10 November 2006

Haekal

Saya berdiri di ujung lorong, ketika perawat mendorong kereta bayi mendekati saya. Suara tangis bayi di kereta itu terdengar lantang, sejak ujung lorong di seberang sana. Hebat benar anak ini, pikir saya.

Saya tidak tahu apa yang tergambar di wajah saya. Ada rasa penasaran dan bahagia. Tapi mungkin ekspresinya salah keluar. Seorang perawat menegur, "Baru pertama, Pak?" Saya hanya mengiya. "Pantas panik," kata dia.

Apapun itu, saya bangga dengan tangis bayi yang perlahan menghampiri saya. "Ini anak bapak. Sejak keluar tangisnya kenceng," seorang dokter menyalami saya.

Dia, sang bayi itu, sebenarnya masih punya umur satu minggu dalam kandungan. Ibunya, seorang perempuan dengan pembawaan tenang, merasa sesuatu mengalir dari selakangannya saat subuh menghampiri. "Sepertinya ini air ketuban," dia membangunkan tidur saya tanpa ekspresi. Lalu saya membawanya ke bidan.

Dan benar, ketuban sudah mengalir keluar. Namun kepala bayi masih melayang, belum menyentuh lubang vagina. Perangsang tak membuat bayi siap keluar. Bidan bilang bayi terlalu besar. "Lebih dari 3,5 kilogram," kata bidan. Tak berani ambil resiko, bidan meminta saya membawa istri ke rumah sakit. "Dia harus operasi."

Hari itu Minggu, 5 November 2006. Jam menunjuk angka sepuluh. Setelah tetek bengek urusan administrasi rumah sakit dan cek dokter, istri saya masuk ruang operasi satu jam kemudian. Tapi perawat menahan saya di pintu ruang operasi. "Bapak cukup sampai di sini saja," kata dia. Saya menahan gemas, tapi tak bisa melawan. Maka saya menunggu di luar ruangan.

Dua puluh menit berlalu, dokter menghampiri saya. "Anak Bapak sehat, begitu pula ibunya," kata dokter. Saya mengacuhkan budi baiknya mengabarkan berita bahagia ini, untuk mendengarkan jerit tangis bayi saya dalam kereta. Namun perawat membawanya ke ruang perawatan bayi.

Tak lebih dari sepuluh menit, bayi ada di tangan saya. Betapa cantiknya bayi ini. Hidungnya besar dan mancung. Bibirnya mungil. Matanya mengatup satu. Tapi kedua kelopaknya terbuka saat mulut saya melantunkan adzan dan iqomah di telinganya. Lagaknya tahu saja.

Lalu kerabat bertanya. "Siapa namanya?" Saya jawab, "Muhammad Haekal." Saya kagum dengan nama pengarang Mesir ini. Ada rasa gagah dari nama penulis Sejarah Hidup Muhammad itu. Haekal berarti pokok yang tangguh dan subur. Saya merasa setuju saat mendengar suara tangis anak saya.

Kemudian kerabat menyalami. Mereka puas, begitu pula saya.

Haekal datang. Satu babak hidup mulai. Dalam hati, kelak, orang akan mengenang namanya dengan harum, karena sebuah karya yang membukakan mata, seperti saat matanya terbuka saat mendengar adzan dan iqomah di telinganya. Dia akan menjadi orang besar. Dia akan membuat bangga orang tua dan orang di sekitarnya. Selamat datang, Haekal.