22 November 2003

Mudik

Selamat tinggal Jakarta. Semoga ada bahagia tersisa di sini. Juga di sana, di kampung halamanku.

seputih salju
sesuci seorang bayi
sebuah kelahiran baru
sebuah kemenangan


Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

17 November 2003

Kaleidoskop Pekan Lalu

Apa jadinya jika kita membuat catatan tentang orang-orang yang kita temui. Menjadikannya sebuah kaleidoskop, untuk sekedar mengingat apa kata mereka. Apalagi jika orang yang ditemui adalah orang yang unik, atau membawa percikan hidup.

Aku bertemu dengan orang-orang ini pekan lalu. Aku tak tahu, pelajaran hidup apa yang kau dapat jika kau membaca orang-orang ini. Tapi aku ingin berbagi. Tentu dengan sebuah maksud.

Ilham

Jika kau percaya sebuah kesenangan bisa membuatmu melakukan segala-galanya, inilah buktinya. Sebuah masa yang dilaluinya di masa remaja, membuat orang ini mengumpulkan pernak-pernik identitas pada masa itu. Generasi bunga. Rock 'n Roll.

Di ruangannya, ribuan piringan hitam memenuhi lemari kayu. "Ini baru satu ruangan," kata dia. Masih ada satu ruangan di rumahnya yang melulu berisi piringan hitam. Beraliran rock tentunya. Ribuan plat itu dia beli ketika berada di luar negeri, suatu saat, ketika bepergian ke luar negeri menjadi barang langka bagi anak muda Indonesia.

Dia tergila-gila dengan Led Zeppelin. Tak heran jika album grup dari Inggris ini menjadi favoritnya. Saking gilanya, sebuah drum Ludwig yang setipe dengan drum yang digunakan grup ini tersimpan di rumahnya.

Tapi, selain Led Zeppeling, dia juga menyimpan Deep Purple, ELP, Jethro Tull dan masih banyak grup di masanya yang aku tidak kenal. Beberapa malah koleksi terbatas, tentang grup-grup rock pada masa itu yang tak sempat melempar album.

Bukan hanya piringan hitam, puluhan poster jagoan rock tahun 1960-1970 juga terpampang di dinding ruangannya. Selain poster Led Zeppelin yang memenuhi ruangan, ada juga Deep Purple atau Rick Wakeman di usia 25 tahun. Untuk mempertegas masanya, sebuah poster tentang mariyuana juga terpampang di atas lemari kayunya. Sekadar mengingatkan, mariyuana adalah bagian dari simbol pada masa itu.

Poster itu, menggambarkan selintingan mariyuana yang berpindah tangan, dari tangan seorang laki-laki ke tangan perempuan. Di tengah sebuah tulisan terpampang, "Holland Has It." Dia memang mendapat poster itu dari Belanda.

Ketika dia bertanya koleksinya itu, aku hanya mengucapkan satu kata, "Gila!" Tapi, dia tertawa. Bangga malah. "Orang yang tidak menekuni hobi adalah orang tidak waras," katanya.

Ilham mungkin tidak berbeda dengan orang yang jatuh cinta pada masanya. Seperti halnya orang-orang yang memuja Frank Sinatra atau Britney Spears. Tapi dia menyimpan setia. Ketika masa yang dicintainya telah lewat, dia berhenti menelusuri jalanan Tokyo, mengais piringan hitam. "Saya sudah khatam," kata dia.

Lalu dia menyimpan setiap kenangan pada koleksinya. Menaruh lelaku gilanya pada sebuah ingatan kata, "Carilah barang yang terbaik. Simpan dan rawatlah. Suatu ketika, dia bakal menjadi barang berharga." Sebuah pesan dari ayahnya.

D dan Y

Dua orang ini terinfeksi HIV. D, seorang pemuda berusia 22 tahun, mendapatkan virus itu dari narkoba yang digunakannya sejak tahun 1996. Sedangkan Y tertular suaminya, seorang Papua.

Beruntung buat D, belum sempat menularkannya ke orang lain. Tapi Y, membuat salah seorang anaknya ikut tertular virus ini. Kendati itu terjadi bukan tanpa maksud. "Saya tidak tahu dari mana dia tertular," kata Y.

Bagi mereka berdua, masa lalu adalah jejak kaki yang harus dikubur. Tak ada lagi, kecuali cerita-cerita hikmah yang ditularkannya kepada sesama sahabat, yang terbaring di rumah sakit. D tidak lagi menyalahkan keluarganya yang terlalu sibuk, yang membuatnya lari ke narkoba. Lalu dia memilih meninggalkan mereka, sesekali, untuk bergabung dengan kawan-kawan menjadi pendamping kepada orang-orang seperti dirinya.

Kadang dia kembali ke rumah jika merasa rindu dengan keluarga. Tapi dia takut dengan lingkungan sekitar rumahnya yang rentan dengan perilaku salah narkoba. Alasan lingkungan itu pula yang membuatnya takut mengambil kuliah di Jakarta. "Saya belum kuat menolak," kata D.

Begitu juga Y, yang hilir mudik, keluar masuk rumah sakit bertemu dengan ibu-ibu hamil yang terinfeksi virus mematikan ini. Suaminya, yang meninggal setahun lalu, tidak menjadi kambing hitam atas hidupnya. Hidup yang juga membuatnya terlempar dari pekerjaan yang sudah dijalaninya selama 10 tahun. "Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa," Y mengaku.

Sementara, anak kedua Y yang juga terinfeksi, seorang lak-laki berusia 3 tahun, dan menjalani pengobatan di bawah sebuah yayasan, dimana Y aktif berkecimpung menjadi relawan. Satu orang lagi, seorang perempuan, dipungut kakaknya di sebuah kota di Jawa.

Lalu, D dan Y memilih berbagi cerita, menjadi pendamping orang dengan HIV. Maka mereka berkumpul, menghabiskan siang untuk menemui mereka. Mereka juga tidak malu bertemu media untuk berbagi hidup.

Bagi mereka berdua, hidup adalah esok, biarpun berbayang kematian menghadang. "Saya tidak takut dengan kematian. Saya pikir, urusan hidup dan mati bukan urusan saya. Siapapun akan mati. Saya hanya berpikir tentang hal positif yang bisa saya lakukan sebelum saya sampai kesitu." D menolak menyerah.

16 November 2003

Subuh di Gambir

Selembar tiket adalah barang berharga pada minggu-minggu ini. Atas kuasa selembar kertas itu, seseorang membeli rasa aman, paling tidak untuk sebuah jaminan bisa kembali ke kampung halaman. Mudik.

Di Stasiun Gambir, untuk selembar tiket itu, deretan antrian memanjang di depan loket. Mungkin mereka lupa, jika layanan kereta memang belum seberapa nikmat. Tapi apa boleh buat. Ini lebaran bung. Ini perjuangan tahunan.

Ada sebuah pertanyaan, mengapa harus mudik? Pertanyaan yang sama, yang bakal muncul dari banyaknya analisa tentang fenomena tahunan ini. Tapi coba dengarkan kata hati. Mungkin ada rasa kangen yang tersimpan sepanjang tahun. Untuk kembali merasakan dunia yang kini terlewati. Meskipun momen itu bakal ada setiap tahun.

Tentang tangisan ibu bersimpuh di paha bapak. Ciuman di kening, dan doa orang tua untuk anaknya. Pertemuan bahagia dengan keluarga. Kenangan masa kecil berebut permen dan roti. Juga lembaran ribuan dari paman. Bertemu teman lama. Atau sekedar bergunjing tentang masa depan, perjodohan.

Ini tradisi tahunan. Biarpun bukan tidak sepi dari cibiran. Old fashion, mereka bilang. Ada keangkuhan dari kata mereka, meskipun pada beberapa tepi, kata mereka tidak salah.

Tapi dengarkan saja kata hati. Rasakan kangen itu. Itulah yang membuat orang bermalam di stasiun. Melewatkan sahur dan meninggalkan tempat tidur di rumah. Beralas koran yang beterbangan di tiup angin pagi.

Subuh tadi, aku menjadi bagian dari mereka. Berdesak-desakan, dan menyaksikan koran-koran itu beterbangan.

14 November 2003

Jumud

Mentok. Blethok. Buntu. Ra mutu. Kering. Garing. Kosong. Mlompong.

10 November 2003

Lagu Buruh

Lagu setia para buruh untuk majikannya. Maaf Chrisye.

...
aku tahu ku takkan bisa
menjadi seperti yang engkau minta
namun selama nafas berhembus
aku kan mencoba
menjadi seperti yang kau minta

04 November 2003

Mesjid BNI di Stasiun Kota

Sesekali, sholat tarawihlah di Masjid BNI 46 di kawasan Kota. Mesjid ini berada di komplek Bank BNI 1946, di belakang Stasiun Kota. Pada papan namanya yang mulai lusuh, tertulis kurang lebih seperti ini, Mesjid BNI 46, Jl. Pala, Jakarta Barat.

Mesjid ini tidak semegah Mesjid Al Azhar atau Sunda Kelapa, tempat aku biasa sholat tarawih disana. Tidak ada mobil mewah yang menunggu di luar. Yang ada hanyalah sendal-sendal jepit usang, yang orang pun masih sering kebingungan mencari sendal miliknya. Kasus lama. Hilang saat di masjid. Seperti seorang ibu malam itu, yang hilir mudik mencari sepasang miliknya. "Tadi ada disini, kok!"

Tidak ada wewangian semerbak di setiap perjumpaan orang yang berlalu lalang. Yang ada hanyalah bau amis, dan sedikit tawar. Tidak ada kemewahan disini. Tempat wudhunya juga tidak jauh berbeda dengan kamar mandi di terminal, dengan tempat kencing yang terlihat dari luar, dan bersebelehan dengan tempat wudhu.

Tapi disini ada kemeriahan, yang datang dari anak-anak kecil. Mungkin mereka anak warga sekitar. Di mesjid ini, anak-anak itu seperti menemukan dunianya. Menghadirkan kemeriahan dan kemeriahan. Mereka berlari-lari, berteriak-teriak di teras mesjid. Tak peduli orang-orang mulai dzikir di sana.

Kemeriahan mereka seperti ombak, yang membuat suara orang menggaji pun tertelan olehnya. Duduk di mesjid ini seperti merasa kecil oleh suara-suara mereka. Setiap aku menoleh ke belakang, ada saja teriakan-teriakan dan anak berlari. Hoee .. tertawa .. ha .. ha ..

Seorang muadzin, seperti jengkel dengan keonaran ini. Lalu, dia berteriak lewat microphone, "Anak-anak, kalau mau sholat, diam! Kalau tidak sholat keluar!" Lalu, hening seketika. Tapi itu hanya sementara. Setelah itu, gelegar membahana. Ah, dasar anak-anak.

Keriuhan ini terjadi sepanjang sholat tarawih. Jika sholat mulai, mereka ikut sholat. Tapi masih terdengar suara mengikik di belakang. Ketika imam selesai membaca Al Fathikhah, suara amien bersahutan, berburu siapa kencang. Jika jeda sholat tiba, teriakan datang lagi, dan berlari-lari. Terus dan terus.

Lalu aku bertanya, apa aku dulu seperti itu? Aku lupa. Tapi aku rindu kampung, dan masa kanak-kanakku.