Haedar sering bikin keder kakaknya, Haekal. Misal, jika sudah memegang kayu atau sesuatu yang bisa buat memukul, kakaknya akan kabur. Lari. Menjauh. Bahkan nangis. Padahal, kayu atau benda itu belum tentu buat memukul.
Haedar memang cerdik. Dia tahu kakaknya penakut, maka dia sekedar menggoda saja. Mengayun-ayunkan kayu itu. Jika sudah begini, keluar senyum dan lirikan licik di wajah Haedar.
Berusia dua tahun, Haedar sebenarnya lahir di luar rencana. Saat itu, kami sebenarnya sedang merancang program "jangan punya anak dulu." Sebab, kakaknya, Haekal, usianya belum genap dua tahun. Ternyata, rencana tinggal rencana. Gusti Allah malah memberi rejeki. Pada sebuah sore, istri saya bilang, haidnya telat. Alhamdulillah.
Beda dengan Haekal, Haedar lahir normal. Saya jadi saksi proses kelahiran yang menegangkan. Meski bukaan kedua sampai sembilan makan waktu lama, Haedar hanya butuh lima menit untuk mbrojol. Saya ingat betul, istri saya menggenggam tangan saya begitu kuat waktu itu. Tapi saya bangga bisa menyaksikan keajaiban melahirkan.
Esoknya, sebuah majalah ibu-anak mewawancarai saya via telepon. Kalau tidak salah, si penulis hendak membuat artikel, tentang pengalaman mendampingi istri melahirkan.
Haedar lahir sekitar jam tiga pagi. Karena datang mendekati subuh, saya beri imbuhan kata "Nur" pada namanya. Sebelumnya, saya sudah membayangkan nama Haedar, biar seragam sama Haekal. Sementara, nama Faza datang dari kakak ipar saya, seorang ustad di Solo. Artinya kejayaan. Maka, jadilah namanya Haedar Nur Faza. Kira-kira, nama itu punya maksud: seorang pemberani yang punya cahaya kejayaan.
Mungkin, karena beda cara lahir ini, dua anak saya punya sifat berbeda. Entahlah. Wong, dua anak kembar yang lahir normal saja punya sifat berbeda. Yang jelas, dua anak saya ini punya sifat sama: mereka berdua membuat saya bahagia.
