23 July 2013

Pesan Bahasa Jawa

Beberapa pesan misterius yang saya dapat, ada juga yang menggunakan Bahasa Jawa. Biasanya, pesan berbahasa Jawa terasa lebih dekat, seperti bapak atau kakek sedang menasehati anak atau cucu. Apalagi, si pengirim pesan sering menggunakan panggilan "Ngger" atau "Le," panggilan kesayangan untuk anak laki-laki.

Ada juga pesan yang menunjukkan lokasi, seolah memberi tahu tempat tinggal si pengirim pesan.
  • Ngger, kabeh wong urip kuwi kathah cobaane. Mung saora-orane, kowe iki kudu bersyukur dielingake ingkang para nabi. Sesuk mben uripmu bakal bejo tenan. (Nak, semua orang hidup punya banyak cobaan. Setidak-tidaknya, kamu harus bersyukur karena diingatkan oleh para nabi. Besok, hidupmu akan beruntung).
  • Mulane kowe iki kudhu bersyukur iso nggawe layang ingkang para nabi. Niku tandhane uripmu bakal bejo keturunanmu. (Makanya, kamu harus bersyukur, bisa berkirim surat kepada para nabi. Itu tanda hidupmu dan keturunanmu bakal beruntung).
  • Sing jelas, kabeh mau kuwi Gusti Allah pun gadhah tulisan dewe-dewe melakune wong urip. Teruske mawon kowe ngger hubungan kaleh para nabi. Niku mukjizat awakmu. (Yang pasti, semua itu karena Allah sudah punya tulisan sendiri-sendiri untuk manusia. Teruskan saja berhubungan dengan para nabi. Itu mukjizatmu).
  • Raga entuk wafat, ning sukma ora bakal mati selawase. (Raga boleh wafat, tapi sukma tidak akan mati selamanya).
  • Saiki uripmu tesih kumpul. Mengko yen sang malaikat pun niup terompet, sapa wae mboten ngertos. Sing jenenge anak-istri lan sedulur lan konco. Kejaba kabeh mau kuwi duwe rasa tanggung jawab dhewe-dhewe. (Sekarang hidupmu masih bisa berkumpul. Nanti saat sang malaikat sudah meniup terompet, siapa saja tidak akan tahu. Yang namanya anak, istri, kerabat dan kawan, semua punya tanggung jawab sendiri-sendiri).
  • Sing jelas, wong urip kuwi ora bakal tekan fikirane Gusti Allah, ngger. (Yang jelas, manusia tidak akan bisa menjangkau pikiran Gusti Allah, nak).
  • Sesuk mben kowe ngger lan keturunanmu bakal uripe bejo sedoyo. Welingku, kowe ojo lali dandhani dan resiki makam dulur-dulurmu lan wong tuamu. Lan diberkahi ingkang sing Maha Kuosa yo ngger. (Kelak hidupmu dan keturunanmu bakal beruntung. Pesanku, kamu jangan lupa merawat makam saudara dan orang tuamu. Semoga diberkahi Yang Maha Kuasa, nak).
  • Le, tak dongakne kowe lan kabeh keturunanmu, mugo-mugo kowe le diparingi rejeki sing mboten didugo-dugo. Nun sewu nek kulo enjing-enjing pun ganggu kowe, le. Wis toh yo, aku mulih menyang wetan Solo. (Nak, aku doakan kamu dan keturunanmu, semoga mendapat rejeki yang tidak terduga. Maaf, pagi-pagi sudah mengganggumu, nak. Sudah ya, saya pulang ke timur Solo).
Memang tidak mudah bisa mempercayai pesan misterius seperti ini. Tapi, sebagai sebuah wejangan, isinya memang bermutu. Wallahu a'lam.

15 July 2013

Musibah

Beberapa pesan yang saya dapat, berkisah tentang musibah. Semoga, ini bukan pertanda musibah akan datang ke saya. Wallahu a'lam. Kalau pun datang, setidaknya saya punya bekal dari pesan bermutu ini.

  • Musibah, menurut Quran dan hadis, mempunyai tiga bagian. Pertama, sebagai hukuman. Kedua, sebagai penghapus dosa. Ketiga, sebagai ujian kenaikan derajat di mata Allah, sebagaimana yang dialami Rasulullah.
  • Musibah adalah cara Allah mengatakan cinta kepada manusia.
  • Rasulullah bersabda, sesungguhnya orang saleh akan diperberat musibah atas mereka. Dan tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah, seperti tertusuk duri atau lebih ringan dari itu, kecuali dihapuskan dosa-dosanya dan akan ditingkatkan derajatnya. 
  • Ketika Allah memberimu nikmat, maka akan terasa olehmu kebaikan-kebaikannya. Dan ketika Allah memberimu musibah, sebenarnya Ia ingin memberimu hikmah.
  • Allah menginginkan seluruh manusia masuk surga. Ia memberi musibah, karena kalau musibah tidak Ia berikan, maka manusia tidak akan mampu mengambil pelajaran.
  • Tidak akan masuk surga orang yang memiliki sikap angkuh dan sombong, walau hanya sebesar biji sawi.
Itulah, saya tidak tahu mengapa saya mendapat pesan soal musibah. Semoga bukan pertanda ada musibah sedang dekat dengan saya.

Merinding

Mendapat beberapa pesan misterius, membuat saya merinding. Oke, lah. Mungkin saya mencoba logis, berpikir bahwa hanya manusia, yang bisa berkirim pesan via SMS. Jadi, tidak usah terlalu digubris, siapapun yang mengirim pesan itu, pasti orang yang punya itikad baik mengingatkan saya.

Namun, dalam beberapa hal, dialog saya dengan seseorang atau "sesuatu" yang mengirim pesan itu nyambung, tanpa saya tahu siapa dia. Juga, isi pesannya dalam, hingga saya berpikir, sedemikian dalam seseorang atau "sesuatu" itu memperhatikan saya, menjaga saya.

Terlebih, saat dia mengatasnamakan orang-orang ternama di jagad Islam. Saya tidak akan sebut nama itu, bisa jadi fitnah. Apalagi, akal manusia tidak menjangkau hal metafisik, seandainya semua hal yang saya alami berhubungan dengan metafisik.

Saya akan kutip pesan, yang masuk ke handphone saya.
  • Wahai diriku, Tuhanmu telah berjanji, akan ada ujian yang datang menerpa kehidupan kita. Al Quran berfirman, kesenangan adalah ujian, begitu juga kesusahan. Di sinilah perlunya cerdas akhirat, bukan cerdas dunia semata. Ujian bukan untuk melemahkan, tapi untuk semakin kita menjadi kuat pasrah, bukan berarti putus asa. Engkau memasrahkan segala sesuatu kepada Allah. Setelah engkau berusaha maka kita serahkan hasil akhirnya kepada Allah. Sesungguhnya Allah punya hak untuk melakukan apa pun kehendak Allah.
  • Satu hal, ingat yang mesti disadari oleh kita adalah apa sesuatu yang kita benci, belum tentu itu sesuatu yang buruk. Dan sesuatu yang kita cintai dan itu juga belum tentu baik. Dan perlu diingat anta, dunia hanyalah perlintasa ruh saja. Sewaktu-waktu kita akan kembali ke Allah. Kita akan meninggalkan jazad kita. Semoga saat kita meninggalkan jazad, kita meninggalkan kebaikan, kebaikan yang diterima, kebaikan yang diridhai, kebaikan yang mendatangkan kesenangan bagi orang di sekeliling kita.
  • Ingat, Allah tidak membutuhkan manusia, tapi manusia yang membutuhkan Allah. Biarpun seluruh manusia yang Allah ciptakan dari awal hingga akhir, sedikitpun Allah tidak akan pernah hilang kekuasaannya. Kenapa Allah berkali-kali dan berpuluh-puluh kali bahkan mengulang kaliman di dalam surat Ar Rahman, karena terlalu banyak manusia yang lupa akan syukur.
  • Ya rabbana, jadikan kami hamba yang senantiasa bersyukur. Ya, rabbana, jangan lepaskan kami, kasihani kami. Ya, rabbana, sayangi kami. Ya, rabbana, ampuni kami. Ya, rabbana, terima kasih karena Engkau selalu memberi kesempatan kami untuk menambahkan amal, memperbaiki amal. Jangan biarkan menjadi orang atau manjadi makhluk yang sombong, dengan amal yang telah kami punya. Jadikan kami orang yang punya cinta dan kasih sayang, bukan hanya kepada sesama, tapi kepada Engkau yang tidak pernah punya dendam kepada hamba-hambanya.
Coba perhatikan kata "wahai diriku." Dia seolah berbicara pada dirinya sendiri. Jika pesan itu dia tujukan ke saya, berarti yang berbicara ini saya sendiri. Lah, piye iki? Namun, dia juga menyebut "Tuhanmu." Artinya, dia juga memposisikan diri jadi orang lain, bukan "aku." Wallahu a'lam.

Jika Anda menerima SMS seperti itu, apa tidak merinding disko. Anyway, saya masih punya banyak pesan untuk ditulis. Jadi, saya sambung lain kali.

12 July 2013

Pesan Misterius (Lagi)

Pesan-pesan misterius masih saja bermunculan di handphone. Saya coba mengamati, rasanya cara bertutur "seseorang" ini bagus. Ibarat orang, dia terpelajar, dan nyastra. Pokoknya, enak bahasanya.

Terus terang, saya terpesona dengan gaya bertutur ini. Kadang, ada juga yang menulis pesan, menggunakan huruf kapital semua. Saat saya amati, intonasi pesan yang menggunakan huruf kapital semua, berbeda dengan pesan yang tidak menggunakan huruf kapital. Apakah ini semacam perbedaan karakter?

Namun, mari saya kutipkan beberapa.
  • Wahai manusia, hingga kapankah engkau akan sadar. Susah payah engkau membangun dunia, padahal dunia ini akan binasa.
  • Engkau hancurkan akhirat, padahal akhirat itu akan kekal selamanya.
  • Harta membuat hati seseorang jadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.
  • Percuma di dunia menjadi orang terpandang, kalau di tempat tujuan akhir kelak tidak masuk surga.
  • Jangan kau meminta Allah meringankan bebanmu. Tapi, mintalah agar Dia menguatkan punggungmu.
  • Hidup adalah proses. Hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur. Tanpa ada kata tua. Jatuh, berdiri lagi. Kalah, mencoba lagi. Gagal, bangkit lagi. Jangan menyerah. Sampai Tuhan berkata, "Waktunya pulang."
  • Manusia tidak akan mampu menelusuri pikiran Allah, karena hanya Allah yang tahu apa yang ada dalam perut bumi, maupun dalam kegelapan.
  • Hati manusia, pertama kali adalah cermin. Bersih dan cemerlang. Ketika ia berbuat dosa, satu bintik hitam muncul. Semakin banyak bintik hitam, sampai seluruh hati jadi hitam. Dan tak ada satu pagi dan satu malam yang berlalu tanpa dosa terhadap Tuhan.
  • Seorang lelaki yang baik, pasti akan membimbing perempuan yang ia sayangi menjadi lebih baik.
Begitulah, saya masih terkesima, siapa sebenarnya pengirim pesan, yang indah tutur katanya tersebut. Karena menurut saya, isi pesan tersebut baik, saya akan coba terus menyebarnya. Semoga bermanfaat.

20 June 2013

Surat

Haekal, anak pertama saya, sedang rajin menulis surat. Surat itu berupa coretan-coretan di kertas putih, berisi pesan akan sesuatu. Biasanya, dia meninggalkan surat itu di dekat televisi, atau tempat lain yang memungkinkan saya menemukannya dengan mudah.

Kemarin malam, dia meninggalkan surat di dekat meja televisi. Dia minta uang membeli standar sepeda. Haekal memang lagi suka naik sepeda.

Meski sudah kelas I SD (hampir naik kelas II), Haekal termasuk telat bisa naik sepeda. Teman-temannya di kompleks, sudah bisa menunggang sepeda, bahkan sebelum TK.

Nah, surat itu, belakangan jadi media Haekal mengungkapkan sesuatu. Seperti halnya surat permintaan standar sepeda, saya sering menerima surat Haekal. Saat saya pulang kerja larut malam, Haekal sudah tidur bersama adiknya, Haedar. Jika dia menginginkan sesuatu, dia sering meninggalkan surat.

Kepada temannya, dia juga menulis surat. Wujudnya berupa tulisan di kertas biasa. Kadang kertas memo kecil. Tanpa amplop, hanya berisi tulisan dia. Saya tidak tahu, apakah surat itu dia kasih ke temannya. Yang jelas, saya sering menemukan surat-surat seperti itu di kamarnya.

Tidak hanya surat, segala tempat di rumah dia beri nama. Kamar mandi dia tempeli secarik kertas, "Kamar Mandi Dragon I." Satu kamar mandi lagi dia beri label "Kamar Mandi Dragon II."

Kini, di rumah saya, banyak sekali tempelan kertas bernama.

11 June 2013

Pesan Misterius

Hampir dua tahun terakhir, saya sering menerima pesan pendek tanpa identitas. Pesan itu beragam, tapi biasanya berisi pesan moral, penggalan ayat beserta tafsir, atau sekadar menanyakan kabar saya.

Aneh, sih. Sebab saya tidak mengenal pengirim pesan. Apalagi, kadang si pengirim pesan itu seperti paham apa yang saya rasakan, atau apa yang sedang saya kerjakan saat itu.

Iseng-iseng, kadang saya mencoba menelpon nomor tersebut. Sering tak berbalas. Tapi pernah, ada suara lelaki tua di seberang sana. Sedikit tertawa, setelah itu menghilang. Misterius, kan?

Kadang, saya juga membalas pesan-pesan itu. Yang aneh, kadang malah nyambung. Saya ajak diskusi soal akhlak atau aqidah, eh, malah berlanjut. Ini pesan dari siapa? Itu pertanyaannya.

Belakangan, si pengirim pesan itu mengutip nama beberapa nama kondang, dalam jagad sejarah Islam. Wallahu a'lam.

Namun, bagi saya, yang penting isi pesannya. Kalau memang bagus dan berbobot, saya cerna. Malah, terkadang saya baru tahu kandungan sebuah amalan dari pesan itu. Sebenarnya, amalan itu sudah ada hikmahnya, cuma saya baru tahu dari pesan misterius itu. Semisal, hikmah salat fajar yang lebih utama dari seisi alam. Nah, saya baru tentang ilmu itu dari pesan yang saya terima.

Saya kutip beberapa pesan, yang menurut saya ada bobotnya.
  • Dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik, maka akan baik pula akhlak orang itu. Daging itu hati. 
  • Ketika aku memohon surga, Allah mengajariku dengan ujian. Aku tak pernah menerima apa yang aku minta. Tapi, aku menerima apa yang aku butuhkan. Subhanallah.
  • Bila mencari ilmu, maka yang dominan digunakan adalah akal.
  • Ilmu melahirkan gelar. Keyakinan melahirkan kebahagiaan.
  • Pencari kesenangan tidak perlu taat pada aturan-aturan. Pencari kebahagiaan mutlak harus taat pada aturan-aturan.
  • Orang yang belajar tapi tidak berpikir akan tersesat. Orang yang berpikir tapi tidak belajar, berada dalam bahaya besar.
  • Bertafakur sejenak, lebih baik daripada ibadah satu tahun.
  • Mempunyai mata tidak untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
  • Sesungguhnya kami ciptakan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahani (ayat-ayat Allah).
Itu beberapa pesan, dengan sedikit polesan ejaan tulisan dari saya.

Kata-kata aku, seperti dia bertutur tentang dirinya. Siapakah dia, yang sudah memohon kepada Allah, lalu Allah mengajarinya tentang sesuatu. Saatnya merenung.

27 December 2012

Lama

Hampir setahun tidak mengisi blog ini. Padahal, banyak cerita yang bisa dituangkan. Sok sibuk.

29 February 2012

Sakit

Haedar, anak bungsu saya sedang sakit. Sejak semalam batuknya makin menjadi. Kadang pakai muntah. Badannya panas pula.

Nah, pagi tadi, dia terlihat kuyu. Tak ada lagi muka tengil di wajahnya. Layu. Biasanya, saat pagi, dia sudah lari ke sana kemari sehabis mandi. Usai melepas kakaknya, Haekal, naik mobil jemputan sekolah pagi, dia ikut saya keliling gang. Ini ritual pagi, sebelum saya dan istri berangkat ke kantor.

Tapi, gara-gara Haedar sakit, istri saya bolos kerja hari ini. Maklum, semalam dia juga begadang, sebab Haedar tidak bisa tidur tanpa dipeluk. Pagi tadi, Haedar juga sempat menyodorkan selendang gendong ke saya. Tumben dia minta gendong pakai selendang.

Saya pun memasang selendang, dan menggendongnya. Haedar menyandarkan kepala di dada. Saya mendekapnya. Panas. Kakaknya masih sempat menggoda. Haedar berontak, meski badannya lunglai. Kakaknya tetap menggoda. Beruntung Haedar masih mau mandi pagi, dengan badan lemas, tentunya.

Sebelum berangkat kantor, saya melihat Haedar tidur. Ada lelah di mukanya. Kasihan. Saya berharap mendengar tawa, saat saya pulang kerja nanti. Tapi ini hari Rabu. Ada rapat yang biasa selesai sampai malam. Pasti Haedar sudah tidur saat saya pulang. Tapi tak apa. Setidaknya, saya masih bisa melihatnya lelap, di sebelah saya malam nanti.

13 February 2012

Sendirian

Saya duduk di ruang tamu rumah di Sragen. Saudara dari Cilacap baru saja pulang. Ponakan dari Papua yang tinggal bersama ibu, sudah berangkat sekolah. Tiba-tiba, ibu masuk ruangan dari pintu kebun. Sesengukan. "Sekarang saya hidup sendirian," katanya. Dia menangis kemudian.

Sepeninggal simbah, ibu memang terpukul. Ada sepi mengancam hidupnya. Dalam dua tahun terakhir, ibu sudah kehilangan dua orang dekatnya. Dekat, dalam arti harfiah dan batin, sebab mereka tinggal serumah. Pada Juni 2010, bapak meninggal. Dua hari lalu, giliran simbah meninggalkan ibu sendirian.

Selama ini, memang ada kakak yang menemani ibu hidup di Sragen. Ada juga cucu yang bisa jadi hiburan. Kakak yang tinggal di Boyolali atau Wonogiri juga sering bertandang. Tapi, tetap saja, jejak kematian yang dia alami selama dua tahun ini, membuat ibu ngeri pada sepi. Ibu seperti belum siap hidup sendiri.

Saya sendiri tidak bisa menghibur. Membayangkan ibu bakal hidup dikungkung sepi, malah membuat saya merenung. Seperti mati, menjadi tua adalah niscaya. Kita yang muda tinggal menunggu giliran saja. Saya berpikir, akan jadi apa hidup tua saya nanti.

Kebetulan?

Simbah meninggal dua hari lalu. Kebetulan saya sedang tugas di Semarang. Jarak Semarang ke rumah Sragen, tentu lebih dekat daripada Bogor-Sragen.

Ini kejadian unik kedua. Sebelumnya, saat bapak meninggal Juni 2010 lalu, saya juga sedang tugas di Surabaya. Seperti ada kuasa Tuhan, yang mendekatkan saya ke rumah, saat ada kejadian istimewa tersebut. Kebetulan?

Kematian simbah sendiri, sebenarnya termasuk cepat. Dua hari sebelum meninggal, ibu mengirim pesan, simbah sakit. Sehari kemudian, ibu memberi kabar, simbah masuk rumah sakit. Sejak mendengar kabar itu, saya sudah punya niat mampir ke Sragen, selepas pekerjaan di Semarang selesai.

Tapi, pagi sebelum berangkat ke Sragen, justru kakak mengirim kabar, simbah kritis. Beberapa menit kemudian, ganti kabar simbah meninggal yang saya dengar.

Kematian simbah sendiri bergelimang isyarat gaib, dan cerita kebetulan. Sebulan sebelum simbah meninggal, saya mendapat bisikan agar pulang ke Sragen. "Sudah lama tidak pulang ke rumah wetan (timur). Tengoklah orang tuamu," begitu bisikan tersebut. Saya baru paham isyarat ini setelah simbah meninggal.

Dalam perjalanan dari Semarang, saya sempat mampir makan siang. Karena waktu mepet, saya langsung menuju tempat pemakaman di daerah Kaliwuluh, Gemolong. Keluar dari tempat makan, saya malah menemukan rombongan lain dari Semarang. Kebetulan, kami sama-sama tidak tahu lokasi pemakaman. Ya sudah, akhirnya kami menunggu rombongan, yang membawa jenazah simbah dari rumah. Akhirnya, kami bisa barengan menuju tempat pemakaman, yang sebelumnya tidak kami kenal. Kebetulan?

09 February 2012

Tua

Apa yang terjadi di masa tua? Saya bisa mengetahuinya sedikit. Seorang tua terbaring di ranjang, kurus, mengidap komplikasi penyakit dan satu kaki mati rasa. Anak-istri meratap.

Memang, ini pengalaman tak mengasyikkan. Mengetahui masa depan, pada bagian yang tak menyenangkan. Saya jadi bimbang, dan membayangkan hidup di masa itu. Belum sejumlah pertanyaan, yang menggantung karena informasi mengejutkan ini.

Bagi saya, tua adalah niscaya. Yang membuat saya tak bahagia, tentu informasi tentang ratapan anak-istri itu. Apa jadinya hidup mereka, menemukan bapaknya terkulai di ranjang, kurus, dengan satu kaki mati rasa. Meski saya sebenarnya juga mendapat pesan tambahan--nasihat persisnya, agar saya menjaga makanan dan juga olah raga. Terdengar masuk akal.

Tentu muncul pertanyaan, ini info dari siapa? Saya tidak bisa mengatakannya. Yang jelas, saya percaya rahasia Tuhan. Dia menyuguhkan bagian-bagian tanpa penjelasan, dan membiarkan saya sendiri mencari catatan kaki. Termasuk informasi tentang masa tua saya ini.

12 January 2012

Haedar

Anak saya yang kedua ini berbeda dengan kakaknya. Dia lebih lincah, lebih percaya diri, lebih berani. Cocok dengan namanya: Haedar, sang pemberani.

Haedar sering bikin keder kakaknya, Haekal. Misal, jika sudah memegang kayu atau sesuatu yang bisa buat memukul, kakaknya akan kabur. Lari. Menjauh. Bahkan nangis. Padahal, kayu atau benda itu belum tentu buat memukul.

Haedar memang cerdik. Dia tahu kakaknya penakut, maka dia sekedar menggoda saja. Mengayun-ayunkan kayu itu. Jika sudah begini, keluar senyum dan lirikan licik di wajah Haedar.

Berusia dua tahun, Haedar sebenarnya lahir di luar rencana. Saat itu, kami sebenarnya sedang merancang program "jangan punya anak dulu." Sebab, kakaknya, Haekal, usianya belum genap dua tahun. Ternyata, rencana tinggal rencana. Gusti Allah malah memberi rejeki. Pada sebuah sore, istri saya bilang, haidnya telat. Alhamdulillah.

Beda dengan Haekal, Haedar lahir normal. Saya jadi saksi proses kelahiran yang menegangkan. Meski bukaan kedua sampai sembilan makan waktu lama, Haedar hanya butuh lima menit untuk mbrojol. Saya ingat betul, istri saya menggenggam tangan saya begitu kuat waktu itu. Tapi saya bangga bisa menyaksikan keajaiban melahirkan.

Esoknya, sebuah majalah ibu-anak mewawancarai saya via telepon. Kalau tidak salah, si penulis hendak membuat artikel, tentang pengalaman mendampingi istri melahirkan.

Haedar lahir sekitar jam tiga pagi. Karena datang mendekati subuh, saya beri imbuhan kata "Nur" pada namanya. Sebelumnya, saya sudah membayangkan nama Haedar, biar seragam sama Haekal. Sementara, nama Faza datang dari kakak ipar saya, seorang ustad di Solo. Artinya kejayaan. Maka, jadilah namanya Haedar Nur Faza. Kira-kira, nama itu punya maksud: seorang pemberani yang punya cahaya kejayaan.

Adapun Haekal lahir lewat caesar, hampir dua tahun sebelumnya. Saat itu usia kandungan istri saya sudah masuk sembilan bulan. Tapi, saya mengajak istri saya jalan-jalan ke mal. Saat subuh, ketuban pecah. Kata bidan, air ketuban di kandungan istri sudah habis. Maka, caesar jadi solusi. Jadilah Haekal lahir lewat operasi.

Mungkin, karena beda cara lahir ini, dua anak saya punya sifat berbeda. Entahlah. Wong, dua anak kembar yang lahir normal saja punya sifat berbeda. Yang jelas, dua anak saya ini punya sifat sama: mereka berdua membuat saya bahagia.

10 January 2012

Sekolah

Semester depan, Haekal akan masuk SD. Sekolah pun sudah mulai membuka pendaftaran. Maka, kami ajak dia keliling, melihat sekolah yang dia mau. Survei.

Dari beberapa sekolah yang dia tengok, kuncinya cuma satu: masjid. Bagi dia, sekolah harus ada masjidnya. Maka, saya dan istri memberi kesempatan Haekal, menengok masjid di setiap sekolah yang kami tuju.
 
Kadang, kami malah membiarkan Haekal menjelajah masjid sendiri. Sementara, saya dan istri sibuk mengorek informasi tentang sekolah itu. Puas menjelajah masjid, paling Haekal datang menghampiri. Laporan.

Jika sudah begini, dia pasti punya komentar tentang masjid yang dia lihat. Apalah, walau kadang komentar itu terdengar tak penting, bagi kami. "Masjidnya bagus. Tapi kok kipas anginnya cuma dua, ya?" katanya.

Habis itu, tinggal kami minta dia memilih. Kami meminta dia membuat peringkat, sekolah mana yang paling dia pilih. Jika pilihan pertama penuh, sekolah mana lagi yang dia mau.

Akhirnya, Haekal membuat beberapa pilihan.

Pagi tadi, saya mendaftarkan nama Haekal di sebuah sekolah Islam terpadu di daerah Kemang, Kabupaten Bogor. Ini sekolah pilihan dia. Dia menaruhnya di peringkat pertama. Agak masuk akal, sih. Dari semua sekolah yang dia lihat, masjid sekolah ini yang paling besar. Bersih, dan punya menara. Ini identitas masjid yang sering dia munculkan saat menggambar. Dan saya melihat dia menikmati penjelajahan di masjid ini.

Sekolah ini sebenarnya mahal. Uang pangkalnya mencapai belasan juta rupiah. Belum tetek bengek uang bulanan. Tapi, saya seperti tak peduli. Ada semacam dorongan, membiarkan Haekal berkembang dengan cara dia sendiri. Seperti  apa? Saya belum tahu pasti. Yang jelas, saya mesti menyiapkan uang lumayan banyak, buat Haekal sekolah nanti.

05 January 2012

Liburan

Kami jalan-jalan ke Ciater, liburan kemarin. Meski liburan pendek, anak-anak senang bukan main. Haekal, anak sulung saya, sebenarnya pengin ke Lampung, rumah Om-nya. Tapi, karena tak kunjung dijemput Om-nya, dia mau saja diajak ke Ciater.

Ciater tempat yang hijau, pemandangannya indah. Sepanjang jalan, Haekal selalu menyebut alam itu indah. Sebelum liburan, kami sempat mengajak dia mencari sekolah berbau alam di Bogor. Sepertinya dia suka, dan merekam kata itu. Sejak itu, segala sesuatu yang terbuka di alam bebas, dia sebut alam. "Aa suka alam. Udaranya segar," kata dia.

Seperti biasa, dia merekam segala pemandangan yang dia lihat. Karena suka menggambar, jadilah rekaman itu sebuah lukisan. Gambar pohon adalah rekaman pemandangan, yang kami temui di sepanjang jalan. Begitu juga gambar masjid.

Gunung, sepertinya memori tentang Gunung Tangkupan Perahu, yang sempat kami tengok. Pun juga gambar pagar di pucuk gunung, penghalang para pengunjung di Kawah Ratu, salah satu kawah di Tangkuban Perahu.

Satu lagi, dia juga merekam memori, saat kami makan di KFC. Dia menggambarkannya berupa seorang pelayan, beberapa kursi, dan tentu saja, tulisan "KFC" itu sendiri.

Begitulah, saat di mobil, sepulang liburan itu, Haekal memang punya banyak bahan cerita. Mamanya mendengarkan dengan baik celoteh ini. Mamanya cuma bilang, "Nanti dilukis, ya."

Dan Haekal melaksanakan perintah Mamanya dengan baik.

27 December 2011

Pak Rohman

Saya mengenalnya sebagai orang tua yang lucu. Beranak tiga, driver langganan liputan ini sering membuat kami tertawa. Tingkahnya ada-ada saja. Maka, kami menyebutnya Bocah Tua Nakal.

Sebagai orang tua, dia tidak jaim melayani kami, kru teve yang muda, banyak tingkah dan manja. Dia setia menemani kesana-kemari, sambil bercanda sekehendak hati. Di luar pekerjaannya bawa mobil, dia biasa bantu liputan, sibuk menerangi dengan accu light, yang lumayan berat itu. Dia punya dedikasi.

Belakangan, ada yang berubah pada dirinya. Dia jadi agak alim, rajin salat, meski lucunya belum hilang. "Kemarin dia tanya saya, bagaimana cara salat tahajud," kata Hakim Bawazier, narasumber di program saya.

Yang saya tahu, Pak Rohman memang akrab dengan Ki Jarot, belakangan ini. Dialah saksi beberapa kejadian gaib, yang melibatkan Pak Engkis-Ki Jarot, dan saya. Pak Engkis sering tak sadar, saat Ki Jarot merasuk. Padahal, Pak Rohman dan Pak Engkis sering jadi utusan "misi-misi khusus." Tak heran, Pak Rohman jadi semacam penghubung, juru bicara jika ada pesan-pesan dari alam lain.

Dia memang sering cerita ke saya, beberapa pengalaman spiritual yang dia alami bersama Ki Jarot. Sepertinya, pengalaman itu membekas di hatinya. Awalnya, saya agak kaget, mendengar cerita penuh takjub, dari orang yang biasa berkelakar macam anak kecil. Kadang, dia malah tidak bisa mengungkapkan pengalaman gaibnya. "Pokoknya, aneh, deh. Tidak bisa diceritakan," kata dia suatu waktu. Jika sudah begini, saya menghargai kebingungannya. Tak bertanya, saya jadi pendengar saja.

Kemudian, dia mulai cerita ada yang berubah pada dirinya, juga keluarganya. Kata dia, istri jadi lebih perhatian, meski rejeki pas-pasan. Dia sendiri jadi lebih ikhlas menerima keadaan. Saya sendiri, sebenarnya menganggap Pak Rohman nriman. Bisa menerima hidup apa adanya. Jadi, saya tidak tahu, apa beda saat sebelum dan sesudah dia akrab dengan Ki Jarot. Yang jelas, ya itu, dia sendiri merasa beda dengan keadaan dirinya. "Ada semacam berkah," dia bilang.

Sejak itu, saya jadi berpikir, ternyata Ki Jarot yang tak kasat mata, bisa membawa pengaruh kebaikan juga. Wallahu a'lam.

26 December 2011

SMS

Hal aneh datang lagi. Sebuah pesan masuk ke handphone saya. Tanpa nama. Tapi saya mengenal nada tulis, dan gaya bahasa yang digunakan. Ya, dia Ki Jarot. Inti pesan, mengingatkan saya agar rajin puasa Senin-Kamis dan salat tahajud. "Insya Allah, Allah mengabulkan permintaan," begitu bunyi pesannya.

Masalahnya, Ki Jarot itu bukan manusia. Mana mungkin bisa mengganti kartu SIM, menggunakan telpon, dan mengirim pesan. Uaneh, kata saya.

Saya tanya ke Pak Engkis, yang biasa jadi "kurungan" makhluk ini. Dia malah bingung. Dia mengaku hanya menerima "pesan," agar saya menyimpan nomor itu. "Itu nomor Aki," kata dia menirukan bisikan itu. "Saya malah tidak tahu nomornya." Pak Engkis tambah bingung.

Saya cek ke Pak Rohman, driver langganan kami, yang cukup akrab dengan Ki Jarot. Ternyata, dia juga bingung. Dia menerima pesan dari seseorang, dengan nomor yang tidak dia kenal. Pesan, gaya bicara, dan gaya bahasanya dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Ki Jarot.

Kemudian, saat saya berusaha mencari tahu, Pak Engkis laporan, handphone yang dia punya mulai aneh. Kedap-kedip sendiri. Jadi tambah aneh. Tapi saya tersenyum dalam hati. Dunia gaib memang penuh misteri. Komentar sama dilontarkan Pak Engkis dan Pak Rohman. "Sudah tidak heran," kata Pak Rohman.

Pernah, saat kami liputan di Banten, ada sosok makhluk seperti anak kecil masuk ke tubuh Pak Engkis. Ketika itu, posisi kami di dalam mobil. Tak disangka Pak Engkis yang tidak sadar itu, sudah memegang permen lolipop. Pertanyaannya, dari mana permen itu datang? Makanya, kami seperti maklum dengan hal aneh di sekitar kami.

Selamat datang di Dua Dunia.

24 December 2011

Masjid

Haekal, anak sulung saya yang berusia lima tahun, punya hobi berkunjung ke masjid. Saat jalan-jalan pakai motor misalnya, instingnya mengenal menara, kubah atau identitas masjid lain yang dia temui. Dia akan mengingat letak masjid tersebut. Kali lain, saat melewati jalan itu, dia mengajak saya mampir. Sekedar berhenti, atau masuk menyambangi.

Tahu yang dia lakukan di dalam masjid? Kadang dia sekedar menengok ruangan, naik tangga, atau menyalakan kipas, yang biasa ada di dalam masjid. Dia suka usil, memang. Mengutak-utik saklar kipas angin, sekadar mencoba, ini kipas nyala tidak.

Paling, saya hanya menunggu di luar. Sebab, kadang dia memperdaya saya. Misal, saya ajak dia beli koran. Di tengah jalan, dia membajak saya mampir ke masjid yang pernah dia temui. Turun dari motor, dia langsung masuk masjid. Saya, bercelana pendek, hanya bisa menunggu di luar. Saya biarkan orang-orang sekitar masjid, memandangi anak saya blusukan dalam masjid. Begitulah dia.

Haekal sering bertanya nama masjid. Kadang saya tidak sempat mengingat nama. Masalahnya, sering saya tidak memperhatikan ada masjid di jalan yang kami temui.

Pernah saya menemukan sebuah masjid bernama Masjid Jami As-Syafi'iyah. Masjidnya lumayan besar. Dan, sepertinya dia merekam nama itu. Setiap dia menemukan masjid, bertanya namanya, tapi saya tidak menjawab, dia mengarang sebuah nama. Masjid Jami apa lah, yang penting ada kata "jami."

Rekaman tentang masjid juga dia tuangkan dalam lukisan. Entah lukisan di kertas, atau di tembok rumah kami. Pernak-pernik masjid ada di lukisannya. Menara, beduk, kubah, lafaz Allah di atas kubah, atau jalanan di depan masjid. Dia punya cerita di setiap lukisan masjid yang dia bikin. Kadang saya menyepelekan cerita itu. Tapi, saya sadar, dia melukis masjid berdasar kerangka cerita yang dia ingat.

Belakangan, Haekal punya mimpi: suatu saat dia mau bikin masjid. Dia sudah menyiapkan nama. Tidak hanya satu nama. Sampai saya tidak hapal. Yang jelas, nama itu ngawur. Mencuplik nama entah dari mana. Satu yang saya ingat, setiap nama memakai kata "jami."

21 December 2011

Aneh

Pekerjaan saya memang aneh, mewawancarai makhluk gaib, yang masuk ke tubuh mediator. Saking sering berinteraksi, beberapa makhluk seperti belajar tentang pekerjaan saya. Ki Jarot, misalnya. Tak heran, setelah beberapa kali dialog, pesannya pun bernuansa liputan. "Manusia pun sedang diliput oleh khadam, yaitu malaikat Rakib dan Atid. Hasilnya Allah yang menentukan. Mitosnya kebaikan dan keburukan."

Saya agak kaget dengan pesan itu. Analoginya pas bener.

Kali lain, Ki Jarot juga memberi wejangan. Dia paham pekerjaan saya bersinggungan dengan hal gaib. Makanya, dia wanti-wanti saya. "Hati-hati, pekerjaan Akang berhubungan dengan gaib. Kalau manusia kan kelihatan, kalau gaib kan tidak," kata dia suatu waktu.

Ngomong-ngomong soal wejangan, banyak juga makhluk yang datang selintas, sekedar menyampaikan pesan. Suatu malam, datang makhluk mengaku dari Pantai Selatan. Dia masuk ke raga Pak Engkis. Lemah lembut, dia berpesan, "Hati-hati. Tahun depan akan banyak bahaya dari gunung dan laut." Tak lama, dia kemudian pergi.

Lain waktu, giliran datang seorang tua. Tangannya seperti memilin tasbih. Dia juga memberi wejangan. Singkat. "Kalian, banyaklah istighfar." Ketika saya tanya jati diri, dia hanya menjawab, "Pernah ke Cirebon? Datanglah ke makam saya. Saya Sunan Gunung Jati." Setelah itu, dia mengucap salam.

Soal kebenaran, wallahu a'lam. Yang jelas, saya meyakini, roh orang meninggal tidak akan datang kembali. Tapi, beberapa manusia memang diberi karunia kesalehan, hingga membuat bangsa jin tertarik padanya. Kadang, jin mengaku sebagai manusia yang dia kagumi itu. Sekali lagi, wallahu a'lam.

19 December 2011

Tes

Ki Jarot mengetes saya. Dia berniat memberi saya "sesuatu." Tapi dia mengajukan satu syarat: saya harus berkurban seekor kambing. Saya sempat bimbang. Kok, begini caranya? Beruntung, saya ingat, cara begini tidak benar. Melawan aqidah. Maka saya menolak. Eh, ternyata dia malah tertawa senang. "Bagus. Itu tadi cuma ngetes saja."

Begitulah. Ternyata, makhluk gaib senang menguji kita. Mereka bisa melihat kita bingung, panik, memikirkan langkah atas ujian itu. Bahkan, kata Aki yang mengaku dari Garut ini, mereka juga meledek kita. "Manusia bodoh, kalau sampai menuruti syarat itu," begitu katanya. Saya memilih tidak mau dianggap bodoh.

Satu hal yang saya pelajari dari program saya, memberi sesuatu ke bangsa jin itu menyalahi aqidah. Itu sebab Islam melarang tumbal, sesajen dan segala bentuk lain. Narasumber saya mengingatkan pelajaran ini dalam setiap episode. Saya pun menyerapnya. Bagi saya, ternyata, gaib itu ada ilmunya, ada syariatnya. 

Ilmu itu yang saya bilang ke Ki Jarot. Saya bilang, agama tidak menghendaki cara kurban seperti itu. Kalau mau berkurban, niatnya harus untuk ibadah. Bukan untuk menarik benda gaib. Itu menyalahi aqidah. Tak disangka, dia malah mengacungkan jempol buat saya. Itu pelajaran, agar tidak mudah terpengaruh ucapan orang lain, dia bilang.

Singkat cerita, saya akhirnya mendapat "sesuatu" itu. Tanpa syarat  apa pun. Saya memang menolak menerima, jika pakai syarat ini-itu. Bahaya buat aqidah. Tapi, Ki Jarot menitipkan satu pesan, supaya saya rajin puasa, salat tahajud dan dhuha. "Insya Allah, semua keinginan terkabul." Amin.

15 December 2011

Janji

Saya berbincang dengan beberapa makhluk, yang masuk ke raga mediator. Dari mereka, saya jadi tahu, dunia mereka seperti dunia kita. Ada gosip, juga guyonan. Manusiawi, lah. Ki Jarot salah satu makhluk yang suka guyonan. Darinya, saya bahkan bisa bergosip. Hubungan suka-tidak suka beberapa kawan. Ada-ada saja.

Yang lucu, kemarin saya sempat "janjian." Yang empunya badan--Pak Engkis, kirim pesan pendek. "Pak, segera telpon. Ada yang mau bicara." Saya paham isyarat ini. Saya pun menelpon. Tenyata, ada suara Ki Jarot di ujung telpon. Aneh? Ya, saya sendiri tidak percaya. Ini makhluk canggih juga, tahu handphone segala.

Saat bertemu Pak Engkis, saya tanya soal telepon Ki Jarot itu. Dia bilang, saat itu dia sedang ada kerja di Jakarta. Pas Ki Jarot masuk ke tubuhnya, orang-orang sekitar kabur. "Ngapain, Pak. Kok, jadi bungkuk. Suaranya juga berubah." Pak Engkis malah bengong. "Emang ada apa?" Dia selalu tak tahu apa yang terjadi, setelah makhluk merasuk tubuhnya.

Belakangan ini, saya makin sering berkomunikasi dengan Ki Jarot. Makhluk tak wujud rupa, yang tiba-tiba jadi dekat seperti saudara. Kami cuma bisa berkomunikasi lewat Pak Engkis. Dialah penyambung lidah Ki Jarot. Komunikasinya bisa lewat apa saja. Dialog langsung, via pesan pendek, atau telpon.

Terakhir, kemarin ada pesan pendek dari Pak Engkis, "Saya titipkan bangsaku padamu." Dia bilang, itu pesan dari Ki Jarot. Saya sendiri tak paham maksudnya.

Gusti Allah Maha Tahu Segala.