mengantar bapak pulang ke penciptanya. Saya tidak pernah merasa sedih kehilangan dia. Saya bangga bapak pulang lebih dulu.

19 September 2014

Edinburgh

Di Edinburgh, Skotlandia, ada patung David Hume, seorang filosof kondang, putra daerah. Ada mitos, siapa megang jempol patung ini, dia bisa lolos ujian. Banyak orang Asia yang belajar di Edinburgh, percaya mitos ini.

Seperti yang saya lihat April lalu. Seorang remaja bermata sipit, terlihat khusyuk memegang jempol patung Pak David. Tak heran, ujung jempol patung ini sedikit mengelupas catnya, sebab banyak orang memegang. Saya sempat minta remaja itu mengulang memegang jempol, untuk saya potret. Kali ini dia nyengir.

Saat weekend, patung ini jadi spot pemain bagpipe mejeng, unjuk ketangkasan memainkan alat musik asli Skotlandia ini. Jika sudah begini, turis akan melempar receh ke tas yang digelar. Termasuk saya dan rekan liputan saat itu.

"Anda dari mana?" tanya pemain bagpipe. "Indonesia," kami jawab waktu itu. "Oh, Indonesia." Saya tidak tahu, apa ini isyarat dia tahu tentang Indonesia, atau sekedar basa-basi.

Saat referendum kemarin, saya tidak bisa membayangkan suasana di Edinburgh. Tapi saya kangen bangunan tua di sana, seperti Kastil Edinburgh, di bukit bekas gunung berapi Castle Rock itu. Terlihat angker, bangunan tua kadang seperti mengundang orang datang. Sepertinya, dia punya banyak cerita.

18 April 2014

Akhirnya, Denmark

Setelah sepuluh hari di Islandia, akhirnya saya pergi ke Denmark. Hal pertama yang saya lihat di Denmark, tapi tidak saya temukan di Islandia adalah: saya bisa menemukan orang berjilbab di jalanan.

Di Islandia, susah menemukan orang berjilbab. Waktu teman saya yang berjilbab berjalan di kota Reykjavik-ibukota Islandia, banyak orang memandang aneh. Sementara, di Denmark-meski masih banyak cerita orang berjilbab mengalami pelecehan, saya masih bisa menemukan orang berjilbab di tempat umum.

Hal kedua, banyak sekali sepeda di Denmark. Di Copenhagen-ibukota Denmark, sepeda punya jalur khusus di jalanan. Ada juga parkir khusus sepeda di stasiun kereta. Meski saya belum melihat langsung, kabarnya ada gerbong khusus buat menampung pesepeda. Pokoknya, sepeda amat istimewa di Denmark.

Hal lain, tempat makanan halal lebih mudah ditemukan di Denmark, dibanding di Islandia. Mungkin, hal ini karena komunitas Islam di Denmark, lebih banyak daripada di Islandia. Wajar sih, sebab wilayah Denmark lebih luas dari Islandia. Jadi, lebih banyak menampung orang.

Karena itu, Denmark terkesan "lebih hidup" dibanding Islandia. Ini yang saya lihat di Copenhagen. Banyaknya orang, memberi kesan "lebih hidup" itu.

Mungkin kesamaan Denmark dan Islandia, kita gampang minum air putih. Sebab, air kran di dua negara ini sudah bisa langsung diminum.

Namun, tetap saja tidak mudah menemukan tempat salat di dua negara ini. Ada sih beberapa masjid. Kebanyakan ada di pemukiman yang dihuni mayoritas imigran muslim dari Turki atau Pakistan.

Membangun masjid atau tempat salat, masih ribet di Denmark. Bahkan, ada sebuah masjid di luar kota Copenhagen, yang harus main petak umpet untuk mendapat ijin. Masjid ini mendaftarkan diri sebagai tempat budaya Islam, saat mendaftar ke pemerintah kota.

Saat masjid berdiri, masyarakat sekitar menolak pendirian menara. Mereka menolak, karena menara bisa membuat "tempat budaya Islam" lebih tinggi dari gereja. Sementara, orang Denmark menganggap, tidak boleh ada tempat ibadah yang lebih tinggi dari gereja.

Begitulah, akhirnya, muslim di negara ini harus menghargai pendapat mayoritas.

Ini catatan hari pertama saya di Denmark. Masih ada sembilan hari lagi. Semoga lebih berwarna.

12 April 2014

Kartu Kredit

Hal yang saya pelajari di Islandia, orang jarang menggunakan uang tunai. Orang lebih sering menggunakan kartu kredit. Karena itu, warung-warung, restoran dan toko souvenir menyediakan pemindai kartu kredit. Hal ini juga saya temui di Inggris dan Skotlandia.

Ada sebuah joke di Islandia. Suatu ketika, ada pemilik warung disodori uang palsu oleh seorang pembeli. Karena tidak pernah memegang uang, pemilik warung menerima saja uang itu. Tak lama, dia sadar menerima uang palsu, saat diingatkan keluarga. Si pembeli pun ditangkap, meski sudah meninggalkan warung. Semua berkat CCTV. Itulah Islandia.

Satu hal dicatat, semua barang di Islandia mahal. Kata Nenty, fixer saya, harga di Islandia ibarat dua kali harga normal. Semangkuk mie ayam, harganya 1190 krona Islandia. Dengan kurs 1 krona Islandia (ISK)= Rp 100, harganya sekitar Rp 119 ribu.

Harga souvenir tempelan kulkas yang populer di Indonesia, sekitar 850-950 krona. Yah, sekitar Rp 85-95 ribu, lah.

Tapi, saran saya, jangan membandingkan harga di Islandia dengan rupiah. Bisa pusing sendiri. Cari saja barang sesuai kebutuhan, dan sangu Anda. Dan, coba cari pembanding dengan toko lain.

Di downtown Reykjavik-semacam pusat kota begitu, ada banyak toko souvenir. Menurut saya, toko The Viking rada miring harganya. Ada beda sekitar 10 krona dengan toko-toko yang lain.

Sementara, kalau hobi adventure-terutama yang berhubungan dengan gunung dan es-Islandia surganyanya. Banyak toko di sini menjual peralatan adventure. Yang tidak ada di Indonesia, di sini ada. Timberland, Marmot, sudah biasa kan di Indonesia. Di sini akan ada lebih banyak merk lagi. Barangnya pun keren-keren.

Bagaimana soal makanan? Yang jelas, negara ini bukan negara muslim. Akan banyak makanan tidak halal di sini. Namun, daging domba di Islandia sudah dipotong secara halal. Ada kebijakan dari pihak pemotongan daging, untuk memotong daging secara halal. Ini semua karena pertimbangan pasar mereka saja, sih.

Jika Anda tidak peduli dengan makanan halal, sila menikmati makanan dan minuman ala Islandia. Saya sempat merasakan masakan Islandia berbahan ikan. Saya lupa namanya. Tapi enak.

Sebelumnya, saya membayangkan makanan Islandia serba hambar. Nyatanya tidak. Banyak restoran di Islandia menyajikan alkohol. Karena saya tidak minum alkohol, saya tidak mencatat pengalaman itu.

Sejatinya, saya ini penggemar mie dan masakan Asia. Karena itu, biar di Islandia, saya mencari makanan macam itu. Pertama datang ke Islandia, Nenty mengajak saya ke Krua Thai. Dari namanya, Anda tahu ini rumah makan Thailand.

Di sini, ada beberapa makanan berbahan mie, dan makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia, saya rasa. Harganya pun tidak terlalu mahal. Cocok buat yang berkantong tipis. Tapi, tetap saja Anda harus membiasakan membayar dengan kartu kredit.