Ersa
Aku mengenalnya di Bali, entah kapan aku lupa, dalam sebuah liputan ecek-ecek-- ini sebutan untuk undangan liputan yang tidak jelas di kantor kami. Kami menginap di sebuah cottage di Nusa Dua dan nongkrong di lobby Sheraton Hotel. Di pelataran parkir hotel, kami juga menikmati tarian dan nyanyian dari beberapa daerah di Indonesia.
Kami bicara soal pekerjaan, gosip perpindahan orang media di Jakarta, dan satu lagi, soal brengseknya organizer yang mengundang kami ke Bali. Maklum, ketika itu, organizer yang mengundang kami kurang profesional. Banyak compang-camping dan kepentingan bisnis yang dipaksakan ke kami. Tapi kami, juga beberapa rekan lain cuek bebek. Tidak ambil peduli. Yang penting jalan-jalan, ah. Begitu kami pikir.
Setelah itu lupa, dan tidak bertemu.
Juni 2003, aku berada di Aceh, untuk sebuah liputan. Sekitar satu minggu di sana, aku mendengar namanya menjadi perbincangan di Aceh. Bersama dua orang rekan, dan dua orang sipil lain, dia ditangkap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Banyak informasi simpang siur soal penyanderaan ini. Hingga enam bulan kemudian, hingga Senin kemarin, ketika kabar tentang sebuah kontak senjata, antara Marinir dan GAM di Simpang Ulim, Aceh Timur, menewaskannya.
Tidak ada yang pasti selama enam bulan itu, selain kenyataan bahwa dia sudah mati. Dua peluru menembuh tubuhnya. Satu di leher, satu lagi di dada.
Aku tidak menunggu dia datang di bandara, ketika jenazahnya dikirim dari Lhokseumawe, setelah berhenti sebentar di Medan. Tapi, kami, orang-orang yang pernah mengenal dia berduka. Lewat berita, spanduk yang kami usung, bunga yang kami sebar, juga teriakan kawan-kawan di jalanan ibukota, dan kota-kota lain.
Jadi, kawan Sory Ersa Siregar, aku titip sebuah doa dalam perjalananmu ke surga: semoga damai akrab di bumi. Tidak hanya di Aceh.
Tapi, aku merasakan desir lain. Tentang sebuah kematian yang dekat, lewat orang-orang yang aku kenal. Semoga ini lumrah.
24 December 2003
(Sebagian) Gereja-gereja Tua di Jakarta
Jakarta menyimpan kekayaan, berupa bangunan-bangunan tua. Mereka menyimpan cerita sejarah. Salah satu diantaranya adalah gereja. Tulisan ini adalah oleh-oleh "perjalanan dinas" di hari Minggu yang panas di lapangan Banteng. Lumayan, buat kado Natal bagi mereka yang merayakan.
Gereja Immanuel
Ketika itu, dunia sedang memasuki abad 19. Sejarah gereja Kristen di Indonesia sedang mengalami masa-masa buruk, karena peralihan kekuasaan wilayah pendudukan pemerintah kolonial Belanda ke pemerintah kolonial Inggris. Sejak De Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dilebur pada akhir abad 16, segala urusan, termasuk urusan gereja yang dulunya menjadi wewenang VOC, berpindah tangan ke pemerintah pusat di Belanda. Proses peralihan ini menganggu penyebaran agama Kristen di Hinda Belanda.
Saat Inggris mulai menguasai pulau-pulau di Hindia Belanda, hanya ada tiga pendeta di Hindia Belanda. Pendeta Ross di Batavia, Pendeta Meyer di Surabaya, dan Pendeta Montanus di Semarang. Itupun, pada tahun 1815, Pendeta Meyer meninggal dunia. Setahun kemudian, Pendeta Montanus menyusul Meyer. Ketika sejarah mengembalikan Belanda ke Hindia Belanda untuk mengambil alih seluruh kepulauan Nusantara pada 19 Agustus 1816, hanya ada satu pendeta di Hinda Belanda, yaitu Pendeta Ross.
Di Batavia sendiri, saat itu ada dua jemaat Kristen Protestan, jemaat Gereja Hervormd dan Gereja Lutheran. Sebenarnya, setiap jemaat mempunyai pendetanya sendiri. Tapi, sejak tahun 1816, jemaat Lutheran tidak mempunyai pendeta. Sehingga, Pendeta Ross harus melayani kedua jemaat ini.
Pada saat yang sama, Eropa sedang terjadi perubahan dari peradaban Aufklarung. Menurut D.R. Maitimoe, penulis buku Latar Belakang dan Pembangunan Gedung Geredja Immanuel dalam rangka peringatan satu seperempat abad Gereja Immanuel pada tahun 1965, semangat Aufklarung ini memicu gerakan menyatukan gereja dan organisasi Kristen dalam satu bentuk konkrit, sebuah organisasi. Raja Willem I, yang berkuasa di Belanda saat itu tak luput dari semangat itu. Maka, Willem pun membangun mimpi, sebuah persatuan semua gereja dan organisasi Kristen.
Sayangnya, kekuasaan gereja di Belanda terlalu kuat. Niat Willem untuk menyatukan gereja dalam satu wadah ditolak oleh gereja. Tapi Willem tidak patah semangat. Dia mengalihkan obsesinya ke negara jajahan Belanda, dimana Raja masih berkuasa penuh. Hindia Belanda sendiri, pada tahun 1844 berdiri persatuan gereja yang berpusat di Batavia. Namun, jemaat Hervormde dan Lutherse baru bisa bersatu sepuluh tahun kemudian.
Masalah datang, ketika tidak ada gereja yang memenuhi syarat untuk ibadah. Karena itu, pada tahun 1832, kedua jemaat memutuskan untuk membangun sebuah gereja besar di Weltevreden, yang di kemudian hari, daerah ini disebut daerah Gambir. Keputusan bersama ditandatangani pada 2 Desember 1832. Selanjutnya, pada 20 Desember 1832 dibentuk panitia untuk mempersiapkan segala tetek bengek pembangunan gereja ini.
Anggaran pembangunan diperkirakan sekitar 192 ribu gulden. Kedua jemaat, Hervormd dan Lutheran masing-masing menyumbang 40 ribu gulden. Gubernur Jenderal Baud, yang berkuasa waktu itu menyumbang 92 ribu gulden. Sedangkan jemaat lain, yang berasal dari Jawa dan Sumatera menyumbang 20 ribu gulden.
Untuk membangun gereja, panitia membeli tanah di Pejambon. Alasannya, banyak orang Batavia yang sudah berpindah dari daerah Kota ke daerah Pintu Besi, Nusantara, Tanah Abang, Gambir dan Kebon Sirih. Kemudian, pada 24 Agustus 1835, tepat pada hari kelahiran Raja Willem I yang ke 63, batu pertama diletakkan. Akhirnya, setelah makan waktu lima tahun, gereja berdiri dengan megah. Pada 24 Agustus 1839, sekali lagi mengambil hari kelahiran Raja Willem I, gereja diresmikan. Nama Willem sendiri diabadikan untuk nama gereja: Willemskerk.
Menurut Maitimoe, masih dalam buku peringatan sepereempat abad Gereje Immanuel itu, sejak tahun 1948, nama Willemskerk berubah menjadi Gereja Immanuel. Nama Immanuel sendiri, yang artinya Allah beserta kita, diberikan oleh dua pendeta dari kedua jemaat, yaitu Pendeta Supit dan Pendeta Van der Voet.
Sampai sekarang, Gereja Immanuel masih berdiri tegak di Jalan Pejambon, seberang Stasiun Gambir. Tiang-tiangnya yang kokoh menjadi ciri gereja ini. Yang paling menarik perhatian adalah bentuk gedung yang bundar seperti lingkaran. Di bagian dalam gereja, bentuk lingkaran ini berpadu dengan kursi-kursi yang melingkar, berundak. Juga ada balkon di bagian atas. Mengingatkan bentuk theater pada zaman Romawi.
Mengutip Maitimoe, gaya arsitektur Gereja Immanuel memang mengacu pada corak zaman Helenisme. Menurut dia, JH Horn, sang arsitek yang merancang gereja ini, adalah seorang arsitek yang beraliran laat-renainssance. Aliran ini mengacu kepada bentuk-bentuk kebudayaan Hellas, jauh sebelum abad Masehi datang.
Padahal, menurut Maitimoe, ketika itu, banyak gereja Kristen yang bercorak zaman Roman, seperti Gereja Zion di Kota. Maitimoe menduga, Horn mendapat semangat dari Aufklarung, sehingga berani mengambil gaya yang tidak lazim pada masa itu. Mencampur unsur Barok, Rococo dan Pompeis pada masa sebelum abad Masehi. Maitimoe juga menyindir Horn lebih mementingkan aspek gaya daripada ajaran Kristen. "Kesimpulan jang dengan berhati-2 kami mengambil disini, ialah bahwa tuan Horn, jang adalah ahli betul-2 dalam vaknja, setjara rohaniah dan geredjani tidak begitu mendalam, sehingga latar belakang kebudajaan lebih-2 menentukan bentuk dan interiur geredja, daripada kesadaran indjili. Djelas ialah bahwa gedung "Willemskerk" adalah alhasil djiwa-zaman (tijdsgeest) dan kurang alhasil kesaksian/pelajaran Kristen," demikian pendapat Maitimoe tentang arsitektur Gereja Immanuel.
Terlepas dari perdebatan itu, Gereja Immanuel adalah cagar budaya yang dilindungi dengan Undang-undang. Beberapa benda berusia tua juga tersimpan di sini. Orgel yang dibuat pada tahun 1843 misalnya, masih digunakan setiap kali kebaktian. Orgel ini pernah diperbaiki pada tahun 1980-an.
Sayangnya, sejak tahun 1999, pemerintah tidak lagi mengucurkan sumbangan. Selanjutnya, perawatan gereja mengandalkan sumbangan dari jemaat. "Setidaknya, kami butuh Rp 2,5 juta per bulan untuk merawat gereja," kata salah Pengurus Harian Gereja Benny E. Muaya. Dana ini digunakan untuk perawatan kecil, semisal mengganti lampu atau pengecetan ulang. Jika berkunjung ke gereja
Gereja Immanuel sendiri, menurut Benny, mengalami renovasi terakhir pada tahun 1980-an. Sejak itu, gedung gereja tidak penah direnovasi kembali. Terakhir, gereja ini sempat dicat ulang pada bagian dalamnya, ketika Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom menikah di gereja ini. "Itu pun, uangnya sumbangan dari Ibu Miranda," kata Benny.
Meskipun demikian, jemaat Gereja Immanuel terus bertambah, bahkan bervariasi. Keragaman jemaat itu terlihat dari jadual kebaktian pada hari Minggu, yang dibagi berdasar bahasa yang digunakan. Selain Bahasa Indonesia, kebaktian juga menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Sayang, Benny tidak menyebutkan jumlah jemaatnya. Yang istimewa, gereja ini juga melayani kebaktian dengan Bahasa Korea. "Orang Korea suka mengadakan kebaktian disini," kata Benny bangga.
Katedral Jakarta
Katedral Jakarta berdiri sejak 1901. Katedral ini didirikan di atas reruntuhan gereja yang dibangun sebelumnya. Awalnya, gereja lama ini adalah bekas gedung perkantoran. Insinyur Tromp, seorang Belanda, mengubah gedung itu menjadi gereja. Menurut A. Heuken SJ, dalam tulisannya di Majalah Hidup Edisi No. 16 22 April 2001, Tromp sebenarnya berniat membangun gereja baru untuk kaum Katolik. Bahkan, Tromp, yang ketika itu baru saja menyelesaikan Gedung Putih--sekarang Departemen Keuangan--sudah merancang denah gereja itu. Tapi, saat itu umat Katolik tidak memiliki cukup dana. Tak ada pilihan lain, maka, gedung perkantoran pun diubah menjadi gereja.
Setelah selesai dibangun, gereja itu mendapat nama Gereja St. Maria Diangkat ke Surga, dan diberkati Prefek Apostolik Batavia Kedua--semacam penguasa otoritas wilayah--L. Prinsen Pr. Selanjutnya, sejak tahun 1829 gereja ini resmi digunakan untuk ibadah. Pada akhir tahun 1870-an, gereja sempat diperbaiki. Namun pada 9 April 1890, gereja ambruk. Penyebabnya, salah satu tiang dari batu bata retak dan runtuh. Akibatnya, tiang-tiang lain tidak mampu menahan beban dan rubuh.
Lalu, PA Dijkmans, seorang pastor yang juga belajar arsitektur mulai merancang gereja baru. Pada tahun 1891, fondasi bangunan mulai dibangun. Sayangnya, pada tahun 1894 Dijkmans harus kembali ke Belanda karena sakit. Maka, pembangunan gereja dilanjutkan oleh MJ Hulswit. Kemudian, pada 16 Januari 1898 batu pertama pembangunan gereja baru ini diletakkan dan diberkati.
Sekitar tiga tahun kemudian, tepatnya 21 April 1901, Gereja St. Maria Diangkat ke Surga diresmikan. Sejak saat itu, gereja ini disebut Katedral, karena gereja ini menyimpan catedra, atau tahta uskup. Katedral hasil rancangan Dijkmans ini bergaya neo-gothik. Menurut Han Awal, arsitek yang juga menulis untuk Majalah Hidup di edisi yang sama, gaya gothik memiliki karakteristik gaya bangunan menjulang tinggi ke atas, alur-alur tiangnya langsing, dan bertemu satu sama lain dalam suatu titik di atas. "Seakan-akan mengajak orang berdoa untuk memandang ke atas," tulis Awal dalam majalah Hidup edisi No. 16 itu.
Katedral Jakarta sendiri mempunyai bentuk dasar salib, yang panjangnya 60 meter. Langit-langitnya terbuat dari kayu dengan tinggi 17 meter. Menara di atas atap yang menjulang, tingginya 60 meter.
Menurut Heuken, pada awalnya Katedral tidak mempunyai barang hiasan bermutu. Altar yang digunakan sekarang, dikirim dari Gorningen, Belanda pada tahun 1956. Bejana pembaptisan yang terbuat dari marmer berasal dari tahun 1834. Lonceng paling besar, yang dijuluki Wilhelmus adalah hadiah dari seorang Belanda bernama JH de Wit pada tahun 1834.
Katedral juga menyimpan ornamen lain. Orgel yang ada di Katedral, berasal dari Belgia. Orgel ini mempunyai 900 buah pipa. Namun, yang terlihat hanya 15 pipa. Orgel yang datang sekitar tahun 1988 ini menggantikan orgel lama yang disumbangkan ke gereja lain. Katedral juga menyimpan mimbar dengan ukiran unik. Pada bagian atas mimbar terdapat hiasan bunga-bunga dan burung merpati. Di bagian tengahnya, terdapat gambar Yesus yang dikeliling murid-muridnya.
Selain itu, museum Katedral, yang berada di lantai dua Katedral juga menyimpan benda-benda unik lain. Satu diantaranya adalah perahu, yang digunakan Pastor Bonneke SJ, seorang imam jesuit yang wafat di Flores, 200 tahun lalu. Museum Katedral juga menyimpan lukisaan Katedral, buah tangan Kusni Kasdut--seorang penjahat kelas kakap yang dieksekusi mati--setelah masuk Katolik.
Menurut Pradipta, salah seorang relawan di Katedral, Katedral pernah mengalami renovasi besar-besaran sekitar tahun 1987-1988. Ketika itu, atap yang dulunya terbuat dari sirap diganti dengan tembaga. Pada tahun 2002, Katedral juga sempat mengalami perbaikan. "Tapi itu perbaikan di luar," kata Pradipta. Renovasi pada tahun ini hanya memperbaiki saluran air dari atap dan perbaikan taman. Setelah perbaikan itu, gereja belum melakukan renovasi lagi.
Pengurus gereja, kata Pradipta, tidak bisa sembarangan merenovasi Katedral. Alasannya, Katedral sudah menjadi cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Pengurus Katedral sendiri memilih mempertahankan bentuk dasar Katedral dan beberapa peninggalan lainnya. Seperti ubin warna-warni dan bangku yang saat ini masih terawat. "Bangku-bangku itu usianya lebih tua daripada Katedral," kata Pradipta.
Kini, Katedral ini masih tegar berdiri. Pada tahun 2001 lalu, digelar peringatan satu abad Katedral. Gereja ini juga menjadi tempat wisata. Banyak turis, baik asing maupun domestik yang berkunjung ke Katedral. Pradipta, kadang juga menjadi guide untuk para tamu-tamu ini.
Bukan hanya itu. Puluhan burung gereja juga menjadi pengunjung setia gereja ini. Mereka beterbangan, menikmati ruang dari tingginya atap. Gerakannya lincah. Mungkin karena burung ini kecil. Gaya mereka terbang dan hinggap di sudut atas ruang, seperti hendak mengatakan, aku hidup di dalam gereja ini. Suara cicitnya bersahutan, seolah jumawa, aku juga bisa bernyanyi. Meskipun bukan kidung suci.
Jakarta menyimpan kekayaan, berupa bangunan-bangunan tua. Mereka menyimpan cerita sejarah. Salah satu diantaranya adalah gereja. Tulisan ini adalah oleh-oleh "perjalanan dinas" di hari Minggu yang panas di lapangan Banteng. Lumayan, buat kado Natal bagi mereka yang merayakan.
Gereja Immanuel
Ketika itu, dunia sedang memasuki abad 19. Sejarah gereja Kristen di Indonesia sedang mengalami masa-masa buruk, karena peralihan kekuasaan wilayah pendudukan pemerintah kolonial Belanda ke pemerintah kolonial Inggris. Sejak De Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dilebur pada akhir abad 16, segala urusan, termasuk urusan gereja yang dulunya menjadi wewenang VOC, berpindah tangan ke pemerintah pusat di Belanda. Proses peralihan ini menganggu penyebaran agama Kristen di Hinda Belanda.
Saat Inggris mulai menguasai pulau-pulau di Hindia Belanda, hanya ada tiga pendeta di Hindia Belanda. Pendeta Ross di Batavia, Pendeta Meyer di Surabaya, dan Pendeta Montanus di Semarang. Itupun, pada tahun 1815, Pendeta Meyer meninggal dunia. Setahun kemudian, Pendeta Montanus menyusul Meyer. Ketika sejarah mengembalikan Belanda ke Hindia Belanda untuk mengambil alih seluruh kepulauan Nusantara pada 19 Agustus 1816, hanya ada satu pendeta di Hinda Belanda, yaitu Pendeta Ross.
Di Batavia sendiri, saat itu ada dua jemaat Kristen Protestan, jemaat Gereja Hervormd dan Gereja Lutheran. Sebenarnya, setiap jemaat mempunyai pendetanya sendiri. Tapi, sejak tahun 1816, jemaat Lutheran tidak mempunyai pendeta. Sehingga, Pendeta Ross harus melayani kedua jemaat ini.
Pada saat yang sama, Eropa sedang terjadi perubahan dari peradaban Aufklarung. Menurut D.R. Maitimoe, penulis buku Latar Belakang dan Pembangunan Gedung Geredja Immanuel dalam rangka peringatan satu seperempat abad Gereja Immanuel pada tahun 1965, semangat Aufklarung ini memicu gerakan menyatukan gereja dan organisasi Kristen dalam satu bentuk konkrit, sebuah organisasi. Raja Willem I, yang berkuasa di Belanda saat itu tak luput dari semangat itu. Maka, Willem pun membangun mimpi, sebuah persatuan semua gereja dan organisasi Kristen.
Sayangnya, kekuasaan gereja di Belanda terlalu kuat. Niat Willem untuk menyatukan gereja dalam satu wadah ditolak oleh gereja. Tapi Willem tidak patah semangat. Dia mengalihkan obsesinya ke negara jajahan Belanda, dimana Raja masih berkuasa penuh. Hindia Belanda sendiri, pada tahun 1844 berdiri persatuan gereja yang berpusat di Batavia. Namun, jemaat Hervormde dan Lutherse baru bisa bersatu sepuluh tahun kemudian.
Masalah datang, ketika tidak ada gereja yang memenuhi syarat untuk ibadah. Karena itu, pada tahun 1832, kedua jemaat memutuskan untuk membangun sebuah gereja besar di Weltevreden, yang di kemudian hari, daerah ini disebut daerah Gambir. Keputusan bersama ditandatangani pada 2 Desember 1832. Selanjutnya, pada 20 Desember 1832 dibentuk panitia untuk mempersiapkan segala tetek bengek pembangunan gereja ini.
Anggaran pembangunan diperkirakan sekitar 192 ribu gulden. Kedua jemaat, Hervormd dan Lutheran masing-masing menyumbang 40 ribu gulden. Gubernur Jenderal Baud, yang berkuasa waktu itu menyumbang 92 ribu gulden. Sedangkan jemaat lain, yang berasal dari Jawa dan Sumatera menyumbang 20 ribu gulden.
Untuk membangun gereja, panitia membeli tanah di Pejambon. Alasannya, banyak orang Batavia yang sudah berpindah dari daerah Kota ke daerah Pintu Besi, Nusantara, Tanah Abang, Gambir dan Kebon Sirih. Kemudian, pada 24 Agustus 1835, tepat pada hari kelahiran Raja Willem I yang ke 63, batu pertama diletakkan. Akhirnya, setelah makan waktu lima tahun, gereja berdiri dengan megah. Pada 24 Agustus 1839, sekali lagi mengambil hari kelahiran Raja Willem I, gereja diresmikan. Nama Willem sendiri diabadikan untuk nama gereja: Willemskerk.
Menurut Maitimoe, masih dalam buku peringatan sepereempat abad Gereje Immanuel itu, sejak tahun 1948, nama Willemskerk berubah menjadi Gereja Immanuel. Nama Immanuel sendiri, yang artinya Allah beserta kita, diberikan oleh dua pendeta dari kedua jemaat, yaitu Pendeta Supit dan Pendeta Van der Voet.
Sampai sekarang, Gereja Immanuel masih berdiri tegak di Jalan Pejambon, seberang Stasiun Gambir. Tiang-tiangnya yang kokoh menjadi ciri gereja ini. Yang paling menarik perhatian adalah bentuk gedung yang bundar seperti lingkaran. Di bagian dalam gereja, bentuk lingkaran ini berpadu dengan kursi-kursi yang melingkar, berundak. Juga ada balkon di bagian atas. Mengingatkan bentuk theater pada zaman Romawi.
Mengutip Maitimoe, gaya arsitektur Gereja Immanuel memang mengacu pada corak zaman Helenisme. Menurut dia, JH Horn, sang arsitek yang merancang gereja ini, adalah seorang arsitek yang beraliran laat-renainssance. Aliran ini mengacu kepada bentuk-bentuk kebudayaan Hellas, jauh sebelum abad Masehi datang.
Padahal, menurut Maitimoe, ketika itu, banyak gereja Kristen yang bercorak zaman Roman, seperti Gereja Zion di Kota. Maitimoe menduga, Horn mendapat semangat dari Aufklarung, sehingga berani mengambil gaya yang tidak lazim pada masa itu. Mencampur unsur Barok, Rococo dan Pompeis pada masa sebelum abad Masehi. Maitimoe juga menyindir Horn lebih mementingkan aspek gaya daripada ajaran Kristen. "Kesimpulan jang dengan berhati-2 kami mengambil disini, ialah bahwa tuan Horn, jang adalah ahli betul-2 dalam vaknja, setjara rohaniah dan geredjani tidak begitu mendalam, sehingga latar belakang kebudajaan lebih-2 menentukan bentuk dan interiur geredja, daripada kesadaran indjili. Djelas ialah bahwa gedung "Willemskerk" adalah alhasil djiwa-zaman (tijdsgeest) dan kurang alhasil kesaksian/pelajaran Kristen," demikian pendapat Maitimoe tentang arsitektur Gereja Immanuel.
Terlepas dari perdebatan itu, Gereja Immanuel adalah cagar budaya yang dilindungi dengan Undang-undang. Beberapa benda berusia tua juga tersimpan di sini. Orgel yang dibuat pada tahun 1843 misalnya, masih digunakan setiap kali kebaktian. Orgel ini pernah diperbaiki pada tahun 1980-an.
Sayangnya, sejak tahun 1999, pemerintah tidak lagi mengucurkan sumbangan. Selanjutnya, perawatan gereja mengandalkan sumbangan dari jemaat. "Setidaknya, kami butuh Rp 2,5 juta per bulan untuk merawat gereja," kata salah Pengurus Harian Gereja Benny E. Muaya. Dana ini digunakan untuk perawatan kecil, semisal mengganti lampu atau pengecetan ulang. Jika berkunjung ke gereja
Gereja Immanuel sendiri, menurut Benny, mengalami renovasi terakhir pada tahun 1980-an. Sejak itu, gedung gereja tidak penah direnovasi kembali. Terakhir, gereja ini sempat dicat ulang pada bagian dalamnya, ketika Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom menikah di gereja ini. "Itu pun, uangnya sumbangan dari Ibu Miranda," kata Benny.
Meskipun demikian, jemaat Gereja Immanuel terus bertambah, bahkan bervariasi. Keragaman jemaat itu terlihat dari jadual kebaktian pada hari Minggu, yang dibagi berdasar bahasa yang digunakan. Selain Bahasa Indonesia, kebaktian juga menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Sayang, Benny tidak menyebutkan jumlah jemaatnya. Yang istimewa, gereja ini juga melayani kebaktian dengan Bahasa Korea. "Orang Korea suka mengadakan kebaktian disini," kata Benny bangga.
Katedral Jakarta
Katedral Jakarta berdiri sejak 1901. Katedral ini didirikan di atas reruntuhan gereja yang dibangun sebelumnya. Awalnya, gereja lama ini adalah bekas gedung perkantoran. Insinyur Tromp, seorang Belanda, mengubah gedung itu menjadi gereja. Menurut A. Heuken SJ, dalam tulisannya di Majalah Hidup Edisi No. 16 22 April 2001, Tromp sebenarnya berniat membangun gereja baru untuk kaum Katolik. Bahkan, Tromp, yang ketika itu baru saja menyelesaikan Gedung Putih--sekarang Departemen Keuangan--sudah merancang denah gereja itu. Tapi, saat itu umat Katolik tidak memiliki cukup dana. Tak ada pilihan lain, maka, gedung perkantoran pun diubah menjadi gereja.
Setelah selesai dibangun, gereja itu mendapat nama Gereja St. Maria Diangkat ke Surga, dan diberkati Prefek Apostolik Batavia Kedua--semacam penguasa otoritas wilayah--L. Prinsen Pr. Selanjutnya, sejak tahun 1829 gereja ini resmi digunakan untuk ibadah. Pada akhir tahun 1870-an, gereja sempat diperbaiki. Namun pada 9 April 1890, gereja ambruk. Penyebabnya, salah satu tiang dari batu bata retak dan runtuh. Akibatnya, tiang-tiang lain tidak mampu menahan beban dan rubuh.
Lalu, PA Dijkmans, seorang pastor yang juga belajar arsitektur mulai merancang gereja baru. Pada tahun 1891, fondasi bangunan mulai dibangun. Sayangnya, pada tahun 1894 Dijkmans harus kembali ke Belanda karena sakit. Maka, pembangunan gereja dilanjutkan oleh MJ Hulswit. Kemudian, pada 16 Januari 1898 batu pertama pembangunan gereja baru ini diletakkan dan diberkati.
Sekitar tiga tahun kemudian, tepatnya 21 April 1901, Gereja St. Maria Diangkat ke Surga diresmikan. Sejak saat itu, gereja ini disebut Katedral, karena gereja ini menyimpan catedra, atau tahta uskup. Katedral hasil rancangan Dijkmans ini bergaya neo-gothik. Menurut Han Awal, arsitek yang juga menulis untuk Majalah Hidup di edisi yang sama, gaya gothik memiliki karakteristik gaya bangunan menjulang tinggi ke atas, alur-alur tiangnya langsing, dan bertemu satu sama lain dalam suatu titik di atas. "Seakan-akan mengajak orang berdoa untuk memandang ke atas," tulis Awal dalam majalah Hidup edisi No. 16 itu.
Katedral Jakarta sendiri mempunyai bentuk dasar salib, yang panjangnya 60 meter. Langit-langitnya terbuat dari kayu dengan tinggi 17 meter. Menara di atas atap yang menjulang, tingginya 60 meter.
Menurut Heuken, pada awalnya Katedral tidak mempunyai barang hiasan bermutu. Altar yang digunakan sekarang, dikirim dari Gorningen, Belanda pada tahun 1956. Bejana pembaptisan yang terbuat dari marmer berasal dari tahun 1834. Lonceng paling besar, yang dijuluki Wilhelmus adalah hadiah dari seorang Belanda bernama JH de Wit pada tahun 1834.
Katedral juga menyimpan ornamen lain. Orgel yang ada di Katedral, berasal dari Belgia. Orgel ini mempunyai 900 buah pipa. Namun, yang terlihat hanya 15 pipa. Orgel yang datang sekitar tahun 1988 ini menggantikan orgel lama yang disumbangkan ke gereja lain. Katedral juga menyimpan mimbar dengan ukiran unik. Pada bagian atas mimbar terdapat hiasan bunga-bunga dan burung merpati. Di bagian tengahnya, terdapat gambar Yesus yang dikeliling murid-muridnya.
Selain itu, museum Katedral, yang berada di lantai dua Katedral juga menyimpan benda-benda unik lain. Satu diantaranya adalah perahu, yang digunakan Pastor Bonneke SJ, seorang imam jesuit yang wafat di Flores, 200 tahun lalu. Museum Katedral juga menyimpan lukisaan Katedral, buah tangan Kusni Kasdut--seorang penjahat kelas kakap yang dieksekusi mati--setelah masuk Katolik.
Menurut Pradipta, salah seorang relawan di Katedral, Katedral pernah mengalami renovasi besar-besaran sekitar tahun 1987-1988. Ketika itu, atap yang dulunya terbuat dari sirap diganti dengan tembaga. Pada tahun 2002, Katedral juga sempat mengalami perbaikan. "Tapi itu perbaikan di luar," kata Pradipta. Renovasi pada tahun ini hanya memperbaiki saluran air dari atap dan perbaikan taman. Setelah perbaikan itu, gereja belum melakukan renovasi lagi.
Pengurus gereja, kata Pradipta, tidak bisa sembarangan merenovasi Katedral. Alasannya, Katedral sudah menjadi cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Pengurus Katedral sendiri memilih mempertahankan bentuk dasar Katedral dan beberapa peninggalan lainnya. Seperti ubin warna-warni dan bangku yang saat ini masih terawat. "Bangku-bangku itu usianya lebih tua daripada Katedral," kata Pradipta.
Kini, Katedral ini masih tegar berdiri. Pada tahun 2001 lalu, digelar peringatan satu abad Katedral. Gereja ini juga menjadi tempat wisata. Banyak turis, baik asing maupun domestik yang berkunjung ke Katedral. Pradipta, kadang juga menjadi guide untuk para tamu-tamu ini.
Bukan hanya itu. Puluhan burung gereja juga menjadi pengunjung setia gereja ini. Mereka beterbangan, menikmati ruang dari tingginya atap. Gerakannya lincah. Mungkin karena burung ini kecil. Gaya mereka terbang dan hinggap di sudut atas ruang, seperti hendak mengatakan, aku hidup di dalam gereja ini. Suara cicitnya bersahutan, seolah jumawa, aku juga bisa bernyanyi. Meskipun bukan kidung suci.
14 December 2003
Tak Nyaman
Makin lama, ada rasa tidak nyaman menulis di sini. Seperti harus peduli kepada banyak mata yang memandangi. Ada rasa takut, membayangkan apa kata datang tentang tulisan di sini.
Dulu, aku mencoba bersembunyi dengan tulisan-tulisan di sini. Tapi tak mudah menghilang dari perhatian. Dunia maya ini, seperti berubah menjadi dunia tanpa tempat sembunyi. Padahal, bermiliar identitas tak jelas berseliweran di sini. Aku, malah ketakutan di sini. Betapa ironisnya.
Tapi sudahlah. Aku memang menjadi bagian dari banyak mata yang memandang di sini. Hanya saja, aku harus berani bilang, aku menulis untuk aku sendiri. Apa kata banyak mata itu, aku mencoba untuk tak peduli. Benarkah? Jujurkah? Embuh.
Makin lama, ada rasa tidak nyaman menulis di sini. Seperti harus peduli kepada banyak mata yang memandangi. Ada rasa takut, membayangkan apa kata datang tentang tulisan di sini.
Dulu, aku mencoba bersembunyi dengan tulisan-tulisan di sini. Tapi tak mudah menghilang dari perhatian. Dunia maya ini, seperti berubah menjadi dunia tanpa tempat sembunyi. Padahal, bermiliar identitas tak jelas berseliweran di sini. Aku, malah ketakutan di sini. Betapa ironisnya.
Tapi sudahlah. Aku memang menjadi bagian dari banyak mata yang memandang di sini. Hanya saja, aku harus berani bilang, aku menulis untuk aku sendiri. Apa kata banyak mata itu, aku mencoba untuk tak peduli. Benarkah? Jujurkah? Embuh.
Subscribe to:
Comments (Atom)