19 April 2007

Dunia Anak Dunia Alam

Acara berpetualang, edukatif, dan keragaman budaya menjadi tayangan alternatif bagi anak kota. Terinspirasi Anak Seribu Pulau karya Garin Nugroho.

Mata Amalia Aulian Firdausi tak berkedip mengikut petualangan anak dalam acara Bocah Petualang (Bolang). Sebuah acara yang menampilkan petualangan, permainan, dan mengutamakan unsur edukatif di TRANS7. Berbagai permainan yang tak dijumpainya saat bermain bersama teman. Hatinya terusik melihat kegembiraan anak-anak di pelosok daerah yang menampilkan permainan unik baginya. “Seru banget, saya sangat suka dan ingin mencoba,” kata siswa kelas II SDN Cibuluh I Bogor Utara ini.

Baginya, permainan egrang yang ditampilkan dalam acara Bolang bulan lalu menjadi tak biasa. Ia memang akrab dengan permainan artifisial model pabrikan. Belum lagi bagaimana mereka menyusuri hutan dan bermain dengan hewan yang ada di dalamnya. Permainan di alam bebas yang belum pernah dirasakannya.

Acara berpetualang, edukatif, dan keragaman budaya menjadi tayangan alternatif bagi anak kota. Hal-hal yang selama ini diluar jangkauannya, tampil mencolok mata lewat layar kaca. Permainan tradisional seperti benthik, engklek, tulup, hingga perburuan hewan muncu di layar kacal. “Kita membidik anak yang ada di pelosok dan belum terjangkau,” ujar Amatul Rayani sang produser.

Bolang sendiri muncul sejak 26 Maret 2006. Kemunculannya dipicu oleh makin jauhnya anak dengan permainan tradisional. Apa boleh buat Bolang lebih mengingatkan bahwa dulu ada permainan dan petualangan alam yang menarik. Lihatlah edisi perdananya yang menampilkan bocah berasal dari Tuadale, Nusa Tenggara Timur bernama Jose, 12 tahun. Jose berpetualang di rawa dan hutan. Kelincahan anak-anak Tuadale dalam mengendalikan perahu menyusuri hutan bakau merupakan tontonan yang seru dan menghibur. Mereka juga menyusuri pantai Salupu untuk berburu kepiting dan gurita di malam hari dengan penerangan seadanya.

Anton Hendrawan, associate producer yang menggagas acara ini sejak awal mengaku bingung mencari tokoh anaknya, hinga akhirnya mereka menjumpai anak yang bandel dan berani di SD terpencil. Nah, si Jose ini adalah murid SD Gemit Tuadalle. Ia termasuk berani berbicara dan bertingkah. “Tentunya membutuhkan anak yang aktif untuk bisa memanjat pohon, berburu, dan lainnya,” katanya.

Timnya melakukan riset mencari tempat pedalaman, utamanya tempat yang belum pernah terangkat ke layar televisi. Selanjutnya melakukan riset budaya, adat, dan permainan anak-anak yang ada disana. Tak lupa, menampilkan gambar eksotis alam yang kuat. Biasanya mereka menggunakan semacam panduan terlebih dahulu untuk pendekatan. Sikap kooperatif masyarakat sekitar untuk diambil gambarnya banyak membantu produksi acara ini.

Pionir acara jenis ini untuk televisi diawali Surat Sahabatku sejak tahun 2004. Mulanya Surat Sahabatku mengangkat anak di daerah konflik dan bencana. Dalam perjalanannya, format yang menceritakan kesedihan ini berubah. Sejak Januari 2005 konsepnya lebih kepada petualangan anak dengan tajuk Surat Sahabat. Alasannya, untuk format anak-anak sebuah kisah sedih ternyata kurang menarik. “Kita termotivasi oleh filmnya Garin Nugroho, Anak Seribu Pulau,” ujar Fraya Wowiling produser Surat Sahabat. Mengutamakan edukasi dan budaya yang beragam, lalu muncullah anak anak orang rimba Suku Jambi, Anak-anak Suku Mentawai, Suku Wana di Morowali dan seterusnya.

Format ini memang menarik buat anak, tapi tetap saja ada ceruk kekurangan. Enny ibunda Amalia Aulian Firdausi merasa agak khawatir ketika ada adegan yang kurang sreg. Seperti misalnya ada perburuan kumbang badak (kumbang bercula), kemudian anak-anak mengikatnya dan memaksa untuk terbang. Atau Surat Sahabat episode 8 Maret 2007 tentang kehidupan seorang bocah Sumbawa yang bercita-cita jadi joki nasional. Episode ini menayangkan kebiasaan anak-anak Sumbawa berburu, memasak, dan mengonsumsi logot. Logot adalah bahasa tempatan untuk menyebut tikus tanah. “Sebaiknya yang demikian lebih diolah,” ujarnya.

Andi Dewanto

Tempo Edisi 08/XXXIIIIII/16 - 22 April 2007

16 April 2007

Candu Mie

Ada candu yang tidak bisa lepas, bahkan saat berada nun jauh dari Jakarta. Ialah dia makan mie ayam. Seorang kawan pernah ditanya, apa hal yang diingat dari saya. Dia bilang, hanya mie ayam yang ada di otaknya.

Ya, memang itulah senyatanya. Saya bisa turun dari bis jika melihat gerobak mie ayam di pinggir jalan. Rasanya pengin tahu, mie ayam yang ini seperti apa rasanya. Hasilnya, sebuah kosa perhimpunan rasa mie ayam yang lumayan di Jakarta. Beberapa spot yang layak dikunjungi jika lapar datang. Sayang, sejak tinggal di Bogor, perbendaharaan ini menjadi kurang valid.

Saya sering pergi ke luar kota belakangan ini. Tapi kelakuan candu mie ini tidak berhenti. Maklum, kadang makanan di luar kota kurang akrab dengan lidah. Naga-naganya, urusan lidah kembali ke selera asal, ya mie ayam itu.

Beruntung, pasar mie ayam menyebar hampir ke seantero Nusantara. Di Maumere, Nusa Tenggara Timur atau Kutacane, Aceh Tenggara, mie ayam siap tersaji. Lagipula, mie ayam bisa menyambung rasa laten kesukuan.

Kadang, saat berada di tempat nun jauh dari Jakarta, ada rasa kangen bertemu nuansa Jawa. Dan itu bisa ditemukan lewat perantara mie ayam. Asal tahu, banyak orang Jawa jualan mie ayam. Ini menjadi bekal mereka saat merantau.

Di Maumere, seorang bapak dari Malang menunggu gerobak di sebelah Gedung BRI Maumere. Ada tulisan "Mie Pangsit" di gerobaknya. Sebagai variasi, dia menambah telur ayam pada semangkuk mienya. Nah, di sebelah dia mangkal, ada orang Surabaya menjual nasi goreng. Saat mampir ke warung bapak-bapak ini, aroma Jawa menyeruak dari dagelan Suroboyoan. Rasanya seperti bertemu teman lama.

Di Kutacane, seorang ibu dari Sragen mengumbar senyum kepada pembeli mie ayam, yang mengalir keluar-masuk kiosnya. Si ibu riang bertemu orang sekampung seperti saya. Dia pikir, ada juga orang Sragen di Kutacane. Maka, cerita perjuangan merambah Aceh pun menjadi sajian kebanggaan. Enam tahun sudah si ibu bertahan di Aceh.

Begitulah. Mie ayam masih mengganggu pikiran, dan saya masih melanglang. Jadi, sepertinya ada agenda pasti saat memburu bocah-bocah petualang di pedalaman.

01 February 2007

Kangen



Anakku, kamu kok bikin kangen bapakmu, sih!
Sheldon

... Saya menemukan artikel ini di Koran Tempo ...

Pemuja Wanita Itu Pergi

Aku menatap ke langit dan berujar, "Jika benar ada Tuhan, perlihatkanlah wajahmu kepadaku."

Pertanyaan itu menyeruak tatkala usia Sydney Sheldon baru 17 tahun. Ketika itu, 1934, novelis kondang yang banyak menyabet penghargaan dalam tiga bidang (teater Broadway, film, dan televisi) itu masih bekerja di sebuah toko obat bernama Afremow di Chicago.

Sheldon memang seperti mencari Tuhan ketika negerinya dilanda krisis ekonomi. Ratusan bank harus tutup. Puluhan usaha gulung tikar. Lebih dari 13 juta manusia kehilangan pekerjaan.

Penggalan kisah itu tertuang dalam buku terakhir Sheldon, The Other Side of Me, yang terbit pada 2005. Tak seperti 16 buku sebelumnya yang berupa novel, buku ini berkisah tentang perjalanan hidup sang penulis.

Dan Selasa lalu, Sheldon bertemu dengan Tuhan yang ingin dia lihat wajahnya ketika menginjak dewasa itu. Menurut Warren Cowan, yang menerbitkan bukunya, Sheldon meninggal pada usia 89 tahun akibat komplikasi radang paru-paru yang dideritanya.

Istrinya, Alexandra, dan anak perempuannya yang juga penulis, Mary Sheldon, berada di samping Sheldon sewaktu dia mengembuskan napas terakhir di Eisenhower Medical Center, Rancho Mirage, Los Angeles.

"Saya kehilangan teman lama dan terkasih," kata Cowan. "Bertahun-tahun menggeluti bisnis (penerbitan) ini, saya tidak pernah mendengar sebuah kata-kata kasar tentangnya (Sheldon)."

Sheldon baru ganti profesi sebagai penulis novel ketika menginjak usia setengah abad pada 1969. Rage of Angeles, The Other Side of Midnight, Master of the Game, dan If Tomorrow Comes merupakan novel-novel laris yang melejitkan nama Sheldon. Karya-karyanya memiliki alur cerdas yang penuh ketegangan dan sensualitas, sehingga membikin pembaca terus mengikutinya sampai akhir cerita.

"Saya mencoba menulis buku-buku saya yang membuat pembaca tidak mau berhenti membaca," kata Sheldon dalam sebuah wawancara pada 1982. "Saya mencoba membuat mereka agar ketika selesai membaca satu bab akan penasaran membaca bab selanjutnya".

Kenapa begitu banyak wanita dalam novel-novelnya? Sheldon mengatakan, "Saya suka menulis tentang perempuan yang punya bakat dan kemampuan. Namun, yang paling penting, sifat kewanitaan mereka. Kekuatan yang hebat sekali karena laki-laki tidak ada apa-apanya tanpa mereka."

Berbeda dengan penulis lainnya, Sheldon mendikte setiap 50 halaman bukunya per hari ke sekretarisnya atau lewat alat perekam. Ini terus dilakukan sampai 1.200 atau 1.500 halaman. "Lalu saya menulis ulang sampai 12 atau 15 kali. Saya menghabiskan hari-hari selama setahun untuk menulis ulang."

Sheldon mulai menulis sewaktu masih usia belia. Masa kanak-kanak dihabiskannya di Chicago, tanah kelahirannya. Pada umur 10 tahun, dia pertama kali membuat karya yang dijual, yaitu sebuah puisi, yang laku US$ 10. Sewaktu bekerja di Northwestern University dia membikin cerita pendek buat kelompok teater di situ.

Sheldon, yang pernah menjadi pilot pesawat tempur pada Perang Dunia II, menyabet Piala Oscar untuk skenario asli terbaik pada 1974 lewat film The Bachelor and the Bobbysoxer. Dia juga menggondol Piala Emmy lewat serial televisi yang dibikin dan diproduserinya, I Dream of Jeannie. AP/SS KURNIAWAN

Novel Laris Itu

Sejak 1969, 16 novel ditulis Sydney Sheldon dan rata-rata menjadi best seller selama berminggu-minggu. Buku tentang perjalanan hidupnya diterbitkan pada 2005.

1969 The Naked Face
1974 The Other Side of Midnight
1975 A Stranger in the Mirror
1977 Bloodline
1980 Rage of Angels
1982 Master of the Game
1986 If Tomorrow Comes
1987 Windmills of the Gods
1988 The Sands of Time
1990 Memories of Midnight
1991 The Doomsday Conspiracy
1992 The Stars Shine Down
1994 Nothing Lasts Forever
1998 Tell Me Your Dreams
2000 The Sky is Falling
2004 Are You Afraid of the Dark?2005 The Other Side of Me

30 January 2007

New Wave

Pada majalah Tempo edisi 15-21 Januari 2007, yang terhormat Bapak Noorca M. Massardi, salah satu anggota Dewan Juri FFI 2006, menulis sebuah ulasan yang cukup sinis terhadap protes yang dilayangkan Masyarakat Film Indonesia. Tulisan beliau yang berjudul ”Oh, Film” (hlm. 126) mengajukan sebuah pemikiran perbandingan antara apa yang terjadi belakangan ini di ”wacana sinema Indonesia” dan apa yang terjadi di Prancis pada tahun 1960-an. Untuk lebih jelasnya, beliau merujuk pada sebuah gerakan sinema yang disebut New Wave (nouvelle vague, atau gelombang baru). Saya ingin menggarisbawahi beberapa hal yang disampaikan dalam tulisan itu.

Pertama, ada beberapa ”kesalahan” yang menurut saya sangat esensial (dan memalukan?) dalam tulisan itu. Menyangkut persoalan fakta historis dan penyebutan nama. Kesalahan itu antara lain ditulis bahwa Roman Polanski adalah salah satu eksponen gerakan gelombang baru. Pernyataan itu sungguh sangat mengherankan. Polanski memang dilahirkan di Paris, Prancis. Tetapi terlihat dari namanya, Roman Polanski bukanlah keturunan Prancis, melainkan Polandia. Tetapi hal yang lebih penting dari fakta ini adalah Polanski tidak pernah terlibat dalam gerakan New Wave pada tahun-tahun 1960-an di Prancis. Roman Polanski memulai debut kariernya sebagai pembuat film di sebuah sekolah film di Polandia. Debut film panjangnya, Knife in the Water (1962), dibuatnya di Polandia dan mendapat pengakuan internasional setelah film tersebut menjadi nomine Oscar untuk film berbahasa asing terbaik.

Tiga tahun kemudian Polanski membuat film di Inggris berjudul Repulsion (1965). Polanski kemudian terjun ke industri sinema Hollywood sejak ia membuat Rosemary’s Baby (1968) lalu Chinatown (1974) untuk menyebut beberapa yang terkenal. Dua film ini menjadikannya bagian dari gelombang kebangkitan pembuat film Hollywood pasca-Hollywood klasik di tahun 1970-an. Jadi sangat lucu bila Noorca menjadikan Roman Polanski sebagai salah satu eksponen gerakan New Wave, karena New Wave dikenal sebagai gerakan film yang bermula di Prancis, sementara Roman Polanski bekerja di Polandia dan Amerika Serikat.

Kedua, sejarah sinema Prancis (dan dunia) tidak mengenal seorang pembuat film bernama Claude Rohmer. Salah satu pembuat film gelombang baru dengan nama belakang Rohmer bernama lengkap Eric Rohmer (dengan nama asli Jean-Marie Maurice Scherer). Eric Rohmer memang tepat sekali dianggap sebagai eksponen gerakan New Wave karena beliau tergabung dalam sebuah jurnal yang menjadi alat penting gerakan New Wave ini, yakni jurnal film Cahiers du Cinema. Eric Rohmer juga menjadi penulis skenario dan pembuat film dengan film seperti Le Signe du Lion (1959), La Marquise d’O (1974), dan serial Contes Moraux.

Ketiga, gerakan New Wave, tidak seperti disebut oleh Noorca, tidak dimulai pada tahun-tahun protes 1968. New Wave sebagai sebuah gerakan sinema telah dimulai sejak tahun 1958. Periode awal gerakan ini disepakati terjadi pada tahun 1958-1962, sementara periode kedua terjadi pada tahun 1966-1968.

Kalau dilihat lebih jauh, gerakan film gelombang baru berawal dari didirikannya jurnal sinema Cahiers du Cinema pada tahun 1951 oleh Andre Bazin, Jacques Doniol-Valcroze, dan Joseph-Marie Lo Duca. Dari jurnal ini, muncullah orang-orang yang nanti akan menjadi sutradara eksponen gerakan New Wave, antara lain Eric Rohmer, Francois Truffaut, Jean Luc-Godard, Claude Chabrol, dan Jacques Rivette.

Karena berangkat dari kritik film dan ”anak-anak muda yang lebih melek sejarah film”, maka gerakan New Wave bisa dibilang merupakan gerakan estetika yang ingin mengubah estetika-estetika film sebelum mereka yang saat itu dikuasai oleh generasi tua pasca-perang. Generasi yang oleh Truffaut disebut Cinema de Papa ini merupakan generasi yang menggunakan standar naratif ketat yang saat itu menjadi arus utama.

Pemberontakan New Wave, yang diakui dimulai oleh film Le Beau Serge (1959), mengajukan sebuah gagasan estetik yang berbeda dengan pendahulu-pendahulunya. Dua nilai dasar dari New Wave itu adalah:

Penolakan atas montase klasik yang mengedepankan struktur naratif (bercerita) urut dan teratur. Estetika New Wave lebih condong pada apa yang disebut mise-en-scene (apa yang tampak di dalam film, seperti artistik, akting, pencahayaan, set), pengambilan gambar secara lama (long takes) dan komposisi kedalaman (depth of field).

Keyakinan bahwa film yang baik adalah film yang menjadi ekspresi artistik personal pembuatnya. Keyakinan ini melahirkan apa yang disebut ”teori auteur”.

Nilai pertama diwujudkan dalam proses pembuatan film yang lebih individual, dengan bujet rendah, kamera cangking (handheld), dan pemilihan lokasi pengambilan gambar yang riil (bukan studio). Keyakinan kedua soal auteur diacu Noorca M. Massardi untuk menilai Koya Pagayo aka Nayato Fio Nuala dengan menyebut sutradara tersebut sebagai ”auteur” (Cek dan Ricek, edisi 437, 2007).

Apa yang bermasalah dari teori-teori ini? Adalah hal yang sangat lucu kalau tidak bisa dibilang ironis, membandingkan gerakan New Wave ini dengan gerakan protes yang dilakukan oleh para pembuat film dari Masyarakat Film Indonesia. Mengapa demikian?

Pertama, gerakan protes Masyarakat Film Indonesia merupakan gerakan politik, bukan gerakan sinema atau gerakan estetik. Para pembuat film anggota Masyarakat Film Indonesia, seperti Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Dimas Djayadiningrat, Shanty Harmayn, atau Hanung Bramantyo, untuk menyebut beberapa, sama sekali tidak memiliki kesamaan platform estetik. Mereka bergerak di wilayah estetik yang berbeda-beda. Sehingga menyamakan atau memperbandingkan gerakan New Wave dengan gerakan advokasi MFI adalah sesuatu yang menyesatkan. MFI tidak menawarkan sistem estetika baru sekental apa yang ditawarkan gerakan New Wave di Prancis. Gerakan ini justru harus dilihat sebagai gerakan advokasi yang ingin membela hak-hak mereka sebagai pembuat dan pekerja film.

Kedua, ”teori auteur” sendiri merupakan salah satu teori sinema yang paling bermasalah. Selain terlalu fokus pada selera estetik satu orang saja (sutradara), teori ini mengundang paradoks. Pertama, teori ini berangkat dari impian masa Romantik tentang ”film yang baik hanya bisa dihasilkan oleh orang yang baik/pintar” (Great literature/film produced by great men) [Men sengaja ditulis sebagai laki-laki, menandai sistem patriarki yang menyelubunginya]. Tesis ini paradoks dengan pendekatan New Wave sendiri yang mengajukan demokratisasi pembuatan film. Kedua, pendekatan ini bersifat parsial, konservatif, dan patriarkal.

Persoalan berikutnya, gerakan mahasiswa Paris di tahun 1968 tidak secara langsung mempengaruhi gerakan sinema New Wave. Seperti yang saya katakan sejak awal, gerakan ini jauh lebih dulu dari gerakan protes Paris 1968. Gerakan Paris 1968 bisa dibilang hanya mempengaruhi sedikit dalam film-film Jean Luc-Godard, tetapi pembuatan film secara umum tidak terlalu terpengaruh. Kontribusi besar gerakan ini justru di wilayah politik kebudayaan dan industri, yakni hilangnya sensor, peningkatan pajak bagi film-film ”dewasa” (X-rates) dan subsidi silang untuk pembuat film muda/pemula dan film-film artistik. Sesuatu yang masih harus diperjuangkan oleh para pembuat dan pekerja film di Indonesia.

Tanpa bermaksud merendahkan seni yang lain (Bapak Noorca menyebut tari, seni rupa, musik, teater, dll), film memiliki ciri spesifik yang menjadikannya produk budaya sekaligus produk industri/ekonomi. Tidak seperti seni lain yang membutuhkan modal dan sistem manajemen yang tidak terlalu rumit, film menuntut jumlah kru dan investasi modal yang tidak sedikit. Meski muncul genre film yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan banyak modal (dokumenter, misalnya), tetapi film sebagai industri membutuhkan pengaturan yang sangat kompleks.

Pernyataan implisit Bapak Noorca yang mempertanyakan urgensi UU Perfilman mungkin harus dipikirkan dalam kerangka kepentingan film nasional. Kalau film Indonesia tidak dianggap produk kebudayaan (melainkan produk industri semata), maka memang tak perlu para pembuat film mengajukan UU khusus perfilman. Untuk industri, film hanya membutuhkan kebebasan berekspresi yang sudah tercakup oleh UU lain (UU Pers, Penyiaran, dan HAM) dan undang-undang perdagangan (anti-monopoli, persaingan sehat, dll).

Tetapi melihat draft RUU Perfilman yang diajukan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan RUU Perfilman versi BP2N, dikatakan dengan cukup tegas bahwa film Indonesia merupakan produk kebudayaan. Jadi, mau tak mau pemerintah harus mengambil tindakan untuk memproteksinya.

Dalam konteks inilah, menurut saya, gerakan advokasi MFI harus dimaknai. Bukan dalam segi estetik seperti yang diajukan oleh Bapak Noorca, karena Indonesia belum (dan mungkin memang tidak) sampai ke perdebatan tentang itu, tetapi karena ada hal-hal yang lebih urgen, yang lebih berkenaan dengan ”keberlangsungan” hidup perfilman sendiri, daripada perdebatan soal estetik yang, maaf-maaf saja, tidak dikuasai oleh banyak orang Indonesia, termasuk anggota dewan juri yang terhormat Festival Film Indonesia.

VERONICA KUSUMA
Mahasiswa Kajian Film, Institut Kesenian Jakarta

(Surat Pembaca Tempo Edisi. 49/XXXV/29 Januari - 04 Februari 2007)

29 January 2007

Kanoute

"Saya bukan seorang yang patut diidolakan."

Namanya mendadak melejit musim ini. Frederic Kanoute, penyerang Sevilla, melesakkan empat gol dalam tiga pertandingan Liga Spanyol plus satu gol saat mengempaskan Barcelona 3-0 pada Piala Super Eropa. Dia berhak atas gelar pichichi (top scorer) Liga Spanyol pekan lalu bersama Samuel Eto'o dari Barcelona.

Suporter Sevilla menemukan idola baru dalam diri Kanoute sepeninggal Javier Saviola yang telah kembali ke Barcelona. Musim lalu Kanoute kalah pamor dibanding Saviola dan hanya mencetak enam gol sepanjang musim. Tapi si pemain justru menolak diidolakan secara berlebihan.

"Dalam agama saya, Islam, berjudi, minum alkohol, dan memuja idola itu dosa," ujar Kanoute menjelaskan alasannya. "Dan saya bukan seorang yang patut diidolakan, saya hanya manusia biasa."

Pemain berusia 29 tahun itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Pengurus Sevilla sempat kelabakan dengan prinsipnya. Pada pekan pertama dan kedua kompetisi, pertengahan Agustus lalu, Kanoute menutupi logo sponsor yang ada di kostumnya saat bertanding. Sebuah logo dari rumah judi, 888.com.

Setelah melalui serangkaian negosiasi, Kanoute akhirnya setuju melepas penutup logo di kostumnya. Selain itu, guru agama yang dia ajak berdiskusi memberi masukan bahwa mengenakan seragam berlogo sponsor rumah judi tidak berarti pendukung perjudian.

Kanoute telah mengalami perjalanan panjang sebelum menemukan keteguhan iman Islam seperti sekarang. Perenungan dalam yang membuatnya bisa berucap tegas, "Islam telah menuntun saya ke jalan yang benar, dan Nabi Muhammad panutan saya." Setiap menyebut nama Nabi Muhammad, dia selalu menambah dengan kalimat, "Semoga Allah selalu menganugerahkan kedamaian kepada beliau."

Fredi--panggilan akrabnya--lahir di Sainte-Foy-les-Lyon, kawasan metropolitan di pinggiran Lyon, kota terbesar kedua di Prancis setelah Paris. Ayahnya adalah warga negara Mali yang lantas menetap di Paris saat berusia 21 tahun dan menjadi pekerja pabrik. Sang ayah menikah dengan perempuan Prancis, seorang profesor filsafat--ibu Kanoute.

"Keluarga kami bukan keluarga miskin, tapi juga tidak terlalu kaya," kata Kanoute. Pendidikan menjadi hal penting di keluarga mereka. Saudara laki-laki Fredi seorang doktor, saudara perempuannya guru sekolah perawat. Dia sendiri selalu diharapkan ayah-ibunya untuk masuk universitas.

"Tapi ayah, ibu, dan saudara-saudara saya tak keberatan saat saya memutuskan untuk berkarier sebagai pemain bola. Meski tentu saja mereka lebih suka bila saya meneruskan kuliah," ceritanya sambil tertawa.

Terbiasa dengan pola pikir filosofis yang diterapkan ibunya, Kanoute tumbuh menjadi pemuda yang selalu haus mencari jati diri. Di sela-sela latihan dan pertandingannya sebagai pemain muda Olympique Lyon, Kanoute mencoba merenungkan arti hidup.

"Saat itu saya sudah berpikir, pasti ada yang lebih bermakna daripada sekadar sepak bola," kenangnya. "Bukan berarti saya menganggap remeh sepak bola, bukan, sampai sekarang pun saya menganggap sepak bola penting bagi hidup saya."

Dari situlah dia menemukan Islam. Kanoute muda mengenal Islam dari lingkungannya yang banyak dihuni para imigran dari Afrika bekas jajahan Prancis. Karena tertarik, dia lantas mencari buku-buku rujukan.

Tepat pada tahun pertama memulai karier profesional bersama Lyon, musim 1997/1998, saat usianya 20 tahun, dia mengucapkan kalimat syahadat. Namanya lantas berganti menjadi Frederic Oumar Kanoute. Dia kemudian menikahi perempuan keturunan Mali, Fatima. Mereka telah dikaruniai dua putra: Ibrahim, 5 tahun, dan Iman, 3 tahun 6 bulan.

Setelah bermain untuk Lyon, 1997-2000, Kanoute merumput untuk West Ham di Liga Inggris (2000-2003) dan kemudian Tottenham Hotspur (2003-2005). Setelah itu Sevilla menjadi persinggahannya sejak dua musim lalu. Pada 2003, dia memutuskan untuk pindah kewarganegaraan menjadi Mali dan memperkuat tim nasionalnya. Padahal Fredi sempat membela tim nasional Prancis U-21.

Di mana pun dia berada, pemain bertinggi badan 192 sentimeter ini selalu tegas menyatakan bahwa dia seorang muslim. Dia salat lima waktu, tidak minum alkohol, dan menjauhi kehidupan malam. Saat Pangeran Charles mengunjungi Masjid Whitechapel, London Timur, pada 2003, dia menjadi salah satu orang yang menyambutnya.

Yang paling sulit bagi seorang pemain profesional seperti dia adalah beradaptasi dengan lingkungan dan kompetisi setempat, terutama bila bulan Ramadan tiba. Sebagai seorang muslim, dia harus melaksanakan puasa wajib. Sebagai pemain profesional, dia dituntut untuk selalu turun dalam kondisi fisik terbaik.

Empat hari menjelang Ramadan tahun ini, pelatih Sevilla, Juande Ramos, bertanya tentang pola makannya saat puasa. Ramos khawatir si penyerang andalnya akan kehilangan ketajamannya bila kondisi fisiknya menurun saat puasa.

"Saya sudah terbiasa sebelumnya. Saya telah berkonsultasi dengan dokter dan katanya tak ada masalah," ungkap Kanoute. "Bila pertandingan malam, saya berbuka sebelum bermain. Bila pertandingan sore, saya tidak puasa. Pada hari lain saya berpuasa sepenuhnya."

Sungguh sebuah perjuangan berat dari seorang pichichi yang ingin menjadi muslim yang kafah. EL PAIS |ETHNICMEDIA | ANDY MARHAENDRA

Koran Tempo, 24 September 2006

10 November 2006

Haekal

Saya berdiri di ujung lorong, ketika perawat mendorong kereta bayi mendekati saya. Suara tangis bayi di kereta itu terdengar lantang, sejak ujung lorong di seberang sana. Hebat benar anak ini, pikir saya.

Saya tidak tahu apa yang tergambar di wajah saya. Ada rasa penasaran dan bahagia. Tapi mungkin ekspresinya salah keluar. Seorang perawat menegur, "Baru pertama, Pak?" Saya hanya mengiya. "Pantas panik," kata dia.

Apapun itu, saya bangga dengan tangis bayi yang perlahan menghampiri saya. "Ini anak bapak. Sejak keluar tangisnya kenceng," seorang dokter menyalami saya.

Dia, sang bayi itu, sebenarnya masih punya umur satu minggu dalam kandungan. Ibunya, seorang perempuan dengan pembawaan tenang, merasa sesuatu mengalir dari selakangannya saat subuh menghampiri. "Sepertinya ini air ketuban," dia membangunkan tidur saya tanpa ekspresi. Lalu saya membawanya ke bidan.

Dan benar, ketuban sudah mengalir keluar. Namun kepala bayi masih melayang, belum menyentuh lubang vagina. Perangsang tak membuat bayi siap keluar. Bidan bilang bayi terlalu besar. "Lebih dari 3,5 kilogram," kata bidan. Tak berani ambil resiko, bidan meminta saya membawa istri ke rumah sakit. "Dia harus operasi."

Hari itu Minggu, 5 November 2006. Jam menunjuk angka sepuluh. Setelah tetek bengek urusan administrasi rumah sakit dan cek dokter, istri saya masuk ruang operasi satu jam kemudian. Tapi perawat menahan saya di pintu ruang operasi. "Bapak cukup sampai di sini saja," kata dia. Saya menahan gemas, tapi tak bisa melawan. Maka saya menunggu di luar ruangan.

Dua puluh menit berlalu, dokter menghampiri saya. "Anak Bapak sehat, begitu pula ibunya," kata dokter. Saya mengacuhkan budi baiknya mengabarkan berita bahagia ini, untuk mendengarkan jerit tangis bayi saya dalam kereta. Namun perawat membawanya ke ruang perawatan bayi.

Tak lebih dari sepuluh menit, bayi ada di tangan saya. Betapa cantiknya bayi ini. Hidungnya besar dan mancung. Bibirnya mungil. Matanya mengatup satu. Tapi kedua kelopaknya terbuka saat mulut saya melantunkan adzan dan iqomah di telinganya. Lagaknya tahu saja.

Lalu kerabat bertanya. "Siapa namanya?" Saya jawab, "Muhammad Haekal." Saya kagum dengan nama pengarang Mesir ini. Ada rasa gagah dari nama penulis Sejarah Hidup Muhammad itu. Haekal berarti pokok yang tangguh dan subur. Saya merasa setuju saat mendengar suara tangis anak saya.

Kemudian kerabat menyalami. Mereka puas, begitu pula saya.

Haekal datang. Satu babak hidup mulai. Dalam hati, kelak, orang akan mengenang namanya dengan harum, karena sebuah karya yang membukakan mata, seperti saat matanya terbuka saat mendengar adzan dan iqomah di telinganya. Dia akan menjadi orang besar. Dia akan membuat bangga orang tua dan orang di sekitarnya. Selamat datang, Haekal.

05 July 2006

Sindhunata

Saya suka sepak bola, juga drama. Tapi saya tidak mampu membaca bahasa drama dalam sepakbola. Beruntung, saya bisa menemukannya pada Sindhunata.

Dia seorang imam Katholik, anggota Yesuit. Sempat menjadi wartawan Kompas, kini dia menjadi redaktur Majalah Kebudayaan Basis. Ia mendapat gelar doktor dari Hochschule für Philosophie, Munich, Jerman, dengan sebuah disertasi tentang pengharapan mesianik masyarakat Jawa.

Berbagai buku sudah dia tulis. Novelnya yang terkenal adalah Anak Bajang Menggiring Angin. Dia menulis buku-buku lain, seperti Bayang-bayang Ratu Adil, Cikar Bobrok, Nderek Sang Dewi Ing Ereng-Erenging Redi Merapi, Semar Mencari Raga, Tak Enteni Keplokmu Tanpa Bunga, Telegram Duka, Zaman Edan, Celeng Dhegleng, Air Kata-kata (sebuah kumpulan puisi), dan Kambing Hitam.

Mungkin, latar belakang filsafat dan penulis ini yang membuat dia bisa memandang sepak bola secara manusiawi, bernuansa drama. Ada cerita sedih dan bahagia bertautan. Dia mungkin penganut kredo Albert Camus: Saya belajar hidup dari sepak bola.

Begitulah Sindhunata. Selalu ada pelajaran hidup dari sepak bola. Dan Sindhunata mengejawantahkannya dalam tulisan, karena dia bukan pemain bola. Tapi dia seperti berada di sana. Berbicara dari hati-hati dengan pemain, pelatih, lalu menceritakannya. Saya menikmatinya, hampir setiap hari.

12 May 2006

Rindu Dokter

Dia bukan seorang cantik, meski seorang perempuan baik. Tapi kami selalu ingin berjumpa dengan dokter kami ini. Karena kami selalu bertanya, apa yang terjadi dengan bayi di balik perut buncit. Dan dialah satu-satunya orang yang bisa bercerita. Itu sebab kami menanti.

03 May 2006

Aduhai

Seonggok melambai-lambai. Dua tentakel seperti tangan seperti menyapa. Saya heran. Seonggok ini sebuah nyawa di perut istriku. Berumur 10 minggu. Bakal bayi kami.

Dokter kami, sambil menggoyang pemindai di perut istri saya, menggumam menggoda, "Mana mamanya?" Seonggok itu masih melambai. Dia bagai tahu diajak bicara.

Pulang, saya dan istri masih terkesima. Cerita tak habis di tempat tidur. Terpesona, sebab seonggok melambai-lambai. Bagaimana bisa?

16 March 2006

Prihatin

Saya prihatin terhadap para polisi yang tewas karena kepalanya ditimpuki batu oleh para demonstran-berandalan di Papua, Kamis ini. Tidak ada alasan apapun untuk membenarkan sebuah kekerasan, untuk menuntut sebuah hak yang ditenggelamkan sekalipun. Tidak!

14 February 2006

Yang Siaga di Pintu Air

Jakarta disiram terik matahari pada Rabu siang pekan lalu. Cuaca yang agak berbeda setelah hujan mengguyur Jakarta beberapa hari sebelumnya.

Mimpri Masturi, 54 tahun, membuka bajunya. Bertelanjang dada, dia membuang gerah, berjalan melenggang di pekarangan seluas lapangan bulu tangkis di rumah jaga pintu air Manggarai, Jakarta Selatan. "Mumpung bisa nyantai," kata penanggung jawab pintu air Manggarai ini.

Cuaca cerah seperti hari baik buat Mimpri. Biasanya dia harus waspada terhadap mendung dan hujan. Namun, meski cuaca tenang, Mimpri tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Ia masih menyambung kontak dengan petugas penjaga pintu air di Depok dan Katulampa, Bogor, Jawa Barat. Maka radio tetap menyala dan suara panggilan sering datang lewat radio.

Dia juga masih memantau ketinggian air setiap jam. Ketinggian air ini dicatat pada daftar pencatat harian. Kemudian hasil pantauan ini dilaporkan ke Komando Pengendalian Banjir di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta di kawasan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beginilah keseharian Mimpri.

Mimpri memang bertanggung jawab menjaga ketinggian air Sungai Ciliwung di pintu air Manggarai, tempat Sungai Ciliwung dibelah menjadi dua jalur. Satu jalur melewati Banjir Kanal, satu lagi yang disebut pintu air Ciliwung-Kota melewati kawasan elite seperti Menteng, Gunung Sahari, dan Kota.

Manggarai, kata Mimpri, adalah pintu pertama setelah air mengalir dari Depok. Ketinggian air di pintu air Manggarai bisa digunakan untuk memprediksi terjadinya banjir di kawasan Jakarta. "Karena itu, ketinggian airnya perlu diperhatikan."

Di tempatnya bekerja, sebuah ruangan berukuran 3 x 3 meter di pintu air Manggarai, Mimpri ditemani sebuah pesawat telepon, sebuah handy talkie, dan sebuah radio panggil. Semua barang ini fasilitas kerja dari Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Sebagai hiburan, masih ada pesawat televisi 21 inci. "Ini patungan para penjaga yang bekerja di sini." Sebuah kail pemancing juga terlihat di pojok ruangan. "Buat selingan," katanya.

Mimpri sudah menjaga pintu air Manggarai sejak 1975. Awalnya, dia hanyalah seorang warga Manggarai yang bertetangga dengan pintu air. Lantaran rajin nongkrong di sana, Mimpri mulai tertular pekerjaan para penjaga pintu air. Ia akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

Mulanya Mimpri hanya sekadar membantu membuka pintu air yang masih menggunakan engkol. Lama-kelamaan ia menjadi bagian dari penjaga pintu air. Ia sering diminta berjaga, walau bukan pegawai pintu air. "Akhirnya, saya ditawari menjadi pegawai negeri," ujarnya. Hingga sekarang, pegawai golongan II-C ini menjadi penjaga paling senior di pintu air Manggarai. "Bulan Mei nanti saya pensiun."

Kini Mimpri menempati satu ruangan di rumah jaga pintu air Manggarai. Ruangan berukuran kurang-lebih 50 meter persegi itu dia tempati bersama istrinya, seorang anak, menantu, dan seorang cucu.

Sebenarnya, Mimpri tidak sendiri menunggu pintu air Manggarai. Ia ditemani tiga orang penjaga lain. Satu di antaranya anak Mimpri, yang menjadi pegawai tak tetap di Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Mereka bekerja 24 jam sehari. Sehari masuk, sehari libur. "Fleksibel," kata Mimpri. Namun, kata Mimpri, jam kerja mereka tidak jelas. Kadang semua penjaga harus berkumpul jika cuaca Jakarta buruk.

Sebagai penjaga senior, Mimpri cukup makan asam garam mengurusi pintu air. Pengalaman terburuk terjadi saat banjir besar melanda Jakarta pada 2002. Ketika itu, ketinggian air di pintu air Manggarai sudah mencapai 10,5 meter. Padahal titik aman air di Manggarai hanya 750 sentimeter. "Air sungai sudah luber ke jalan."

Saat itu, banyak warga yang rumahnya terendam banjir mengajukan protes karena pintu air Ciliwung-Kota tidak dibuka. Dilematis memang. Alasannya, jika pintu air ini dibuka, kawasan Menteng dan Istana Negara, yang notabene daerah bebas banjir, bisa terendam air. Lagi pula, kewenangan membuka pintu air tidak sepenuhnya berada di tangan penjaga.

Menurut Mimpri, jika air masih berada pada batas 750 sentimeter, petugas pintu air masih punya wewenang membuka-tutup pintu air. Jika pintu berada pada batas 750-850 sentimeter, wewenang sudah berpindah ke komandan operasional di Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Pada level ketinggian air 850-950 sentimeter, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI memegang wewenang keputusan buka-tutup pintu air. Jika ketinggiannya lebih dari 950 sentimeter, Gubernur DKI Jakarta yang bertanggung jawab. "Inilah yang disebut keadaan siaga I," kata Mimpri.

Ketika itu, ada dua peleton polisi dari satuan Brigade Mobil yang sempat menjaga pintu air Manggarai. Namun, warga masih terus mendesak agar pintu air Ciliwung-Kota dibuka.

I G.K. Suena, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI saat itu, melapor ke Gubernur Sutiyoso untuk meminta izin membuka pintu air. "Ini terpaksa dilakukan, biar warga tidak makin terendam," katanya.

Akhirnya, Gubernur Sutiyoso waktu itu meminta izin Presiden Megawati Soekarnoputri karena ada kemungkinan Istana Negara akan terendam. Setelah Presiden oke, pintu air Ciliwung-Kota pun dibuka. Beberapa kawasan di Menteng terendam air, tapi Istana Negara masih bebas dari genangan air.

Mimpri mengatakan, menjadi penjaga pintu air memang harus sabar karena banyak warga menelepon mau tahu ketinggian air, terutama saat hujan lebat. "Biasanya warga yang tinggal di bantaran kali."

Menurut Kusharyanto, penjaga pintu air yang lain, telepon warga kadang terasa sangat mengganggu. "Rasanya seperti teror," kata petugas asal Purworejo, Jawa Tengah, ini. Bahkan, menurut Kus, kadang ada warga yang mengancam penjaga karena tidak percaya pintu air sudah dibuka untuk mencegah banjir.

Kus mengatakan, idealnya pintu air Manggarai dijaga enam orang penjaga. Tiga orang berjaga bergantian setiap hari. "Karena banyak pekerjaan yang harus ditangani," katanya.

Pekerjaan pertama menerima laporan ketinggian air lewat radio. Kedua, mencatat dan melaporkan ketinggian air ke pos komando banjir. Ketiga, mengoperasikan sarana dan prasarana seperti pintu air, diesel, dan ekskavator (pengeruk). "Belum petugas yang mengurusi wartawan," kata Kus berseloroh.

Namun, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf, jumlah penjaga di pintu air Manggarai sudah memadai. "Kondisi pintu air juga masih bagus karena terawat," kata Wisnu.

Di tengah kesibukannya, Mimpri dan rekan-rekannya masih bisa bersantai melepas penat, bermain bulu tangkis di halaman rumah jaga yang luas.

Koran Tempo, 5 Februari 2006

05 January 2006

Kabar Dari Koran

Ayah Lumpuh Tewas Dibuang

JAKARTA -- Sanusi tak sanggup melawan ketika anaknya, Adek Suryono, dan ipar anaknya, Suginda, meninggalkannya di kolong jembatan layang sentraprimer Pulogebang, Jakarta Timur, pada Selasa (3/1) malam, sekitar pukul 23.30. Umurnya sudah 68 tahun dan ia sedang sakit lumpuh.

Seorang pedagang, Abdul Latif, menemukan Sanusi sudah tak bernyawa kemarin, sekitar pukul 10.00. Tubuhnya tertelungkup tak jauh dari tikarnya. Agaknya ia sedang berusaha mencari pertolongan.

Polisi Sektor Cakung telah menangkap Adek, 37 tahun, dan Suginda, 28 tahun. Adek ditangkap di lokasi kejadian ketika kembali untuk melihat ayahnya karena tetangganya mengabarkan sang ayah telah meninggal.

Kepada wartawan, Adek, warga Bintara RT 3/1, Bekasi, mengaku membuang ayahnya karena sudah tak kuat membiayai dan merawat sang ayah yang sakit berat. Ia juga tak bisa meminta tolong dua saudara kandungnya, yang telah lepas tangan terhadap ayahnya. "Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa," kata bapak tiga anak ini kemarin.

Adek, yang membiayai keluarganya dengan bekerja serabutan, mengungkapkan sempat memasukkan ayahnya ke Rumah Sakit Persahabatan. Tapi, dua hari lalu, ayahnya diambil paksa karena tidak punya uang.

Namun, di luar rumah sakit, masalah lain menunggu. Adek kebingungan di mana akan menempatkan ayahnya. Istrinya, Sri Sunani, tidak mau menerimanya. Selain mereka tak sanggup memberinya makan, kontrakannya hanya berukuran 3 x 4 meter persegi.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Sektor Cakung, Jakarta Timur, Inspektur Satu Sapto Wardoyo, mengatakan bahwa kedua tersangka terjerat pasal tentang membiarkan dan menelantarkan orang sampai mati. "Apalagi ini orang tua sendiri. Ancaman hukumannya maksimal 9 tahun," ujarnya. l ANTON APRIANTO

14 October 2005

Monsieur Pembikin Ketawa

GOSCINNYRIX UDERZORIX VIS COMICA
(Kekuatan untuk membuat ketawa)

Semboyan diatas ada dalam komik Asterix dan Puteri Rahazade (versi Inggrisnya berjudul Asterix and the Magic Carpet atau Astérix chez Rahazade dalam versi Perancis). Biasanya, wajah para pahlawan Galia rekaan Albert Uderzo dan René Goscinny menjadi halaman perkenalan di awal buku. Maka, selain si kecil Asterix dan si gendut Obelix, muncullah wajah pak dukun Panoramix, pak lurah Abraracourcix dan penyanyi sumbang Assurancetourix.

Pada edisi Puteri Rahazade ini, halaman perkenalan itu berganti dengan wajah Uderzo yang berpostur Obelix--lengkap dengan menhir di punggung--dan wajah Goscinny bertubuh Asterix, lengkap dengan topi tanduk bulunya. Dan semboyan itu--yang menurut komik Asterix berasal dari epigram zaman Romawi tentang Terence, seorang Pujangga Latin--mengelilingi gambar Uderzo dan Goscinny yang tersenyum itu. Gambar yang sama juga muncul pada edisi Obelix yang Malang (Asterix and Obelix All at Sea/La Galère d'Obélix, terbit 1996).

Ini mungkin kejahilan tukang gambar Uderzo. Dia seperti pamer diri, jika mereka berdua menyimpan kekuatan membuat orang tertawa. Tapi, bagi Rahartati Bambang Haryo--penerjemah yang ikut andil membuat populer Asterix di Indonesia dengan gaya adaptasinya--kejahilan ini punya arti lain. "Uderzo sangat menghormati Goscinny," kata Rahartati.

Puteri Rahazade memang terbit pada tahun 1987, sepuluh tahun setelah kematian Goscinny pada 2 November 1977. Karena itu, Rahartati menduga, gambar karikatur yang menggantikan wajah Asterix dan Obelix itu merupakan cara Uderzo menghargai sahabatnya.

Terlahir dengan nama asli Alberto, Aleandro Uderzo (dengan koma di belakang Alberto), Uderzo lahir di Normandia, Perancis pada 25 April 1927. Namanya berasal dari sebuah desa bernama Oderzo (biasa disebut Uderzo) di Italia. Orang tua Uderzo, Silvio Uderzo dan Irla Christina Uderzo, memang imigran Italia yang menyeberang ke Perancis pada tahun 1922.

Uderzo lahir dengan "kelebihan", berupa dua jari tambahan di ruas kelingking jarinya. Mungkin kelebihan ini yang membuat Uderzo mahir menggambar Mickey Mouse, pujaannya semasa kecil. (Kelak, jari tambahan ini dioperasi atas permintaan ibunya). Gambar Mickey ini sempat dimuat sebuah jurnal di Paris bernama Le Pétit Parisien. Pada tahun 1940, saat berusia 13 tahun, Uderzo bekerja pada Paris Publishing Society, dimana dia belajar tentang dasar profesinya kelak, seperti desain teks dan gambar.

Meski pandai menggambar, Uderzo kecil bermimpi menjadi tukang mekanik pesawat terbang. Kebetulan Uderzo buta warna. Selain itu, tukang gambar bukan pilihan menarik bagi kedua orang tuanya.

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Uderzo sempat tinggal di Bretagne (Brittany). Bretagne adalah sebuah provinsi tua di bagian barat Perancis. Pada tahun 56 Sebelum Masehi, provinsi ini dikuasai oleh Bangsa Romawi dibawah kekuasaan Julius Caesar. Orang Romawi menyebut daerah ini Armorik, yang berarti distrik berpantai. Konon, bangsa Galia, nenek moyang bangsa Perancis pernah berada di daerah ini.

Saat awal berkolaborasi menciptakan Asterix, Goscinny pasrah bongkokan kepada Uderzo untuk menentukan setting cerita. Akhirnya, Uderzo memilih Brittany sebagai setting cerita dan kehidupan bangsa Galia dalam komik Asterix.

Di Brittany, Uderzo bekerja di pertanian dan membantu bisnis perabotan milik ayahnya. Kegiatan ini sempat membuatnya mandul menggambar. Hingga dia mengikuti sebuah kompetisi gambar strip oleh penerbit Éditions du Chêne, yang kemudian menerbitkan gambar kartun Uderzo berjudul Les aventures de Clopinard (Petualangan Clopinand). Penerbit ini juga sudah menerbitkan kartun Flamberge karya Uderzo setahun sebelumnya.

Pada tahun 1950, Uderzo menggambar beberapa bagian episode dari jagoan Amerika Captain Marvel Jr. untuk majalah Bravo! Kemudian dia bertemu dengan wartawan Belgia, yang memperkenalkannya dengan komikus kondang dari Brusel semacam Victor Hubinon, Eddy Paape and Mitacq, juga penulis Jean-Michel Charlier.

Pada masa-masa ini, Uderzo juga bertemu Goscinny. Goscinny adalah seorang pria berdarah campuran Polandia dan Ukraina yang lama tinggal di Argentina. Dia lahir di Paris pada 14 Agustus 1946. Pria bermuka bulat ini bermimpi menjadi tukang gambar dan pelawak. Goscinny pandai merangkai kata humor, dan dianugrahi senyum dan lirikan mata yang terkesan jahil.

Pada akhir tahun 1951, lahirlah Oumpah-Pah, karya kolaborasi mereka pertama yang berkisah tentang pahlawan Indian yang mampu bergerak secepat angin. (Ide yang mirip muncul juga pada Lucky Luke--cerita koboi yang bisa menembak lebih cepat dari bayanganya sendiri--karya Goscinny bareng komikus Morris dari Belgia yang muncul tahun 1955).

Lalu, pada tahun 1959, majalah Pilote lahir. Disini, Uderzo mengawali serial Petualangan Tanguy, yang teksnya diisi oleh Charlier. Pada tahun yang sama lahirlah Asterix yang diolah kata oleh Goscinny. Gambar Uderzo yang mampu menghidupkan humor cerdas Goscinny, membuat cerita perlawanan bangsa Galia menentang invasi bangsa Romawi ini segera populer di Perancis.

Uderzo dan Goscinny saling bersahabat, dan jahil. Persahabatan itu mereka bawa dalam karya mereka. Uderzo sering menggambar wajah mereka dalam beberapa petualangan Asterix. Dalam seri Asterix di Olympiade (Asterix at the Olympic Games/Astérix aux Jeux Olympiques, 1968), wajah mereka muncul dengan kostum ala Yunani kuno pada sebuah pahatan marmer. Ada sebutan "raja lalim" dan "tiran" di bawah pahatan wajah mereka.

Wajah mereka sering muncul dengan tawa menyeringai seperti dalam Asterix dan Panci Sup Bawang (Asterix and the Cauldron/Astérix et le chaudron, 1969), atau pada seri Perjalanan ke Mesopotamia (Asterix and the Black Gold/L'Odyssée d'Astérix, 1980). Biasanya, Uderzo muncul dengan hidung panjang, sementara Giscinny muncul dengan hidung tomat, plus senyum jahilnya. Namun, kadang mereka juga muncul dengan wajah buruk dan sengsara, seperti saat menggotong tentara mabuk dalam Obelix dan Kawan-kawan (Obelix and Co/Obélix et Compagnie, 1976).

Kejahilan lainnya, Uderzo juga memunculkan gambar tokoh kartun lain ke dalam Asterix. Thomson dan Thompson milik serial Tintin sempat muncul di seri Asterix di Belgia. Adegan perpisahan ala Romeo dan Juliet juga muncul dalam Desa Belah Tengah (Asterix and the Great Divide/Le Grand fossé, 1980).

Uderzo juga menuangkan perasaan dalam simbol gambar. Pada bagian akhir cerita Asterix di Belgia (Asterix in Belgium/Astérix chez les Belges, 1979), muncul gambar kelinci murung yang meninggalkan riuhnya penghuni kampung Galia menikmati celeng panggang--masakan favorit Obelix. Menurut situs resmi Asterix, ini perlambang kesedihan Uderzo atas kematian Goscinny yang tak terduga. Kelinci itu menggambarkan piaraan Gilberte, istri Goscinny.

Biarpun ditinggal Giscinny, Uderzo masih menghidupkan Asterix. Ada sembilan judul terbit tanpa Goscinny, termasuk seri teranyar The Falling Sky--versi BBC The Sky Falls on His Head--yang keluar 14 Oktober ini. Uderzo juga masih menulis nama Goscinny pada halaman depan komik Asterix.

Rahartati Bambang, penerjemah 19 komik Asterix ke dalam Bahasa Indonesia pernah dua kali bertemu Uderzo. Pada pertemuan pertama terjadi di Paris, pada musim semi Juni 1995. Uderzo sempat mengungkapkan kekaguman gaya terjemahan Rahartati yang lincah dan membumi. “Saya tidak menerjemahkan. Saya mengadaptasi,” Rahartati mengoreksi komentar Bapak Asterix ini. “Bravo,” tukas Uderzo.

Rahartati bertemu Uderzo lagi pada tahun 1997. Saat itu, Uderzo sempat berjanji akan menyerahkan penerjemahan Asterix dalam bahasa Indonesia kepadanya. Uderzo juga sempat memberi oleh-oleh coretan gambar Rahartati. Buah tangan Bapak Asterix.

24 August 2005

Undangan

Silakan tengok di sini!

05 August 2005

Perayaan Cheng Ho

Seorang gadis Kenya datang ke Cina. Berasal dari sebuah desa di pantai timur Kenya, gadis bernama Mwamaca Sherif ini sengaja datang ke Cina mencari nenek moyangnya. “Nama marga ibu saya Xie,” katanya.

Sekitar enam abad lalu, serombongan pelaut dari Cina dibawah komando Laksamana Cheng Ho singgah ke Kenya. Ini adalah bagian dari muhibah Cheng Ho melintasi samudra menyambangi 30 negara di benua Asia dan Afrika. Ekspedisi ini membawa sekitar 62 kapal besar dan ratusan kapal kecil lain, yang mengangkut 27 ribu orang berikut porselin, sutra, emas, parfum dan cendera mata lainnya.

Mwamaca mengaku keturunan dari salah satu pelaut dari rombongan ini. “Ketika saya kecil, nenek bercerita tentang nenek moyang kami ini. Saya bangga dan bahagia menjadi seorang keturunan Cina,” katanya. Setelah lama memendam mimpi, akhirnya Mwamaca bisa menjejak dataran Cina atas undangan Gubernur Provinsi Jiangsu, dalam rangka peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho.

Cina menghargai Cheng Ho—atau Zheng He—layaknya seorang pahlawan besar. Dialah pelaut besar yang dianggap menemukan benua, 90 tahun sebelum Christopher Columbus menjamah benua Amerika. Maka, sebuah perayaan besar menjadi kewajaran. Kedatangan Mwamaca hanyalah bagian kecil dari perayaan ini.

Di Shanghai, sebuah pameran maritim besar digelar. Cina seakan menunjukkan diri sebagai negara yang hidup dari perdagangan dalam pameran ini. Banyak perusahaan perkapalan besar terlibat dalam pameran. Pameran menjadi menarik dengan suguhan presentasi video yang interaktif dan model pelabuhan di Asia lengkap dengan kapal-kapal kontainernya.

Saat ini Cina menjadi negara terbesar kelima dalam perdagangan dunia. Cina juga menjadi negara terbesar ketiga dalam industri pembuatan kapal. Konon, Cheng Ho singgah di 30 negara dalam pelayaran enam abad lalu. Sekarang, kapal-kapal kontainer dari Cina sudah singgah di 1.100 pelabuhan di 150 negara.

Tidak hanya Shanghai, Nanjing (Nanking), ibukota pertama kekuasaan Kaisar Ming dimana Cheng Ho hidup, juga menggelar perayaan tak kalah seru. Sebagai jejak awal keberangkatan ekspedisi pada enam abad lalu, Nanjing membelanjakan 400 juta yuan (sekitar Rp 480 miliar) untuk menghidupkan sisa kejayaan Cheng Ho. “Beliau (Cheng Ho) tinggal cukup lama di Nanjing, dan kota ini menyimpan sisa-sisa peninggalan yang berhubungan dengannya,” kata Xing Dingkang dari Badan Pariwisata Nanjing.

Nanjing menata ulang Taman Cheng Ho yang berhubungan dengan rumah besar Cheng Ho. Di bagian lain kota ini juga menyimpan bukti kewibawaan Cheng Ho dan bangsa Ming. Dia berupa makam seorang raja dari Brunei yang meninggal pada tahun 1408, saat melakukan kunjungan balasan atas lawatan armada Cheng Ho.

Selain pameran, pemerintah Cina juga mencetak perangko, koin dan buku khusus untuk menghormati Cheng Ho ini. Sebuah film dokumentasi tentang perjalanan Cheng Ho juga sudah disiapkan.

Peringatan pelayaran Cheng Ho tak hanya ada di Cina. Di Indonesia, pusat kegiatan ada di Semarang. Konon, Wang Jing Hong, orang nomor dua dalam pelayaran Cheng Ho sakit dan harus tinggal di pantai Simongan, Semarang. Wang Jing akhirnya meninggal di tempat ini. Sebuah klenteng bernama Sam Po Kong menjadi saksi kedatangan Cheng Ho.

Sementara, di Singapura, perayaan lebih atraktif dikemas untuk pariwisata. Dewan Pariwisata Singapura bekerja sama dengan International Zheng He Society—sebuah lembaga studi tentang Cheng Ho—merancang paket wisata bernuansa sejarah muhibah Cheng Ho, yang digelar sejak awal Juni hingga September nanti.

Singapura menyiapkan Kampung Cheng Ho. Ini adalah replika dunia yang dikunjungi Cheng Ho selama lawatannya. Sebuah pondok budaya dibangun dengan tampilan pelabuhan dari beberapa negara yang dikunjungi Cheng Ho. Replika pelabuhan dari Cina, Sri Langka, Indonesia, Malaysia, Singapura, Kenya, Iran dan India dibangun disini. Suguhan pertunjukan, makanan dan kerajinan sengaja diciptakan agar terbangun kenangan sejarah antara Cheng Ho dengan pelabuhan yang disinggahinya.

Sebuah pameran kebesaran Cheng Ho juga digelar di Singapura. Pameran ini mengacu kepada buku Gavin Menzies berjudul “1421: The Year China Discovered The World.” Gavin melakukan riset selama 10 tahun dan percaya bangsa Cina telah merambah benua Amerika, 70 tahun sebelum Christopher Columbus menemukan benua ini. Bangsa Cina juga dianggap sudah mengitari bumi, 100 tahun sebelum Ferdinand Magellan dari Portugis melakukannya. Nah, teori, penemuan dan bukti dari buku ini digelar dalam pameran ini.

Konon pula, saat melewati Singapura, Cheng Ho mengunakan batu besar di dekat Labrador Park sebagai petunjuk navigasi. Dalam peta navigasi peninggalan Cheng Ho, batu ini diberi nama Longyamen (Gerbang Gigi Naga). Sayangnya, batu ini dihancurkan Angkatan Laut Inggris pata tahun 1880-an untuk memperlebar jalur menuju Selat Keppel. Sebagai bagian dari peringatan, Singapura akan menghidupkan kembali kenangan ini, dengan membangun kembali simbol Longyamen.

Selain itu, Singapura masih mempunyai rangkaian perayaan. Mereka menggelar pameran maritim, pertunjukan musik dan seminar yang digelar dalam rangka peringatan muhibah ini.

Malaysia, salah satu persinggahan Cheng Ho, juga menggelar perayaan. Sebuah pameran budaya disiapkan di Kuala Lumpur. Warga Cina di kota tua Malaka juga mengelar seminar tentang pelayaran bersejarah ini. Orang Malaka menganggap Cheng Ho ikut membantu rakyat Malaka mengusir bangsa asing. Selain itu, Cheng Ho dianggap juga punya andil memberantas kemiskinan dan membangun kota Malaka. “Meskipun Cheng Ho utusan Kaisar Ming, dia tidak melakukan eksploitasi ekonomi,” kata juru bicara warga Cina Malaka Chen Ruiyan.

Chen menilai perjalanan Cheng Ho tidak punya tujuan mengancam negara lain. “Tujuan perjalanan itu untuk meraih penghargaan dengan damai,” kata Chen. Suara dari Indonesia tak membantah pendapat ini. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto menganggap muhibah Cheng Ho lebih menawarkan teknologi, perdagangan dan budaya. “Selain itu, dia menawarkan persahabatan,” kata Mardiyanto.

Sebuah prasasti yang didirikan Cheng Ho di Changle, Fujian pada tahun 1431 memang menegaskan muhibah ini. Petikannya: “Sang Kaisar, karena mengingat kesetiaan dan ketulusan mereka, telah menitahkan kami, Cheng Ho dan orang-orang yang mengepalai puluhan ribu prajurit dan tentara, untuk menaiki lebih dari seratus kapal besar dan pergi memberikan hadiah kepada mereka itu, dan memaklumkan betapa kekuasaan kaisar mampu membawa kebajikan bagi rakyat yang jauh sekalipun.”

Dan sekarang, rakyat di beberapa belahan dunia merayakan kebajikan itu.

22 June 2005

Surat Edy Can

- Seorang kawan, dan semangat hidupnya. -

Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam atas uluran tangan dan doa serta dorongan yang telah diberikan teman-teman, saudara dan handai taulan. Dengan perasaan haru, kami menerima pertolongan baik materiil dan moril, langsung maupun tidak langsung bagi keberlangsungan hidup putera kami, Pranarya Raputra.

Sejak usia kehamilan lima bulan, bayi yang kami cintai telah divonis dokter menderita penyakit Dandy Walker Syndrome. Penyakit ini disebabkan kelainan kromosom akibat faktor genetik dan kemungkinan kondisi lingkungan yang buruk. Dalam silsilah keluarga kami sendiri tidak ada yang menderita penyakit ini.

Tiga dokter di rumah sakit yang berbeda dan satu psikiater menyarankan untuk menggugurkan atau menghentikan (terminasi) kandungan tersebut. Mereka menyatakan putera kami yang cacat itu tidak layak dipertahankan dari sisi medis. Pertama, bila dipertahankan bayi ini akan membahayakan nyawa si ibu. Kedua, di dunia belum ada penyembuhan untuk penyakit tersebut.

Namun kami bertahan untuk tetap meneruskan kehidupannya dengan segala resiko yang akan dihadapi. Karena kami sendiri tak kuasa membunuh dan menghentikan kehidupan buah cinta tersebut. Kami berpegang teguh dan terus berharap selalu ada jalan bagi putera kami. Apalagi kami sudah menyayanginya dan merasakan kehadirannya.

Adanya kelainan kromosom itu mengakibatkan tidak adanya otak kecil di bagian kepala putera kami. Karena tidak ada, maka fungsi-fungsi otak kecil seperti keseimbangan otomatis tidak bisa dilakukan. Dokter mengatakan kemungkinan bayi kami akan lumpuh untuk selamanya.

Selain itu, ruang otak kecil yang kosong itu pun akan diisi oleh cairan. Lama-kelamaan dikhawatirkan cairan itu akan semakin menekan kulit kepala yang akhirnya menyebabkan hydrocepalus (kepala besar). Syukur sejauh ini diagnosa dokter syaraf menyatakan belum ada tanda-tanda hydrocepalus.

Putera kami juga menderita cacat fisik berupa sumbing yang membelah dari hidung sampai ke mulut. Istilah kedokterannya Labio Palato Genato Skyzis. Cacat ini mengakibatkan saluran pernapasan dan pencernaannya menyatu. Akibatnya setiap kali makan atau minum, dia akan tersedak.

Oleh karena itu sampai umur sepuluh hari, putera kami belum mendapatkan ASI dan hanya mendapatkan asupan makanan dari cairan infus. Dia juga masih menggenakan masker oksigen. Pernah pada hari kelima, suster memberikan ASI namun akibatnya fatal karena justru membuat pernapasannya sempat terhenti. Akhirnya diputuskan sebelum dilakukannya operasi sumbing itu, makan dan minum dipasok dari cairan infus. Operasi sumbing itu sendiri baru bisa dilakukan pada usia dua bulan dan jika kondisi kesehatannya memungkinkan.

Hingga hari ini, bayi kami masih terbaring di Ruang ICU/Perinatologi Lantai empat, RS Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. Kondisinya terakhir dikabarkan mulai membaik walaupun masih belum stabil. Kami masih berjuang agar dia bisa tetap hidup karena kami percaya selalu ada mukjizat dan tangan Tuhan yang bekerja atas dirinya. Kami memohon agar saudara, ibu, bapak, teman dan handai taulan untuk mendoakan putera kami. Amin.

Salam hangat dari kami

Edy Can, Dian Intannia dan Pranarya Raputra

14 June 2005

Kredo

"Jika kata tak lagi berasa, kita berhak membangkang."

29 May 2005

Protes

Nun dari negeri seberang lautan, seorang kawan mengirim pesan. Dia bertanya, mengapa halaman ini begitu kaku, tidak memberi ruang orang memberi komentar atas tulisan. Blaik!

Ini bukan yang pertama. Tapi, aku hanya bisa berkata bahwa ini sebuah halaman pribadi, yang sebenarnya tidak untuk dibaca orang. Tapi, karena kawan, banyak orang tahu dan membaca halaman ini. Dan komentar, membuat halaman tidak bebas menjadi diri sendiri. Inilah halaman tempat tidak mau peduli apa kata orang.

Jadi, maaf ya, ibu!

17 May 2005

Pulang

Ini masa kala penat begitu hebat menyergap. Menyita nalar dan jiwa hingga hampir tak bermartabat. Masa ketika rencana tak seindah alur mimpi. Begitu muram dan buram. Belum tak nyaman yang ikut datang menyerang. Juga malu. Sementara, tidak ada hati dan telinga bijak tersedia. Bahkan dari seorang (yang dianggap) dekat sekalipun. Duhai sunyi!

Sebuah pepatah bijak Cina berkata, jika kau mulai kehilangan arah hidup, kembalilah ke tempat kau berasal. Jadi, mungkin rumah bisa membawa tentram. Menemukan waktu kembali merenung di beranda, atau mendengarkan tetangga kampung akrab menyapa. Juga saat senggang menggandeng tangan ibu, mungkin meletakkan kepala dewasa ini di payudaranya, seperti masa kecil dulu. ("Kau perempuan hebat, yang meletakkan jiwa perempuan di jiwa ini," aku pernah menulis tentang dia suatu ketika)

Hidup seperti memaksa kita kembali ke awal. Masa-masa silam untuk membaca ulang hidup. Tentang aku, kau, kita, mereka dan entah siapa. Tentang keputusan, rencana, harapan, salah, kecewa, mengulang dan selanjutnya. Tentang kemarin, sekarang dan akan datang. Tapi bukan untuk tidak bertahan. "Bukankah kita tidak boleh takut menghadapi hidup," kata seorang kawan.

Jadi, ini waktu lupa Jakarta sementara. Semoga Tuhan juga hadir di sana. (Mengapa Kau mencintaiku dengan cara seperti ini?)