Tentang Militansi
Militansi ada harganya. Ia berupa perasaan nyaman ataubahagia. Jika rasa itu tak ada, membangkang bisa menjadi kredo yang menarik. Gimana?
17 February 2005
Laksana Batu
Mari bertanya tentang perasaan. Aku ada, jelas. Tapi kau? Seperti batu, kadang semua keras membisu. Tak ada renyah tawa ku berharap. Hanya jutaan ragu menikam dada.
Mau kau berkata satu kata tentang perasaan? Agar aku tahu kemana jalan. Menujumu atau memunggungimu. Tapi berat. Kau pagi dan juga malam. Tak lekang di ingatan.
Kau, mau berkata satu kata tentang perasaan? Bisumu membeku.
Mari bertanya tentang perasaan. Aku ada, jelas. Tapi kau? Seperti batu, kadang semua keras membisu. Tak ada renyah tawa ku berharap. Hanya jutaan ragu menikam dada.
Mau kau berkata satu kata tentang perasaan? Agar aku tahu kemana jalan. Menujumu atau memunggungimu. Tapi berat. Kau pagi dan juga malam. Tak lekang di ingatan.
Kau, mau berkata satu kata tentang perasaan? Bisumu membeku.
30 January 2005
14 January 2005
02 January 2005
Infeksi
Dia datang membawa luka. Bagian dari episode yang belum berakhir. Sebuah luka yang berubah menjadi tumor. Menghisap semangat dan harapan seperti dementor. Bahagia pun membentang nun tak berbilang. Menyisakan kerutan di wajah, legam hitam di mata, juga sakit yang datang melenggang. Dan aku terinfeksi. Sebab separuh jiwa yang aku tanam sepenuh hati.
Dia kelopak bunga, yang layu tak bersiram semangat. Pada setiap ranting dan dahannya tumbuh benalu, yang datang dari takut dan ragu. Hidup seperti tak pernah mengajarkannya bangkit. Baginya, hidup hanya memberi satu pelajaran: terpuruk. Endapan mengerak di kepala, sebab waktu bertahun yang terbuang sia-sia. Keberulangan, itu sebab hinggap rasa takut.
Jangan pernah bertanya tentang matahari, yang mulai enggan muncul di pagi hari. Matahari tak lagi berarti, karena tak mampu membakar semangat nurani. Peduli tak juga menjadi makanan bagi akar jiwanya. Malah datang celaka. “Kau semakin membuatku terpuruk, karena puisimu,” dia bilang. Hwarakadah! Sejuta topan badai!
Ini mungkin datang dari semangat tak pernah henti, tapi tak bersambung karena datang dari sebelah hati. Sebab dia memilih berlama berkubang takut dan bimbang. Celaka ini mungkin datang dari kabut tak sabar yang menyelimuti. Asal muasal takut hilang kesempatan dan kehilangan dirinya.
Tapi aku sudah terinfeksi. Sebab separuh jiwa yang aku tanam sepenuh hati.
Maka, aku tak mau pergi. Penyakit ini seperti ingin membuatku bertahan. Dia menantang, agar aku harus bisa melalui jalan terjal ini. Dan aku tidak menyerah. Tidak semudah itu. Tidak bisa aku tak peduli. Membiarkan dia sendiri, terpuruk, tergulung ombak bimbang mengucil diri.
Aku masih berjalan menimbang pilihan. Menjadikanku matahari baginya, atau sekedar melintas menjadi kenangan. Entahlah. Ini belum berhenti. Aku harus tahu akhir cerita ini.
Dia datang membawa luka. Bagian dari episode yang belum berakhir. Sebuah luka yang berubah menjadi tumor. Menghisap semangat dan harapan seperti dementor. Bahagia pun membentang nun tak berbilang. Menyisakan kerutan di wajah, legam hitam di mata, juga sakit yang datang melenggang. Dan aku terinfeksi. Sebab separuh jiwa yang aku tanam sepenuh hati.
Dia kelopak bunga, yang layu tak bersiram semangat. Pada setiap ranting dan dahannya tumbuh benalu, yang datang dari takut dan ragu. Hidup seperti tak pernah mengajarkannya bangkit. Baginya, hidup hanya memberi satu pelajaran: terpuruk. Endapan mengerak di kepala, sebab waktu bertahun yang terbuang sia-sia. Keberulangan, itu sebab hinggap rasa takut.
Jangan pernah bertanya tentang matahari, yang mulai enggan muncul di pagi hari. Matahari tak lagi berarti, karena tak mampu membakar semangat nurani. Peduli tak juga menjadi makanan bagi akar jiwanya. Malah datang celaka. “Kau semakin membuatku terpuruk, karena puisimu,” dia bilang. Hwarakadah! Sejuta topan badai!
Ini mungkin datang dari semangat tak pernah henti, tapi tak bersambung karena datang dari sebelah hati. Sebab dia memilih berlama berkubang takut dan bimbang. Celaka ini mungkin datang dari kabut tak sabar yang menyelimuti. Asal muasal takut hilang kesempatan dan kehilangan dirinya.
Tapi aku sudah terinfeksi. Sebab separuh jiwa yang aku tanam sepenuh hati.
Maka, aku tak mau pergi. Penyakit ini seperti ingin membuatku bertahan. Dia menantang, agar aku harus bisa melalui jalan terjal ini. Dan aku tidak menyerah. Tidak semudah itu. Tidak bisa aku tak peduli. Membiarkan dia sendiri, terpuruk, tergulung ombak bimbang mengucil diri.
Aku masih berjalan menimbang pilihan. Menjadikanku matahari baginya, atau sekedar melintas menjadi kenangan. Entahlah. Ini belum berhenti. Aku harus tahu akhir cerita ini.
01 January 2005
Hari-hari Entah Arti
Hari-hari penuh bimbang. Sebab berjuta bayangan bersliweran di kepala. Kau, dia, mereka, kawan-kawan, pekerjaan. Lalu datang bimbang, seperti biasa. Mengapa bimbang selalu akrab denganku?
Di saat seperti itu, datang kawan mengenalkan seorang bapak. "Dia bisa terapi dzikir," kata kawan manisku. Aku coba, dan bercerita tentang kalut. Bapak itu bilang, kamu datang membawa lubang besar di dada. Ya, aku memang merasakannya.
Dia menebak jalan cerita. Episode apa yang akan terjadi dalam hidupku. Tak semua dibuat gamblang. Sebagian cerita membuat jelas, sebagian lagi berakhir dengan bimbang, seperti biasa. "Aku hanya membantu," kata dia. Dia berpesan, tunggu dia menyelesaikan masalahnya.
Aku cuma diam. Dengan sekali memejam mata, bapak ini bisa tahu semua yang ada di kepalaku. Jangan-jangan dia membaca dosa-dosaku. Malu juga. Ah, biarlah.
Malam ini, aku ingin bertemu bapak itu. Tapi dia pergi. Sepertinya, banyak orang yang ingin membuang lubang hitam di dada. Seperti aku. Lalu bimbang kemudian, seperti biasa. Dan aku menunggu tahajudku. Membuang semua lubang hitam itu.
Hari-hari penuh bimbang. Sebab berjuta bayangan bersliweran di kepala. Kau, dia, mereka, kawan-kawan, pekerjaan. Lalu datang bimbang, seperti biasa. Mengapa bimbang selalu akrab denganku?
Di saat seperti itu, datang kawan mengenalkan seorang bapak. "Dia bisa terapi dzikir," kata kawan manisku. Aku coba, dan bercerita tentang kalut. Bapak itu bilang, kamu datang membawa lubang besar di dada. Ya, aku memang merasakannya.
Dia menebak jalan cerita. Episode apa yang akan terjadi dalam hidupku. Tak semua dibuat gamblang. Sebagian cerita membuat jelas, sebagian lagi berakhir dengan bimbang, seperti biasa. "Aku hanya membantu," kata dia. Dia berpesan, tunggu dia menyelesaikan masalahnya.
Aku cuma diam. Dengan sekali memejam mata, bapak ini bisa tahu semua yang ada di kepalaku. Jangan-jangan dia membaca dosa-dosaku. Malu juga. Ah, biarlah.
Malam ini, aku ingin bertemu bapak itu. Tapi dia pergi. Sepertinya, banyak orang yang ingin membuang lubang hitam di dada. Seperti aku. Lalu bimbang kemudian, seperti biasa. Dan aku menunggu tahajudku. Membuang semua lubang hitam itu.
31 December 2004
Antara Kau, Aku dan Bekas Pacarmu
tabir gelap yang dulu hinggap
lambat laun mulai terungkap
labil tawamu tak pasti senyummu
jelas membuat aku sangat ingin mencari
apa yang tersembunyi
di balik manis senyummu
apa yang tersembunyi
di balik bening dua matamu
jalan gelap yang kau pilih
penuh lubang dan mendaki
(Iwan Fals)
tabir gelap yang dulu hinggap
lambat laun mulai terungkap
labil tawamu tak pasti senyummu
jelas membuat aku sangat ingin mencari
apa yang tersembunyi
di balik manis senyummu
apa yang tersembunyi
di balik bening dua matamu
jalan gelap yang kau pilih
penuh lubang dan mendaki
(Iwan Fals)
10 August 2004
Cerita dari Entikong
Di Entikong, di pinggir satu-satunya lapangan sepak bola di desa perbatasan Indonesia-Malaysia ini, tersebutlah sebuah rumah kayu berlantai dua. Rumahnya tak seberapa besar, dengan warna cat putih yang kusam pada dinding rumah. Tak ada pagar, juga halaman. Sementara, pagar balkon sempit di lantai dua nampak sudah berubah menjadi tempat jemuran.
Orang Entikong mengenalnya sebagai rumah Ibu Arsinah, pemilik lembaga swadaya masyarakat lokal berlabel "LSM Anak Bangsa." Sehari-hari, lembaga ini menampung dan mengurusi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan pemerintah Malaysia, lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat.
Akhir pekan lalu, rumah kayu milik Ibu Arsinah kedatangan penghuni tambahan, tiga belas pendatang haram—begini aparat Malaysia menyebut TKI tanpa dokumen resmi—yang dipulangkan pemerintah Malaysia lewat Entikong. Mereka berasal dari Jawa, dan sekitar Kalimantan Barat. Sepuluh orang tenaga kerja wanita (TKW) ditampung di rumah Ibu Arsinah. Sementara, tiga orang TKI laki-laki menginap di tempat berbeda.
Di rumah Ibu Arsinah yang sempit itu, perempuan-perempuan ini harus rela berbagi tempat, tidur berjejer di lantai papan di lantai dua. Satu lantai di bawah ditinggali Ibu Arsinah bersama suami, sebuah dapur, dan sebuah meja dengan bangku tempat berkumpul. Tak ada kamar mandi di rumah ini. Jika hendak mandi, mereka membalut tubuh dengan handuk, lalu melenggang ke sungai.
Riuh sorak penonton sepak bola di lapangan depan rumah, tidak cukup membuat para perempuan itu terhibur. Tapi mereka masih mau berbagi cerita tentang nasib malang mereka—beberapa diantara mereka tidak berbekal uang saat dipulangkan. Tak jarang, mereka malah menertawakan sendiri nasib mereka. Sebuah cara menghibur diri. Coba dengarkan beberapa cerita tentang mereka.
Sunarsih namanya. Berniat bekerja di Malaysia sekedar melarikan diri dari masalah pribadi. "Saya ingin ganti suasana," kata perempuan berumur 29 tahun asal Bantul, Yogya ini. Demi niat itu, Sunarsih rela meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan garment di Cakung, Cilincing, Jakarta Timur. Lalu, Sunarsih menemukan iklan di sebuah harian Jakarta. Pendek cerita, setelah menyerahkan uang Rp 1.100.000 hasil penjualan perhiasan anaknya kepada sang sponsor (agen), Sunarsih menyeberang ke Malaysia, sekitar Agustus tahun lalu.
Sayang, bayangannya bekerja di negara maju seperti Malaysia buyar, saat sang agen menyerahkannya kepada seorang majikan di daerah Bakun, Sarawak. Menurut Sunarsih, tempat dia bekerja berada jauh di tengah hutan. Sekitar 15 jam perjalanan dari Kuching, ibukota negara bagian Sarawak. Tak ada sarana komunikasi, tak ada listrik, bahkan air bersih. "Saya sering mengumpulkan air hujan," kata Sunarsih.
Derita Sunarsih semakin bertambah dengan perlakuan buruk majikannya. Janji gaji 200 ringgit hanya dibayar 150 ringgit (dengan kurs Rp 2300, senilai dengan Rp 345.000). Tak hanya itu, Sunarsih harus merasakan pukulan dari majikan perempuan. Gara-garanya, Sunarsih memergoki sang majikan mengambil uang Sunarsih.
Tak tahan perlakuan majikan, Sunarsih melarikan diri ke hutan di sekitar Bakun. Selama dua minggu, Sunarsih lari tanpa bekal dokumen. Paspornya ditahan majikan dan dimatikan. Sementara, sang sponsor tak memberi ijin kerja. "Kalau ada petugas imigrasi, saya disuruh majikan bersembunyi," cerita janda beranak satu ini.
Beruntung, banyak orang Indon—sebutan orang Indonesia yang bekerja di Malaysia—yang bekerja di sebuah proyek di Bakun. Orang-orang ini menjadi penyelamat bagi Sunarsih. Mereka memberi bekal, dan membantu Sunarsih bertemu dengan pihak konsulat RI di Kuching. Tak hanya itu, orang-orang ini juga mendesak majikan Sunarsih, agar membayar gaji Sunarsih yang sudah bekerja selama setahun. "Mereka mengancam akan membakar tempat majikan saya, jika gaji saya tidak dibayar," ujar Sunarsih. Sunarsih pun terselamatkan, juga uang 2100 ringgit buah kerjanya.
Tapi tak demikian dengan nasib Bunga, sebut saja namanya begitu. Lima tahun bekerja di Malaysia menggunakan paspor pelancong, sebenarnya Bunga bernasib lumayan enak. Bekerja sebagai pelayan di kedai minum—semacam restoran di Kuching, Bunga menerima upah 240 ringgit (sekitar Rp 552.000) per bulan.
Dari tempat Bunga bekerja, Bunga berkenalan dengan seorang tentara Malaysia yang sering singgah. Perkenalan berlanjut, hingga perut Bunga membuncit. Sayangnya, sang tentara tidak mau mengakui anak yang dikandung Bunga. Belakangan ketahuan, jika sang tentara sudah mempunyai istri. "Bahkan, kesatuan tempat dia bekerja tidak tahu jika dia punya istri," kata perempuan berkulit putih ini.
Tapi apa lacur, seorang bayi sudah dikandung Bunga. Saat periksa kandungan di rumah sakit di Kuching, polisi Malaysia menahan Bunga, karena bekerja menggunakan paspor pelancong. Hingga saat melahirkan, Bunga masih diawasi petugas imigrasi. Namun, banyak simpati datang padanya. Orang-orang menawarkan diri hendak mengadopsi sang bayi. "Tapi saya tidak bersedia. Susah senang, saya ingin bersama anak saya," kata perempuan berusia 24 tahun ini. Selain itu, biaya persalinan juga ditanggung pihak konsulat RI.
Kini, saat dipulangkan dari Malaysia, tinggal aib yang masih hinggap. Rasa malu menahan Bunga kembali ke kampung. "Apa kata orang kampung nanti? Bawa anak, tak ada ayah," kata perempuan asal Darit, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini.
Bersama bayi merah yang masih berumur 16 hari, Bunga masih menghitung rencana yang akan dilakukan ke depan. Bayinya belum juga bernama. Tapi, kawan-kawan di penampungan Ibu Arsinah, dengan bercanda memberi nama "Konsulawati" untuk bayi perempuan mungil, berberat badan 2,8 kilogram itu. "Sekadar mengingatkan nasib saat di konsulat," kawan-kawan Bunga tertawa.
Lain lagi cerita Kelly, TKW asal Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Perempuan berusia 23 tahun ini merasa diperlakukan buruk saat menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Diantaranya, tidur di kasur bodol sepanjang 50 centimeter, dengan bantal koyak. "Saya diperlakukan layaknya anjing," kata Kelly.
Datang ke Malaysia lewat sponsor yang masih kerabatnya sendiri, Kelly dijanjikan bekerja dengan gaji 250 ringgit (setara dengan Rp 575.000). Tapi Kelly hanya dibayar 100 ringgit (senilai Rp 230.000). Itupun tidak dibayarkan tiap bulan. Kelly juga tidak dibekali dokumen oleh sponsornya. "Saya kerja kosong tanpa permit (surat ijin)," kata Kelly. Kemudian, Kelly nekat kabur ke konsulat RI, setelah bekerja selama 5 bulan.
Perlakuan buruk majikan pula yang diterima Ibu Sri dari Jember, Jawa Timur. Janda beranak tiga ini datang ke Malaysia, setelah dibawa seorang sponsor dari Bondowoso. Biarpun tak bisa membaca dan menulis, sang sponsor tetap membawa Ibu Sri ke Malaysia. Selama empat bulan di Kuching, Ibu Sri beberapa kali berpindah tangan. Pernah, saat baru sembilan hari bekerja, Ibu Sri berpindah majikan.
Pengalaman buruk Ibu Sri adalah saat majikannya memaksa Ibu Sri makan daging babi. "Selain itu, saya hanya mendapat jatah makan sekali sehari," kata dia. Seperti halnya Kelly, Ibu Sri juga melarikan diri dari majikan. Pada sebuah malam, Ibu Sri nekat lari dari rumah majikan. Tapi, karena tak bisa membaca menulis, Ibu Sri kebingungan. Beruntung ada tetangga yang membawanya ke konsulat RI.
Ibu Sri, Kelly dan Sunarsih mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Terlalu bodoh untuk kembali bekerja di Malaysia," kata Sunarsih. Sunarsih masih menyimpan dendam terhadap warga Malaysia, yang menurutnya, punya kebiasaan merendahkan orang Indon. Belakangan, dia menyesal meninggalkan pekerjaan di Jakarta dulu. Kini, Sunarsih hanya membayangkan wajah anaknya, yang sudah ditinggalkan sejak tahun 2000, saat awal bekerja di Jakarta dulu. "Saya rindu anak," ujarnya.
Sayangnya, nasib Kelly dan Ibu Sri tidak seberuntung Sunarsih yang masih menyimpan ringgit. Kelly masih menunggu uluran tangan, untuk sekedar pulang ke kampungnya yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan dari Entikong. Kelly, yang sudah dua kali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura, mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Saya tidak akan datang lagi ke Malaysia," katanya.
Sementara, Ibu Sri hanya bisa merenung di pintu rumah Ibu Arsinah. Kadang, Ibu Sri hanya bisa memperlihatkan wajah melongo, saat yang lain bercerita tentang nasib bekerja di Malaysia. Tatapan kosongnya menambah kesan tua, kesan yang sudah muncul dari rambut beruban kusut, dan tubuh cekingnya. Jember bukan tempat yang dekat. Mungkin ini isi kepala Iu Sri. Padahal, tak ada duit di kantong. "Seribu rupiah pun saya tak punya," kata Ibu Sri.
Sedangkan Bunga, masih menimbang untuk menitipkan jabang bayi di kampung. Tapi rasa malu masih menghambatnya bertemu keluarga. "Alasan apa yang harus saya ceritakan pada mereka," kata Bunga. Sebab rasa malu itu, dia meminta namanya disamarkan. Sementara, satu rencana lagi masih tersimpan di kepala Bunga, untuk kembali ke Malaysia meraup ringgit. "Siapa lagi yang akan membeli susu buat anak saya," ujar Bunga. Mata beningnya mulai berair.
Di Entikong, di pinggir satu-satunya lapangan sepak bola di desa perbatasan Indonesia-Malaysia ini, tersebutlah sebuah rumah kayu berlantai dua. Rumahnya tak seberapa besar, dengan warna cat putih yang kusam pada dinding rumah. Tak ada pagar, juga halaman. Sementara, pagar balkon sempit di lantai dua nampak sudah berubah menjadi tempat jemuran.
Orang Entikong mengenalnya sebagai rumah Ibu Arsinah, pemilik lembaga swadaya masyarakat lokal berlabel "LSM Anak Bangsa." Sehari-hari, lembaga ini menampung dan mengurusi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan pemerintah Malaysia, lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat.
Akhir pekan lalu, rumah kayu milik Ibu Arsinah kedatangan penghuni tambahan, tiga belas pendatang haram—begini aparat Malaysia menyebut TKI tanpa dokumen resmi—yang dipulangkan pemerintah Malaysia lewat Entikong. Mereka berasal dari Jawa, dan sekitar Kalimantan Barat. Sepuluh orang tenaga kerja wanita (TKW) ditampung di rumah Ibu Arsinah. Sementara, tiga orang TKI laki-laki menginap di tempat berbeda.
Di rumah Ibu Arsinah yang sempit itu, perempuan-perempuan ini harus rela berbagi tempat, tidur berjejer di lantai papan di lantai dua. Satu lantai di bawah ditinggali Ibu Arsinah bersama suami, sebuah dapur, dan sebuah meja dengan bangku tempat berkumpul. Tak ada kamar mandi di rumah ini. Jika hendak mandi, mereka membalut tubuh dengan handuk, lalu melenggang ke sungai.
Riuh sorak penonton sepak bola di lapangan depan rumah, tidak cukup membuat para perempuan itu terhibur. Tapi mereka masih mau berbagi cerita tentang nasib malang mereka—beberapa diantara mereka tidak berbekal uang saat dipulangkan. Tak jarang, mereka malah menertawakan sendiri nasib mereka. Sebuah cara menghibur diri. Coba dengarkan beberapa cerita tentang mereka.
Sunarsih namanya. Berniat bekerja di Malaysia sekedar melarikan diri dari masalah pribadi. "Saya ingin ganti suasana," kata perempuan berumur 29 tahun asal Bantul, Yogya ini. Demi niat itu, Sunarsih rela meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan garment di Cakung, Cilincing, Jakarta Timur. Lalu, Sunarsih menemukan iklan di sebuah harian Jakarta. Pendek cerita, setelah menyerahkan uang Rp 1.100.000 hasil penjualan perhiasan anaknya kepada sang sponsor (agen), Sunarsih menyeberang ke Malaysia, sekitar Agustus tahun lalu.
Sayang, bayangannya bekerja di negara maju seperti Malaysia buyar, saat sang agen menyerahkannya kepada seorang majikan di daerah Bakun, Sarawak. Menurut Sunarsih, tempat dia bekerja berada jauh di tengah hutan. Sekitar 15 jam perjalanan dari Kuching, ibukota negara bagian Sarawak. Tak ada sarana komunikasi, tak ada listrik, bahkan air bersih. "Saya sering mengumpulkan air hujan," kata Sunarsih.
Derita Sunarsih semakin bertambah dengan perlakuan buruk majikannya. Janji gaji 200 ringgit hanya dibayar 150 ringgit (dengan kurs Rp 2300, senilai dengan Rp 345.000). Tak hanya itu, Sunarsih harus merasakan pukulan dari majikan perempuan. Gara-garanya, Sunarsih memergoki sang majikan mengambil uang Sunarsih.
Tak tahan perlakuan majikan, Sunarsih melarikan diri ke hutan di sekitar Bakun. Selama dua minggu, Sunarsih lari tanpa bekal dokumen. Paspornya ditahan majikan dan dimatikan. Sementara, sang sponsor tak memberi ijin kerja. "Kalau ada petugas imigrasi, saya disuruh majikan bersembunyi," cerita janda beranak satu ini.
Beruntung, banyak orang Indon—sebutan orang Indonesia yang bekerja di Malaysia—yang bekerja di sebuah proyek di Bakun. Orang-orang ini menjadi penyelamat bagi Sunarsih. Mereka memberi bekal, dan membantu Sunarsih bertemu dengan pihak konsulat RI di Kuching. Tak hanya itu, orang-orang ini juga mendesak majikan Sunarsih, agar membayar gaji Sunarsih yang sudah bekerja selama setahun. "Mereka mengancam akan membakar tempat majikan saya, jika gaji saya tidak dibayar," ujar Sunarsih. Sunarsih pun terselamatkan, juga uang 2100 ringgit buah kerjanya.
Tapi tak demikian dengan nasib Bunga, sebut saja namanya begitu. Lima tahun bekerja di Malaysia menggunakan paspor pelancong, sebenarnya Bunga bernasib lumayan enak. Bekerja sebagai pelayan di kedai minum—semacam restoran di Kuching, Bunga menerima upah 240 ringgit (sekitar Rp 552.000) per bulan.
Dari tempat Bunga bekerja, Bunga berkenalan dengan seorang tentara Malaysia yang sering singgah. Perkenalan berlanjut, hingga perut Bunga membuncit. Sayangnya, sang tentara tidak mau mengakui anak yang dikandung Bunga. Belakangan ketahuan, jika sang tentara sudah mempunyai istri. "Bahkan, kesatuan tempat dia bekerja tidak tahu jika dia punya istri," kata perempuan berkulit putih ini.
Tapi apa lacur, seorang bayi sudah dikandung Bunga. Saat periksa kandungan di rumah sakit di Kuching, polisi Malaysia menahan Bunga, karena bekerja menggunakan paspor pelancong. Hingga saat melahirkan, Bunga masih diawasi petugas imigrasi. Namun, banyak simpati datang padanya. Orang-orang menawarkan diri hendak mengadopsi sang bayi. "Tapi saya tidak bersedia. Susah senang, saya ingin bersama anak saya," kata perempuan berusia 24 tahun ini. Selain itu, biaya persalinan juga ditanggung pihak konsulat RI.
Kini, saat dipulangkan dari Malaysia, tinggal aib yang masih hinggap. Rasa malu menahan Bunga kembali ke kampung. "Apa kata orang kampung nanti? Bawa anak, tak ada ayah," kata perempuan asal Darit, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini.
Bersama bayi merah yang masih berumur 16 hari, Bunga masih menghitung rencana yang akan dilakukan ke depan. Bayinya belum juga bernama. Tapi, kawan-kawan di penampungan Ibu Arsinah, dengan bercanda memberi nama "Konsulawati" untuk bayi perempuan mungil, berberat badan 2,8 kilogram itu. "Sekadar mengingatkan nasib saat di konsulat," kawan-kawan Bunga tertawa.
Lain lagi cerita Kelly, TKW asal Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Perempuan berusia 23 tahun ini merasa diperlakukan buruk saat menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Diantaranya, tidur di kasur bodol sepanjang 50 centimeter, dengan bantal koyak. "Saya diperlakukan layaknya anjing," kata Kelly.
Datang ke Malaysia lewat sponsor yang masih kerabatnya sendiri, Kelly dijanjikan bekerja dengan gaji 250 ringgit (setara dengan Rp 575.000). Tapi Kelly hanya dibayar 100 ringgit (senilai Rp 230.000). Itupun tidak dibayarkan tiap bulan. Kelly juga tidak dibekali dokumen oleh sponsornya. "Saya kerja kosong tanpa permit (surat ijin)," kata Kelly. Kemudian, Kelly nekat kabur ke konsulat RI, setelah bekerja selama 5 bulan.
Perlakuan buruk majikan pula yang diterima Ibu Sri dari Jember, Jawa Timur. Janda beranak tiga ini datang ke Malaysia, setelah dibawa seorang sponsor dari Bondowoso. Biarpun tak bisa membaca dan menulis, sang sponsor tetap membawa Ibu Sri ke Malaysia. Selama empat bulan di Kuching, Ibu Sri beberapa kali berpindah tangan. Pernah, saat baru sembilan hari bekerja, Ibu Sri berpindah majikan.
Pengalaman buruk Ibu Sri adalah saat majikannya memaksa Ibu Sri makan daging babi. "Selain itu, saya hanya mendapat jatah makan sekali sehari," kata dia. Seperti halnya Kelly, Ibu Sri juga melarikan diri dari majikan. Pada sebuah malam, Ibu Sri nekat lari dari rumah majikan. Tapi, karena tak bisa membaca menulis, Ibu Sri kebingungan. Beruntung ada tetangga yang membawanya ke konsulat RI.
Ibu Sri, Kelly dan Sunarsih mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Terlalu bodoh untuk kembali bekerja di Malaysia," kata Sunarsih. Sunarsih masih menyimpan dendam terhadap warga Malaysia, yang menurutnya, punya kebiasaan merendahkan orang Indon. Belakangan, dia menyesal meninggalkan pekerjaan di Jakarta dulu. Kini, Sunarsih hanya membayangkan wajah anaknya, yang sudah ditinggalkan sejak tahun 2000, saat awal bekerja di Jakarta dulu. "Saya rindu anak," ujarnya.
Sayangnya, nasib Kelly dan Ibu Sri tidak seberuntung Sunarsih yang masih menyimpan ringgit. Kelly masih menunggu uluran tangan, untuk sekedar pulang ke kampungnya yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan dari Entikong. Kelly, yang sudah dua kali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura, mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Saya tidak akan datang lagi ke Malaysia," katanya.
Sementara, Ibu Sri hanya bisa merenung di pintu rumah Ibu Arsinah. Kadang, Ibu Sri hanya bisa memperlihatkan wajah melongo, saat yang lain bercerita tentang nasib bekerja di Malaysia. Tatapan kosongnya menambah kesan tua, kesan yang sudah muncul dari rambut beruban kusut, dan tubuh cekingnya. Jember bukan tempat yang dekat. Mungkin ini isi kepala Iu Sri. Padahal, tak ada duit di kantong. "Seribu rupiah pun saya tak punya," kata Ibu Sri.
Sedangkan Bunga, masih menimbang untuk menitipkan jabang bayi di kampung. Tapi rasa malu masih menghambatnya bertemu keluarga. "Alasan apa yang harus saya ceritakan pada mereka," kata Bunga. Sebab rasa malu itu, dia meminta namanya disamarkan. Sementara, satu rencana lagi masih tersimpan di kepala Bunga, untuk kembali ke Malaysia meraup ringgit. "Siapa lagi yang akan membeli susu buat anak saya," ujar Bunga. Mata beningnya mulai berair.
16 July 2004
Sepanjang Menuju Kantor
Ada yang berubah saat melintas di Karet. Trotoar pinggir jalan sepanjang tempat ini terasa sepi. Biasanya, orang ramai duduk, sembari menunggu bus di kolong Sudirman, menyangga mangkok mie ayam, piring berisi siomay, atau menyeruput teh botol. Tapi tidak kali ini.
Teriakan orang memesan makanan tak lagi terdengar. Tangan-tangan yang menjulur dari balik pagar Wisma Metropolitan tak terlihat lagi. Pun juga jejeran koran yang biasa dipajang di pinggir jalan sudah hilang. Biasanya aku mengintip berita utama koran pagi saat melintas di sini. Sebuah gerobak pembuat stempel di ujung jalan malah sedang dibongkar oleh pemiliknya.
Seorang tukang jual teh botol punya cerita tentang perubahan pemandangan itu. Kata dia, sepanjang minggu ini Satgas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) sibuk mengaduk-ngaduk kawasan ini. Asal tahu, orang-orang berseragam biru tua ini adalah musuh para korban penggusuran yang biasa terjadi di Jakarta. Itu sebabnya, tak ada lagi pedagang di sekitar tempat ini.
Mungkin ini cerita lama Jakarta. Cerita tentang pengusiran dan penggusuran yang terus terulang. Tapi ingat! Jangan pernah mengucapkan kata pengusiran dan penggusuran di depan pejabat pemerintah daerah, atau orang-orang berseragam biru itu. Kata "penertiban" adalah kata yang mereka panggul, saat mengangkut gerobak pedagang. Coba dengarkan sekali lagi kata itu, penertiban.
Ada aroma justifikasi di balik kata itu. Di belakang kata itu seakan berdiri sepasukan aturan dan hukum yang membenarkan "penertiban". Dengan demikian, ada pihak yang tidak tertib, dan pihak yang harus menertibkan. Pihak yang menertibkan adalah pihak yang berada di belakang hukum. Yang melawan penertiban berarti melawan hukum. Itu sebabnya, pengusiran dan penggusuran tidak dikenal dalam kamus orang birokrat ini. Dan inilah rasa bahasa.
Tapi, seperti cerita tukang jual teh botol itu, orang-orang yang menyuruh pedagang pergi adalah orang yang biasa mengutip uang Rp 10 ribu, atas nama uang keamanan. "Orangnya itu-itu juga," kata penjual itu. Lalu cerita kerasnya mencari uang di Jakarta menjadi sebuah drama.
Penjual teh botol ini sudah berjualan di Karet sejak tahun 1992. Sebelumnya, dia mengaku sudah keluar masuk gedung-gedung bertingkat menjajakan minuman yang sama. (Sebagai bukti, sebuah logo British Council dan HSBC tersemat di kaos putihnya). Yang satu ini mungkin cerita politis. Tapi dia mengaku, lima tahun lalu dia tidak hidup merana, dikejar Satgas Trantib seperti ini.
Orang-orang seperti penjual minuman ini, kadang merasa punya hak untuk dikasihani. Bercerita tentang kerasnya Jakarta, dan menuntut hak yang sama untuk hidup di Jakarta. Tapi mereka tidak tahu (atau mengabaikan) rasa nyaman yang seharusnya datang saat orang berjalan di trotoar. Sementara gerobak mereka memakan bahu jalan. (Di Jakarta yang biadab ini, pejalan kaki seperti dikalahkan. Belum lagi oleh pengendara sepeda motor yang serakah, memaksa pejalan kaki mengalah, karena alasan kemacetan yang dialaminya).
Tapi banyak orang membutuhkan pedagang. Di Jakarta, orang boleh berdandan cantik dan wangi, seolah menunjukkan status tinggi. Tapi hukum ekonomi tetap berlaku. Bahwa harga dagangan pedagang di trotoar ini lebih murah, dibanding restoran yang berpendingin udara di gedung berlantai. Itulah rantai kebutuhan yang menjadi alasan hidup pedagang.
Ah, sudahlah. Sudah terlalu siang menuju kantor.
Ada yang berubah saat melintas di Karet. Trotoar pinggir jalan sepanjang tempat ini terasa sepi. Biasanya, orang ramai duduk, sembari menunggu bus di kolong Sudirman, menyangga mangkok mie ayam, piring berisi siomay, atau menyeruput teh botol. Tapi tidak kali ini.
Teriakan orang memesan makanan tak lagi terdengar. Tangan-tangan yang menjulur dari balik pagar Wisma Metropolitan tak terlihat lagi. Pun juga jejeran koran yang biasa dipajang di pinggir jalan sudah hilang. Biasanya aku mengintip berita utama koran pagi saat melintas di sini. Sebuah gerobak pembuat stempel di ujung jalan malah sedang dibongkar oleh pemiliknya.
Seorang tukang jual teh botol punya cerita tentang perubahan pemandangan itu. Kata dia, sepanjang minggu ini Satgas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) sibuk mengaduk-ngaduk kawasan ini. Asal tahu, orang-orang berseragam biru tua ini adalah musuh para korban penggusuran yang biasa terjadi di Jakarta. Itu sebabnya, tak ada lagi pedagang di sekitar tempat ini.
Mungkin ini cerita lama Jakarta. Cerita tentang pengusiran dan penggusuran yang terus terulang. Tapi ingat! Jangan pernah mengucapkan kata pengusiran dan penggusuran di depan pejabat pemerintah daerah, atau orang-orang berseragam biru itu. Kata "penertiban" adalah kata yang mereka panggul, saat mengangkut gerobak pedagang. Coba dengarkan sekali lagi kata itu, penertiban.
Ada aroma justifikasi di balik kata itu. Di belakang kata itu seakan berdiri sepasukan aturan dan hukum yang membenarkan "penertiban". Dengan demikian, ada pihak yang tidak tertib, dan pihak yang harus menertibkan. Pihak yang menertibkan adalah pihak yang berada di belakang hukum. Yang melawan penertiban berarti melawan hukum. Itu sebabnya, pengusiran dan penggusuran tidak dikenal dalam kamus orang birokrat ini. Dan inilah rasa bahasa.
Tapi, seperti cerita tukang jual teh botol itu, orang-orang yang menyuruh pedagang pergi adalah orang yang biasa mengutip uang Rp 10 ribu, atas nama uang keamanan. "Orangnya itu-itu juga," kata penjual itu. Lalu cerita kerasnya mencari uang di Jakarta menjadi sebuah drama.
Penjual teh botol ini sudah berjualan di Karet sejak tahun 1992. Sebelumnya, dia mengaku sudah keluar masuk gedung-gedung bertingkat menjajakan minuman yang sama. (Sebagai bukti, sebuah logo British Council dan HSBC tersemat di kaos putihnya). Yang satu ini mungkin cerita politis. Tapi dia mengaku, lima tahun lalu dia tidak hidup merana, dikejar Satgas Trantib seperti ini.
Orang-orang seperti penjual minuman ini, kadang merasa punya hak untuk dikasihani. Bercerita tentang kerasnya Jakarta, dan menuntut hak yang sama untuk hidup di Jakarta. Tapi mereka tidak tahu (atau mengabaikan) rasa nyaman yang seharusnya datang saat orang berjalan di trotoar. Sementara gerobak mereka memakan bahu jalan. (Di Jakarta yang biadab ini, pejalan kaki seperti dikalahkan. Belum lagi oleh pengendara sepeda motor yang serakah, memaksa pejalan kaki mengalah, karena alasan kemacetan yang dialaminya).
Tapi banyak orang membutuhkan pedagang. Di Jakarta, orang boleh berdandan cantik dan wangi, seolah menunjukkan status tinggi. Tapi hukum ekonomi tetap berlaku. Bahwa harga dagangan pedagang di trotoar ini lebih murah, dibanding restoran yang berpendingin udara di gedung berlantai. Itulah rantai kebutuhan yang menjadi alasan hidup pedagang.
Ah, sudahlah. Sudah terlalu siang menuju kantor.
12 July 2004
Besaran
Ini sisa perdebatan kecil di sebuah kafe di Citos. Awalnya kami bercerita tentang hal-hal yang hilang dari masa kecil. Aku menyebut beberapa nama buah yang sudah mulai jarang aku dengar selama di Jakarta. Satu diantaranya: besaran.
Kawan-kawanku itu mengejek, saat aku gagal menggambarkan detil buah itu. Dalam bayanganku, buah ini mirip strawberry. Bedanya, buah ini rada lonjong, dan biasa bergerombolan saat berada di pangkal daun. Permukaan seperti kumpulan butir-butir kecil, yang terkadang ada bulu kecil dipuncak butiran itu.
Rasa buah ini manis saat matang. Lain dengan buah-buah lain yang warnanya merah kala matang, buah ini berwarna hitam saat enak dimakan. Jika warnanya masih merah, besaran terasa asam. Apalagi jika warnanya masih hijau. Waduh, bisa meludah karena kecut di lidah.
Kawan-kawanku itu baru nggeh, saat aku menyebut nama murbei. Daun dari pohon buahnya ini konon makanan ulat sutra. Hewan kecil ini terkenal karena seratnya bisa digunakan sebagai bahan kain sutera. Sayangnya, aku tetap tidak melihat wajah paham pada kawan-kawanku.
Dulu, tanaman ini tumbuh di belakang rumahku. Aku sering berebut dengan kakakku, jika buah-buah kecil itu mulai kelihatan menghitam. Kadang malah aku berebut dengan anak tetangga, yang kebetulan lewat di belakang rumah. Kadang, warna hitam buah ini mengotori baju, dan susah hilang. Maka, hati-hati! Jangan meremas buah ini.
Di situs IPTEK.net, aku menemukan buah masa kecil itu. Namanya murbei, atau murbai (Morus alba L.). Nama Inggrisnya terdengar lebih cantik: mulberry.
Aku harus bersorak untuk kawan-kawanku, karena nama "besaran" tercantum sebagai salah satu nama yang digunakan untuk menyebut nama buah ini. Selain itu, buah ini punya sebutan lain: murbai, besaran (Jawa), kerta, kitau (Sumatera), sangye (China), may mon, dau tam (Vietnam), morus leaf, morus bark, morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark, mulberry twigs, white mulberry, mulberry (Inggris).
Ada cerita di balik buah ini. Kabarnya buah ini berasal dari Cina. Pohonnya menyukai tempat yang banyak sinar matahati. Kadang tumbuh secara liar. Itulah kenapa, dulu aku sering menemukan pohon buah ini tumbuh di sekeliling rumah, dan menjadi pagar batas rumah.
Entah bagaimana datangnya buah itu ke Indonesia, yang jelas banyak manfaat dari buah ini. Ini daftar guna buah itu, seperti ditulis situs itu:
Bagian yang digunakan: daun, ranting, buah, dan kulit akar dapat digunakan sebagai obat. Untuk penyimpanan, buah dikukus baru dijemur, ranting dipotong tipis lalu dijemur, dan kulit akar dicuci bersih lalu dipotong-potong tipis kemudian dijemur sampai kering.
Kegunaan:
Daun (Sang ye) berkhasiat untuk:
- demam karena flu, malaria,
- batuk,
- sakit kepala, sakit tenggorok, sakit gigi, rematik,
- darah tinggi (hipertensi),
- kencing manis (diabetes mellitus),
- kaki gajah (elephantiasis tungkai bawah),
- sakit kulit bisul,
- radang mata merah (conjunctivitis acute),
- memperbanyak air susu ibu (ASI),
- keringat malwn,
- muntah darah dan batuk darah akibat darah panas,
- kolesterol tinggi (hiperkolesierolemia), dan
- gangguan pada saluran cerna.
Kulit akar (Sang bai pi) berkhasiat untuk:
- sakit gigi,
- tidak datang haid,
- batuk berdahak, sesak napas (asma),
- muka bengkak (ederna),
- kencing yang nyeri dan susah (disuria), dan
- cacingan.
Buah (Sang shen) berkhasiat untuk:
- tekanan darah tinggi (hipertensi),
- jantung berdebar (palpitasi),
- kencing manis (diabetes mellitus), rasa haus dan mulut kering,
- sukar tidur (insomnia),
- batuk berdahak,
- pendengaran berkurang dan penglihatan kabur,
- telinga berdenging (tinnitus), tuli, tujuh keliling (vertigo),
- hepatitis kronis,
- sembelit pada orang tua,
- kurang darah (anemia), neurastenia,
- sakit otot dan persendian, sakit tenggorok, serta
- rambut beruban.sebelum waktunya.
Ranting (Sang zhi) berkhasiat untuk:
- rematik,
- tangan dan kaki terasa baal dan sakit,
- sakit pinggang (lumbago),
- keram pada tangan dan kaki,
- tekanan darah tinggi, serta menyuburkan pertumbuhan rambut.
Cara Pemakaian:
Untuk diminum, pilih salah satu bagian yang disukai. Bila kulit akar untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, 10 - 15 g; ranting 15 - 30 g; sedang daun dosisnya 5 - 10 g sekali rebus, dapat juga menggunakan dosis maksimal 20 - 40 g. Untuk buah dosisnya 10 - 15 g, direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, kemudian diturapkan ke tempat yang sakit seperti luka, digigit ular, dan serangga, atau untuk merangsang pertumbuhan rambut.
Contoh pemakaian:
Tekanan darah tinggi, kaki bengkak: daun murbei segar sebanyak 15 g dicuci bersih kemudian direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring lalu dibagi untuk 2 kali minum, pagi dan sore.
Memperbanyak kcluamya air susu ibu (ASI): daun murbei muda dimasak sebagai sayur, lalu dimakan bersama nasi.
Kencing nanah kulit: akar murbei, adas pulosari, dan kayu sandel (sandelhout) direbus.
Bisul, radang kulit: daun murbei segar sebanyak 1 genggam dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Rebusan daun ini berguna untuk membersihkan darah sehingga dapat diminum secara teratur.
Luka, borok: daun murbei segar setelah dicuci bersih lalu dioleskan minyak kelapa. Layukan di atas api lalu diremas-remas dengan jari tangan sehingga menjadi lemas. Daun tadi kemudian dipakai untuk menutup luka. Namun sebelumnya, luka harus dicuci dahulu dengan rebusan akar tren guli.
Digigit ular: daun murbei segar sebanyak 20 g dicuci lalu digiling halus. Tambahkan 1/2 cangkir air masak, lalu disaring dan diperas. Air yang terkumpul lalu diminum sekaligus.
Berkeringat malam: daun murbei kering yang dijadikan serbuk sebanyak 6 - 9 g, direbus dengan air beras sampai mendidih. Setelah dingin lalu diminum.
Rematik, tangan dan kaki baal dan sakit: ranting murbei kering sebanyak 15 g direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.
Hepatitis kronis, kurang darah, tekanan darah tinggi: buah murbei segar sebanyak 10 g ditambah air masak 1 gelas, lalu diblender. Hasilnya lalu diminum sekaligus.
Jantung lemah: duah murbei secukupnya dijus, lalu minum sekaligus. Napas pendek, bengkak di mata kaki dan rasa nyeri di dada akan berkurang dengan minum jus buah murbei ini setiap hari.
Ada beberapa catatan kecil tentang buah ini. Di luar negeri daun murbei sudah dibuat obat suntik. Obat suntik tersebut menyebabkan nyeri lokal di tempat suntikan, kadang timbul menggigil, demam, dan sakit kepala yang tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk pemakaian ranting murbei sebaiknya dihindari bila ada sindrom defisiensi Yin (apa artinya ini, aku tidak tahu). Sementara, pemakaian buah murbei sebaiknya dihindari bila sedang diare akibat dingin dan adanya defisiensi limpa dan lambung.
Satu catatan lagi. Ada keriangan menemukan profil buah ini. Seperti menemukan kembali masa kecil.
Ini sisa perdebatan kecil di sebuah kafe di Citos. Awalnya kami bercerita tentang hal-hal yang hilang dari masa kecil. Aku menyebut beberapa nama buah yang sudah mulai jarang aku dengar selama di Jakarta. Satu diantaranya: besaran.
Kawan-kawanku itu mengejek, saat aku gagal menggambarkan detil buah itu. Dalam bayanganku, buah ini mirip strawberry. Bedanya, buah ini rada lonjong, dan biasa bergerombolan saat berada di pangkal daun. Permukaan seperti kumpulan butir-butir kecil, yang terkadang ada bulu kecil dipuncak butiran itu.
Rasa buah ini manis saat matang. Lain dengan buah-buah lain yang warnanya merah kala matang, buah ini berwarna hitam saat enak dimakan. Jika warnanya masih merah, besaran terasa asam. Apalagi jika warnanya masih hijau. Waduh, bisa meludah karena kecut di lidah.
Kawan-kawanku itu baru nggeh, saat aku menyebut nama murbei. Daun dari pohon buahnya ini konon makanan ulat sutra. Hewan kecil ini terkenal karena seratnya bisa digunakan sebagai bahan kain sutera. Sayangnya, aku tetap tidak melihat wajah paham pada kawan-kawanku.
Dulu, tanaman ini tumbuh di belakang rumahku. Aku sering berebut dengan kakakku, jika buah-buah kecil itu mulai kelihatan menghitam. Kadang malah aku berebut dengan anak tetangga, yang kebetulan lewat di belakang rumah. Kadang, warna hitam buah ini mengotori baju, dan susah hilang. Maka, hati-hati! Jangan meremas buah ini.
Di situs IPTEK.net, aku menemukan buah masa kecil itu. Namanya murbei, atau murbai (Morus alba L.). Nama Inggrisnya terdengar lebih cantik: mulberry.
Aku harus bersorak untuk kawan-kawanku, karena nama "besaran" tercantum sebagai salah satu nama yang digunakan untuk menyebut nama buah ini. Selain itu, buah ini punya sebutan lain: murbai, besaran (Jawa), kerta, kitau (Sumatera), sangye (China), may mon, dau tam (Vietnam), morus leaf, morus bark, morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark, mulberry twigs, white mulberry, mulberry (Inggris).
Ada cerita di balik buah ini. Kabarnya buah ini berasal dari Cina. Pohonnya menyukai tempat yang banyak sinar matahati. Kadang tumbuh secara liar. Itulah kenapa, dulu aku sering menemukan pohon buah ini tumbuh di sekeliling rumah, dan menjadi pagar batas rumah.
Entah bagaimana datangnya buah itu ke Indonesia, yang jelas banyak manfaat dari buah ini. Ini daftar guna buah itu, seperti ditulis situs itu:
Bagian yang digunakan: daun, ranting, buah, dan kulit akar dapat digunakan sebagai obat. Untuk penyimpanan, buah dikukus baru dijemur, ranting dipotong tipis lalu dijemur, dan kulit akar dicuci bersih lalu dipotong-potong tipis kemudian dijemur sampai kering.
Kegunaan:
Daun (Sang ye) berkhasiat untuk:
- demam karena flu, malaria,
- batuk,
- sakit kepala, sakit tenggorok, sakit gigi, rematik,
- darah tinggi (hipertensi),
- kencing manis (diabetes mellitus),
- kaki gajah (elephantiasis tungkai bawah),
- sakit kulit bisul,
- radang mata merah (conjunctivitis acute),
- memperbanyak air susu ibu (ASI),
- keringat malwn,
- muntah darah dan batuk darah akibat darah panas,
- kolesterol tinggi (hiperkolesierolemia), dan
- gangguan pada saluran cerna.
Kulit akar (Sang bai pi) berkhasiat untuk:
- sakit gigi,
- tidak datang haid,
- batuk berdahak, sesak napas (asma),
- muka bengkak (ederna),
- kencing yang nyeri dan susah (disuria), dan
- cacingan.
Buah (Sang shen) berkhasiat untuk:
- tekanan darah tinggi (hipertensi),
- jantung berdebar (palpitasi),
- kencing manis (diabetes mellitus), rasa haus dan mulut kering,
- sukar tidur (insomnia),
- batuk berdahak,
- pendengaran berkurang dan penglihatan kabur,
- telinga berdenging (tinnitus), tuli, tujuh keliling (vertigo),
- hepatitis kronis,
- sembelit pada orang tua,
- kurang darah (anemia), neurastenia,
- sakit otot dan persendian, sakit tenggorok, serta
- rambut beruban.sebelum waktunya.
Ranting (Sang zhi) berkhasiat untuk:
- rematik,
- tangan dan kaki terasa baal dan sakit,
- sakit pinggang (lumbago),
- keram pada tangan dan kaki,
- tekanan darah tinggi, serta menyuburkan pertumbuhan rambut.
Cara Pemakaian:
Untuk diminum, pilih salah satu bagian yang disukai. Bila kulit akar untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, 10 - 15 g; ranting 15 - 30 g; sedang daun dosisnya 5 - 10 g sekali rebus, dapat juga menggunakan dosis maksimal 20 - 40 g. Untuk buah dosisnya 10 - 15 g, direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, kemudian diturapkan ke tempat yang sakit seperti luka, digigit ular, dan serangga, atau untuk merangsang pertumbuhan rambut.
Contoh pemakaian:
Tekanan darah tinggi, kaki bengkak: daun murbei segar sebanyak 15 g dicuci bersih kemudian direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring lalu dibagi untuk 2 kali minum, pagi dan sore.
Memperbanyak kcluamya air susu ibu (ASI): daun murbei muda dimasak sebagai sayur, lalu dimakan bersama nasi.
Kencing nanah kulit: akar murbei, adas pulosari, dan kayu sandel (sandelhout) direbus.
Bisul, radang kulit: daun murbei segar sebanyak 1 genggam dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Rebusan daun ini berguna untuk membersihkan darah sehingga dapat diminum secara teratur.
Luka, borok: daun murbei segar setelah dicuci bersih lalu dioleskan minyak kelapa. Layukan di atas api lalu diremas-remas dengan jari tangan sehingga menjadi lemas. Daun tadi kemudian dipakai untuk menutup luka. Namun sebelumnya, luka harus dicuci dahulu dengan rebusan akar tren guli.
Digigit ular: daun murbei segar sebanyak 20 g dicuci lalu digiling halus. Tambahkan 1/2 cangkir air masak, lalu disaring dan diperas. Air yang terkumpul lalu diminum sekaligus.
Berkeringat malam: daun murbei kering yang dijadikan serbuk sebanyak 6 - 9 g, direbus dengan air beras sampai mendidih. Setelah dingin lalu diminum.
Rematik, tangan dan kaki baal dan sakit: ranting murbei kering sebanyak 15 g direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.
Hepatitis kronis, kurang darah, tekanan darah tinggi: buah murbei segar sebanyak 10 g ditambah air masak 1 gelas, lalu diblender. Hasilnya lalu diminum sekaligus.
Jantung lemah: duah murbei secukupnya dijus, lalu minum sekaligus. Napas pendek, bengkak di mata kaki dan rasa nyeri di dada akan berkurang dengan minum jus buah murbei ini setiap hari.
Ada beberapa catatan kecil tentang buah ini. Di luar negeri daun murbei sudah dibuat obat suntik. Obat suntik tersebut menyebabkan nyeri lokal di tempat suntikan, kadang timbul menggigil, demam, dan sakit kepala yang tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk pemakaian ranting murbei sebaiknya dihindari bila ada sindrom defisiensi Yin (apa artinya ini, aku tidak tahu). Sementara, pemakaian buah murbei sebaiknya dihindari bila sedang diare akibat dingin dan adanya defisiensi limpa dan lambung.
Satu catatan lagi. Ada keriangan menemukan profil buah ini. Seperti menemukan kembali masa kecil.
01 June 2004
Tentang Abramovich
Sepakbola seperti berbicara tentang kehidupan. Ada ambisi dan keserakahan. Seakan, orang ingin menguasai dunia dengan sepakbola. Lalu, orang seperti dihadapkan kepada sebuah pilihan. Memilih mengabdi kepada uang atau "yang lain".
Roman Abramovich, orang Rusia yang membeli Chelsea, salah satu klub sepakbola Inggris, adalah seorang penggoda. Dia pamer duit miliaran rupiah kepada pemain bintang, agar mau bergabung dengannya. Inilah sisi dilematis pilihan itu.
Kemudian aku menemukan ulasan Rob Hughes di Tabloid Bola Edisi Selasa, 1 Juni 2004. Aku cuplik sebagian, untuk menawarkan semangat kredo "tidak semua kemenangan bisa dibeli dengan uang." Ini dia:
" ... Abramovich adalah kriminalis. Ia adalah salah satu dari delapan orang yang disebut Oligarchy, pengusaha yang mengambil alih sumber daya minyak dan gas ketika penguasa komunis runtuh.
Beberapa dari mereka berada di penjara, sementara Abramovich menikmati kebebasannya dan berambisi untuk membeli semua makhluk berkaki dua di permainan elite sepakbola Eropa.
Pembawa tasnya, termasuk Direktur Eksekutif Peter Kenyon, yang mengkhianati Manchester United untuk bergabung dengan Chelsea, bersikap tidak acuh bahwa seorang pemain atau pelatih tertentu telah dimiliki secara sah oleh klub lain.
Mereka menghambur-hamburkan uang milik Abramovich untuk melihat setinggi apa para pemain yang mereka inginkan mampu meloncat.
Mereka menilai setiap orang dengan harga tinggi. Bahkan, seperti yang kita lihat di Milan, Perdana Menteri Italia harus membayar mahal untuk menahan Shevchenko, yang telah sukses di lapangan hijau.
Apa yang Abramovich ketahui dan pedulikan mengenai nilai-nilai sepakbola? Dia adalah pria terkaya di Inggris. Penghasilannya yang berjumlah miliaran keluar dari tanah Siberia. Kini ia juga menginginkan trofi Liga Champion."
Jadi, seperti halnya kehidupan, sepakbola menawarkan pilihan. Termasuk mengesampingkan cerita keserakahan di belakang sepakbola, untuk lebih peduli dengan kenikmatan tontonan permainan apik di televisi.
Sepakbola seperti berbicara tentang kehidupan. Ada ambisi dan keserakahan. Seakan, orang ingin menguasai dunia dengan sepakbola. Lalu, orang seperti dihadapkan kepada sebuah pilihan. Memilih mengabdi kepada uang atau "yang lain".
Roman Abramovich, orang Rusia yang membeli Chelsea, salah satu klub sepakbola Inggris, adalah seorang penggoda. Dia pamer duit miliaran rupiah kepada pemain bintang, agar mau bergabung dengannya. Inilah sisi dilematis pilihan itu.
Kemudian aku menemukan ulasan Rob Hughes di Tabloid Bola Edisi Selasa, 1 Juni 2004. Aku cuplik sebagian, untuk menawarkan semangat kredo "tidak semua kemenangan bisa dibeli dengan uang." Ini dia:
" ... Abramovich adalah kriminalis. Ia adalah salah satu dari delapan orang yang disebut Oligarchy, pengusaha yang mengambil alih sumber daya minyak dan gas ketika penguasa komunis runtuh.
Beberapa dari mereka berada di penjara, sementara Abramovich menikmati kebebasannya dan berambisi untuk membeli semua makhluk berkaki dua di permainan elite sepakbola Eropa.
Pembawa tasnya, termasuk Direktur Eksekutif Peter Kenyon, yang mengkhianati Manchester United untuk bergabung dengan Chelsea, bersikap tidak acuh bahwa seorang pemain atau pelatih tertentu telah dimiliki secara sah oleh klub lain.
Mereka menghambur-hamburkan uang milik Abramovich untuk melihat setinggi apa para pemain yang mereka inginkan mampu meloncat.
Mereka menilai setiap orang dengan harga tinggi. Bahkan, seperti yang kita lihat di Milan, Perdana Menteri Italia harus membayar mahal untuk menahan Shevchenko, yang telah sukses di lapangan hijau.
Apa yang Abramovich ketahui dan pedulikan mengenai nilai-nilai sepakbola? Dia adalah pria terkaya di Inggris. Penghasilannya yang berjumlah miliaran keluar dari tanah Siberia. Kini ia juga menginginkan trofi Liga Champion."
Jadi, seperti halnya kehidupan, sepakbola menawarkan pilihan. Termasuk mengesampingkan cerita keserakahan di belakang sepakbola, untuk lebih peduli dengan kenikmatan tontonan permainan apik di televisi.
06 May 2004
Setelah Bachtiar Bersaksi
(Sepenggal cerita sisa saat di Aceh, Juli tahun lalu. Sayang, karena alasan teknologi, cerita ini nyangkut ke dunia entah dimana. Aku harus mendendam kepada seseorang karena ini. Karena inilah cerita kematian yang paling dekat kepadaku saat itu. Aku baru menemukannya kemarin. Setelah hampir setahun keluar dari Aceh)
Gundukan tanah itu masih baru. Berada di bawah rerimbunan pohon yang teduh di pekarangan rumah. Tanpa nisan atau sisa bunga bertaburan di atasnya. Tidak pula sebuah nama. Hanya sebuah pelepah daun kelapa kering yang menutupi. Di gundukan tanah itulah jasad Bachtiar bin Musa, seorang warga desa Barat Layan, Jangka, Bireuen, Aceh Utara dimakamkan.
Pada sebuah hari Minggu, lelaki berusia 58 tahun ini ditemukan tewas menggenaskan. Kepalanya hancur. Otaknya terburai. Palang Merah Indonesia Kecamatan Gandapura, Aceh Utara menemukan mayat Bachtiar tergeletak di pinggir sawah di kampung Dayah Panjoe, Gandapura, Aceh Utara.
Kematian Bachtiar terjadi setelah seseorang menculiknya sehari sebelumnya. Nurbaiti, anak pertama Bachtiar berkisah tentang seorang lelaki yang menjemput ayahnya pada Sabtu, sehari sebelumnya. Ketika itu, maghrib baru saja berkumandang. Bachtiar, dengan istri dan dua orang anaknya sedang makan bubur kacang hijau sebagai santap malam.
Belum habis santap malam, suara salam terdengar dari luar pintu. Seorang lelaki berdiri menunggu, hendak bertemu dengan ayahnya. “Lelaki itu memakai bahasa Aceh,” kata Nurbaiti.
Sayang, Nurbaiti tidak bisa menghafal wajah lelaki yang berkunjung ke rumahnya malam itu. Maklum, aliran listrik ke desanya sudah lumpuh. Beberapa minggu lalu, beberapa orang tak dikenal menumbangkan tiang listrik, dan meninggalkan kabel-kabel listrik membentang di sepanjang jalan. Desa Barat Layan pun gelap, tanpa listrik saat malam.
Namun, Nurbaiti mengaku melihat tamu itu meninggalkan motornya di pinggir jalan. Sebelum akhirnya, tamu itu masuk ke pekarangan rumahnya, yang agak tersembunyi dari pinggir jalan.
Di ujung pembicaraan antara tamu dengan ayahnya, Nurbaiti menyaksikan ayahnya pergi, meninggalkan sisa bubur kacang hijau yang tak sempat dihabiskannya. “Aku pergi sebentar. Tidak lama-lama,” tutur Nurbaiti menirukan pesan ayahnya.
Tapi, saat jam terus berganti, bahkan hingga larut malam, ayahnya tak juga kembali. Sampai pada hari Minggu paginya, warga dikejutkan oleh penemuan mayat di kampung Dayah Panjoe, sekitar dua kilometer dari desa Barat Layan. Adik laki-laki Nurbaiti yang mendatangi tempat itu, menemukan ayahnya tergolek tak bernyawa di sawah. Dengan kepala pecah.
Bachtiar bukan seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka, bukan pula seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Dalam kesehariannya, bapak beranak sembilan ini hanya seorang sopir. Setiap hari, lelaki ini membawa mobil bak terbuka, mengangkut buah-buahan untuk dibawa ke Takengon, Aceh Tengah.
Tapi, pada hari Sabtu paginya, Bachtiar menjadi saksi mata sebuah peristiwa di desanya. Ketika itu, sepasukan Brigade Mobil mengepung dan mendatangi rumah Abdurrachman Ishak, yang bersebelahan dengan pekarangan rumahnya. Rupanya, pasukan Brimob mengintai Tengku Abdurrachman Adam, yang diduga sebagai Panglima I Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Peusangan, Aceh Utara. Diduga, Tengku Abdurrachman Adam bersembunyi di rumah Abdurrachman Ishak itu.
Belakangan, brigade ini berhasil menembak mati Tengku Abdurrachman Adam. Mayat Tengku Adam ditemukan dengan luka tembak di tubuhnya. 16 longsong peluru ditemukan di sekitar lokasi mayat ditemukan. Selain menembak mati Tengku Adam, brigade ini juga menahan tujuh orang yang dicurigai sebagai anggota GAM.
Namun, keberhasilan brigade ini disertai aksi pembakaran rumah Abdurrachman Ishak yang dihuni oleh Ny. Umi, adik Abdurrachman Ishak. Rumah panggung berdinding papan dan beratap rumbia ini luluh lantak menjadi abu. Menyisakan bangkai ranjang besi dan kuali-kuali gosong. Meninggalkan Ny. Umi yang bertahan sendirian di bawah pohon menunggui abu.
Pada hari Sabtu itu pula, Bachtiar dengan lantang bersaksi kepada wartawan, berkisah tentang kejadian di pekarangan tetangganya itu. Wajah Bachtiar pun sempat muncul di beberapa stasiun televisi pada sore harinya. Sore setelah itulah, seorang lelaki bertamu ke rumah Bachtiar, membawa Bachtiar, yang meninggalkan pesan terakhir kepada Nurbaiti.
Sejak itu, Nurbaiti seperti mencoba tidak mengulang apa yang menyebabkan ayahnya pergi. Nurbaiti menolak wawancara, ketika seorang wartawan radio menyodorkan mikrofon. “Tak maulah. Kemarin ayah juga diwawancara seperti ini,” kata Nurbaiti sambil memalingkan muka ke arah ibunya, Cuk Ubit. Cuk Ubit, yang matanya masih memerah, membela sikap anak perempuannya. “Sudah diambil ayahnya, diambil pula anaknya nanti,” katanya.
(Sepenggal cerita sisa saat di Aceh, Juli tahun lalu. Sayang, karena alasan teknologi, cerita ini nyangkut ke dunia entah dimana. Aku harus mendendam kepada seseorang karena ini. Karena inilah cerita kematian yang paling dekat kepadaku saat itu. Aku baru menemukannya kemarin. Setelah hampir setahun keluar dari Aceh)
Gundukan tanah itu masih baru. Berada di bawah rerimbunan pohon yang teduh di pekarangan rumah. Tanpa nisan atau sisa bunga bertaburan di atasnya. Tidak pula sebuah nama. Hanya sebuah pelepah daun kelapa kering yang menutupi. Di gundukan tanah itulah jasad Bachtiar bin Musa, seorang warga desa Barat Layan, Jangka, Bireuen, Aceh Utara dimakamkan.
Pada sebuah hari Minggu, lelaki berusia 58 tahun ini ditemukan tewas menggenaskan. Kepalanya hancur. Otaknya terburai. Palang Merah Indonesia Kecamatan Gandapura, Aceh Utara menemukan mayat Bachtiar tergeletak di pinggir sawah di kampung Dayah Panjoe, Gandapura, Aceh Utara.
Kematian Bachtiar terjadi setelah seseorang menculiknya sehari sebelumnya. Nurbaiti, anak pertama Bachtiar berkisah tentang seorang lelaki yang menjemput ayahnya pada Sabtu, sehari sebelumnya. Ketika itu, maghrib baru saja berkumandang. Bachtiar, dengan istri dan dua orang anaknya sedang makan bubur kacang hijau sebagai santap malam.
Belum habis santap malam, suara salam terdengar dari luar pintu. Seorang lelaki berdiri menunggu, hendak bertemu dengan ayahnya. “Lelaki itu memakai bahasa Aceh,” kata Nurbaiti.
Sayang, Nurbaiti tidak bisa menghafal wajah lelaki yang berkunjung ke rumahnya malam itu. Maklum, aliran listrik ke desanya sudah lumpuh. Beberapa minggu lalu, beberapa orang tak dikenal menumbangkan tiang listrik, dan meninggalkan kabel-kabel listrik membentang di sepanjang jalan. Desa Barat Layan pun gelap, tanpa listrik saat malam.
Namun, Nurbaiti mengaku melihat tamu itu meninggalkan motornya di pinggir jalan. Sebelum akhirnya, tamu itu masuk ke pekarangan rumahnya, yang agak tersembunyi dari pinggir jalan.
Di ujung pembicaraan antara tamu dengan ayahnya, Nurbaiti menyaksikan ayahnya pergi, meninggalkan sisa bubur kacang hijau yang tak sempat dihabiskannya. “Aku pergi sebentar. Tidak lama-lama,” tutur Nurbaiti menirukan pesan ayahnya.
Tapi, saat jam terus berganti, bahkan hingga larut malam, ayahnya tak juga kembali. Sampai pada hari Minggu paginya, warga dikejutkan oleh penemuan mayat di kampung Dayah Panjoe, sekitar dua kilometer dari desa Barat Layan. Adik laki-laki Nurbaiti yang mendatangi tempat itu, menemukan ayahnya tergolek tak bernyawa di sawah. Dengan kepala pecah.
Bachtiar bukan seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka, bukan pula seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Dalam kesehariannya, bapak beranak sembilan ini hanya seorang sopir. Setiap hari, lelaki ini membawa mobil bak terbuka, mengangkut buah-buahan untuk dibawa ke Takengon, Aceh Tengah.
Tapi, pada hari Sabtu paginya, Bachtiar menjadi saksi mata sebuah peristiwa di desanya. Ketika itu, sepasukan Brigade Mobil mengepung dan mendatangi rumah Abdurrachman Ishak, yang bersebelahan dengan pekarangan rumahnya. Rupanya, pasukan Brimob mengintai Tengku Abdurrachman Adam, yang diduga sebagai Panglima I Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Peusangan, Aceh Utara. Diduga, Tengku Abdurrachman Adam bersembunyi di rumah Abdurrachman Ishak itu.
Belakangan, brigade ini berhasil menembak mati Tengku Abdurrachman Adam. Mayat Tengku Adam ditemukan dengan luka tembak di tubuhnya. 16 longsong peluru ditemukan di sekitar lokasi mayat ditemukan. Selain menembak mati Tengku Adam, brigade ini juga menahan tujuh orang yang dicurigai sebagai anggota GAM.
Namun, keberhasilan brigade ini disertai aksi pembakaran rumah Abdurrachman Ishak yang dihuni oleh Ny. Umi, adik Abdurrachman Ishak. Rumah panggung berdinding papan dan beratap rumbia ini luluh lantak menjadi abu. Menyisakan bangkai ranjang besi dan kuali-kuali gosong. Meninggalkan Ny. Umi yang bertahan sendirian di bawah pohon menunggui abu.
Pada hari Sabtu itu pula, Bachtiar dengan lantang bersaksi kepada wartawan, berkisah tentang kejadian di pekarangan tetangganya itu. Wajah Bachtiar pun sempat muncul di beberapa stasiun televisi pada sore harinya. Sore setelah itulah, seorang lelaki bertamu ke rumah Bachtiar, membawa Bachtiar, yang meninggalkan pesan terakhir kepada Nurbaiti.
Sejak itu, Nurbaiti seperti mencoba tidak mengulang apa yang menyebabkan ayahnya pergi. Nurbaiti menolak wawancara, ketika seorang wartawan radio menyodorkan mikrofon. “Tak maulah. Kemarin ayah juga diwawancara seperti ini,” kata Nurbaiti sambil memalingkan muka ke arah ibunya, Cuk Ubit. Cuk Ubit, yang matanya masih memerah, membela sikap anak perempuannya. “Sudah diambil ayahnya, diambil pula anaknya nanti,” katanya.
16 April 2004
Oleh-oleh dari Ujung Kulon
(Akhir Februari lalu, Taman Nasional Ujung Kulon menggelar sensus badak. Ini momen langka. Bayangkan menghitung populasi badak Jawa (Rhinocerus sondaicus), yang berada di tengah hutan, dan emoh ketemu manusia. Ini dia oleh-olehnya.)
Pagi yang murung di Tanjung Lame, Ujung Kulon, Jawa Barat. Mendung menggantung di langit sejak malam. Sementara, angin laut utara bertiup pelan dari Teluk Selamat Datang. Tidak membawa semangat. Sepertinya hujan akan turun lagi, seperti hari-hari belakangan di semenanjung paling barat Pulau Jawa ini.
Di tanah lapang seluas lapangan bola di base camp Taman Nasional Ujung Kulon ini, puluhan orang seperti tidak peduli dengan gelagat cuaca buruk itu. Mereka berjajar, membentuk barisan layaknya pasukan. Kebanyakan menggunakan seragam hijau muda, dengan badge bertuliskan POLHUT--kependekan dari Polisi Hutan--yang menempel di dada sebelah kiri. Badge Balai Taman Nasional Ujung Kulon juga menempel di lengan kiri seragam mereka.
Sebagian dari "pasukan" itu menggunakan seragam hitam-hitam. Label Rhino Monitoring and Protecting Unit--nama unit khusus di Taman Nasional Ujung Kulon yang mengurusi badak--menempel di dada sebelah kiri. Tidak sedikit pula anggota pasukan yang memakai kaos putih, dengan tulisan Sensus Badak 2004 di bagian punggung.
Tas ransel menempel di punggung anggota pasukan ini. Ranselnya besar dan tinggi, hingga melewati batas kepala ketika dipanggul. Sebuah golok panjang menggantung di pinggang anggota pasukan. Mirip pendekar Banten. Asesoris pasukan ini semakin lengkap dengan sepatu boot menutup betis.
Ini bukan unjuk kekuatan pendukung Akbar Tandjung, yang meminta MA mengabulkan kasasi. Mereka adalah barisan petugas sensus badak Jawa yang digelar Taman Nasional Ujung Kulon. Pasukan ini akan hidup di hutan, paling tidak dalam beberapa hari untuk mencari jejak badak. Bila nasib mujur, mereka bisa bertemu mamalia bercula yang hidup di Ujung Kulon, dan susah ditemui ini.
Tradisi tahunan kali ini digelar Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU). Unit dari Taman Nasional Ujung Kulon ini mempunyai tugas khusus mengurusi badak Jawa. Unit ini terdiri dari anggota masyarakat, lembaga nirlaba dan perguruan tinggi yang peduli badak. Organisasi pemerhati lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, melalui cabang proyeknya di Ujung Kulon juga terlibat dalam kegiatan ini.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, petugas sensus dibagi dalam unit-unit kecil. Jumlah anggota di setiap unit bervariasi, antara 4-8 orang. Anggota unit terdiri dari anggota RMPU, polisi hutan, dan porter yang membawa perbekalan. Setiap unit mempunyai kepala unit, yang bertanggung jawab atas keselamatan anggota unit dan data-data sensus yang diperoleh di lapangan.
Pada setiap unit dibekali satu alat penentu posisi Global Positioning System (GPS), kompas, peta, buku panduan sensus dan thally sheet, untuk mencatat data sensus. Lembar laporan ini berisi rincian data badak yang ditemukan, seperti ukuran jejak badak, vegetasi (tumbuhan yang dimakan badak) dan temuan lain, seperti bekas goresan di batang pohon, atau pola patahan pada tumbuhan yang dimakan badak. Sementara, buku panduan berisi rincian tugas masing-masing petugas, serta ciri-ciri jejak badak untuk menentukan umur jejak, dan cara mengukur jejak badak.
Setiap unit menempuh medan kerja yang disebut transek. Ini semacam jalur yang harus ditempuh selama sensus. Sensus badak Ujung Kulon menggunakan 15 transek permanen, yang membelah semenanjung Ujung Kulon dari utara ke selatan. Kelima belas transek ini berjajar berurutan, dari timur hingga bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Setiap transek dipisahkan jarak selebar 2 kilometer.
Menurut Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Awriya Ibrahim, sejak lima tahun terakhir, sensus dengan 15 transek permanen ini menjadi metode paten sensus badak Jawa di Ujung Kulon. "Kebetulan metode ini paling murah, dan hasilnya bisa diperoleh dalam waktu singkat," kata Awriya.
Pada peta, transek ini membentuk garis lurus dari pantai utara ke pantai selatan Ujung Kulon. Padahal, daratan di Taman Nasional Ujung Kulon, yang luasnya sekitar 76.214 hektar dari luas keseluruhan taman sebesar 120.552 hektar, mempunyai beragam bentuk fisik, seperti dataran tinggi atau rawa-rawa.
Oleh karena itu, menurut Project Officer WWF Ujung Kulon Ridwan Setiawan, setiap transek mempunyai karakteristik berbeda. "Ada transek yang panjangnya hanya 200 meter. Tapi medannya berupa rawa setinggi dada," kata staf WWF yang biasa dipanggil Iwan Podol ini. Kondisi alam yang beragam ini mempengaruhi waktu tempuh untuk menyelesaikan transek.
Untuk urusan sensus badak, Iwan adalah seorang tenaga lapangan yang berpengalaman. Menurut dia, ada tiga jalur berat dari kelima belas transek ini. Medan berat itu berada di transek 9, 10 dan 11. Butuh waktu sekitar lima sampai delapan hari untuk menempuh masing-masing transek ini. Masalahnya, transek-transek ini melewati rawa-rawa dan sungai. Tiga jalur ini juga melewati kebun rotan yang luas.
Selain rawa, rotan menjadi cerita menjengkelkan bagi petugas sensus yang masuk hutan. Rotan punya karakteristik merambat. Biasanya rotan membentuk dinding yang rapat. Pada setiap bagian pohonnya tumbuh duri, bahkan pada ujung daun sekalipun. Duri inilah yang sering menjebak dan menghambat perjalanan. "Rotan bikin stres," keluh Iwan.
Soal rotan ini, Budiyanto, seorang Jagawana, punya cerita lain. Suatu ketika, Budiyanto membawa unitnya melewati hutan rotan yang padat. Begitu padatnya, hingga unit Budiyanto butuh waktu lama membabat rotan untuk membuka jalan. Unit Budiyanto kewalahan. "Dalam sehari, kami hanya menempuh 200 meter," kata Budiyanto.
Di Ujung Kulon, cerita menembus hutan sama menariknya dengan pengalaman bertemu badak. Asep, seorang aktifis lembaga swadaya Pemuda Pecinta Alam (Papila) punya cerita. Sebenarnya, Asep sudah terlibat sensus badak sejak tahun 1986. Kebetulan, Papila menjadi salah satu langganan peserta sensus. Namun, baru pada sensus tahun 1990 Asep bisa bertemu badak secara langsung. "Pertama saya bertemu badak di sungai. Yang kedua, saya menemukan badak mati," cerita Asep bangga.
Bertemu badak seperti sebuah momen mahal. Karena itu, banyak orang berharap bertemu badak. Uniknya, ketika bertemu badak, yang muncul kemudian adalah cerita-cerita lucu. Dengarkan cerita Asep yang lain.
Suatu ketika, lima rekannya di unit lain bertemu seekor badak. Karena merasa terganggu, badak mengamuk. Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya jalan menyelamatkan diri adalah memanjat pohon. Ini prosedur standar melarikan diri dari kejaran badak. Akhirnya, sebuah pohon pinang menjadi penyelamat. Menahan beban lima orang, pohon pinang sampai melengkung ke bawah. Sementara badak menunggu di bawah. Ketika badak berlalu, kelima orang ini hanya bisa tertawa sambil mengelus dada. "Bayangkan, memanjat pinang dalam keadaan hujan dan bersepatu boot. Kalau tidak dikejar badak, mana bisa," Asep tergelak.
Susahnya mengendus badak ini juga aku alami. Kebetulan kantorku mengirim aku untuk ikut momen langka ini. Perjalanan tiga hari dua malam di hutan hanya menemukan satu jejak badak. Itu pun jejak lama, yang berumur satu bulan lebih.
Kebetulan, aku berada di unit 14. Transek 14 adalah dua transek terakhir yang berada di bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Panjang transek ini kurang lebih 7 kilometer, yang membentang dari Cijengkol menuju Cinogar di pantai utara semenanjung Ujung Kulon.
Di Cijengkol, titik awal transek ini hanya berupa tonggak kayu bercat kuning setinggi 75 centimeter. Menuju Cijengkol harus menempuh perjalanan laut selama 3,5 jam dari Tanjung Lame. Setelah kapal berhenti di Cidaon, perjalanan dilanjutkan melalui darat, menembus hutan selama satu jam.
Sesuai prosedur, sebenarnya panitia harus membersihkan transek sebelum sensus dilakukan. Maksudnya, agar unit tidak kesasar mengikuti jalur yang sudah ditentukan. Saat menempuh transek 14, jalur masih tertutup lebatnya hutan. Tidak terlihat jalan setapak. Akibatnya, jalur baru harus dibuka. Sialnya, GPS tidak berfungsi selama perjalanan. Tinggal kompas menjadi satu-satunya andalan di perjalanan.
Setelah bermalam di hutan Cijengkol, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi sungai Cijengkol, dengan kedalaman air setinggi perut dan berarus deras. Hampir sepanjang jalan, transek ini melewati dataran rendah yang berair, yang merupakan cabang-cabang sungai Cijengkol. Dataran tinggi Telanca cukup menguras tenaga karena lerengnya yang curam. Rotan yang menjebak, dan langkap mendominasi pemandangan sepanjang rute. Setelah melewati dataran tinggi Telanca inilah, jejak badak ditemukan di antara tanaman langkap.
Menurut Iwan Podol, sebenarnya jejak badak sering ditemukan di transek 14 ini. Bahkan, dua tahun lalu, petugas sensus sempat memergoki seekor badak di jalur ini. "Jika jeli, di jalur ini ada tiga kubangan badak," pesan Iwan sebelum masuk hutan. Sayang, sepertinya kali ini nasib sedang tidak mujur.
Satu hal menarik dari sensus kali ini adalah bergabungnya para pensiunan Jagawana dalam barisan petugas sensus. Para pensiunan, yang rata-rata berusia 60 tahun ini bergabung dengan staf baru Taman Nasional Ujung Kulon, yang relatif lebih muda, bahkan baru pertama kali masuk hutan. Panitia Sensus Badak 2004 memang sengaja memasang tendem pensiunan yang berpengalaman dengan staf baru. "Yang berpengalaman harus membimbing yang muda," kata Koordinator Sensus Badak 2004 Mamat Rahmat.
Salah seorang pensiunan yang ikut bergabung adalah Sarija. Di Ujung Kulon, nama Sarija menjadi bagian dari legenda orang-orang yang bergelut dengan badak. Berkembang cerita di Ujung Kulon, Sarija adalah salah seorang petugas Jagawana yang punya kemampuan tidak tercium badak. Karena itu, dengan mudah Sarija bisa bertemu badak.
Sarija hanya tertawa mendengar cerita kedigdayaannya itu. Sarija tidak mengelak, jika di masa tugasnya sebagai Jagawana dulu sering bertemu badak. Namun, menurut Sarija, keberuntungan itu bukan karena hal mistik. "Tapi karena saya suka masuk hutan," ujar kakek berusia 59 tahun ini.
Sarija juga sempat meninggalkan kenang-kenangan kepada badak Ujung Kulon. Seekor badak diberinya nama si Robot. Perilaku badak ini selalu main serobot jika bertemu manusia. Maka lahirlah nama si Robot, dari kata serobot itu. Kalangan pemburu badak mengenal Robot sebagai badak galak, dan paling besar ukurannya. "Beratnya kira-kira 1,5 ton," kata Sarija.
Tiga tahun lalu, setelah mengabdi selama 26 tahun, Sarija pensiun dari Jagawana. Kali ini, Sarija datang sebagai tamu undangan sensus badak. Meski usianya mendekati enam puluh tahun, Sarija mengaku tak gentar menembus hutan bertemu badak. "Saya masih sehat secara fisik," pamer Sarija, yang pernah nyaris kena tembak saat memergoki pencuri badak.
Selain Sarija, Saridan, seorang pensiunan Jagawana yang lain, juga ikut bergabung dalam barisan petugas sensus. Sepertinya halnya Sarija, Saridan juga kenyang pengalaman bertemu badak. Suatu ketika di tahun 1971, Saridan pernah diserang induk badak yang baru saja melahirkan anak. Beruntung, Saridan bisa berlindung pada sebuah pohon.
Pengalaman paling mengesankan bagi Saridan adalah saat mendampingi Dr. Rudolph Schenckel, seorang ilmuwan Swiss yang menjadi utusan WWF International. Sejak tahun 1962 sampai 1970, Schenckel dan istrinya melakukan penelitian badak Jawa di Ujung Kulon. Salah satu warisan Schenckel adalah metode penelitian jejak dengan transek permanen, yang sekarang digunakan Taman Nasional Ujung Kulon.
Saridan bertemu Schenckel pada tahun 1967. Ketika itu, Saridan bertugas di Pulau Peucang, sebuah pulau kecil di bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Menurut Saridan, hampir setiap hari Schenckel mengajak Saridan masuk hutan. "Schenckel tidak hanya meneliti badak. Tapi juga sungai dan kekayaan alam lain," kata Saridan.
Dari Schenckel, selain belajar tentang badak, Saridan juga sedikit belajar gaya hidup orang Barat. Berkat Schenckel, untuk pertama kali Saridan mengenal sepatu saat masuk hutan. Sebelumnya, Saridan hanya bertelanjang kaki. Saridan juga dekat dengan istri Schenckel yang seorang dokter. Pada tahun 1967, berkat istri Schenckel ini, Saridan ketahuan mengidap malaria.
Menjelang hari-hari terakhirnya di Ujung Kulon, Schenckel memberi hadiah sebuah jam tangan kepada Saridan. Belakangan hari, setelah tugasnya sebagai Jagawana berakhir pada tahun 1999, Saridan baru mendengar kabar kematian Schenckel.
Kini, setelah hampir empat tahun pensiun sejak mengabdi dari tahun 1962, Saridan kembali ke hutan. "Semangat saya masih tinggi," ujar kakek 61 tahun ini. Saridan tidak takut bertemu badak. Malah, kakek delapan cucu ini merasa tertantang jika menemukan jejak badak. "Saya akan kejar terus jejaknya," kata Saridan.
Pagi itu, Sarija dan Saridan seperti sesepuh yang turun gelanggang. Saat hujan mereda, mereka menenteng tas, ikut masuk hutan. Petugas sensus yang lebih muda mendekat padanya. Mungkin sekedar meminta nasehat, tentang cara menghindar dari kejaran badak.
(Akhir Februari lalu, Taman Nasional Ujung Kulon menggelar sensus badak. Ini momen langka. Bayangkan menghitung populasi badak Jawa (Rhinocerus sondaicus), yang berada di tengah hutan, dan emoh ketemu manusia. Ini dia oleh-olehnya.)
Pagi yang murung di Tanjung Lame, Ujung Kulon, Jawa Barat. Mendung menggantung di langit sejak malam. Sementara, angin laut utara bertiup pelan dari Teluk Selamat Datang. Tidak membawa semangat. Sepertinya hujan akan turun lagi, seperti hari-hari belakangan di semenanjung paling barat Pulau Jawa ini.
Di tanah lapang seluas lapangan bola di base camp Taman Nasional Ujung Kulon ini, puluhan orang seperti tidak peduli dengan gelagat cuaca buruk itu. Mereka berjajar, membentuk barisan layaknya pasukan. Kebanyakan menggunakan seragam hijau muda, dengan badge bertuliskan POLHUT--kependekan dari Polisi Hutan--yang menempel di dada sebelah kiri. Badge Balai Taman Nasional Ujung Kulon juga menempel di lengan kiri seragam mereka.
Sebagian dari "pasukan" itu menggunakan seragam hitam-hitam. Label Rhino Monitoring and Protecting Unit--nama unit khusus di Taman Nasional Ujung Kulon yang mengurusi badak--menempel di dada sebelah kiri. Tidak sedikit pula anggota pasukan yang memakai kaos putih, dengan tulisan Sensus Badak 2004 di bagian punggung.
Tas ransel menempel di punggung anggota pasukan ini. Ranselnya besar dan tinggi, hingga melewati batas kepala ketika dipanggul. Sebuah golok panjang menggantung di pinggang anggota pasukan. Mirip pendekar Banten. Asesoris pasukan ini semakin lengkap dengan sepatu boot menutup betis.
Ini bukan unjuk kekuatan pendukung Akbar Tandjung, yang meminta MA mengabulkan kasasi. Mereka adalah barisan petugas sensus badak Jawa yang digelar Taman Nasional Ujung Kulon. Pasukan ini akan hidup di hutan, paling tidak dalam beberapa hari untuk mencari jejak badak. Bila nasib mujur, mereka bisa bertemu mamalia bercula yang hidup di Ujung Kulon, dan susah ditemui ini.
Tradisi tahunan kali ini digelar Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU). Unit dari Taman Nasional Ujung Kulon ini mempunyai tugas khusus mengurusi badak Jawa. Unit ini terdiri dari anggota masyarakat, lembaga nirlaba dan perguruan tinggi yang peduli badak. Organisasi pemerhati lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, melalui cabang proyeknya di Ujung Kulon juga terlibat dalam kegiatan ini.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, petugas sensus dibagi dalam unit-unit kecil. Jumlah anggota di setiap unit bervariasi, antara 4-8 orang. Anggota unit terdiri dari anggota RMPU, polisi hutan, dan porter yang membawa perbekalan. Setiap unit mempunyai kepala unit, yang bertanggung jawab atas keselamatan anggota unit dan data-data sensus yang diperoleh di lapangan.
Pada setiap unit dibekali satu alat penentu posisi Global Positioning System (GPS), kompas, peta, buku panduan sensus dan thally sheet, untuk mencatat data sensus. Lembar laporan ini berisi rincian data badak yang ditemukan, seperti ukuran jejak badak, vegetasi (tumbuhan yang dimakan badak) dan temuan lain, seperti bekas goresan di batang pohon, atau pola patahan pada tumbuhan yang dimakan badak. Sementara, buku panduan berisi rincian tugas masing-masing petugas, serta ciri-ciri jejak badak untuk menentukan umur jejak, dan cara mengukur jejak badak.
Setiap unit menempuh medan kerja yang disebut transek. Ini semacam jalur yang harus ditempuh selama sensus. Sensus badak Ujung Kulon menggunakan 15 transek permanen, yang membelah semenanjung Ujung Kulon dari utara ke selatan. Kelima belas transek ini berjajar berurutan, dari timur hingga bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Setiap transek dipisahkan jarak selebar 2 kilometer.
Menurut Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Awriya Ibrahim, sejak lima tahun terakhir, sensus dengan 15 transek permanen ini menjadi metode paten sensus badak Jawa di Ujung Kulon. "Kebetulan metode ini paling murah, dan hasilnya bisa diperoleh dalam waktu singkat," kata Awriya.
Pada peta, transek ini membentuk garis lurus dari pantai utara ke pantai selatan Ujung Kulon. Padahal, daratan di Taman Nasional Ujung Kulon, yang luasnya sekitar 76.214 hektar dari luas keseluruhan taman sebesar 120.552 hektar, mempunyai beragam bentuk fisik, seperti dataran tinggi atau rawa-rawa.
Oleh karena itu, menurut Project Officer WWF Ujung Kulon Ridwan Setiawan, setiap transek mempunyai karakteristik berbeda. "Ada transek yang panjangnya hanya 200 meter. Tapi medannya berupa rawa setinggi dada," kata staf WWF yang biasa dipanggil Iwan Podol ini. Kondisi alam yang beragam ini mempengaruhi waktu tempuh untuk menyelesaikan transek.
Untuk urusan sensus badak, Iwan adalah seorang tenaga lapangan yang berpengalaman. Menurut dia, ada tiga jalur berat dari kelima belas transek ini. Medan berat itu berada di transek 9, 10 dan 11. Butuh waktu sekitar lima sampai delapan hari untuk menempuh masing-masing transek ini. Masalahnya, transek-transek ini melewati rawa-rawa dan sungai. Tiga jalur ini juga melewati kebun rotan yang luas.
Selain rawa, rotan menjadi cerita menjengkelkan bagi petugas sensus yang masuk hutan. Rotan punya karakteristik merambat. Biasanya rotan membentuk dinding yang rapat. Pada setiap bagian pohonnya tumbuh duri, bahkan pada ujung daun sekalipun. Duri inilah yang sering menjebak dan menghambat perjalanan. "Rotan bikin stres," keluh Iwan.
Soal rotan ini, Budiyanto, seorang Jagawana, punya cerita lain. Suatu ketika, Budiyanto membawa unitnya melewati hutan rotan yang padat. Begitu padatnya, hingga unit Budiyanto butuh waktu lama membabat rotan untuk membuka jalan. Unit Budiyanto kewalahan. "Dalam sehari, kami hanya menempuh 200 meter," kata Budiyanto.
Di Ujung Kulon, cerita menembus hutan sama menariknya dengan pengalaman bertemu badak. Asep, seorang aktifis lembaga swadaya Pemuda Pecinta Alam (Papila) punya cerita. Sebenarnya, Asep sudah terlibat sensus badak sejak tahun 1986. Kebetulan, Papila menjadi salah satu langganan peserta sensus. Namun, baru pada sensus tahun 1990 Asep bisa bertemu badak secara langsung. "Pertama saya bertemu badak di sungai. Yang kedua, saya menemukan badak mati," cerita Asep bangga.
Bertemu badak seperti sebuah momen mahal. Karena itu, banyak orang berharap bertemu badak. Uniknya, ketika bertemu badak, yang muncul kemudian adalah cerita-cerita lucu. Dengarkan cerita Asep yang lain.
Suatu ketika, lima rekannya di unit lain bertemu seekor badak. Karena merasa terganggu, badak mengamuk. Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya jalan menyelamatkan diri adalah memanjat pohon. Ini prosedur standar melarikan diri dari kejaran badak. Akhirnya, sebuah pohon pinang menjadi penyelamat. Menahan beban lima orang, pohon pinang sampai melengkung ke bawah. Sementara badak menunggu di bawah. Ketika badak berlalu, kelima orang ini hanya bisa tertawa sambil mengelus dada. "Bayangkan, memanjat pinang dalam keadaan hujan dan bersepatu boot. Kalau tidak dikejar badak, mana bisa," Asep tergelak.
Susahnya mengendus badak ini juga aku alami. Kebetulan kantorku mengirim aku untuk ikut momen langka ini. Perjalanan tiga hari dua malam di hutan hanya menemukan satu jejak badak. Itu pun jejak lama, yang berumur satu bulan lebih.
Kebetulan, aku berada di unit 14. Transek 14 adalah dua transek terakhir yang berada di bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Panjang transek ini kurang lebih 7 kilometer, yang membentang dari Cijengkol menuju Cinogar di pantai utara semenanjung Ujung Kulon.
Di Cijengkol, titik awal transek ini hanya berupa tonggak kayu bercat kuning setinggi 75 centimeter. Menuju Cijengkol harus menempuh perjalanan laut selama 3,5 jam dari Tanjung Lame. Setelah kapal berhenti di Cidaon, perjalanan dilanjutkan melalui darat, menembus hutan selama satu jam.
Sesuai prosedur, sebenarnya panitia harus membersihkan transek sebelum sensus dilakukan. Maksudnya, agar unit tidak kesasar mengikuti jalur yang sudah ditentukan. Saat menempuh transek 14, jalur masih tertutup lebatnya hutan. Tidak terlihat jalan setapak. Akibatnya, jalur baru harus dibuka. Sialnya, GPS tidak berfungsi selama perjalanan. Tinggal kompas menjadi satu-satunya andalan di perjalanan.
Setelah bermalam di hutan Cijengkol, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi sungai Cijengkol, dengan kedalaman air setinggi perut dan berarus deras. Hampir sepanjang jalan, transek ini melewati dataran rendah yang berair, yang merupakan cabang-cabang sungai Cijengkol. Dataran tinggi Telanca cukup menguras tenaga karena lerengnya yang curam. Rotan yang menjebak, dan langkap mendominasi pemandangan sepanjang rute. Setelah melewati dataran tinggi Telanca inilah, jejak badak ditemukan di antara tanaman langkap.
Menurut Iwan Podol, sebenarnya jejak badak sering ditemukan di transek 14 ini. Bahkan, dua tahun lalu, petugas sensus sempat memergoki seekor badak di jalur ini. "Jika jeli, di jalur ini ada tiga kubangan badak," pesan Iwan sebelum masuk hutan. Sayang, sepertinya kali ini nasib sedang tidak mujur.
Satu hal menarik dari sensus kali ini adalah bergabungnya para pensiunan Jagawana dalam barisan petugas sensus. Para pensiunan, yang rata-rata berusia 60 tahun ini bergabung dengan staf baru Taman Nasional Ujung Kulon, yang relatif lebih muda, bahkan baru pertama kali masuk hutan. Panitia Sensus Badak 2004 memang sengaja memasang tendem pensiunan yang berpengalaman dengan staf baru. "Yang berpengalaman harus membimbing yang muda," kata Koordinator Sensus Badak 2004 Mamat Rahmat.
Salah seorang pensiunan yang ikut bergabung adalah Sarija. Di Ujung Kulon, nama Sarija menjadi bagian dari legenda orang-orang yang bergelut dengan badak. Berkembang cerita di Ujung Kulon, Sarija adalah salah seorang petugas Jagawana yang punya kemampuan tidak tercium badak. Karena itu, dengan mudah Sarija bisa bertemu badak.
Sarija hanya tertawa mendengar cerita kedigdayaannya itu. Sarija tidak mengelak, jika di masa tugasnya sebagai Jagawana dulu sering bertemu badak. Namun, menurut Sarija, keberuntungan itu bukan karena hal mistik. "Tapi karena saya suka masuk hutan," ujar kakek berusia 59 tahun ini.
Sarija juga sempat meninggalkan kenang-kenangan kepada badak Ujung Kulon. Seekor badak diberinya nama si Robot. Perilaku badak ini selalu main serobot jika bertemu manusia. Maka lahirlah nama si Robot, dari kata serobot itu. Kalangan pemburu badak mengenal Robot sebagai badak galak, dan paling besar ukurannya. "Beratnya kira-kira 1,5 ton," kata Sarija.
Tiga tahun lalu, setelah mengabdi selama 26 tahun, Sarija pensiun dari Jagawana. Kali ini, Sarija datang sebagai tamu undangan sensus badak. Meski usianya mendekati enam puluh tahun, Sarija mengaku tak gentar menembus hutan bertemu badak. "Saya masih sehat secara fisik," pamer Sarija, yang pernah nyaris kena tembak saat memergoki pencuri badak.
Selain Sarija, Saridan, seorang pensiunan Jagawana yang lain, juga ikut bergabung dalam barisan petugas sensus. Sepertinya halnya Sarija, Saridan juga kenyang pengalaman bertemu badak. Suatu ketika di tahun 1971, Saridan pernah diserang induk badak yang baru saja melahirkan anak. Beruntung, Saridan bisa berlindung pada sebuah pohon.
Pengalaman paling mengesankan bagi Saridan adalah saat mendampingi Dr. Rudolph Schenckel, seorang ilmuwan Swiss yang menjadi utusan WWF International. Sejak tahun 1962 sampai 1970, Schenckel dan istrinya melakukan penelitian badak Jawa di Ujung Kulon. Salah satu warisan Schenckel adalah metode penelitian jejak dengan transek permanen, yang sekarang digunakan Taman Nasional Ujung Kulon.
Saridan bertemu Schenckel pada tahun 1967. Ketika itu, Saridan bertugas di Pulau Peucang, sebuah pulau kecil di bagian barat semenanjung Ujung Kulon. Menurut Saridan, hampir setiap hari Schenckel mengajak Saridan masuk hutan. "Schenckel tidak hanya meneliti badak. Tapi juga sungai dan kekayaan alam lain," kata Saridan.
Dari Schenckel, selain belajar tentang badak, Saridan juga sedikit belajar gaya hidup orang Barat. Berkat Schenckel, untuk pertama kali Saridan mengenal sepatu saat masuk hutan. Sebelumnya, Saridan hanya bertelanjang kaki. Saridan juga dekat dengan istri Schenckel yang seorang dokter. Pada tahun 1967, berkat istri Schenckel ini, Saridan ketahuan mengidap malaria.
Menjelang hari-hari terakhirnya di Ujung Kulon, Schenckel memberi hadiah sebuah jam tangan kepada Saridan. Belakangan hari, setelah tugasnya sebagai Jagawana berakhir pada tahun 1999, Saridan baru mendengar kabar kematian Schenckel.
Kini, setelah hampir empat tahun pensiun sejak mengabdi dari tahun 1962, Saridan kembali ke hutan. "Semangat saya masih tinggi," ujar kakek 61 tahun ini. Saridan tidak takut bertemu badak. Malah, kakek delapan cucu ini merasa tertantang jika menemukan jejak badak. "Saya akan kejar terus jejaknya," kata Saridan.
Pagi itu, Sarija dan Saridan seperti sesepuh yang turun gelanggang. Saat hujan mereda, mereka menenteng tas, ikut masuk hutan. Petugas sensus yang lebih muda mendekat padanya. Mungkin sekedar meminta nasehat, tentang cara menghindar dari kejaran badak.
15 April 2004
Rumor
Seorang kawan di kantor bertanya, "Apa yang bisa kau katakan tentang tempat kita?" Kepadanya, aku hanya bisa mengatakan satu hal: rumor.
"Kenapa?" kawanku penasaran.
"Disini, rumor teramat kejam. Menusuk tanpa ampun. Menghujam tanpa belas kasihan. Tragisnya, itu datang dari orang-orang yang berada di dekatmu. Mereka mencabik-cabik sambil tertawa. Dan tak lupa mereka berkata, 'Aku kawanmu!' Uh! Mereka menusukkan pisau ke ulu hati dengan keriangan. Keriangan memang kredo mereka. Karena itu, mereka tak pernah peduli dengan sakitmu."
"Tapi kau tertawa?"
"Tidak. Aku hanya tidak pandai mengungkapkan rasa."
Seorang kawan di kantor bertanya, "Apa yang bisa kau katakan tentang tempat kita?" Kepadanya, aku hanya bisa mengatakan satu hal: rumor.
"Kenapa?" kawanku penasaran.
"Disini, rumor teramat kejam. Menusuk tanpa ampun. Menghujam tanpa belas kasihan. Tragisnya, itu datang dari orang-orang yang berada di dekatmu. Mereka mencabik-cabik sambil tertawa. Dan tak lupa mereka berkata, 'Aku kawanmu!' Uh! Mereka menusukkan pisau ke ulu hati dengan keriangan. Keriangan memang kredo mereka. Karena itu, mereka tak pernah peduli dengan sakitmu."
"Tapi kau tertawa?"
"Tidak. Aku hanya tidak pandai mengungkapkan rasa."
25 March 2004
Partai Djarum
Awal tahun lalu, banyak orang pandai meramal hiruk pikuk menjelang Pemilu. Dan sekarang, sejak tanggal 11 Maret lalu, hiruk pikuk itu benar-benar nyata. Di jalanan, televisi, koran, tembok dan pepohonan di pinggir jalan, semua bicara Pemilu. Lambang partai dan gambar-gambar orang tak aku kenal terpajang di sembarang tempat. Juga janji-janji mereka. Seperti sampah.
Aku melewatkan halaman Pemilu di koranku. Juga ulasan pengamat di televisi. Kadang aku bertanya, apakah semua orang membaca berhalaman koran untuk mengunyah serapah itu. Apakah orang setia menunggui tayangan macam ini. Tapi aku yakin, banyak orang peduli dengan semua ini. Jadi, aku pikir, ya sudah, biar semua ini menjadi urusan yang peduli itu. Sementara aku, seperti melewati bulan-bulan paling memuakkan.
Lalu, muncullah sebuah iklan simpatik di televisi. Tentang sebuah persahatan sejati, "karya" Djarum. Ini perusahaan rokok terkenal. Tapi aku tidak tahu siapa bikin iklannya. Pasti iklan ini populer, karena panjangnya enam menit, menghabiskan jatah durasi iklan saat jeda tayangan.
Ini iklan melankolis, tentang persahatan dua sahabat. Dengan sebuah kesan happy ending tentunya. Mungkin, jika Tarantino atau Innaritu yang jadi sutradara, iklan linier ini bisa berantakan. Meskipun bukan berarti kehilangan nafas pesan ademnya.
Coba ikuti jalan hidup dua orang Bali dalam iklan ini. Dari kecil, dewasa, percikan kecil sebab perempuan, happy ending, dan ombak nostalgia. Ada sedikit bahan untuk tersenyum. Sebuah oase di gurun janji Pemilu yang memuakkan.
Sayang, Djarum bukan sebuah partai yang sedang pamer janji. Jika saja, Djarum sebuah partai, sepertinya aku tidak perlu bingung menentukan pilihan pada Pemilu nanti. Kalaupun aku ikut andil.
Awal tahun lalu, banyak orang pandai meramal hiruk pikuk menjelang Pemilu. Dan sekarang, sejak tanggal 11 Maret lalu, hiruk pikuk itu benar-benar nyata. Di jalanan, televisi, koran, tembok dan pepohonan di pinggir jalan, semua bicara Pemilu. Lambang partai dan gambar-gambar orang tak aku kenal terpajang di sembarang tempat. Juga janji-janji mereka. Seperti sampah.
Aku melewatkan halaman Pemilu di koranku. Juga ulasan pengamat di televisi. Kadang aku bertanya, apakah semua orang membaca berhalaman koran untuk mengunyah serapah itu. Apakah orang setia menunggui tayangan macam ini. Tapi aku yakin, banyak orang peduli dengan semua ini. Jadi, aku pikir, ya sudah, biar semua ini menjadi urusan yang peduli itu. Sementara aku, seperti melewati bulan-bulan paling memuakkan.
Lalu, muncullah sebuah iklan simpatik di televisi. Tentang sebuah persahatan sejati, "karya" Djarum. Ini perusahaan rokok terkenal. Tapi aku tidak tahu siapa bikin iklannya. Pasti iklan ini populer, karena panjangnya enam menit, menghabiskan jatah durasi iklan saat jeda tayangan.
Ini iklan melankolis, tentang persahatan dua sahabat. Dengan sebuah kesan happy ending tentunya. Mungkin, jika Tarantino atau Innaritu yang jadi sutradara, iklan linier ini bisa berantakan. Meskipun bukan berarti kehilangan nafas pesan ademnya.
Coba ikuti jalan hidup dua orang Bali dalam iklan ini. Dari kecil, dewasa, percikan kecil sebab perempuan, happy ending, dan ombak nostalgia. Ada sedikit bahan untuk tersenyum. Sebuah oase di gurun janji Pemilu yang memuakkan.
Sayang, Djarum bukan sebuah partai yang sedang pamer janji. Jika saja, Djarum sebuah partai, sepertinya aku tidak perlu bingung menentukan pilihan pada Pemilu nanti. Kalaupun aku ikut andil.
10 February 2004
Balkon dan Pohon Jambu di Depan Rumahku
Rumahku bukanlah rumahku. Aku menempatinya dua tahun lalu, bersama beberapa teman yang sudah lebih dahulu menempatinya dua atau tiga tahun lebih awal. Ini sebuah rumah kontrakan, berlantai dua, dimana aku harus menyisihkan sebagian dari gaji bulananku, untuk membayar sewa salah satu kamar di rumah itu.
Rumahku bukalah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Tahukah kau, satu hal yang menarik dari rumahku, yang membuat aku betah, dan enggan berpindah tempat darinya. Jawabnya adalah balkon rumahku.
Di balkon rumahku itu, aku sering diam merenung. Sekadar menikmati angin yang menyingkirkan hawa panasku, atau menikmati bintang yang kadang mengintip dari langit. Kadang ada kopi manis menemani, ketika ada buku di tangan. Ada damai yang membuat aku merasa harus melewati balkon ini setiap hari. Sekadar duduk di kursi bambunya yang sudah lapuk karena hujan, barang satu menit saja.
Kadang, balkon itu menjadi tempat berkumpul kami, para penghuni rumah, yang kebanyakan laki-laki. Sekadar berbasa-basi, bercerita tentang pekerjaan, atau menggoda perempuan-perempuan yang melintas di bawah. Dan yang tidak pernah ketinggalan, cerita tentang ibu pemilik rumah yang pelit, dan sangat sensitif dalam urusan uang. Ibuku seperti sebuah cerita wajib saat kami berkumpul di balkon.
Rumahku bukanlah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Rumah dengan balkon yang mengikatku, yang membuatku bertahan menikmati meriahnya sore di Karet.
Dulu, dari balkon itu, aku sering menikmati pohon jambu air di depan rumahku. Buahnya rimbun menggoda, karena warna merahnya yang menyala. Setiap tiga bulan sekali, pohon jambu itu berbuah. Buahnya menarik perhatian orang yang lewat di bawahnya.
Kala siang, anak-anak sekolah sering melemparkan batu, sandal, atau tasnya ke pohon jambu itu. Mereka berharap ada buah jambu runtuh karena lemparan itu. Ketika jambu berjatuhan, mereka berteriak kegirangan.
Kala hujan datang, pohon jambu itu menjadi wisata keramaian. Sambil bermain air hujan, anak-anak meloncat, menggapai buah jambu. Jika gapaiannya tak mengena, mereka tertawa. Jika buah jambu runtuh, mereka bergembira. Duh, meriahnya.
Kala pagi, aku juga sering menyaksikan burung-burung beterbangan di sekitar pohon jambu itu. Mereka berkejaran, hinggap di dahan, mematuki kembang jambu dan beterbangan kemudian. Kadang pula, aku melihat seekor kupu-kupu hitam, yang bertengger angkuh di ujung daun. Sementara, kupu-kupu yang lain bermesraan di ujung daun yang lain. Ada kehidupan di pohon jambu itu.
Kadang, pohon jambu itu menjadi langganan berlabuh layang-layang putus. Saat musim layang-layang, benang-benang berseliweran menggantung di pohon. Bangkai bingkai layang-layang tertinggal di pucuk pohon. Itulah yang membuat pohon itu semakin akrab dengan anak-anak kampung.
Tapi, tiga hari lalu, aku terkejut seusai bangun tidur. Rerimbunan pohon jambu tiba-tiba lenyap dari balkonku. Terang benderang, tak ada hijau daun dan merah buah jambu. Berganti pemandangan apartemen Da Vinci yang pamer aristokrasi itu.
Lalu, aku masih duduk di kursi bambu di balkonku. Memandang Da Vinci yang kelabu. Menikmati angin yang mengusir hawa panasku. Tak ada buah jambu dan kupu-kupu. Tidak lagi.
Tapi anak-anak kampung masih berteriak di jalanan, seolah tak peduli dengan hilangnya pohon jambu di depan rumahku. Padahal, mereka tidak bisa lagi menikmati merah jambunya. Mereka tak lagi menyodok layang-layang di dahannya. Sepertinya hanya aku yang kehilangan pohon jambu. Sendirian.
Rumahku bukanlah rumahku. Aku menempatinya dua tahun lalu, bersama beberapa teman yang sudah lebih dahulu menempatinya dua atau tiga tahun lebih awal. Ini sebuah rumah kontrakan, berlantai dua, dimana aku harus menyisihkan sebagian dari gaji bulananku, untuk membayar sewa salah satu kamar di rumah itu.
Rumahku bukalah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Tahukah kau, satu hal yang menarik dari rumahku, yang membuat aku betah, dan enggan berpindah tempat darinya. Jawabnya adalah balkon rumahku.
Di balkon rumahku itu, aku sering diam merenung. Sekadar menikmati angin yang menyingkirkan hawa panasku, atau menikmati bintang yang kadang mengintip dari langit. Kadang ada kopi manis menemani, ketika ada buku di tangan. Ada damai yang membuat aku merasa harus melewati balkon ini setiap hari. Sekadar duduk di kursi bambunya yang sudah lapuk karena hujan, barang satu menit saja.
Kadang, balkon itu menjadi tempat berkumpul kami, para penghuni rumah, yang kebanyakan laki-laki. Sekadar berbasa-basi, bercerita tentang pekerjaan, atau menggoda perempuan-perempuan yang melintas di bawah. Dan yang tidak pernah ketinggalan, cerita tentang ibu pemilik rumah yang pelit, dan sangat sensitif dalam urusan uang. Ibuku seperti sebuah cerita wajib saat kami berkumpul di balkon.
Rumahku bukanlah rumahku. Tapi aku ingin menyebutnya rumahku. Rumah dengan balkon yang mengikatku, yang membuatku bertahan menikmati meriahnya sore di Karet.
Dulu, dari balkon itu, aku sering menikmati pohon jambu air di depan rumahku. Buahnya rimbun menggoda, karena warna merahnya yang menyala. Setiap tiga bulan sekali, pohon jambu itu berbuah. Buahnya menarik perhatian orang yang lewat di bawahnya.
Kala siang, anak-anak sekolah sering melemparkan batu, sandal, atau tasnya ke pohon jambu itu. Mereka berharap ada buah jambu runtuh karena lemparan itu. Ketika jambu berjatuhan, mereka berteriak kegirangan.
Kala hujan datang, pohon jambu itu menjadi wisata keramaian. Sambil bermain air hujan, anak-anak meloncat, menggapai buah jambu. Jika gapaiannya tak mengena, mereka tertawa. Jika buah jambu runtuh, mereka bergembira. Duh, meriahnya.
Kala pagi, aku juga sering menyaksikan burung-burung beterbangan di sekitar pohon jambu itu. Mereka berkejaran, hinggap di dahan, mematuki kembang jambu dan beterbangan kemudian. Kadang pula, aku melihat seekor kupu-kupu hitam, yang bertengger angkuh di ujung daun. Sementara, kupu-kupu yang lain bermesraan di ujung daun yang lain. Ada kehidupan di pohon jambu itu.
Kadang, pohon jambu itu menjadi langganan berlabuh layang-layang putus. Saat musim layang-layang, benang-benang berseliweran menggantung di pohon. Bangkai bingkai layang-layang tertinggal di pucuk pohon. Itulah yang membuat pohon itu semakin akrab dengan anak-anak kampung.
Tapi, tiga hari lalu, aku terkejut seusai bangun tidur. Rerimbunan pohon jambu tiba-tiba lenyap dari balkonku. Terang benderang, tak ada hijau daun dan merah buah jambu. Berganti pemandangan apartemen Da Vinci yang pamer aristokrasi itu.
Lalu, aku masih duduk di kursi bambu di balkonku. Memandang Da Vinci yang kelabu. Menikmati angin yang mengusir hawa panasku. Tak ada buah jambu dan kupu-kupu. Tidak lagi.
Tapi anak-anak kampung masih berteriak di jalanan, seolah tak peduli dengan hilangnya pohon jambu di depan rumahku. Padahal, mereka tidak bisa lagi menikmati merah jambunya. Mereka tak lagi menyodok layang-layang di dahannya. Sepertinya hanya aku yang kehilangan pohon jambu. Sendirian.
26 January 2004
01 January 2004
Tahun Baru
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Hmm .. apa yang aku pikirkan? Tidak ada. Seperti bangun tidur di hari-hari biasa. Semalam, seperti biasa, keramaian ada dimana-mana. Aku tidak menikmatinya. Tak ada guna, aku pikir. Maka, semua tawaran menikmati tahun baru aku tolak. Pengin nyepi, aku bilang kepada mereka. Jadi maaf untuk semua.
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Apa yang aku pikirkan? Tentang rumah. Dulu, aku biasa mengajak ibu menunggu pergantian tahun. Ada kembang api, ada dangdut, kadang ada berantemnya juga. Aku gandeng dia, berjalan di keramaian sepanjang jalan. Sekarang, dia sudah menjelang tua. Tapi aku yakin dia mengenang malam-malam itu. Seperti biasa dia mengingat aku.
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Apa yang aku pikirkan? Tidak ada. Seharusnya ada doa. Tapi aku tidak akan berbagi denganmu. Aku menyimpannya. Tapi sebaiknya kita sepakat, tentang satu doa, semoga semuanya lebih baik dari kemarin.
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Hmm .. apa yang aku pikirkan? Tidak ada. Seperti bangun tidur di hari-hari biasa. Semalam, seperti biasa, keramaian ada dimana-mana. Aku tidak menikmatinya. Tak ada guna, aku pikir. Maka, semua tawaran menikmati tahun baru aku tolak. Pengin nyepi, aku bilang kepada mereka. Jadi maaf untuk semua.
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Apa yang aku pikirkan? Tentang rumah. Dulu, aku biasa mengajak ibu menunggu pergantian tahun. Ada kembang api, ada dangdut, kadang ada berantemnya juga. Aku gandeng dia, berjalan di keramaian sepanjang jalan. Sekarang, dia sudah menjelang tua. Tapi aku yakin dia mengenang malam-malam itu. Seperti biasa dia mengingat aku.
Bangun tidur di hari pertama tahun baru. Apa yang aku pikirkan? Tidak ada. Seharusnya ada doa. Tapi aku tidak akan berbagi denganmu. Aku menyimpannya. Tapi sebaiknya kita sepakat, tentang satu doa, semoga semuanya lebih baik dari kemarin.
30 December 2003
Ersa
Aku mengenalnya di Bali, entah kapan aku lupa, dalam sebuah liputan ecek-ecek-- ini sebutan untuk undangan liputan yang tidak jelas di kantor kami. Kami menginap di sebuah cottage di Nusa Dua dan nongkrong di lobby Sheraton Hotel. Di pelataran parkir hotel, kami juga menikmati tarian dan nyanyian dari beberapa daerah di Indonesia.
Kami bicara soal pekerjaan, gosip perpindahan orang media di Jakarta, dan satu lagi, soal brengseknya organizer yang mengundang kami ke Bali. Maklum, ketika itu, organizer yang mengundang kami kurang profesional. Banyak compang-camping dan kepentingan bisnis yang dipaksakan ke kami. Tapi kami, juga beberapa rekan lain cuek bebek. Tidak ambil peduli. Yang penting jalan-jalan, ah. Begitu kami pikir.
Setelah itu lupa, dan tidak bertemu.
Juni 2003, aku berada di Aceh, untuk sebuah liputan. Sekitar satu minggu di sana, aku mendengar namanya menjadi perbincangan di Aceh. Bersama dua orang rekan, dan dua orang sipil lain, dia ditangkap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Banyak informasi simpang siur soal penyanderaan ini. Hingga enam bulan kemudian, hingga Senin kemarin, ketika kabar tentang sebuah kontak senjata, antara Marinir dan GAM di Simpang Ulim, Aceh Timur, menewaskannya.
Tidak ada yang pasti selama enam bulan itu, selain kenyataan bahwa dia sudah mati. Dua peluru menembuh tubuhnya. Satu di leher, satu lagi di dada.
Aku tidak menunggu dia datang di bandara, ketika jenazahnya dikirim dari Lhokseumawe, setelah berhenti sebentar di Medan. Tapi, kami, orang-orang yang pernah mengenal dia berduka. Lewat berita, spanduk yang kami usung, bunga yang kami sebar, juga teriakan kawan-kawan di jalanan ibukota, dan kota-kota lain.
Jadi, kawan Sory Ersa Siregar, aku titip sebuah doa dalam perjalananmu ke surga: semoga damai akrab di bumi. Tidak hanya di Aceh.
Tapi, aku merasakan desir lain. Tentang sebuah kematian yang dekat, lewat orang-orang yang aku kenal. Semoga ini lumrah.
Aku mengenalnya di Bali, entah kapan aku lupa, dalam sebuah liputan ecek-ecek-- ini sebutan untuk undangan liputan yang tidak jelas di kantor kami. Kami menginap di sebuah cottage di Nusa Dua dan nongkrong di lobby Sheraton Hotel. Di pelataran parkir hotel, kami juga menikmati tarian dan nyanyian dari beberapa daerah di Indonesia.
Kami bicara soal pekerjaan, gosip perpindahan orang media di Jakarta, dan satu lagi, soal brengseknya organizer yang mengundang kami ke Bali. Maklum, ketika itu, organizer yang mengundang kami kurang profesional. Banyak compang-camping dan kepentingan bisnis yang dipaksakan ke kami. Tapi kami, juga beberapa rekan lain cuek bebek. Tidak ambil peduli. Yang penting jalan-jalan, ah. Begitu kami pikir.
Setelah itu lupa, dan tidak bertemu.
Juni 2003, aku berada di Aceh, untuk sebuah liputan. Sekitar satu minggu di sana, aku mendengar namanya menjadi perbincangan di Aceh. Bersama dua orang rekan, dan dua orang sipil lain, dia ditangkap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Banyak informasi simpang siur soal penyanderaan ini. Hingga enam bulan kemudian, hingga Senin kemarin, ketika kabar tentang sebuah kontak senjata, antara Marinir dan GAM di Simpang Ulim, Aceh Timur, menewaskannya.
Tidak ada yang pasti selama enam bulan itu, selain kenyataan bahwa dia sudah mati. Dua peluru menembuh tubuhnya. Satu di leher, satu lagi di dada.
Aku tidak menunggu dia datang di bandara, ketika jenazahnya dikirim dari Lhokseumawe, setelah berhenti sebentar di Medan. Tapi, kami, orang-orang yang pernah mengenal dia berduka. Lewat berita, spanduk yang kami usung, bunga yang kami sebar, juga teriakan kawan-kawan di jalanan ibukota, dan kota-kota lain.
Jadi, kawan Sory Ersa Siregar, aku titip sebuah doa dalam perjalananmu ke surga: semoga damai akrab di bumi. Tidak hanya di Aceh.
Tapi, aku merasakan desir lain. Tentang sebuah kematian yang dekat, lewat orang-orang yang aku kenal. Semoga ini lumrah.
Subscribe to:
Posts (Atom)