08 January 2017

Pelesiran

Belakangan ini, kami sering pelesiran. Dulu, sebelum kami punya mobil, kegiatan pelesir kami sangat terbatas. Alhamdulillah, sejak ada mobil, kami semakin sering pelesir, meski harus kompromi, antara jadwal kerja saya, istri dan jadwal libur anak-anak.

Di Sabtu atau Minggu, kadang saya harus bekerja. Sementara, anak-anak kadang ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Jadi, waktu sehari libur bersama, kadang terasa nikmatnya.

Awal tahun ini, alhamdulillah saya bisa cuti, saat anak-anak libur semester.

Awalnya, kami berencana ke Malang. Namun, setelah berhitung, waktunya terlalu mepet. Jadilah kami pulang kampung ke rumah ibu saya di Sragen, lalu melanjutkan piknik ke Candi Cetho, Karanganyar, sambil menginap semalam di Hotel Sunan, Solo.

Saya belum pernah ke Candi Cetho, sebelumnya. Kali ini, saya harus bawa mobil, mendaki candi di ketinggian sekitar 1490 meter di atas permukaan laut tersebut.

Ada pemandangan luar biasa di ketinggian itu. Ada rasa damai di antara pemandangan sawah dan kebun, yang berjajar rapi di gundukan bukit. Selain berfoto selfie, saya harus rajin menjawab pertanyaan anak-anak tentang sejarah candi.

Seminggu sebelum pulang kampung, kami sempat jalan-jalan ke Bumi Perkemahan Sukamantri di Kabupaten Bogor. Tempat ini dekat rumah kami. Kami juga menikmati pemandangan Bogor dari Gunung Salak.

Sebulan sebelum ke Sukamantri, kami juga sempat menyewa sebuah hotel di Kota Bukit Indah di Purwakarta. Hotel ini berada di kawasan industri, yang berbatasan dengan kawasan yang masih hijau dan sepi dari bising kota. Nyaman berada di sini.

Jadi, alhamdulillah kami bisa pelesiran. Dan semoga bisa berlanjut pelesiran lagi.

09 September 2016

Seribu Tahun

Menjelang maghrib, muazin di masjid menyenandungkan lagu lama. "Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang, apa gunanya."

Saya sering mendengar lagu tersebut, di televisi atau di bus kota saat hari Jumat. Menurut saya, pengamen bus kota juga tahu positioning. Saat hari Jumat, mereka menyanyikan lagu religius. Orang pun memberi uang, karena lagu religius dirasa cocok untuk hari Jumat. Dan memang. Saya sering memberi uang seribu-dua ribu rupiah, jika pengamen menyanyikan lagu religi di bus kota. Lagu Sepohon Kayu itu, salah satu favorit saya.

Saya sebenarnya sudah lama mendengar lagu itu. Lagunya terdengar "sangat Melayu." Saya curiga, lagu ini berasal dari daerah Riau, Jambi atau mungkin Malaysia. Saya mencari tahu, siapa pencipta lagu ini, dan saya menemukan nama Wafiq Azizah di internet. Yang aneh, wikipedia menyebut, Wafiq kelahiran tahun 1987, di Magelang, Jawa Tengah. Rasanya kok terlalu muda Wafiq mengarang lagu itu. Sebab saya sudah lama mendengar lagu itu tahun 90-an.

Saya belum menemukan jawaban pasti, soal pencipta lagu Sepohon Kayu. Yang jelas, Jeffry al Buchori dan beberapa kelompok nasyid pernah menyanyikan lagu itu.

Saya juga sering melantunkan lagu itu. Hingga anak-anak saya mengikutinya. Sampai, anak saya kedua, Haedar, mendengar muazin melantunkan lagu itu, menjelang azan Maghrib.

Lalu Haedar bertanya, "Papa, memang hidup itu sampai seribu tahun, ya?"

Agak terperanjat, lalu saya menjelaskan makna lagu itu. Saya bilang, seribu tahun itu simbol hidup yang panjang, karena hidup manusia tidak akan pernah selama itu, kecuali Nabi Adam. Nah, hidup lama tidak akan ada guna, kalau tidak sembahyang atau salat. Sebab, manusia hidup punya kewajiban beribadah, salah satunya salat.

Saya melihat anak saya manggut-manggut, saat saya menjelaskan itu. Saya berharap Haedar paham apa yang saya katakan, biarpun dia masih kelas dua SD.

19 July 2016

Nongkrong

Haedar, anak saya kedua, pagi ini pamit membeli bubur ayam di danau, di kompleks perumahan saya. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Membawa uang Rp 10 ribu, dia mengayuh sepeda merahnya. Sendiri.

Haedar belum masuk sekolah hari ini. Sekolah menambah libur satu hari, karena ada program buat siswa baru, yang masuk sejak Senin kemarin. Jadi, Haedar dan kakaknya, Haekal, baru masuk Kamis lusa.

Karena saya dan istri harus kerja, Haedar harus pergi makan sendiri bubur kesukaannya. Biasanya, saya menemaninya makan bubur. Kadang di tempat bubur ayam di dekat rumah, kadang di tempat yang sekarang dia tuju sendirian. Jadi, pagi ini saya hanya melihat dia ngacir keluar rumah dengan sepedanya ke danau.

Danau adalah sebutan untuk danau buatan di kompleks perumahan kami. Dia bagian dari lahan hijau yang dibuat pengembang. Saat hari Sabtu dan Minggu, tempat ini penuh pedagang. Saat bulan puasa lebih gila lagi. Keramaian di sekitar danau, bikin jalan kompleks macet, karena orang mencari makanan buka puasa. Saat hari biasa, masih ada beberapa pedagang berjualan, seperti pedagang bubur ayam favorit anak saya.

Pagi ini, saya dan istri saya mampir ke danau sebelum berangkat kerja. Istri saya menghampiri Haedar yang asyik nongkrong sendiri, menikmati bubur ayam.

Saya tidak tahu, Haedar bilang apa ke pedagang bubur. Mungkin karena sudah terbiasa, pedagang sudah hapal pesanan bubur Haedar. Saya melihat si pedagang duduk di sebelah Haedar. Sayang, dia merokok di sebelah anak saya.

Tapi anak saya tampak tidak peduli. Dari balik punggungnya, saya menyaksikan anak saya menatap ke depan, ke arah jauh, sambil mengunyah bubur.

Pagi ini, saya memandangi kepala dan punggung anak saya. Anak tujuh tahun ini terlihat tenang, duduk santai, di lapak bubur ayam. Sendiri. Saya merasa dia berani dan dewasa.

14 June 2016

Cibalung

Haedar, anak saya kedua, menangis, karena Eyang Putrinya batal datang ke Bogor. Padahal, sejak lebaran lalu, dia sudah cerita ke tetangga dan teman-teman, Eyangnya dari Sragen akan menginap di rumah.

Haedar bahkan sudah membuat rencana, mengajak Eyang dan rombongan jalan-jalan di daerah Bogor.

Karena acara batal, saya harus menyiapkan rencana piknik. Jadilah kami camping di Cibalung, Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Saya kira, tempat wisata ini jauh dari Bogor. Ternyata, hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam dari rumah kami di Ciomas. Apalagi jika berangkat pagi dari rumah, dijamin pasti lebih cepat.

Saya beruntung berangkat pagi, karena masih kebagian tenda, yang kami sewa cukup murah, sekitar 600 ribu. Ini adalah harga sewa tenda standar, dengan sebuah tenda dan 4 sleeping bag. Pas, sudah.

Saya sengaja tidak menyewa tenda yang mewah, biar anak-anak merasakan camping beneran. Ini alasan yang terdengar mendidik, untuk menggantikan kata "ngirit."

Saya datang ke tempat ini saat libur akhir pekan panjang. Ternyata, semakin siang, tempat wisata ini semakin ramai. Bahkan, menjelang sore makin banyak tamu datang. Tidak semua tamu menyewa tenda, sebagian menyewa vila yang cukup nyaman, karena luas, dan harga terjangkau.

Hanya saja, makanan menjadi masalah di sini. Tamu banyak, tapi tempat makan kurang memadai. Ada resto, tapi persediaan dan pelayan terbatas. Bisa pesan, tapi terbatas waktu, pada jam-jam tertentu. Itupun lama.

Beruntung, kami mendapat jatah makan pagi, satu paket dengan harga sewa tenda. Untuk makan malam, kami harus memesan dan membayar lagi.

Selain tempat camping, tempat ini menyediakan tempat bermain dan outbound. Anak saya yang kedua, Haedar, suka tantangan. Dia mencoba flying fox, seharga Rp 25 ribu, untuk sekali terbang. Beberapa wahana bermain gratis, juga bernuansa alam terbuka.

Pada malam hari, beberapa tenda menyewa api unggun. Karena saya menyewa tenda standar, saya tidak mendapat fasilitas ini. Jadi, saya menyarankan anak-anak saya, bergabung dengan tenda yang punya fasilitas api unggun. Lumayan, mereka punya kenalan dan cerita, dengan trik gratisan.

Saat pagi, ada wisata jalan ke kampung di sekitar tempat camping. Anak-anak saya senang berjalan di jalan kampung. Lumayan, buat mengenalkan alam desa di sekitar Bogor, yang ternyata masih asri.

Yang tak kalah seru, tentu saja tiket gratis di water park. Anak-anak saya bermain sepanjang pagi, sebab menjelang siang, jalan kembali ke Bogor bakal macet dari arah Sukabumi.

Dan yang pasti, Haedar, anak saya yang kedua, sudah bisa melupakan Eyang Putrinya, yang batal datang ke Bogor.




Mimpi

Saat awal puasa, saya menelpon ibu. Ketika itu sahur pertama. 

Ibu bercerita tentang mimpi bertemu bapak. Kata ibu, bapak memeluk ibu erat di sebuah rumah besar. "Rumahnya besar dan bersih," ibu bilang. 

Saya membayangkan wajah ibu bercerita dipeluk bapak. Seingat saya, saya jarang menemukan mereka berdua beradegan romantis. Mereka orangtua, yang lahir tahun 1930-an dan 1940-an. Romantis, menurut saya, merupakan kata langka bagi mereka, meski 8 anak lahir dari perkawinan mereka.

Jadi, saat mendengar cerita itu, pikiran saya terbelah. Selain baru ngeh orangtua saya tidak romantis, sebagian perasaan saya membayangkan wajah ibu mengulang mimpinya. Saya merasa ada perasaan riang, saat ibu bercerita tentang mimpi bertemu bapak. Apalagi saat adegan bapak memeluk ibu erat.

Sebagian perasaan saya membayangkan tanda-tanda "pulang." 

***

Bapak meninggal pada Juni 2010. Saya sering lupa tanggal persisnya. Dia meninggal setelah beberapa tahun sebelumnya pulang haji. Tak berapa lama, simbah, yang sehari-hari hidup serumah dengan ibu, juga meninggal. Sejak itu, ibu merasa sendiri. 

Nah, mimpi ibu bertemu bapak itu, seperti sebuah tanda rindu bertemu. Dan saya membayangkan ibu "pulang," karena bapak sudah menunggu. Sebab rindu, bapak memeluk ibu. Bayangan rumah besar dan bersih adalah imajinasi tentang surga. Bapak-ibu adalah orangtua yang istiqomah. Gak aneh-aneh. Surga adalah ganjaran bagi jalan pikiran lurus mereka.

Memang, semua ini terdengar seperti pikiran durhaka. Tapi, walau bagaimanapun, ibu saya sudah tua, 66 tahun. Dan setiap nyawa akan "pulang." Tidak hanya ibu saya, saya juga. 

Maaf, ibu.


Waktu

Saya baru saja bergabung dengan grup alumni SMA. Kalau dipikir, sudah 22 tahun saya berpisah dengan teman-teman SMA. Saat bergabung dengan mereka, saya merasa, waktu 22 tahun itu ternyata cepat. Meski ada beberapa kenangan hilang, beberapa cerita masih nyantol di kepala. Tapi, ya itu tadi, waktu 22 tahun terasa cepat berlalu.

Saya mulai berpikir. Ponakan saya yang paling besar sudah menikah, dan punya anak. Padahal, saya menyaksikan dia lahir, kecil, bermain boneka, sekolah, memberi dia hadiah buku, dan kuliah. Saya tidak menyaksikan dia menikah, karena berhalangan datang. Tapi, ya itu tadi, waktu itu terasa begitu cepat. Dulu masih bayi, sekarang sudah menggendong bayi.

Itu juga yang terjadi pada anak pertama saya, Haekal. Dulu masih imut, lucu, sekarang sudah ndut, dan hampir duduk di kelas V SD. Lagi-lagi, saya terkesima, waktu begitu cepat berlalu.

Lalu saya berpikir. Waktu yang begitu cepat berlalu, bagaimana dengan tabungan amal saya. Rasanya, saya belum punya banyak tabungan amal. Banyak kesempatan beramal terlewatkan. Sekarang jadi kecewa. Itulah waktu. Diam-diam menggulung, tidak bakal kembali. Dan sebentar lagi mati.

06 April 2016

Cerita Pagi

Kemarin malam, saya pulang malam, dan menemukan secarik kertas menempel di dinding. Anak saya kedua, Haedar, menulis surat untuk saya. Dia memberitahu, sepedanya rusak. Standar sepedanya masuk roda, sehingga roda macet, tidak bisa jalan.

Istri saya bilang, surat itu sudah ada sejak kemarin. Saya ingat, dua hari sebelumnya saya ke kantor naik sepeda. Saat pulang, saya kehujanan. Sampai rumah, saya tidak sempat menengok ke dinding, meski saya menemukan sepeda anak saya rusak. Esok paginya, saya sempat memperbaiki sepeda Haedar sebelum berangkat kantor.

Tadi pagi, Haedar bikin heboh lagi. Sebelum berangkat ke kantor, dia cerita, kemarin dia main ke kampung sebelah. Dia sempat dikejar anjing, dan masuk selokan. Sandal sebelah yang dia pakai tertinggal. Kata neneknya, Haedar pulang dengan baju basah kuyup.

Istri saya meninggalkan pesan ke bibi, pembantu saya, sebelum berangkat ke kantor. "Bilang ke Dede, kalau main jangan jauh-jauh," kata istri saya. 

Saya hanya diam. Dalam hati saya bilang, anak saya yang satu ini memang punya banyak cerita.

12 November 2015

Bapak

Banyak cerita soal bapak, tetapi cerita dari ibu saat berangkat haji tahun 2008, selalu saya ingat.

Suatu saat di Mekkah, ibu kehilangan bapak. Ibu panik, sebab ini pertama kali bapak ke luar negeri. Ibu mengira bapak tersesat.

Setelah beberapa jam hilang, bapak ditemukan di sekitar Masjidil Haram. Bapak bilang waktu itu, "Saya pergi haji untuk ibadah. Maka saya lupakan anak-istri." Begitu kira-kira ucapan bapak.

Orang bilang, bapak orangnya ikhlas. Tanpa pamrih. Lurus saja. Tak heran, banyak orang melayatnya, saat meninggal Juni 2010.

Saat itu hujan deras. Hujan mendadak berhenti, saat peti jenazah bapak diangkat menuju pemakaman.

Saya menyaksikan itu, dan saya tidak heran. Saya percaya apa kata orang, "Bapakmu itu orangnya ikhlas." Hujan berhenti itu hanya sambutan alam.

Tanah memang basah saat jenazah bapak masuk makam. Saya tidak bersedih saat itu. Saya percaya bapak punya tempat sendiri di alam berbeda. Dan bapak sudah pulang.

Setelah beberapa saat, baru saya rindu kehilangan. Berasa ada, saat tidak ada. Selamat hari bapak.

09 November 2015

Teka-teki

Anak saya yang kedua, Haedar, memang usil. Dia suka menyembunyikan sandal kakaknya--Haekal, atau apalah, ada saja yang dia lakukan.

Suatu ketika, Haedar iseng. Kami sedang salat di sebuah mal di Bogor. Dia menaruh sandal di loker berkunci. Saya anggap ini biasa saja.

Usai salat, dia hanya mengambil sandal saya dan sandal dia sendiri. Sandal kakaknya dia taruh di sebuah loker yang saya tidak tahu.

Setahu saya, Haedar menaruh sandal di loker nomor 11. Masalahnya, kunci loker itu tidak ada. Haedar biasanya menyembunyikan kunci loker di kantongnya, saat iseng seperti ini. Tapi kali ini, tidak. Kuncinya loker 11 entah di mana.

Saya dan kakaknya, Haekal, mulai mengamati loker satu-satu. Ternyata, Haedar menyiapkan sebuah teka-teki.

Di salah satu loker yang terbuka, dia menaruh salah satu kunci. Kunci itu akan membuka salah satu loker. Di dalam loker itu, masih ada kunci loker yang lain. Jika loker itu terbuka, baru di situ kunci loker nomor 11 berada.

Akhirnya, kakaknya, Haekal, menemukan sandalnya di loker nomor 11. Menurut saya, untuk ukuran anak kelas 1 SD seperti Haedar, keisengan kali ini membuat saya sedikit bangga. Bisa juga dia bikin teka-teki.

19 October 2015

Pesan Angus Deaton Juga Pas untuk Indonesia

Kompas Cetak | 19 Oktober 2015

Memberi penghargaan kepada mereka yang beberapa tahun sebelumnya telah memberi kontribusi besar pada aspek kemanusiaan. Demikian wasiat si penemu dinamit Alfred Bernhard Nobel yang wafat tahun 1896 tentang tujuan penggunaan kekayaannya.

Angus Deaton,  ekonom pemegang dua kewarganegaraan, Inggris dan Amerika Serikat, tiba pada konferensi pers di Princeton University, Princeton, New Jersey, AS, 12 Oktober. Deaton memenangi hadiah Nobel Ekonomi 2015 berkat penelitiannya menggunakan data survei rumah tangga, yang memperlihatkan perilaku konsumsi warga miskin dan bagaimana pemerintah dapat membantu mereka.
AFP/JEWEL SAMAD
Angus Deaton, ekonom pemegang dua kewarganegaraan, Inggris dan Amerika Serikat, tiba pada konferensi pers di Princeton University, Princeton, New Jersey, AS, 12 Oktober. Deaton memenangi hadiah Nobel Ekonomi 2015 berkat penelitiannya menggunakan data survei rumah tangga, yang memperlihatkan perilaku konsumsi warga miskin dan bagaimana pemerintah dapat membantu mereka.
Itulah cikal-bakal pemberian hadiah Nobel yang dimulai pada 1901. Kali ini, untuk kategori hadiah Nobel Ekonomi 2015, penghargaan diberikan kepada Profesor Dr Angus Deaton, ekonom berkebangsaan Inggris-Amerika Serikat yang mengajar di Princeton University, New Jersey, AS. Khusus untuk Nobel Ekonomi, penghargaan mulai diberikan pada 1969.

Kali ini, analisis Deaton berjudul "Konsumsi, Kemiskinan, dan Kesejahteraan" menjadi penentu kemenangannya. Di dalam analisis ini, Deaton memodifikasi teori Milton Friedman dan Franco Modigliani (sama-sama peraih Nobel Ekonomi) yang mengatakan, jika pendapatan turun, konsumsi otomatis menurun.

Ini memunculkan istilah "Paradoks Deaton". Deaton berkata, jika yang digunakan data makro atau data-data nasional dan diambil nilai rata-rata, benar bahwa pendapatan yang menurun akan menurunkan konsumsi. Akan tetapi, jika dilihat lebih mendalam, konsumsi tidak otomatis menurun jika pendapatan menurun. Mengapa? Ada warga yang terpaksa meminjam jika konsumsinya terganggu karena penurunan pendapatan.

Bagaimana mengatasi paradoks ini? Deaton bersama ekonom dari Universitas Oxford, John Muelbauer, menciptakan "Almost Ideal Demand System" (Sistem Permintaan yang Hampir Ideal). Teori ini menekankan pentingnya pemetaan permintaan dengan menelisik lebih detail efek penurunan pendapatan terhadap konsumsi.

Deaton dan Muelbauer ingin penelaahan berdasarkan survei saksama. "Dia selalu berpikir tentang upaya memotret dunia nyata yang kompleks ini," kata ekonom Janet MCurrie, koleganya di Princeton.

Sangat layak

Tidak ada yang meragukan kelayakan Deaton sebagai penerima Nobel tahun ini. "Angus Deaton meraih Nobel karena membawa perekonomian kembali ke dunia nyata," demikian situs majalah The Economist edisi 17 Oktober.

Apa implikasi temuan Deaton? Dengan pemotretan saksama, program pemberian subsidi pangan sebagai contoh, bisa diarahkan secara efektif kepada yang benar-benar membutuhkan. Lewat pemotretan nyata, setiap peluncuran kebijakan pemerintah bisa berjalan efektif.

Namun, bagi Deaton, pemotretan nyata tidak memadai walaupun itu penting. Deaton mencontohkan lagi sebagai berikut. Bagaimana seorang bayi bisa meninggal karena penyakit yang bisa disembuhkan? Ironisnya, rumah sakit hanya berjarak 100 meter dari rumahnya?

Deaton mengatakan, ada kalanya, karena rumah sakit itu milik swasta tanpa regulasi. Keberadaan rumah sakit bukan untuk semua pasien, termasuk pasien yang tak mampu.

Bagaimana mengatasi hal ini? Dalam pandangan Deaton, hal ini adalah tugas pemerintah yang harus benar-benar ada untuk rakyat. Pemerintahan ini harus punya kemampuan. Bukan melulu soal uang atau ketersediaan uang pemerintah. Ini juga soal politik dan sistem politik yang peduli soal pemberdayaan pada kaum lemah.

Mengena bagi Indonesia

"Pandangan Deaton mengena, bahkan sangat hakiki bagi Indonesia," kata dosen Fakultas Ekonomi UGM, A Tony Prasetiantono. "Panitia Nobel memberi hadiah kepada ekonom yang memiliki cakupan tentang "bagaimana membuat umat manusia sejahtera dengan mengurangi kemiskinan". Isu ini merupakan hal yang paling hakiki dan untuk inilah alasan mengapa ilmu ekonomi (economics) tercipta. Penemu ilmu ekonomi, Adam Smith (1776), si penulis "The Wealth of Nations", juga berpikir tentang bagaimana manusia bisa sejahtera dan mereduksi kemiskinan.

Soal bantuan asing

Analisis Deaton mencakup tema yang sangat banyak. Dia menganalisis bantuan asing, yang tujuan utamanya membantu pembangunan ekonomi di negara berkembang dengan tujuan mereduksi kemiskinan. Temuan Deaton memperlihatkan, bantuan asing itu justru melestarikan kemiskinan.

Mengapa? Ini kembali kepada masalah kapasitas pemerintahan. Akan tetapi, masalah lain muncul ketika pemerintah si penerima bantuan tunduk pada donatur dengan segala persyaratan dan bukan tunduk pada keperluan rakyat yang dibantu. Maka, bantuan asing yang tujuan awalnya menyejahterakan rakyat telah gagal.

Ini dia tuliskan pada September 2013 di situs The Project Syndicate berjudul "Weak States, Poor Countries". Kesimpulannya, bantuan asing melestarikan kemiskinan, bahkan memperburuknya.

Bagaimana mengatasi hal itu? Deaton mengatakan, kembali saja pada tujuan utama bantuan itu, yakni demi rakyat, demi memakmurkan rakyatnya.

Mengomentari hal ini, Wakil Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk kantor Indonesia, Dr Edimon Ginting, mengatakan, kebijakan yang terarah untuk mengurangi kemiskinan memang amat diperlukan. Di Indonesia, ADB telah menekankan transparansi saat pengucuran bantuan juga mencegah kebocoran.

(REUTERS/AP/AFP/MON)

Rusia, AS, dan Suriah

Kompas Cetak | 19 Oktober 2015 | Halaman Opini

Sungguh malang nasib yang menimpa Suriah. Ibarat kata, negeri itu sudah jatuh tertimpa tangga; menjadi ajang pertarungan kekuatan besar.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa Suriah telah menjadi mandala proxy war, perang proksi, tidak hanya antara Rusia dan AS, tetapi juga antara Turki dan Kurdi, antara Arab Saudi dan Iran. Apa yang terjadi di Suriah bukan lagi sekadar perang saudara, perang sektarian, tetapi sudah menjadi perang multi-proksi, yang melibatkan sejumlah negara yang bertarung untuk mempertahankan atau memenuhi kepentingan nasionalnya.

Memang, beberapa waktu lalu, Presiden AS Barack Obama mengatakan tidak akan membiarkan konflik yang terjadi di Suriah menjadi perang proksi antara AS dan Rusia. Akan tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain.

Sejak awal bulan ini, Rusia secara jelas dan tegas memberikan dukungan kepada rezim Bashar al-Assad bersama dengan Iran—ditambah Hezbollah—untuk menghadapi kelompok perlawanan bersenjata, termasuk Negara Islam di Irak dan Suriah. Iran memberikan banyak bantuan, termasuk logistik, militer, dan keuangan. Bahkan, belakangan diberitakan Garda Revolusi Iran pun dikirim ke Suriah. Adapun Rusia mengerahkan pesawat tempurnya, mengebomi posisi kelompok perlawanan.

Di pihak lain, sudah menjadi rahasia umum, AS memainkan peran penting dengan mendukung kelompok-kelompok perlawanan, bersama dengan Arab Saudi dan Qatar. Bahkan, beberapa hari lalu, kelompok perlawanan mengaku mendapatkan bantuan peluru kendali anti tank dari AS. Pengakuan itu yang antara lain membuat Rusia menurunkan frekuensi serangannya terhadap kelompok perlawanan anti Bashar.

Kalau kita mengikuti definisi tentang perang proksi yang disodorkan Stephen D Biddle dari Council on Foreign Relations, apa yang terjadi di Suriah adalah perang proksi. Ia mendefinisikan perang proksi sebagai ”aktor luar yang memajukan sebuah agenda dengan menggunakan para petarung lokal”.

Jelas di sini aktor luarnya adalah AS, Rusia, Iran, Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Mereka menggunakan ”petarung” lokal di Suriah untuk menjamin kepentingan mereka, mengamankan kepentingan nasional mereka. Meski demikian, pendapat Biddle itu disanggah ilmuwan lain, seperti John McLaughlin dari Johns Hopkins University dan Cliff Kupchan, analis dari Eurasia Group.

Apa pun definisinya, yang pasti perang di Suriah yang menewaskan lebih dari 200.000 orang memaksa jutaan orang mengungsi mencari tempat aman, antara lain membanjiri negara-negara Eropa, ribuan lain terluka, dan jutaan lainnya menderita dan tertutup masa depannya.

Apakah itu yang mereka cari? Demi kekuasaan, demi kepentingan nasional, orang tak berdosa menjadi korban.

28 August 2015

Jaga Kandang

Sejak pindah ke kantor baru, tidak bisa ke lapangan. Deskripsi tugas saya memang melarang saya ke lapangan, karena ada tanggung jawab yang harus diemban di belakang meja. Padahal kangen juga liputan di lapangan. Jalan-jalan, tepatnya.

Tapi, ya begini namanya tugas. Ada yang harus dikesampingkan demi tanggung jawab baru. Semoga ada kesempatan jalan-jalan lagi.

10 February 2015

Mutasi

Hoke. Sekarang, saya pindah ke CNN Indonesia. Sistem berbeda dan pola kerja yang berbeda. Namun, tetap Indonesia. Mungkin, tidak ada lagi cerita hantu dan cenayang. Tapi, siapa tahu ada cerita soal itu suatu saat. So, welcome.

03 November 2014

Malu

Saya nemu hadis yang bagus. Soal malu dan kesabaran.
Rasulullah SAW bersabda : "Malu itu adalah aksesoris yang indah, takwa adalah kemuliaan, dan sebaik-baik kendaraan adalah sabar, sedangkan menunggu jalan keluar dari Allah SWT adalah ibadah."
(HR. Hakim dan Tirmidzi)

30 September 2014

Musim Haji

Saat musim haji seperti ini, saya sering ingat bapak saat pergi haji. Bapak pergi haji bersama ibu pada tahun 2008. Mereka menyisihkan gaji, juga uang pensiun untuk berangkat haji. Anak-anak ikut patungan untuk menambah kekurangan. Alhamdulillah, mereka bisa berangkat haji.

Bapak orang lugu. Hidupnya lurus-lurus saja. Karena itu, tidak ada niat lain baginya pergi haji, selain ibadah.

Suatu ketika, ibu kehilangan bapak saat di Masjidil Haram. Ibu menangis, sebab bapak sudah agak pikun saat itu. Lagipula, berhaji adalah pengalaman pertama bapak pergi jauh. Tidak ada seorang pun dia kenal. Begitu pikiran ibu. Itu sebab ibu khawatir.

Setelah beberapa jam hilang, bapak bisa ditemukan di sekitar Masjidil Haram. Bapak bilang waktu itu, "Saya pergi haji itu untuk ibadah. Jadi, saya lupakan anak-istri." Sepertinya, bapak sengaja menghilang, beribadah tanpa peduli siapapun.

Dua tahun setelah pulang haji, bapak meninggal. Saya adalah orang yang tidak merasa sedih, saat bapak meninggal. Bagi saya, bapak orang baik. Jika datang saat meninggal, saya percaya dia punya tempat istimewa di alam sana.

Saat bapak meninggal, hujan deras mengiringi. Hujan datang seperti air kran yang dibuka. Deras. Namun, hujan tetiba berhenti, saat jenazah bapak digotong ke makam. Persis seperti air kran yang ditutup tiba-tiba. Orang-orang berbisik, "Bapakmu itu orangnya ikhlas." Saya berpikir, apa berhentinya hujan itu tanda alam menerima keikhlasannya. Amin.

Hari itu, orang-orang mengantar bapak pulang ke penciptanya. Saya tidak pernah merasa sedih kehilangan dia. Saya bangga bapak pulang lebih dulu.

19 September 2014

Edinburgh

Di Edinburgh, Skotlandia, ada patung David Hume, seorang filosof kondang, putra daerah. Ada mitos, siapa megang jempol patung ini, dia bisa lolos ujian. Banyak orang Asia yang belajar di Edinburgh, percaya mitos ini.

Seperti yang saya lihat April lalu. Seorang remaja bermata sipit, terlihat khusyuk memegang jempol patung Pak David. Tak heran, ujung jempol patung ini sedikit mengelupas catnya, sebab banyak orang memegang. Saya sempat minta remaja itu mengulang memegang jempol, untuk saya potret. Kali ini dia nyengir.

Saat weekend, patung ini jadi spot pemain bagpipe mejeng, unjuk ketangkasan memainkan alat musik asli Skotlandia ini. Jika sudah begini, turis akan melempar receh ke tas yang digelar. Termasuk saya dan rekan liputan saat itu.
"Anda dari mana?" tanya pemain bagpipe. "Indonesia," kami jawab waktu itu. "Oh, Indonesia." Saya tidak tahu, apa ini isyarat dia tahu tentang Indonesia, atau sekedar basa-basi.

Saat referendum kemarin, saya tidak bisa membayangkan suasana di Edinburgh. Tapi saya kangen bangunan tua di sana, seperti Kastil Edinburgh, di bukit bekas gunung berapi Castle Rock itu. Terlihat angker, bangunan tua kadang seperti mengundang orang datang. Sepertinya, dia punya banyak cerita.

18 April 2014

Akhirnya, Denmark

Setelah sepuluh hari di Islandia, akhirnya saya pergi ke Denmark. Hal pertama yang saya lihat di Denmark, tapi tidak saya temukan di Islandia adalah: saya bisa menemukan orang berjilbab di jalanan.

Di Islandia, susah menemukan orang berjilbab. Waktu teman saya yang berjilbab berjalan di kota Reykjavik-ibukota Islandia, banyak orang memandang aneh. Sementara, di Denmark-meski masih banyak cerita orang berjilbab mengalami pelecehan, saya masih bisa menemukan orang berjilbab di tempat umum.

Hal kedua, banyak sekali sepeda di Denmark. Di Copenhagen-ibukota Denmark, sepeda punya jalur khusus di jalanan. Ada juga parkir khusus sepeda di stasiun kereta. Meski saya belum melihat langsung, kabarnya ada gerbong khusus buat menampung pesepeda. Pokoknya, sepeda amat istimewa di Denmark.

Hal lain, tempat makanan halal lebih mudah ditemukan di Denmark, dibanding di Islandia. Mungkin, hal ini karena komunitas Islam di Denmark, lebih banyak daripada di Islandia. Wajar sih, sebab wilayah Denmark lebih luas dari Islandia. Jadi, lebih banyak menampung orang.

Karena itu, Denmark terkesan "lebih hidup" dibanding Islandia. Ini yang saya lihat di Copenhagen. Banyaknya orang, memberi kesan "lebih hidup" itu.

Mungkin kesamaan Denmark dan Islandia, kita gampang minum air putih. Sebab, air kran di dua negara ini sudah bisa langsung diminum.

Namun, tetap saja tidak mudah menemukan tempat salat di dua negara ini. Ada sih beberapa masjid. Kebanyakan ada di pemukiman yang dihuni mayoritas imigran muslim dari Turki atau Pakistan.

Membangun masjid atau tempat salat, masih ribet di Denmark. Bahkan, ada sebuah masjid di luar kota Copenhagen, yang harus main petak umpet untuk mendapat ijin. Masjid ini mendaftarkan diri sebagai tempat budaya Islam, saat mendaftar ke pemerintah kota.

Saat masjid berdiri, masyarakat sekitar menolak pendirian menara. Mereka menolak, karena menara bisa membuat "tempat budaya Islam" lebih tinggi dari gereja. Sementara, orang Denmark menganggap, tidak boleh ada tempat ibadah yang lebih tinggi dari gereja.

Begitulah, akhirnya, muslim di negara ini harus menghargai pendapat mayoritas.

Ini catatan hari pertama saya di Denmark. Masih ada sembilan hari lagi. Semoga lebih berwarna.

12 April 2014

Kartu Kredit

Hal yang saya pelajari di Islandia, orang jarang menggunakan uang tunai. Orang lebih sering menggunakan kartu kredit. Karena itu, warung-warung, restoran dan toko souvenir menyediakan pemindai kartu kredit. Hal ini juga saya temui di Inggris dan Skotlandia.

Ada sebuah joke di Islandia. Suatu ketika, ada pemilik warung disodori uang palsu oleh seorang pembeli. Karena tidak pernah memegang uang, pemilik warung menerima saja uang itu. Tak lama, dia sadar menerima uang palsu, saat diingatkan keluarga. Si pembeli pun ditangkap, meski sudah meninggalkan warung. Semua berkat CCTV. Itulah Islandia.

Satu hal dicatat, semua barang di Islandia mahal. Kata Nenty, fixer saya, harga di Islandia ibarat dua kali harga normal. Semangkuk mie ayam, harganya 1190 krona Islandia. Dengan kurs 1 krona Islandia (ISK)= Rp 100, harganya sekitar Rp 119 ribu.

Harga souvenir tempelan kulkas yang populer di Indonesia, sekitar 850-950 krona. Yah, sekitar Rp 85-95 ribu, lah.

Tapi, saran saya, jangan membandingkan harga di Islandia dengan rupiah. Bisa pusing sendiri. Cari saja barang sesuai kebutuhan, dan sangu Anda. Dan, coba cari pembanding dengan toko lain.

Di downtown Reykjavik-semacam pusat kota begitu, ada banyak toko souvenir. Menurut saya, toko The Viking rada miring harganya. Ada beda sekitar 10 krona dengan toko-toko yang lain.

Sementara, kalau hobi adventure-terutama yang berhubungan dengan gunung dan es-Islandia surganyanya. Banyak toko di sini menjual peralatan adventure. Yang tidak ada di Indonesia, di sini ada. Timberland, Marmot, sudah biasa kan di Indonesia. Di sini akan ada lebih banyak merk lagi. Barangnya pun keren-keren.

Bagaimana soal makanan? Yang jelas, negara ini bukan negara muslim. Akan banyak makanan tidak halal di sini. Namun, daging domba di Islandia sudah dipotong secara halal. Ada kebijakan dari pihak pemotongan daging, untuk memotong daging secara halal. Ini semua karena pertimbangan pasar mereka saja, sih.

Jika Anda tidak peduli dengan makanan halal, sila menikmati makanan dan minuman ala Islandia. Saya sempat merasakan masakan Islandia berbahan ikan. Saya lupa namanya. Tapi enak.

Sebelumnya, saya membayangkan makanan Islandia serba hambar. Nyatanya tidak. Banyak restoran di Islandia menyajikan alkohol. Karena saya tidak minum alkohol, saya tidak mencatat pengalaman itu.

Sejatinya, saya ini penggemar mie dan masakan Asia. Karena itu, biar di Islandia, saya mencari makanan macam itu. Pertama datang ke Islandia, Nenty mengajak saya ke Krua Thai. Dari namanya, Anda tahu ini rumah makan Thailand.

Di sini, ada beberapa makanan berbahan mie, dan makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia, saya rasa. Harganya pun tidak terlalu mahal. Cocok buat yang berkantong tipis. Tapi, tetap saja Anda harus membiasakan membayar dengan kartu kredit.

11 April 2014

Islandia

Mendengar nama Islandia, saya membayangkan tempat paling dingin sedunia. Namanya saja Iceland, tanah es. Tapi, saat pertama kali mendarat dan keluar dari Bandara Keflavik, kami melulu melihat bebatuan gunung. Tanpa pohon. Hampir.

Memang, saat di pesawat IcelandAir, ada satu majalah tentang Islandia. Majalah itu menulis, pohon jarang ada di Islandia. Karena itu, angin akan berhembus sangat kencang, seperti tidak ada yang menahan.

Ya, angin memang biang hawa dingin di Islandia. Maklum, Islandia berada di Samudera Atlantik yang luas.

Bicara soal suhu, sebenarnya Reykjavik-ibukota Islandia tempat saya tinggal, tidak beda jauh dengan London, Liverpool, Glasgow atau Aberdeen yang pernah saya kunjungi. Tapi, angin di Islandia membawa hawa dingin. Saya sarankan pakai sarung tangan saat di luar ruangan.

Kata Nenty-fixer saya di Islandia, ada saat orang berani berbikini di tengah kota. Itu musim panas. Sementara, saya datang ke Islandia saat bulan April seperti ini.

Sebenarnya, kata Nenty, musim panas di Islandia tetap dingin. Tapi hawa hangat membuat orang berani membuka baju, mandi matahari, biar bulu kuduk tetap berdiri.

Satu hal dicatat, cuaca di Islandia sering berubah-ubah. Saya mengalaminya di Reykjavik. Hujan dan matahari bisa datang berulang kali bergantian. Itu sebab, pelangi sering muncul di Reykjavik. Anda tahu, pelangi terjadi karena titik air yang berpendar, saat terkena sinar matahari.

Dan hari ini, Jumat 11 April 2014, adalah hari pertama saya melihat salju dalam hidup saya.

Saya menemukannya saat keluar kamar mandi di apartemen, tempat saya tinggal. Salju beterbangan seperti kapas tipis di jalanan. Saya memandang dari jendela. Luar biasa.

Memang, saat bangun pagi saya membaca ramalan cuaca. Suhunya 0° C. Sayang, salju turun hanya sekitar setengah jam. Saya susah merekamnya di kamera. Sebab terlalu tipis, meski terlihat dengan mata telanjang.

Tapi saya masih lima hari lagi di Islandia. Semoga saya masih bisa menemukan salju lagi.

04 April 2014

Gaib di Inggris

Jauh-jauh pergi liputan ke Inggris, ternyata tidak bisa pergi dari hal-hal gaib.

Ceritanya, saya sedang napak tilas perjalanan Abdullah Quilliam, orang asli Inggris yang masuk Islam di jamannya. Bernama asli William Henry Quilliam, dia lahir di Liverpool, Inggris, pada 10 April 1856.

Quilliam termasuk keluarga terpandang di masanya. Dia punya pendidikan tinggi, dan menjadi pengacara. Tapi jalan hati mengubah dia menjadi muslim, setelah melakukan perjalanan ke Maroko, Aljazair dan Tunisia.

Pada tahun 1889, dia mendirikan masjid pertama di Inggris. Masjid ini juga jadi pusat Islam, dan punya pengaruh terhadap masuknya beberapa orang Inggris ke Islam, pada masa itu. Quilliam juga menulis, dan punya tabloid bulanan, bernama The Crescent (bulan sabit).

Namun, Quilliam harus meninggalkan Inggris pada tahun 1908. Sayang, perjuangan Quilliam tidak diteruskan anaknya. Masjid yang dia bangun terbengkalai. Bangunannya rusak. Pernah jadi Kantor Catatan Sipil oleh Pemerintah Kota Liverpool, bangunan ini jadi sepi tak berpenghuni.

Rumah ini yang jadi awal mula interaksi saya, dengan dunia gaib  Inggris.

Pada Senin (24/3) lalu, saya dan teman-teman berkunjung ke bekas masjid Quilliam, di West Derby Road, Liverpool. Bangunan ini sendiri sudah berantakan. Lantai dan dinding berlubang di sana-sini. Beberapa ruangan pengap tak terawat.

Sebuah yayasan pemerhati sepak terjang Abdullah Quilliam, mencoba melestarikan nama Quilliam. Karena itu, yayasan bernama Abdullah Quilliam Society ini mencoba memperbaharui tempat ini. Direktur yayasan ini, Jahangir Mohammed, mencoba menguak cerita masa Quilliam hidup kepada kami.

Selama liputan tak terjadi apa-apa. Semua terasa normal. Tapi, saat malam sampai di apartemen, mulailah hal-hal aneh datang.

Saya yang mengalami pertama kali. Saat menjelang tidur, saya merasakan ada energi datang. Ya, begitulah rasanya. Seperti ada sesuatu bergerak mendekati saya.

Malam berikutnya, ganti kameramen saya yang mengalami. Dia mendengar suara-suara di apartemen tempat kami menginap. Saat dia hampiri, suara itu lenyap. Lalu suara berpindah ke belakang dia. Akhirnya, dia memutuskan tidur menutup kepala, dan memutar musik keras-keras.

Seorang kawan di Jakarta bercerita, ada "seseorang" datang dan mencoba bercerita tentang Quilliam. Saya tidak bisa bilang, "seseorang" ini siapa. Yang jelas, dia memberi informasi tentang Quilliam. Dan dia memberi saya sebuah nama. Tapi, sejarawan di Inggris tidak mengenal nama tersebut.

Kawan saya di Jakarta itu juga bercerita, "seseorang" itu hendak berinteraksi, dan bercerita.

Lalu, suatu malam, saya hendak tidur, tiba-tiba ada hawa berbeda mendekati saya. Kemudian, ada suara di telinga saya. Saya tidak sempat menyimaknya. Telinga saya terlalu sibuk mendengar degub jantung saya.