Haekal, anak pertama saya, sedang rajin menulis surat. Surat itu berupa coretan-coretan di kertas putih, berisi pesan akan sesuatu. Biasanya, dia meninggalkan surat itu di dekat televisi, atau tempat lain yang memungkinkan saya menemukannya dengan mudah.Kemarin malam, dia meninggalkan surat di dekat meja televisi. Dia minta uang membeli standar sepeda. Haekal memang lagi suka naik sepeda.
Meski sudah kelas I SD (hampir naik kelas II), Haekal termasuk telat bisa naik sepeda. Teman-temannya di kompleks, sudah bisa menunggang sepeda, bahkan sebelum TK.
Nah, surat itu, belakangan jadi media Haekal mengungkapkan sesuatu. Seperti halnya surat permintaan standar sepeda, saya sering menerima surat Haekal. Saat saya pulang kerja larut malam, Haekal sudah tidur bersama adiknya, Haedar. Jika dia menginginkan sesuatu, dia sering meninggalkan surat.
Kepada temannya, dia juga menulis surat. Wujudnya berupa tulisan di kertas biasa. Kadang kertas memo kecil. Tanpa amplop, hanya berisi tulisan dia. Saya tidak tahu, apakah surat itu dia kasih ke temannya. Yang jelas, saya sering menemukan surat-surat seperti itu di kamarnya.
Tidak hanya surat, segala tempat di rumah dia beri nama. Kamar mandi dia tempeli secarik kertas, "Kamar Mandi Dragon I." Satu kamar mandi lagi dia beri label "Kamar Mandi Dragon II."
Kini, di rumah saya, banyak sekali tempelan kertas bernama.
