10 February 2004

Balkon dan Pohon Jambu di Depan Rumahku

Rumahku bukanlah rumahku. Aku menempatinya dua tahun lalu, bersama beberapa teman yang sudah lebih dahulu menempatinya dua atau tiga tahun lebih awal. Ini sebuah rumah kontrakan, berlantai dua, dimana aku harus menyisihkan sebagian dari gaji bulananku, untuk membayar sewa salah satu kamar di rumah itu.

Rumahku bukalah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Tahukah kau, satu hal yang menarik dari rumahku, yang membuat aku betah, dan enggan berpindah tempat darinya. Jawabnya adalah balkon rumahku.

Di balkon rumahku itu, aku sering diam merenung. Sekadar menikmati angin yang menyingkirkan hawa panasku, atau menikmati bintang yang kadang mengintip dari langit. Kadang ada kopi manis menemani, ketika ada buku di tangan. Ada damai yang membuat aku merasa harus melewati balkon ini setiap hari. Sekadar duduk di kursi bambunya yang sudah lapuk karena hujan, barang satu menit saja.

Kadang, balkon itu menjadi tempat berkumpul kami, para penghuni rumah, yang kebanyakan laki-laki. Sekadar berbasa-basi, bercerita tentang pekerjaan, atau menggoda perempuan-perempuan yang melintas di bawah. Dan yang tidak pernah ketinggalan, cerita tentang ibu pemilik rumah yang pelit, dan sangat sensitif dalam urusan uang. Ibuku seperti sebuah cerita wajib saat kami berkumpul di balkon.

Rumahku bukanlah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Rumah dengan balkon yang mengikatku, yang membuatku bertahan menikmati meriahnya sore di Karet.

Dulu, dari balkon itu, aku sering menikmati pohon jambu air di depan rumahku. Buahnya rimbun menggoda, karena warna merahnya yang menyala. Setiap tiga bulan sekali, pohon jambu itu berbuah. Buahnya menarik perhatian orang yang lewat di bawahnya.

Kala siang, anak-anak sekolah sering melemparkan batu, sandal, atau tasnya ke pohon jambu itu. Mereka berharap ada buah jambu runtuh karena lemparan itu. Ketika jambu berjatuhan, mereka berteriak kegirangan.

Kala hujan datang, pohon jambu itu menjadi wisata keramaian. Sambil bermain air hujan, anak-anak meloncat, menggapai buah jambu. Jika gapaiannya tak mengena, mereka tertawa. Jika buah jambu runtuh, mereka bergembira. Duh, meriahnya.

Kala pagi, aku juga sering menyaksikan burung-burung beterbangan di sekitar pohon jambu itu. Mereka berkejaran, hinggap di dahan, mematuki kembang jambu dan beterbangan kemudian. Kadang pula, aku melihat seekor kupu-kupu hitam, yang bertengger angkuh di ujung daun. Sementara, kupu-kupu yang lain bermesraan di ujung daun yang lain. Ada kehidupan di pohon jambu itu.

Kadang, pohon jambu itu menjadi langganan berlabuh layang-layang putus. Saat musim layang-layang, benang-benang berseliweran menggantung di pohon. Bangkai bingkai layang-layang tertinggal di pucuk pohon. Itulah yang membuat pohon itu semakin akrab dengan anak-anak kampung.

Tapi, tiga hari lalu, aku terkejut seusai bangun tidur. Rerimbunan pohon jambu tiba-tiba lenyap dari balkonku. Terang benderang, tak ada hijau daun dan merah buah jambu. Berganti pemandangan apartemen Da Vinci yang pamer aristokrasi itu.

Lalu, aku masih duduk di kursi bambu di balkonku. Memandang Da Vinci yang kelabu. Menikmati angin yang mengusir hawa panasku. Tak ada buah jambu dan kupu-kupu. Tidak lagi.

Tapi anak-anak kampung masih berteriak di jalanan, seolah tak peduli dengan hilangnya pohon jambu di depan rumahku. Padahal, mereka tidak bisa lagi menikmati merah jambunya. Mereka tak lagi menyodok layang-layang di dahannya. Sepertinya hanya aku yang kehilangan pohon jambu. Sendirian.