10 August 2004

Cerita dari Entikong

Di Entikong, di pinggir satu-satunya lapangan sepak bola di desa perbatasan Indonesia-Malaysia ini, tersebutlah sebuah rumah kayu berlantai dua. Rumahnya tak seberapa besar, dengan warna cat putih yang kusam pada dinding rumah. Tak ada pagar, juga halaman. Sementara, pagar balkon sempit di lantai dua nampak sudah berubah menjadi tempat jemuran.

Orang Entikong mengenalnya sebagai rumah Ibu Arsinah, pemilik lembaga swadaya masyarakat lokal berlabel "LSM Anak Bangsa." Sehari-hari, lembaga ini menampung dan mengurusi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan pemerintah Malaysia, lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat.

Akhir pekan lalu, rumah kayu milik Ibu Arsinah kedatangan penghuni tambahan, tiga belas pendatang haram—begini aparat Malaysia menyebut TKI tanpa dokumen resmi—yang dipulangkan pemerintah Malaysia lewat Entikong. Mereka berasal dari Jawa, dan sekitar Kalimantan Barat. Sepuluh orang tenaga kerja wanita (TKW) ditampung di rumah Ibu Arsinah. Sementara, tiga orang TKI laki-laki menginap di tempat berbeda.

Di rumah Ibu Arsinah yang sempit itu, perempuan-perempuan ini harus rela berbagi tempat, tidur berjejer di lantai papan di lantai dua. Satu lantai di bawah ditinggali Ibu Arsinah bersama suami, sebuah dapur, dan sebuah meja dengan bangku tempat berkumpul. Tak ada kamar mandi di rumah ini. Jika hendak mandi, mereka membalut tubuh dengan handuk, lalu melenggang ke sungai.

Riuh sorak penonton sepak bola di lapangan depan rumah, tidak cukup membuat para perempuan itu terhibur. Tapi mereka masih mau berbagi cerita tentang nasib malang mereka—beberapa diantara mereka tidak berbekal uang saat dipulangkan. Tak jarang, mereka malah menertawakan sendiri nasib mereka. Sebuah cara menghibur diri. Coba dengarkan beberapa cerita tentang mereka.

Sunarsih namanya. Berniat bekerja di Malaysia sekedar melarikan diri dari masalah pribadi. "Saya ingin ganti suasana," kata perempuan berumur 29 tahun asal Bantul, Yogya ini. Demi niat itu, Sunarsih rela meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan garment di Cakung, Cilincing, Jakarta Timur. Lalu, Sunarsih menemukan iklan di sebuah harian Jakarta. Pendek cerita, setelah menyerahkan uang Rp 1.100.000 hasil penjualan perhiasan anaknya kepada sang sponsor (agen), Sunarsih menyeberang ke Malaysia, sekitar Agustus tahun lalu.

Sayang, bayangannya bekerja di negara maju seperti Malaysia buyar, saat sang agen menyerahkannya kepada seorang majikan di daerah Bakun, Sarawak. Menurut Sunarsih, tempat dia bekerja berada jauh di tengah hutan. Sekitar 15 jam perjalanan dari Kuching, ibukota negara bagian Sarawak. Tak ada sarana komunikasi, tak ada listrik, bahkan air bersih. "Saya sering mengumpulkan air hujan," kata Sunarsih.

Derita Sunarsih semakin bertambah dengan perlakuan buruk majikannya. Janji gaji 200 ringgit hanya dibayar 150 ringgit (dengan kurs Rp 2300, senilai dengan Rp 345.000). Tak hanya itu, Sunarsih harus merasakan pukulan dari majikan perempuan. Gara-garanya, Sunarsih memergoki sang majikan mengambil uang Sunarsih.

Tak tahan perlakuan majikan, Sunarsih melarikan diri ke hutan di sekitar Bakun. Selama dua minggu, Sunarsih lari tanpa bekal dokumen. Paspornya ditahan majikan dan dimatikan. Sementara, sang sponsor tak memberi ijin kerja. "Kalau ada petugas imigrasi, saya disuruh majikan bersembunyi," cerita janda beranak satu ini.

Beruntung, banyak orang Indon—sebutan orang Indonesia yang bekerja di Malaysia—yang bekerja di sebuah proyek di Bakun. Orang-orang ini menjadi penyelamat bagi Sunarsih. Mereka memberi bekal, dan membantu Sunarsih bertemu dengan pihak konsulat RI di Kuching. Tak hanya itu, orang-orang ini juga mendesak majikan Sunarsih, agar membayar gaji Sunarsih yang sudah bekerja selama setahun. "Mereka mengancam akan membakar tempat majikan saya, jika gaji saya tidak dibayar," ujar Sunarsih. Sunarsih pun terselamatkan, juga uang 2100 ringgit buah kerjanya.

Tapi tak demikian dengan nasib Bunga, sebut saja namanya begitu. Lima tahun bekerja di Malaysia menggunakan paspor pelancong, sebenarnya Bunga bernasib lumayan enak. Bekerja sebagai pelayan di kedai minum—semacam restoran di Kuching, Bunga menerima upah 240 ringgit (sekitar Rp 552.000) per bulan.

Dari tempat Bunga bekerja, Bunga berkenalan dengan seorang tentara Malaysia yang sering singgah. Perkenalan berlanjut, hingga perut Bunga membuncit. Sayangnya, sang tentara tidak mau mengakui anak yang dikandung Bunga. Belakangan ketahuan, jika sang tentara sudah mempunyai istri. "Bahkan, kesatuan tempat dia bekerja tidak tahu jika dia punya istri," kata perempuan berkulit putih ini.

Tapi apa lacur, seorang bayi sudah dikandung Bunga. Saat periksa kandungan di rumah sakit di Kuching, polisi Malaysia menahan Bunga, karena bekerja menggunakan paspor pelancong. Hingga saat melahirkan, Bunga masih diawasi petugas imigrasi. Namun, banyak simpati datang padanya. Orang-orang menawarkan diri hendak mengadopsi sang bayi. "Tapi saya tidak bersedia. Susah senang, saya ingin bersama anak saya," kata perempuan berusia 24 tahun ini. Selain itu, biaya persalinan juga ditanggung pihak konsulat RI.

Kini, saat dipulangkan dari Malaysia, tinggal aib yang masih hinggap. Rasa malu menahan Bunga kembali ke kampung. "Apa kata orang kampung nanti? Bawa anak, tak ada ayah," kata perempuan asal Darit, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini.

Bersama bayi merah yang masih berumur 16 hari, Bunga masih menghitung rencana yang akan dilakukan ke depan. Bayinya belum juga bernama. Tapi, kawan-kawan di penampungan Ibu Arsinah, dengan bercanda memberi nama "Konsulawati" untuk bayi perempuan mungil, berberat badan 2,8 kilogram itu. "Sekadar mengingatkan nasib saat di konsulat," kawan-kawan Bunga tertawa.

Lain lagi cerita Kelly, TKW asal Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Perempuan berusia 23 tahun ini merasa diperlakukan buruk saat menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Diantaranya, tidur di kasur bodol sepanjang 50 centimeter, dengan bantal koyak. "Saya diperlakukan layaknya anjing," kata Kelly.

Datang ke Malaysia lewat sponsor yang masih kerabatnya sendiri, Kelly dijanjikan bekerja dengan gaji 250 ringgit (setara dengan Rp 575.000). Tapi Kelly hanya dibayar 100 ringgit (senilai Rp 230.000). Itupun tidak dibayarkan tiap bulan. Kelly juga tidak dibekali dokumen oleh sponsornya. "Saya kerja kosong tanpa permit (surat ijin)," kata Kelly. Kemudian, Kelly nekat kabur ke konsulat RI, setelah bekerja selama 5 bulan.

Perlakuan buruk majikan pula yang diterima Ibu Sri dari Jember, Jawa Timur. Janda beranak tiga ini datang ke Malaysia, setelah dibawa seorang sponsor dari Bondowoso. Biarpun tak bisa membaca dan menulis, sang sponsor tetap membawa Ibu Sri ke Malaysia. Selama empat bulan di Kuching, Ibu Sri beberapa kali berpindah tangan. Pernah, saat baru sembilan hari bekerja, Ibu Sri berpindah majikan.

Pengalaman buruk Ibu Sri adalah saat majikannya memaksa Ibu Sri makan daging babi. "Selain itu, saya hanya mendapat jatah makan sekali sehari," kata dia. Seperti halnya Kelly, Ibu Sri juga melarikan diri dari majikan. Pada sebuah malam, Ibu Sri nekat lari dari rumah majikan. Tapi, karena tak bisa membaca menulis, Ibu Sri kebingungan. Beruntung ada tetangga yang membawanya ke konsulat RI.

Ibu Sri, Kelly dan Sunarsih mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Terlalu bodoh untuk kembali bekerja di Malaysia," kata Sunarsih. Sunarsih masih menyimpan dendam terhadap warga Malaysia, yang menurutnya, punya kebiasaan merendahkan orang Indon. Belakangan, dia menyesal meninggalkan pekerjaan di Jakarta dulu. Kini, Sunarsih hanya membayangkan wajah anaknya, yang sudah ditinggalkan sejak tahun 2000, saat awal bekerja di Jakarta dulu. "Saya rindu anak," ujarnya.

Sayangnya, nasib Kelly dan Ibu Sri tidak seberuntung Sunarsih yang masih menyimpan ringgit. Kelly masih menunggu uluran tangan, untuk sekedar pulang ke kampungnya yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan dari Entikong. Kelly, yang sudah dua kali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura, mengaku kapok bekerja di Malaysia. "Saya tidak akan datang lagi ke Malaysia," katanya.

Sementara, Ibu Sri hanya bisa merenung di pintu rumah Ibu Arsinah. Kadang, Ibu Sri hanya bisa memperlihatkan wajah melongo, saat yang lain bercerita tentang nasib bekerja di Malaysia. Tatapan kosongnya menambah kesan tua, kesan yang sudah muncul dari rambut beruban kusut, dan tubuh cekingnya. Jember bukan tempat yang dekat. Mungkin ini isi kepala Iu Sri. Padahal, tak ada duit di kantong. "Seribu rupiah pun saya tak punya," kata Ibu Sri.

Sedangkan Bunga, masih menimbang untuk menitipkan jabang bayi di kampung. Tapi rasa malu masih menghambatnya bertemu keluarga. "Alasan apa yang harus saya ceritakan pada mereka," kata Bunga. Sebab rasa malu itu, dia meminta namanya disamarkan. Sementara, satu rencana lagi masih tersimpan di kepala Bunga, untuk kembali ke Malaysia meraup ringgit. "Siapa lagi yang akan membeli susu buat anak saya," ujar Bunga. Mata beningnya mulai berair.