03 May 2006

Aduhai

Seonggok melambai-lambai. Dua tentakel seperti tangan seperti menyapa. Saya heran. Seonggok ini sebuah nyawa di perut istriku. Berumur 10 minggu. Bakal bayi kami.

Dokter kami, sambil menggoyang pemindai di perut istri saya, menggumam menggoda, "Mana mamanya?" Seonggok itu masih melambai. Dia bagai tahu diajak bicara.

Pulang, saya dan istri masih terkesima. Cerita tak habis di tempat tidur. Terpesona, sebab seonggok melambai-lambai. Bagaimana bisa?

16 March 2006

Prihatin

Saya prihatin terhadap para polisi yang tewas karena kepalanya ditimpuki batu oleh para demonstran-berandalan di Papua, Kamis ini. Tidak ada alasan apapun untuk membenarkan sebuah kekerasan, untuk menuntut sebuah hak yang ditenggelamkan sekalipun. Tidak!

14 February 2006

Yang Siaga di Pintu Air

Jakarta disiram terik matahari pada Rabu siang pekan lalu. Cuaca yang agak berbeda setelah hujan mengguyur Jakarta beberapa hari sebelumnya.

Mimpri Masturi, 54 tahun, membuka bajunya. Bertelanjang dada, dia membuang gerah, berjalan melenggang di pekarangan seluas lapangan bulu tangkis di rumah jaga pintu air Manggarai, Jakarta Selatan. "Mumpung bisa nyantai," kata penanggung jawab pintu air Manggarai ini.

Cuaca cerah seperti hari baik buat Mimpri. Biasanya dia harus waspada terhadap mendung dan hujan. Namun, meski cuaca tenang, Mimpri tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Ia masih menyambung kontak dengan petugas penjaga pintu air di Depok dan Katulampa, Bogor, Jawa Barat. Maka radio tetap menyala dan suara panggilan sering datang lewat radio.

Dia juga masih memantau ketinggian air setiap jam. Ketinggian air ini dicatat pada daftar pencatat harian. Kemudian hasil pantauan ini dilaporkan ke Komando Pengendalian Banjir di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta di kawasan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beginilah keseharian Mimpri.

Mimpri memang bertanggung jawab menjaga ketinggian air Sungai Ciliwung di pintu air Manggarai, tempat Sungai Ciliwung dibelah menjadi dua jalur. Satu jalur melewati Banjir Kanal, satu lagi yang disebut pintu air Ciliwung-Kota melewati kawasan elite seperti Menteng, Gunung Sahari, dan Kota.

Manggarai, kata Mimpri, adalah pintu pertama setelah air mengalir dari Depok. Ketinggian air di pintu air Manggarai bisa digunakan untuk memprediksi terjadinya banjir di kawasan Jakarta. "Karena itu, ketinggian airnya perlu diperhatikan."

Di tempatnya bekerja, sebuah ruangan berukuran 3 x 3 meter di pintu air Manggarai, Mimpri ditemani sebuah pesawat telepon, sebuah handy talkie, dan sebuah radio panggil. Semua barang ini fasilitas kerja dari Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Sebagai hiburan, masih ada pesawat televisi 21 inci. "Ini patungan para penjaga yang bekerja di sini." Sebuah kail pemancing juga terlihat di pojok ruangan. "Buat selingan," katanya.

Mimpri sudah menjaga pintu air Manggarai sejak 1975. Awalnya, dia hanyalah seorang warga Manggarai yang bertetangga dengan pintu air. Lantaran rajin nongkrong di sana, Mimpri mulai tertular pekerjaan para penjaga pintu air. Ia akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

Mulanya Mimpri hanya sekadar membantu membuka pintu air yang masih menggunakan engkol. Lama-kelamaan ia menjadi bagian dari penjaga pintu air. Ia sering diminta berjaga, walau bukan pegawai pintu air. "Akhirnya, saya ditawari menjadi pegawai negeri," ujarnya. Hingga sekarang, pegawai golongan II-C ini menjadi penjaga paling senior di pintu air Manggarai. "Bulan Mei nanti saya pensiun."

Kini Mimpri menempati satu ruangan di rumah jaga pintu air Manggarai. Ruangan berukuran kurang-lebih 50 meter persegi itu dia tempati bersama istrinya, seorang anak, menantu, dan seorang cucu.

Sebenarnya, Mimpri tidak sendiri menunggu pintu air Manggarai. Ia ditemani tiga orang penjaga lain. Satu di antaranya anak Mimpri, yang menjadi pegawai tak tetap di Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Mereka bekerja 24 jam sehari. Sehari masuk, sehari libur. "Fleksibel," kata Mimpri. Namun, kata Mimpri, jam kerja mereka tidak jelas. Kadang semua penjaga harus berkumpul jika cuaca Jakarta buruk.

Sebagai penjaga senior, Mimpri cukup makan asam garam mengurusi pintu air. Pengalaman terburuk terjadi saat banjir besar melanda Jakarta pada 2002. Ketika itu, ketinggian air di pintu air Manggarai sudah mencapai 10,5 meter. Padahal titik aman air di Manggarai hanya 750 sentimeter. "Air sungai sudah luber ke jalan."

Saat itu, banyak warga yang rumahnya terendam banjir mengajukan protes karena pintu air Ciliwung-Kota tidak dibuka. Dilematis memang. Alasannya, jika pintu air ini dibuka, kawasan Menteng dan Istana Negara, yang notabene daerah bebas banjir, bisa terendam air. Lagi pula, kewenangan membuka pintu air tidak sepenuhnya berada di tangan penjaga.

Menurut Mimpri, jika air masih berada pada batas 750 sentimeter, petugas pintu air masih punya wewenang membuka-tutup pintu air. Jika pintu berada pada batas 750-850 sentimeter, wewenang sudah berpindah ke komandan operasional di Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Pada level ketinggian air 850-950 sentimeter, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI memegang wewenang keputusan buka-tutup pintu air. Jika ketinggiannya lebih dari 950 sentimeter, Gubernur DKI Jakarta yang bertanggung jawab. "Inilah yang disebut keadaan siaga I," kata Mimpri.

Ketika itu, ada dua peleton polisi dari satuan Brigade Mobil yang sempat menjaga pintu air Manggarai. Namun, warga masih terus mendesak agar pintu air Ciliwung-Kota dibuka.

I G.K. Suena, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI saat itu, melapor ke Gubernur Sutiyoso untuk meminta izin membuka pintu air. "Ini terpaksa dilakukan, biar warga tidak makin terendam," katanya.

Akhirnya, Gubernur Sutiyoso waktu itu meminta izin Presiden Megawati Soekarnoputri karena ada kemungkinan Istana Negara akan terendam. Setelah Presiden oke, pintu air Ciliwung-Kota pun dibuka. Beberapa kawasan di Menteng terendam air, tapi Istana Negara masih bebas dari genangan air.

Mimpri mengatakan, menjadi penjaga pintu air memang harus sabar karena banyak warga menelepon mau tahu ketinggian air, terutama saat hujan lebat. "Biasanya warga yang tinggal di bantaran kali."

Menurut Kusharyanto, penjaga pintu air yang lain, telepon warga kadang terasa sangat mengganggu. "Rasanya seperti teror," kata petugas asal Purworejo, Jawa Tengah, ini. Bahkan, menurut Kus, kadang ada warga yang mengancam penjaga karena tidak percaya pintu air sudah dibuka untuk mencegah banjir.

Kus mengatakan, idealnya pintu air Manggarai dijaga enam orang penjaga. Tiga orang berjaga bergantian setiap hari. "Karena banyak pekerjaan yang harus ditangani," katanya.

Pekerjaan pertama menerima laporan ketinggian air lewat radio. Kedua, mencatat dan melaporkan ketinggian air ke pos komando banjir. Ketiga, mengoperasikan sarana dan prasarana seperti pintu air, diesel, dan ekskavator (pengeruk). "Belum petugas yang mengurusi wartawan," kata Kus berseloroh.

Namun, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf, jumlah penjaga di pintu air Manggarai sudah memadai. "Kondisi pintu air juga masih bagus karena terawat," kata Wisnu.

Di tengah kesibukannya, Mimpri dan rekan-rekannya masih bisa bersantai melepas penat, bermain bulu tangkis di halaman rumah jaga yang luas.

Koran Tempo, 5 Februari 2006

05 January 2006

Kabar Dari Koran

Ayah Lumpuh Tewas Dibuang

JAKARTA -- Sanusi tak sanggup melawan ketika anaknya, Adek Suryono, dan ipar anaknya, Suginda, meninggalkannya di kolong jembatan layang sentraprimer Pulogebang, Jakarta Timur, pada Selasa (3/1) malam, sekitar pukul 23.30. Umurnya sudah 68 tahun dan ia sedang sakit lumpuh.

Seorang pedagang, Abdul Latif, menemukan Sanusi sudah tak bernyawa kemarin, sekitar pukul 10.00. Tubuhnya tertelungkup tak jauh dari tikarnya. Agaknya ia sedang berusaha mencari pertolongan.

Polisi Sektor Cakung telah menangkap Adek, 37 tahun, dan Suginda, 28 tahun. Adek ditangkap di lokasi kejadian ketika kembali untuk melihat ayahnya karena tetangganya mengabarkan sang ayah telah meninggal.

Kepada wartawan, Adek, warga Bintara RT 3/1, Bekasi, mengaku membuang ayahnya karena sudah tak kuat membiayai dan merawat sang ayah yang sakit berat. Ia juga tak bisa meminta tolong dua saudara kandungnya, yang telah lepas tangan terhadap ayahnya. "Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa," kata bapak tiga anak ini kemarin.

Adek, yang membiayai keluarganya dengan bekerja serabutan, mengungkapkan sempat memasukkan ayahnya ke Rumah Sakit Persahabatan. Tapi, dua hari lalu, ayahnya diambil paksa karena tidak punya uang.

Namun, di luar rumah sakit, masalah lain menunggu. Adek kebingungan di mana akan menempatkan ayahnya. Istrinya, Sri Sunani, tidak mau menerimanya. Selain mereka tak sanggup memberinya makan, kontrakannya hanya berukuran 3 x 4 meter persegi.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Sektor Cakung, Jakarta Timur, Inspektur Satu Sapto Wardoyo, mengatakan bahwa kedua tersangka terjerat pasal tentang membiarkan dan menelantarkan orang sampai mati. "Apalagi ini orang tua sendiri. Ancaman hukumannya maksimal 9 tahun," ujarnya. l ANTON APRIANTO

14 October 2005

Monsieur Pembikin Ketawa

GOSCINNYRIX UDERZORIX VIS COMICA
(Kekuatan untuk membuat ketawa)

Semboyan diatas ada dalam komik Asterix dan Puteri Rahazade (versi Inggrisnya berjudul Asterix and the Magic Carpet atau Astérix chez Rahazade dalam versi Perancis). Biasanya, wajah para pahlawan Galia rekaan Albert Uderzo dan René Goscinny menjadi halaman perkenalan di awal buku. Maka, selain si kecil Asterix dan si gendut Obelix, muncullah wajah pak dukun Panoramix, pak lurah Abraracourcix dan penyanyi sumbang Assurancetourix.

Pada edisi Puteri Rahazade ini, halaman perkenalan itu berganti dengan wajah Uderzo yang berpostur Obelix--lengkap dengan menhir di punggung--dan wajah Goscinny bertubuh Asterix, lengkap dengan topi tanduk bulunya. Dan semboyan itu--yang menurut komik Asterix berasal dari epigram zaman Romawi tentang Terence, seorang Pujangga Latin--mengelilingi gambar Uderzo dan Goscinny yang tersenyum itu. Gambar yang sama juga muncul pada edisi Obelix yang Malang (Asterix and Obelix All at Sea/La Galère d'Obélix, terbit 1996).

Ini mungkin kejahilan tukang gambar Uderzo. Dia seperti pamer diri, jika mereka berdua menyimpan kekuatan membuat orang tertawa. Tapi, bagi Rahartati Bambang Haryo--penerjemah yang ikut andil membuat populer Asterix di Indonesia dengan gaya adaptasinya--kejahilan ini punya arti lain. "Uderzo sangat menghormati Goscinny," kata Rahartati.

Puteri Rahazade memang terbit pada tahun 1987, sepuluh tahun setelah kematian Goscinny pada 2 November 1977. Karena itu, Rahartati menduga, gambar karikatur yang menggantikan wajah Asterix dan Obelix itu merupakan cara Uderzo menghargai sahabatnya.

Terlahir dengan nama asli Alberto, Aleandro Uderzo (dengan koma di belakang Alberto), Uderzo lahir di Normandia, Perancis pada 25 April 1927. Namanya berasal dari sebuah desa bernama Oderzo (biasa disebut Uderzo) di Italia. Orang tua Uderzo, Silvio Uderzo dan Irla Christina Uderzo, memang imigran Italia yang menyeberang ke Perancis pada tahun 1922.

Uderzo lahir dengan "kelebihan", berupa dua jari tambahan di ruas kelingking jarinya. Mungkin kelebihan ini yang membuat Uderzo mahir menggambar Mickey Mouse, pujaannya semasa kecil. (Kelak, jari tambahan ini dioperasi atas permintaan ibunya). Gambar Mickey ini sempat dimuat sebuah jurnal di Paris bernama Le Pétit Parisien. Pada tahun 1940, saat berusia 13 tahun, Uderzo bekerja pada Paris Publishing Society, dimana dia belajar tentang dasar profesinya kelak, seperti desain teks dan gambar.

Meski pandai menggambar, Uderzo kecil bermimpi menjadi tukang mekanik pesawat terbang. Kebetulan Uderzo buta warna. Selain itu, tukang gambar bukan pilihan menarik bagi kedua orang tuanya.

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Uderzo sempat tinggal di Bretagne (Brittany). Bretagne adalah sebuah provinsi tua di bagian barat Perancis. Pada tahun 56 Sebelum Masehi, provinsi ini dikuasai oleh Bangsa Romawi dibawah kekuasaan Julius Caesar. Orang Romawi menyebut daerah ini Armorik, yang berarti distrik berpantai. Konon, bangsa Galia, nenek moyang bangsa Perancis pernah berada di daerah ini.

Saat awal berkolaborasi menciptakan Asterix, Goscinny pasrah bongkokan kepada Uderzo untuk menentukan setting cerita. Akhirnya, Uderzo memilih Brittany sebagai setting cerita dan kehidupan bangsa Galia dalam komik Asterix.

Di Brittany, Uderzo bekerja di pertanian dan membantu bisnis perabotan milik ayahnya. Kegiatan ini sempat membuatnya mandul menggambar. Hingga dia mengikuti sebuah kompetisi gambar strip oleh penerbit Éditions du Chêne, yang kemudian menerbitkan gambar kartun Uderzo berjudul Les aventures de Clopinard (Petualangan Clopinand). Penerbit ini juga sudah menerbitkan kartun Flamberge karya Uderzo setahun sebelumnya.

Pada tahun 1950, Uderzo menggambar beberapa bagian episode dari jagoan Amerika Captain Marvel Jr. untuk majalah Bravo! Kemudian dia bertemu dengan wartawan Belgia, yang memperkenalkannya dengan komikus kondang dari Brusel semacam Victor Hubinon, Eddy Paape and Mitacq, juga penulis Jean-Michel Charlier.

Pada masa-masa ini, Uderzo juga bertemu Goscinny. Goscinny adalah seorang pria berdarah campuran Polandia dan Ukraina yang lama tinggal di Argentina. Dia lahir di Paris pada 14 Agustus 1946. Pria bermuka bulat ini bermimpi menjadi tukang gambar dan pelawak. Goscinny pandai merangkai kata humor, dan dianugrahi senyum dan lirikan mata yang terkesan jahil.

Pada akhir tahun 1951, lahirlah Oumpah-Pah, karya kolaborasi mereka pertama yang berkisah tentang pahlawan Indian yang mampu bergerak secepat angin. (Ide yang mirip muncul juga pada Lucky Luke--cerita koboi yang bisa menembak lebih cepat dari bayanganya sendiri--karya Goscinny bareng komikus Morris dari Belgia yang muncul tahun 1955).

Lalu, pada tahun 1959, majalah Pilote lahir. Disini, Uderzo mengawali serial Petualangan Tanguy, yang teksnya diisi oleh Charlier. Pada tahun yang sama lahirlah Asterix yang diolah kata oleh Goscinny. Gambar Uderzo yang mampu menghidupkan humor cerdas Goscinny, membuat cerita perlawanan bangsa Galia menentang invasi bangsa Romawi ini segera populer di Perancis.

Uderzo dan Goscinny saling bersahabat, dan jahil. Persahabatan itu mereka bawa dalam karya mereka. Uderzo sering menggambar wajah mereka dalam beberapa petualangan Asterix. Dalam seri Asterix di Olympiade (Asterix at the Olympic Games/Astérix aux Jeux Olympiques, 1968), wajah mereka muncul dengan kostum ala Yunani kuno pada sebuah pahatan marmer. Ada sebutan "raja lalim" dan "tiran" di bawah pahatan wajah mereka.

Wajah mereka sering muncul dengan tawa menyeringai seperti dalam Asterix dan Panci Sup Bawang (Asterix and the Cauldron/Astérix et le chaudron, 1969), atau pada seri Perjalanan ke Mesopotamia (Asterix and the Black Gold/L'Odyssée d'Astérix, 1980). Biasanya, Uderzo muncul dengan hidung panjang, sementara Giscinny muncul dengan hidung tomat, plus senyum jahilnya. Namun, kadang mereka juga muncul dengan wajah buruk dan sengsara, seperti saat menggotong tentara mabuk dalam Obelix dan Kawan-kawan (Obelix and Co/Obélix et Compagnie, 1976).

Kejahilan lainnya, Uderzo juga memunculkan gambar tokoh kartun lain ke dalam Asterix. Thomson dan Thompson milik serial Tintin sempat muncul di seri Asterix di Belgia. Adegan perpisahan ala Romeo dan Juliet juga muncul dalam Desa Belah Tengah (Asterix and the Great Divide/Le Grand fossé, 1980).

Uderzo juga menuangkan perasaan dalam simbol gambar. Pada bagian akhir cerita Asterix di Belgia (Asterix in Belgium/Astérix chez les Belges, 1979), muncul gambar kelinci murung yang meninggalkan riuhnya penghuni kampung Galia menikmati celeng panggang--masakan favorit Obelix. Menurut situs resmi Asterix, ini perlambang kesedihan Uderzo atas kematian Goscinny yang tak terduga. Kelinci itu menggambarkan piaraan Gilberte, istri Goscinny.

Biarpun ditinggal Giscinny, Uderzo masih menghidupkan Asterix. Ada sembilan judul terbit tanpa Goscinny, termasuk seri teranyar The Falling Sky--versi BBC The Sky Falls on His Head--yang keluar 14 Oktober ini. Uderzo juga masih menulis nama Goscinny pada halaman depan komik Asterix.

Rahartati Bambang, penerjemah 19 komik Asterix ke dalam Bahasa Indonesia pernah dua kali bertemu Uderzo. Pada pertemuan pertama terjadi di Paris, pada musim semi Juni 1995. Uderzo sempat mengungkapkan kekaguman gaya terjemahan Rahartati yang lincah dan membumi. “Saya tidak menerjemahkan. Saya mengadaptasi,” Rahartati mengoreksi komentar Bapak Asterix ini. “Bravo,” tukas Uderzo.

Rahartati bertemu Uderzo lagi pada tahun 1997. Saat itu, Uderzo sempat berjanji akan menyerahkan penerjemahan Asterix dalam bahasa Indonesia kepadanya. Uderzo juga sempat memberi oleh-oleh coretan gambar Rahartati. Buah tangan Bapak Asterix.

24 August 2005

Undangan

Silakan tengok di sini!

05 August 2005

Perayaan Cheng Ho

Seorang gadis Kenya datang ke Cina. Berasal dari sebuah desa di pantai timur Kenya, gadis bernama Mwamaca Sherif ini sengaja datang ke Cina mencari nenek moyangnya. “Nama marga ibu saya Xie,” katanya.

Sekitar enam abad lalu, serombongan pelaut dari Cina dibawah komando Laksamana Cheng Ho singgah ke Kenya. Ini adalah bagian dari muhibah Cheng Ho melintasi samudra menyambangi 30 negara di benua Asia dan Afrika. Ekspedisi ini membawa sekitar 62 kapal besar dan ratusan kapal kecil lain, yang mengangkut 27 ribu orang berikut porselin, sutra, emas, parfum dan cendera mata lainnya.

Mwamaca mengaku keturunan dari salah satu pelaut dari rombongan ini. “Ketika saya kecil, nenek bercerita tentang nenek moyang kami ini. Saya bangga dan bahagia menjadi seorang keturunan Cina,” katanya. Setelah lama memendam mimpi, akhirnya Mwamaca bisa menjejak dataran Cina atas undangan Gubernur Provinsi Jiangsu, dalam rangka peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho.

Cina menghargai Cheng Ho—atau Zheng He—layaknya seorang pahlawan besar. Dialah pelaut besar yang dianggap menemukan benua, 90 tahun sebelum Christopher Columbus menjamah benua Amerika. Maka, sebuah perayaan besar menjadi kewajaran. Kedatangan Mwamaca hanyalah bagian kecil dari perayaan ini.

Di Shanghai, sebuah pameran maritim besar digelar. Cina seakan menunjukkan diri sebagai negara yang hidup dari perdagangan dalam pameran ini. Banyak perusahaan perkapalan besar terlibat dalam pameran. Pameran menjadi menarik dengan suguhan presentasi video yang interaktif dan model pelabuhan di Asia lengkap dengan kapal-kapal kontainernya.

Saat ini Cina menjadi negara terbesar kelima dalam perdagangan dunia. Cina juga menjadi negara terbesar ketiga dalam industri pembuatan kapal. Konon, Cheng Ho singgah di 30 negara dalam pelayaran enam abad lalu. Sekarang, kapal-kapal kontainer dari Cina sudah singgah di 1.100 pelabuhan di 150 negara.

Tidak hanya Shanghai, Nanjing (Nanking), ibukota pertama kekuasaan Kaisar Ming dimana Cheng Ho hidup, juga menggelar perayaan tak kalah seru. Sebagai jejak awal keberangkatan ekspedisi pada enam abad lalu, Nanjing membelanjakan 400 juta yuan (sekitar Rp 480 miliar) untuk menghidupkan sisa kejayaan Cheng Ho. “Beliau (Cheng Ho) tinggal cukup lama di Nanjing, dan kota ini menyimpan sisa-sisa peninggalan yang berhubungan dengannya,” kata Xing Dingkang dari Badan Pariwisata Nanjing.

Nanjing menata ulang Taman Cheng Ho yang berhubungan dengan rumah besar Cheng Ho. Di bagian lain kota ini juga menyimpan bukti kewibawaan Cheng Ho dan bangsa Ming. Dia berupa makam seorang raja dari Brunei yang meninggal pada tahun 1408, saat melakukan kunjungan balasan atas lawatan armada Cheng Ho.

Selain pameran, pemerintah Cina juga mencetak perangko, koin dan buku khusus untuk menghormati Cheng Ho ini. Sebuah film dokumentasi tentang perjalanan Cheng Ho juga sudah disiapkan.

Peringatan pelayaran Cheng Ho tak hanya ada di Cina. Di Indonesia, pusat kegiatan ada di Semarang. Konon, Wang Jing Hong, orang nomor dua dalam pelayaran Cheng Ho sakit dan harus tinggal di pantai Simongan, Semarang. Wang Jing akhirnya meninggal di tempat ini. Sebuah klenteng bernama Sam Po Kong menjadi saksi kedatangan Cheng Ho.

Sementara, di Singapura, perayaan lebih atraktif dikemas untuk pariwisata. Dewan Pariwisata Singapura bekerja sama dengan International Zheng He Society—sebuah lembaga studi tentang Cheng Ho—merancang paket wisata bernuansa sejarah muhibah Cheng Ho, yang digelar sejak awal Juni hingga September nanti.

Singapura menyiapkan Kampung Cheng Ho. Ini adalah replika dunia yang dikunjungi Cheng Ho selama lawatannya. Sebuah pondok budaya dibangun dengan tampilan pelabuhan dari beberapa negara yang dikunjungi Cheng Ho. Replika pelabuhan dari Cina, Sri Langka, Indonesia, Malaysia, Singapura, Kenya, Iran dan India dibangun disini. Suguhan pertunjukan, makanan dan kerajinan sengaja diciptakan agar terbangun kenangan sejarah antara Cheng Ho dengan pelabuhan yang disinggahinya.

Sebuah pameran kebesaran Cheng Ho juga digelar di Singapura. Pameran ini mengacu kepada buku Gavin Menzies berjudul “1421: The Year China Discovered The World.” Gavin melakukan riset selama 10 tahun dan percaya bangsa Cina telah merambah benua Amerika, 70 tahun sebelum Christopher Columbus menemukan benua ini. Bangsa Cina juga dianggap sudah mengitari bumi, 100 tahun sebelum Ferdinand Magellan dari Portugis melakukannya. Nah, teori, penemuan dan bukti dari buku ini digelar dalam pameran ini.

Konon pula, saat melewati Singapura, Cheng Ho mengunakan batu besar di dekat Labrador Park sebagai petunjuk navigasi. Dalam peta navigasi peninggalan Cheng Ho, batu ini diberi nama Longyamen (Gerbang Gigi Naga). Sayangnya, batu ini dihancurkan Angkatan Laut Inggris pata tahun 1880-an untuk memperlebar jalur menuju Selat Keppel. Sebagai bagian dari peringatan, Singapura akan menghidupkan kembali kenangan ini, dengan membangun kembali simbol Longyamen.

Selain itu, Singapura masih mempunyai rangkaian perayaan. Mereka menggelar pameran maritim, pertunjukan musik dan seminar yang digelar dalam rangka peringatan muhibah ini.

Malaysia, salah satu persinggahan Cheng Ho, juga menggelar perayaan. Sebuah pameran budaya disiapkan di Kuala Lumpur. Warga Cina di kota tua Malaka juga mengelar seminar tentang pelayaran bersejarah ini. Orang Malaka menganggap Cheng Ho ikut membantu rakyat Malaka mengusir bangsa asing. Selain itu, Cheng Ho dianggap juga punya andil memberantas kemiskinan dan membangun kota Malaka. “Meskipun Cheng Ho utusan Kaisar Ming, dia tidak melakukan eksploitasi ekonomi,” kata juru bicara warga Cina Malaka Chen Ruiyan.

Chen menilai perjalanan Cheng Ho tidak punya tujuan mengancam negara lain. “Tujuan perjalanan itu untuk meraih penghargaan dengan damai,” kata Chen. Suara dari Indonesia tak membantah pendapat ini. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto menganggap muhibah Cheng Ho lebih menawarkan teknologi, perdagangan dan budaya. “Selain itu, dia menawarkan persahabatan,” kata Mardiyanto.

Sebuah prasasti yang didirikan Cheng Ho di Changle, Fujian pada tahun 1431 memang menegaskan muhibah ini. Petikannya: “Sang Kaisar, karena mengingat kesetiaan dan ketulusan mereka, telah menitahkan kami, Cheng Ho dan orang-orang yang mengepalai puluhan ribu prajurit dan tentara, untuk menaiki lebih dari seratus kapal besar dan pergi memberikan hadiah kepada mereka itu, dan memaklumkan betapa kekuasaan kaisar mampu membawa kebajikan bagi rakyat yang jauh sekalipun.”

Dan sekarang, rakyat di beberapa belahan dunia merayakan kebajikan itu.

22 June 2005

Surat Edy Can

- Seorang kawan, dan semangat hidupnya. -

Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam atas uluran tangan dan doa serta dorongan yang telah diberikan teman-teman, saudara dan handai taulan. Dengan perasaan haru, kami menerima pertolongan baik materiil dan moril, langsung maupun tidak langsung bagi keberlangsungan hidup putera kami, Pranarya Raputra.

Sejak usia kehamilan lima bulan, bayi yang kami cintai telah divonis dokter menderita penyakit Dandy Walker Syndrome. Penyakit ini disebabkan kelainan kromosom akibat faktor genetik dan kemungkinan kondisi lingkungan yang buruk. Dalam silsilah keluarga kami sendiri tidak ada yang menderita penyakit ini.

Tiga dokter di rumah sakit yang berbeda dan satu psikiater menyarankan untuk menggugurkan atau menghentikan (terminasi) kandungan tersebut. Mereka menyatakan putera kami yang cacat itu tidak layak dipertahankan dari sisi medis. Pertama, bila dipertahankan bayi ini akan membahayakan nyawa si ibu. Kedua, di dunia belum ada penyembuhan untuk penyakit tersebut.

Namun kami bertahan untuk tetap meneruskan kehidupannya dengan segala resiko yang akan dihadapi. Karena kami sendiri tak kuasa membunuh dan menghentikan kehidupan buah cinta tersebut. Kami berpegang teguh dan terus berharap selalu ada jalan bagi putera kami. Apalagi kami sudah menyayanginya dan merasakan kehadirannya.

Adanya kelainan kromosom itu mengakibatkan tidak adanya otak kecil di bagian kepala putera kami. Karena tidak ada, maka fungsi-fungsi otak kecil seperti keseimbangan otomatis tidak bisa dilakukan. Dokter mengatakan kemungkinan bayi kami akan lumpuh untuk selamanya.

Selain itu, ruang otak kecil yang kosong itu pun akan diisi oleh cairan. Lama-kelamaan dikhawatirkan cairan itu akan semakin menekan kulit kepala yang akhirnya menyebabkan hydrocepalus (kepala besar). Syukur sejauh ini diagnosa dokter syaraf menyatakan belum ada tanda-tanda hydrocepalus.

Putera kami juga menderita cacat fisik berupa sumbing yang membelah dari hidung sampai ke mulut. Istilah kedokterannya Labio Palato Genato Skyzis. Cacat ini mengakibatkan saluran pernapasan dan pencernaannya menyatu. Akibatnya setiap kali makan atau minum, dia akan tersedak.

Oleh karena itu sampai umur sepuluh hari, putera kami belum mendapatkan ASI dan hanya mendapatkan asupan makanan dari cairan infus. Dia juga masih menggenakan masker oksigen. Pernah pada hari kelima, suster memberikan ASI namun akibatnya fatal karena justru membuat pernapasannya sempat terhenti. Akhirnya diputuskan sebelum dilakukannya operasi sumbing itu, makan dan minum dipasok dari cairan infus. Operasi sumbing itu sendiri baru bisa dilakukan pada usia dua bulan dan jika kondisi kesehatannya memungkinkan.

Hingga hari ini, bayi kami masih terbaring di Ruang ICU/Perinatologi Lantai empat, RS Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. Kondisinya terakhir dikabarkan mulai membaik walaupun masih belum stabil. Kami masih berjuang agar dia bisa tetap hidup karena kami percaya selalu ada mukjizat dan tangan Tuhan yang bekerja atas dirinya. Kami memohon agar saudara, ibu, bapak, teman dan handai taulan untuk mendoakan putera kami. Amin.

Salam hangat dari kami

Edy Can, Dian Intannia dan Pranarya Raputra

14 June 2005

Kredo

"Jika kata tak lagi berasa, kita berhak membangkang."

29 May 2005

Protes

Nun dari negeri seberang lautan, seorang kawan mengirim pesan. Dia bertanya, mengapa halaman ini begitu kaku, tidak memberi ruang orang memberi komentar atas tulisan. Blaik!

Ini bukan yang pertama. Tapi, aku hanya bisa berkata bahwa ini sebuah halaman pribadi, yang sebenarnya tidak untuk dibaca orang. Tapi, karena kawan, banyak orang tahu dan membaca halaman ini. Dan komentar, membuat halaman tidak bebas menjadi diri sendiri. Inilah halaman tempat tidak mau peduli apa kata orang.

Jadi, maaf ya, ibu!

17 May 2005

Pulang

Ini masa kala penat begitu hebat menyergap. Menyita nalar dan jiwa hingga hampir tak bermartabat. Masa ketika rencana tak seindah alur mimpi. Begitu muram dan buram. Belum tak nyaman yang ikut datang menyerang. Juga malu. Sementara, tidak ada hati dan telinga bijak tersedia. Bahkan dari seorang (yang dianggap) dekat sekalipun. Duhai sunyi!

Sebuah pepatah bijak Cina berkata, jika kau mulai kehilangan arah hidup, kembalilah ke tempat kau berasal. Jadi, mungkin rumah bisa membawa tentram. Menemukan waktu kembali merenung di beranda, atau mendengarkan tetangga kampung akrab menyapa. Juga saat senggang menggandeng tangan ibu, mungkin meletakkan kepala dewasa ini di payudaranya, seperti masa kecil dulu. ("Kau perempuan hebat, yang meletakkan jiwa perempuan di jiwa ini," aku pernah menulis tentang dia suatu ketika)

Hidup seperti memaksa kita kembali ke awal. Masa-masa silam untuk membaca ulang hidup. Tentang aku, kau, kita, mereka dan entah siapa. Tentang keputusan, rencana, harapan, salah, kecewa, mengulang dan selanjutnya. Tentang kemarin, sekarang dan akan datang. Tapi bukan untuk tidak bertahan. "Bukankah kita tidak boleh takut menghadapi hidup," kata seorang kawan.

Jadi, ini waktu lupa Jakarta sementara. Semoga Tuhan juga hadir di sana. (Mengapa Kau mencintaiku dengan cara seperti ini?)

16 May 2005

Musim Ujian

"Oom, nyuwun donga pangestunipun (Oom, mohon doa restunya). Nifa, tanggal 16-18 Mei ujian sekolah. Tanggal 29 Mei-1 Juni ujian nasional. Moga bisa mengerjakan dengan mudah, benar semua, lulus, nilainya bagus." (sms dari Nifa)

"Yang Ti, Yang Kung, Budhe, Pak Dhe, Bulik, Om, nyuwun doa restu (mohon doa restu). Zulfi mulai 16 Mei-10 Juni ujian. Mudah-mudahan sehat dan bisa mengerjakan soal dengan baik." (sms dari Zulfi)

05 May 2005

Konspirasi?

Seorang pemimpin redaksi, seorang pejabat, seorang presiden dan seorang pengusaha kawan presiden.

Suatu malam, sang pemimpin redaksi mengirim kabar kepada awaknya. Isinya tentang tindak pemukulan pejabat terhadap beberapa warga negara asing. Jangan dulu bicara benar atau tidak tentang kabar ini. Tapi, seorang pejabat yang melakukan pemukulan, apalagi terhadap warga sebuah negara yang banyak menanam budi di negeri ini adalah sebuah sensasi.

Dari mana sang pemimpin redaksi mendapat kabar? Mungkin dari perkawanannya dengan bule-bule itu. Maklum, dia cukup akrab untuk sekedar makam malam atau berkirim karangan bunga dengan sang duta besar. Yang jelas, saat mengirim kabar, sang pemimpin redaksi sedang berada di kejauhan lebih dari 300 kilometer di luar Jakarta.

Dari bilik lain, terdengar kabar seorang pengusaha kawan presiden hendak menggantikan pejabat yang main pukul. Maka, muncullah berita di koran, tentang seorang pejabat yang bermain peran melawan Rambo. Tapi apa hubungan pemimpin redaksi dengan presiden? Konon, saat masih menjadi calon presiden, "beliau" ini sempat mampir memberi dukungan sang pemimpin redaksi melawan preman. Foto mereka muncul di koran. Konon lagi, sang pemimpin redaksi menjadi salah satu penasehat presiden.

Hari berikutnya diwarnai bantah-berbantah di koran. Hingga akhirnya sang pejabat mundur, dan sang pengusaha menggantikan jabatan. Konspirasi? Entahlah. Tapi, kata seorang kawan, pergantian ini hanya menunggu waktu. Benar? Entah juga. Terlalu banyak tahu dan tidak tahu kadang sama saja. Sama-sama dibodohi. Siapa bisa dipercaya? Wah!

Lagipula, bukankah sebuah prestasi bagi wartawan, jika sebuah tulisan bisa mempengaruhi hidup orang? Punya jawaban?

02 May 2005

Darsono

Darsono namanya. Kami tinggal satu lantai di rumah kontrakan yang sama. Namanya mengingatkan nama aktor dagelan Mataraman dari Yogya. Dulu aku sering melihat perawakan pelawak tua yang sering jadi bahan banyolan ini di televisi. Seperti orang Yogya umumnya yang lucu, Darsono yang ini juga tak kalah ndagel. Kadang dia mengeluarkan diksi yang sudah jarang aku dengar sejak meninggalkan masa kecil. "Met, kamu punya dosgreb (wadah pensil dan alat tulis zaman SD)?"

Tapi Darsono tidak suka melawak sekarang. Perasaannya sedang gundah. Selama ini dia merasa hidupnya rada berantakan. Tidak tentu arah dan depresi (dia juga seorang tukang mimpi). Hingga suatu ketika, seorang teman mengenalkannya dengan seorang perempuan alim. Setelah tujuh bulan berkenalan, Darsono memantapkan pilihan dan melamar sang pacar. "Aku sudah siap merubah jalan hidup."

Sayang, sang pacar terbelit masa lalu. Dia pernah menerima lamaran pacar dan merencanakan pernikahan. Tapi rencana berantakan karena sang pacar menikah dengan orang lain. Pacar Darsono trauma. Maka Darsono merana dalam ketidakpastian. Wajahnya sering muram menunggu jawaban. Wajah mengangkat beban.

Kadang Darsono menenteng gitar, menyepi di balkon rumah kontrakan. Dia menyanyikan lagu yang sedang menjadi elan perjuangannya. Sebuah lagu lama.

... di bening malam ini,
resah rintik gerimis datang
menghanyutkan sinar rembulan
buram kaca jendela,
seburam waktu yang berlalu
sedang ku masih menunggu
ungkapan rasa dari keinginan baikku
untuk bersama menempuh jalan hidup

Malam kemarin, dia menyanyikan lagu itu lagi. Aku mendekatinya, sekadar memastikan dia tidak sendiri. Aku biarkan dia menyelesaikan satu bait, dan mengisi interlude dengan petikan gitar. Saat nada memberi kesempatan, aku masuk menawarkan suara. Kebetulan aku juga menghafal syair lagu itu. "Suaramu lumayan juga," dia nyengir. Kali ini, kami berbagi beban. Dia menggenjreng gitar, aku menyanyikan lagu.

01 May 2005

Preman

Seorang preman mendatangi ibu penjual soto biasa aku mangkal. "Mingguan, Bu!" kata lelaki tambun bermata juling ini. Si ibu mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari laci gerobak.
Kata ibu, preman biasa mengutip uang harian dan uang mingguan. Dari uang harian, preman menerima seribu rupiah dari setiap pedagang. Dari pedagang ini, preman juga mengutip sepuluh ribu rupiah setiap hari Minggu. "Orangnya gonta-ganti mulu tiap Minggu," kata Ibu.

Di pasar ini, ada lebih dari 50 pedagang yang menggelar dagangan di pinggir jalan. Mereka hanya datang pada hari Minggu. Beberapa dari mereka juga menggelar dagangan setiap hari. Masih ada ratusan pedagang yang mempunyai kios di dalam pasar. Belum penjual makanan yang buka pada malam hari. Dengan modal ongkang-ongkang dan tampang sangar, berapa duit didapat preman saban hari, saban minggu?

Pernah, si preman menuang duit seribuan dari baskom. Dia menghitung uang di depan ibu-ibu, bapak-bapak pedagang yang rela berpanas-panas, berteriak menjual dagangan. "Duit banyak nih." Orang-orang cuma diam, memandang tumpukan uang berpindah ke genggaman tangan preman.

24 April 2005

Di Pasar Mencos

Di antara kawasan segitiga penting Kuningan-Sudirman-Casablanca, terselip sebuah perkampungan bernama Karet. Dulu aku tidak pernah membayangkan sebuah perkampungan di balik rerimbunan gedung tinggi di kawasan ini. Aku tinggal di Karet Belakang (orang kampung menyingkatnya Karbela, mirip nama kota di Irak), salah satu nama jalan bermarga Karet di kawasan ini.

Di dekat tempat tinggalku tersebutlah sebuah pasar bernama Pasar Mencos. Entah dari mana nama itu muncul. Sebab, nama resmi pasar ini Pasar Karet Belakang. Mungkin nama ini muncul dari bentuk pasar yang tidak tepat persegi, sehingga terkesan mencos (bahasa Jawa, artinya miring/tidak lurus).

Di Pasar Mencos, hari Minggu adalah hari istimewa. Hari dimana semua berhak melakukan segala hal berdalih "pasar". Orang bebas berjualan di pinggir jalan, tidak peduli merintang jalan. Sepeda motor dan angkutan bebas berhenti di tengah jalan, memakan jalan yang tidak seberapa lebar. Tidak boleh ada yang menggerutu karena kemacetan di tempat ini. Namanya juga pasar, ini kredonya.

Di hari Minggu kemarin, tidak hanya macet di Pasar Mencos. Seorang ibu dengan tiga anak--satu digendongan, dua masih kecil selalu ribut minta jajanan--berdiri termangu di pinggir jalan. Tatapannya kosong. Ada bekas air mata di pipi legamnya. Tiga tas plastik menggantung di tangannya. Beberapa orang mencoba menenangkannya. Tapi si ibu masih menggerutu.

Di pinggir jalan itu, si ibu bercerita. Saat berdiri menikmati CD bajakan yang tersebar di salah satu tenda, dompet di sakunya raib. Uang Rp 400 ribu-nya hilang entah kemana. Tapi si anak yang paling besar--mungkin masih kelas 1 SD--melihat seorang perempuan merogok saku ibunya. Tapi si anak diam saja. Tinggal si ibu bengong batal bayar CD bajakan.

Di samping ibu itu, aku menikmati semangkuk soto Lamongan. Menyaksikan tatapan kosong si ibu. Tangannya mengusap air mata, tanpa peduli rengekan si anak yang mengganggu merayu ibu membeli jajanan. Mungkin si ibu belum menemukan jawaban untuk suami di rumah. Empat ratus ribu mungkin sangat berharga bagi mereka.

Di depanku, seorang perempuan melongok tumpukan CD bajakan. Sebuah dompet menyembul di saku belakang celana jeansnya, menggoda tangan. Dua orang lelaki di belakangnya. Seperti tersadar, si perempuan meraba dompetnya. Ah, masih ada. Tapi si ibu sudah hilang dari pandangan.

22 April 2005

Tercecer

Ibarat kereta, yang sarat penumpang dan melaju kencang. Aku terpelanting karena desakan penumpang. Aku berlari mengejar. Tapi semakin tertinggal.

Ah, mungkin masih ada kereta yang lain. Biar sekarang aku tetap berjalan.

14 April 2005

Faqr

Seperti bertemu dementor, direnggut nafas sekarat, mengkerut dililit anti semangat. Setiap saat. Padam. Buram. Jumud.

13 April 2005

Dunia Pura-pura

Pada sebuah episode, aku melihatnya begitu memukau. Tertawa renyah, senyum mengembang. Gaya omongnya cerdas, begitu juga saat mengatur alur bicara. Tubuh tambunnya bukan masalah besar untuk tampil menawan. Setidaknya dari apa yang dia omongkan. Menurutku, dia orang pintar. Menurutku pula, aku tidak melihat ada masalah dalam dirinya.

Pada suatu pagi, wajahnya terpampang di televisi. Suaranya bergetar, bercerita tentang keretakan rumah tangganya. Dia bercerita tentang kelainan seks suami, dan harta yang dia anggap susah payah dia kumpulkan. Penderitaan terpendam yang tidak terungkap di wajah dan senyumnya. "Kalau saya terlihat riang, itu semua karena tuntutan pekerjaan," katanya.

Pagi itu, aku mengenalnya sebagai Dewi Hughes.

03 April 2005

Entah

Bukan hanya sekali, tapi ini perasaan apa? Gundah gulana, kecewa, sakit hati, takut atau mata buta? Kau tahu?