12 January 2012

Haedar

Anak saya yang kedua ini berbeda dengan kakaknya. Dia lebih lincah, lebih percaya diri, lebih berani. Cocok dengan namanya: Haedar, sang pemberani.

Haedar sering bikin keder kakaknya, Haekal. Misal, jika sudah memegang kayu atau sesuatu yang bisa buat memukul, kakaknya akan kabur. Lari. Menjauh. Bahkan nangis. Padahal, kayu atau benda itu belum tentu buat memukul.

Haedar memang cerdik. Dia tahu kakaknya penakut, maka dia sekedar menggoda saja. Mengayun-ayunkan kayu itu. Jika sudah begini, keluar senyum dan lirikan licik di wajah Haedar.

Berusia dua tahun, Haedar sebenarnya lahir di luar rencana. Saat itu, kami sebenarnya sedang merancang program "jangan punya anak dulu." Sebab, kakaknya, Haekal, usianya belum genap dua tahun. Ternyata, rencana tinggal rencana. Gusti Allah malah memberi rejeki. Pada sebuah sore, istri saya bilang, haidnya telat. Alhamdulillah.

Beda dengan Haekal, Haedar lahir normal. Saya jadi saksi proses kelahiran yang menegangkan. Meski bukaan kedua sampai sembilan makan waktu lama, Haedar hanya butuh lima menit untuk mbrojol. Saya ingat betul, istri saya menggenggam tangan saya begitu kuat waktu itu. Tapi saya bangga bisa menyaksikan keajaiban melahirkan.

Esoknya, sebuah majalah ibu-anak mewawancarai saya via telepon. Kalau tidak salah, si penulis hendak membuat artikel, tentang pengalaman mendampingi istri melahirkan.

Haedar lahir sekitar jam tiga pagi. Karena datang mendekati subuh, saya beri imbuhan kata "Nur" pada namanya. Sebelumnya, saya sudah membayangkan nama Haedar, biar seragam sama Haekal. Sementara, nama Faza datang dari kakak ipar saya, seorang ustad di Solo. Artinya kejayaan. Maka, jadilah namanya Haedar Nur Faza. Kira-kira, nama itu punya maksud: seorang pemberani yang punya cahaya kejayaan.

Adapun Haekal lahir lewat caesar, hampir dua tahun sebelumnya. Saat itu usia kandungan istri saya sudah masuk sembilan bulan. Tapi, saya mengajak istri saya jalan-jalan ke mal. Saat subuh, ketuban pecah. Kata bidan, air ketuban di kandungan istri sudah habis. Maka, caesar jadi solusi. Jadilah Haekal lahir lewat operasi.

Mungkin, karena beda cara lahir ini, dua anak saya punya sifat berbeda. Entahlah. Wong, dua anak kembar yang lahir normal saja punya sifat berbeda. Yang jelas, dua anak saya ini punya sifat sama: mereka berdua membuat saya bahagia.

10 January 2012

Sekolah

Semester depan, Haekal akan masuk SD. Sekolah pun sudah mulai membuka pendaftaran. Maka, kami ajak dia keliling, melihat sekolah yang dia mau. Survei.

Dari beberapa sekolah yang dia tengok, kuncinya cuma satu: masjid. Bagi dia, sekolah harus ada masjidnya. Maka, saya dan istri memberi kesempatan Haekal, menengok masjid di setiap sekolah yang kami tuju.
 
Kadang, kami malah membiarkan Haekal menjelajah masjid sendiri. Sementara, saya dan istri sibuk mengorek informasi tentang sekolah itu. Puas menjelajah masjid, paling Haekal datang menghampiri. Laporan.

Jika sudah begini, dia pasti punya komentar tentang masjid yang dia lihat. Apalah, walau kadang komentar itu terdengar tak penting, bagi kami. "Masjidnya bagus. Tapi kok kipas anginnya cuma dua, ya?" katanya.

Habis itu, tinggal kami minta dia memilih. Kami meminta dia membuat peringkat, sekolah mana yang paling dia pilih. Jika pilihan pertama penuh, sekolah mana lagi yang dia mau.

Akhirnya, Haekal membuat beberapa pilihan.

Pagi tadi, saya mendaftarkan nama Haekal di sebuah sekolah Islam terpadu di daerah Kemang, Kabupaten Bogor. Ini sekolah pilihan dia. Dia menaruhnya di peringkat pertama. Agak masuk akal, sih. Dari semua sekolah yang dia lihat, masjid sekolah ini yang paling besar. Bersih, dan punya menara. Ini identitas masjid yang sering dia munculkan saat menggambar. Dan saya melihat dia menikmati penjelajahan di masjid ini.

Sekolah ini sebenarnya mahal. Uang pangkalnya mencapai belasan juta rupiah. Belum tetek bengek uang bulanan. Tapi, saya seperti tak peduli. Ada semacam dorongan, membiarkan Haekal berkembang dengan cara dia sendiri. Seperti  apa? Saya belum tahu pasti. Yang jelas, saya mesti menyiapkan uang lumayan banyak, buat Haekal sekolah nanti.

05 January 2012

Liburan

Kami jalan-jalan ke Ciater, liburan kemarin. Meski liburan pendek, anak-anak senang bukan main. Haekal, anak sulung saya, sebenarnya pengin ke Lampung, rumah Om-nya. Tapi, karena tak kunjung dijemput Om-nya, dia mau saja diajak ke Ciater.

Ciater tempat yang hijau, pemandangannya indah. Sepanjang jalan, Haekal selalu menyebut alam itu indah. Sebelum liburan, kami sempat mengajak dia mencari sekolah berbau alam di Bogor. Sepertinya dia suka, dan merekam kata itu. Sejak itu, segala sesuatu yang terbuka di alam bebas, dia sebut alam. "Aa suka alam. Udaranya segar," kata dia.

Seperti biasa, dia merekam segala pemandangan yang dia lihat. Karena suka menggambar, jadilah rekaman itu sebuah lukisan. Gambar pohon adalah rekaman pemandangan, yang kami temui di sepanjang jalan. Begitu juga gambar masjid.

Gunung, sepertinya memori tentang Gunung Tangkupan Perahu, yang sempat kami tengok. Pun juga gambar pagar di pucuk gunung, penghalang para pengunjung di Kawah Ratu, salah satu kawah di Tangkuban Perahu.

Satu lagi, dia juga merekam memori, saat kami makan di KFC. Dia menggambarkannya berupa seorang pelayan, beberapa kursi, dan tentu saja, tulisan "KFC" itu sendiri.

Begitulah, saat di mobil, sepulang liburan itu, Haekal memang punya banyak bahan cerita. Mamanya mendengarkan dengan baik celoteh ini. Mamanya cuma bilang, "Nanti dilukis, ya."

Dan Haekal melaksanakan perintah Mamanya dengan baik.