06 May 2004

Setelah Bachtiar Bersaksi

(Sepenggal cerita sisa saat di Aceh, Juli tahun lalu. Sayang, karena alasan teknologi, cerita ini nyangkut ke dunia entah dimana. Aku harus mendendam kepada seseorang karena ini. Karena inilah cerita kematian yang paling dekat kepadaku saat itu. Aku baru menemukannya kemarin. Setelah hampir setahun keluar dari Aceh)

Gundukan tanah itu masih baru. Berada di bawah rerimbunan pohon yang teduh di pekarangan rumah. Tanpa nisan atau sisa bunga bertaburan di atasnya. Tidak pula sebuah nama. Hanya sebuah pelepah daun kelapa kering yang menutupi. Di gundukan tanah itulah jasad Bachtiar bin Musa, seorang warga desa Barat Layan, Jangka, Bireuen, Aceh Utara dimakamkan.

Pada sebuah hari Minggu, lelaki berusia 58 tahun ini ditemukan tewas menggenaskan. Kepalanya hancur. Otaknya terburai. Palang Merah Indonesia Kecamatan Gandapura, Aceh Utara menemukan mayat Bachtiar tergeletak di pinggir sawah di kampung Dayah Panjoe, Gandapura, Aceh Utara.

Kematian Bachtiar terjadi setelah seseorang menculiknya sehari sebelumnya. Nurbaiti, anak pertama Bachtiar berkisah tentang seorang lelaki yang menjemput ayahnya pada Sabtu, sehari sebelumnya. Ketika itu, maghrib baru saja berkumandang. Bachtiar, dengan istri dan dua orang anaknya sedang makan bubur kacang hijau sebagai santap malam.

Belum habis santap malam, suara salam terdengar dari luar pintu. Seorang lelaki berdiri menunggu, hendak bertemu dengan ayahnya. “Lelaki itu memakai bahasa Aceh,” kata Nurbaiti.

Sayang, Nurbaiti tidak bisa menghafal wajah lelaki yang berkunjung ke rumahnya malam itu. Maklum, aliran listrik ke desanya sudah lumpuh. Beberapa minggu lalu, beberapa orang tak dikenal menumbangkan tiang listrik, dan meninggalkan kabel-kabel listrik membentang di sepanjang jalan. Desa Barat Layan pun gelap, tanpa listrik saat malam.

Namun, Nurbaiti mengaku melihat tamu itu meninggalkan motornya di pinggir jalan. Sebelum akhirnya, tamu itu masuk ke pekarangan rumahnya, yang agak tersembunyi dari pinggir jalan.

Di ujung pembicaraan antara tamu dengan ayahnya, Nurbaiti menyaksikan ayahnya pergi, meninggalkan sisa bubur kacang hijau yang tak sempat dihabiskannya. “Aku pergi sebentar. Tidak lama-lama,” tutur Nurbaiti menirukan pesan ayahnya.

Tapi, saat jam terus berganti, bahkan hingga larut malam, ayahnya tak juga kembali. Sampai pada hari Minggu paginya, warga dikejutkan oleh penemuan mayat di kampung Dayah Panjoe, sekitar dua kilometer dari desa Barat Layan. Adik laki-laki Nurbaiti yang mendatangi tempat itu, menemukan ayahnya tergolek tak bernyawa di sawah. Dengan kepala pecah.

Bachtiar bukan seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka, bukan pula seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Dalam kesehariannya, bapak beranak sembilan ini hanya seorang sopir. Setiap hari, lelaki ini membawa mobil bak terbuka, mengangkut buah-buahan untuk dibawa ke Takengon, Aceh Tengah.

Tapi, pada hari Sabtu paginya, Bachtiar menjadi saksi mata sebuah peristiwa di desanya. Ketika itu, sepasukan Brigade Mobil mengepung dan mendatangi rumah Abdurrachman Ishak, yang bersebelahan dengan pekarangan rumahnya. Rupanya, pasukan Brimob mengintai Tengku Abdurrachman Adam, yang diduga sebagai Panglima I Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Peusangan, Aceh Utara. Diduga, Tengku Abdurrachman Adam bersembunyi di rumah Abdurrachman Ishak itu.

Belakangan, brigade ini berhasil menembak mati Tengku Abdurrachman Adam. Mayat Tengku Adam ditemukan dengan luka tembak di tubuhnya. 16 longsong peluru ditemukan di sekitar lokasi mayat ditemukan. Selain menembak mati Tengku Adam, brigade ini juga menahan tujuh orang yang dicurigai sebagai anggota GAM.

Namun, keberhasilan brigade ini disertai aksi pembakaran rumah Abdurrachman Ishak yang dihuni oleh Ny. Umi, adik Abdurrachman Ishak. Rumah panggung berdinding papan dan beratap rumbia ini luluh lantak menjadi abu. Menyisakan bangkai ranjang besi dan kuali-kuali gosong. Meninggalkan Ny. Umi yang bertahan sendirian di bawah pohon menunggui abu.

Pada hari Sabtu itu pula, Bachtiar dengan lantang bersaksi kepada wartawan, berkisah tentang kejadian di pekarangan tetangganya itu. Wajah Bachtiar pun sempat muncul di beberapa stasiun televisi pada sore harinya. Sore setelah itulah, seorang lelaki bertamu ke rumah Bachtiar, membawa Bachtiar, yang meninggalkan pesan terakhir kepada Nurbaiti.

Sejak itu, Nurbaiti seperti mencoba tidak mengulang apa yang menyebabkan ayahnya pergi. Nurbaiti menolak wawancara, ketika seorang wartawan radio menyodorkan mikrofon. “Tak maulah. Kemarin ayah juga diwawancara seperti ini,” kata Nurbaiti sambil memalingkan muka ke arah ibunya, Cuk Ubit. Cuk Ubit, yang matanya masih memerah, membela sikap anak perempuannya. “Sudah diambil ayahnya, diambil pula anaknya nanti,” katanya.